CHAPTER 5
Kebenaran dan Kebohongan
Saat bel berbunyi tanda berakhirnya kelas, Horikita dan aku berdiri.
“Apakah kamu sudah bersiap untuk ini, Sudou-kun?”
Seolah mempersiapkan dirinya secara mental untuk apa yang akan dihadapi, Sudou menutup matanya dan melipat tangannya. Tapi kemudian dia perlahan membuka matanya lagi.
“Kau mungkin menyebutku idiot dan mengolok-olokku, tapi aku adalah aku. Jika kau ingin mengatakan sesuatu, katakan sekarang.”
“Jangan melakukan sesuatu yang egois. Sebenarnya mendengarkan sekarang akan menjadi hal yang cerdas untuk dilakukan, ya?”
“Ugh, kau selalu bertingkah sombong dan angkuh, mbak.”
Ketika kau melihat mereka seperti ini, mereka terlihat seperti kucing dan anjing. Tapi setidaknya, Sudou tidak membenci Horikita. Jika memang ada kebencian, dia akan benar-benar menolak bantuannya, tidak peduli seberapa menguntungkan tawarannya.
“Berjuanglah, Horikita-san. Sudou-kun.”
Horikita tidak merespon sama sekali, tapi Sudou mengepalkan tinjunya untuk menunjukkan kesiapannya. Aku berbalik untuk memeriksa Sakura yang masih duduk, tubuhnya kaku. Dia berdiri, bibirnya sedikit gemetar.
“Ya... aku baik-baik saja. Terima kasih...”
Sakura jauh lebih gugup dari yang kuduga. Jika dia dalam keadaan psikologis ini bahkan sebelum pertemuan dimulai, dia mungkin tidak bisa berbicara dengan memuaskan.
“Ayo pergi. Kita akan membuat kesan buruk jika kita terlambat.”
Sidang dijadwalkan dimulai pada pukul 4:00 PM. Ini sudah jam 3:50 PM. Kami tidak boleh lambat. Ketika kami berempat sampai di ruang guru, seorang guru melambai pada kami agar masuk ke dalam.
“Yahoo! Halo, para siswa Kelas D!”
Wali Kelas B, Hoshinomiya-sensei, memberi kami salam penyemangat ini. “Sepertinya sesuatu yang agak menghebohkan telah terjadi, hmm?”
Matanya berbinar, seolah-olah dia senang sudah ikut campur urusan orang lain. (Yah, dia memang senang).
"Apa yang sedang kau lakukan?" Chabashira-sensei bergumam.
"Oh tidak. Aku sudah ketahuan, ya?"
Chabashira-sensei memelototi Hoshinomiya-sensei saat dia keluar dari ruang guru. "Setiap kali kau menyelinap keluar, saat itulah aku mulai merasa curiga."
Hoshinomiya mengedipkan mata lucu, seolah berkata, Teehee, aku ketahuan! "Jadi aku tidak bisa bergabung, ya?"
“Tentu saja tidak bisa. Kau tahu bahwa orang luar tidak dapat berpartisipasi.”
“Aduh, sayang sekali. Yah, tidak apa-apa. Hasilnya pasti keluar dalam satu jam, kurasa.”
Chabashira-sensei dengan paksa mendorong Hoshinomiya-sensei kembali ke ruang guru.
"Kalau begitu, bisakah kita pergi?" dia bertanya kepada kami.
"Kita tidak akan melakukan ini di ruang guru, 'kan?"
"Tentu saja tidak. Sekolah ini memang memiliki aturan yang agak rumit, tapi di kasus seperti ini penyelesaian dicapai antara wali kelas dari kelas yang bersangkutan, pihak terkait, dan OSIS."
Horikita membeku saat dia mendengar kata-kata "OSIS." Chabashira-sensei berbalik dan melirik tajam ke wajah Horikita.
“Jika kau ingin berhenti, sekaranglah waktunya, Horikita.”
Sudou, yang tidak mengerti mengapa Horikita bereaksi seperti itu, tampak bingung. Itu hampir seperti tanda tanya raksasa melayang di atas kepalanya. Guru kami, seperti biasa, telah mengungkapkan detail penting tepat di menit terakhir.
"Saya akan pergi. Saya baik-baik saja."
Horikita dengan cepat melirikku. Tatapannya mungkin berarti sesuatu seperti, Jangan mengkhawatirkanku. Kami meninggalkan ruang guru di lantai 1 dan naik tiga lantai ke lantai 4. Sebuah plakat bertuliskan “Ruang OSIS” ditempel di dinding dekat pintu masuk. Chabashira-sensei mengetuk, dan kami masuk ke dalam.
Meskipun Horikita meringis, dia segera mengikuti kami. Di dalam, meja panjang telah diatur dalam formasi persegi panjang. Ketiga siswa dari Kelas C sudah tiba dan duduk. Di samping mereka duduk seorang guru laki-laki berkacamata berusia 30-an.
“Maaf kami terlambat,” kata sensei kami.
“Ini sebelum waktu mulai yang dijadwalkan. Tidak perlu meminta maaf.”
“Apakah kalian sudah pernah bertemu?”
Sudou, Horikita, dan aku tidak mengenal guru itu.
"Ini Sakagami-sensei, Wali Kelas C."
Seorang siswa laki-laki yang duduk di belakang ruangan menarik perhatian semua orang.
"Ini adalah ketua OSIS."
Kakak laki-laki Horikita, bahkan tanpa melirik adiknya, memeriksa dokumen-dokumen di mejanya. Horikita mengarahkan pandangannya pada kakaknya untuk waktu yang singkat, tetapi ketika dia menyadari bahwa dia bukan fokusnya, dia menurunkan matanya dan duduk di depan siswa Kelas C.
“Kalau begitu, sekarang saya akan membahas insiden kekerasan yang terjadi Selasa lalu dengan anggota OSIS, pihak yang terlibat, dan wali kelas mereka. Anda dapat memulai prosesnya, sekretaris OSIS Tachibana.”
Sekretaris Tachibana, seorang wanita dengan rambut pendek, membungkuk sedikit.
“Tentu saja, mengingat besarnya perselisihan ini, ada kalanya ketika ketua OSIS akan mengambil alih. Ada beberapa hal yang tidak biasa tentang kejadian ini. Selain itu, sebagian besar proses akan ditangani oleh Tachibana, seperti biasa.”
“Karena saya cukup sibuk, ada agenda tertentu yang harus saya tunda. Namun, sebagai aturan dasar, saya lebih memilih memperhatikan masalah ini, karena saya dipercaya untuk memimpin OSIS.”
"Jadi, ini semua kebetulan?" Chabashira-sensei tersenyum ketika dia mengatakan itu, tetapi kakak laki-laki Horikita tidak pernah goyah. Sebaliknya, Horikita —Horikita yang perempuan, maksudku — tidak bisa menyembunyikan gemetarannya. Mengingat mereka adalah saudara kandung, kemungkinannya tidak menguntungkan kami. Faktanya, aku tidak bisa tidak berpikir bahwa situasi ini sangat tidak menguntungkan, karena Horikita tidak bisa menunjukkan kehebatannya di sini. Harapan kami telah benar-benar hancur.
Jika ketua OSIS bertindak, tidak ada yang bisa kami lakukan, bahkan jika kami tidak menyukainya. Dia ditempatkan di Kelas A dan segera mengambil posisi sebagai sekretaris OSIS. Pada bulan Desember tahun pertamanya, dia menjadi ketua OSIS setelah menerima dukungan yang luar biasa dalam pemilihan. Meskipun beberapa siswa senior menyuarakan ketidaksenangan mereka, situasi kami saat ini, jelas tidak dapat dibandingkan dengan kemampuannya yang luar biasa.
Sekretaris Tachibana merangkum situasi dari kedua belah pihak dalam sebuah cara yang mudah dipahami. Tidak perlu penjelasan lebih lanjut.
“Berdasarkan fakta tersebut, kami ingin kalian mengidentifikasi versi kejadian mana yang benar.” Setelah menyelesaikan penjelasannya, Sekretaris Tachibana mengalihkan pandangannya ke arah kami, Kelas D. "Komiya-kun dan dua anggota klub basket lainnya pergi ke gedung khusus setelah Sudou-kun memanggil mereka ke sana. Di sana, mereka mengklaim telah dipukuli dalam perkelahian sepihak. Apakah ini benar?"
“Apa yang dikatakan orang-orang itu bohong. Akulah orang yang dipanggil ke gedung khusus,” kata Sudou. “Hari itu, setelah latihan, Komiya dan Kondou memintaku untuk pergi ke gedung khusus. Sejujurnya, kupikir itu agak menyebalkan, tapi aku juga berpikir itu mungkin karena mereka selalu bermusuhan denganku. Jadi, aku pergi menemui mereka.”
Sudou bukan orang yang berbasa-basi. Biasanya, Horikita akan merasa jijik dengan cara bicaranya yang santai, tetapi menilai dari gemetarnya dia tidak mendengarnya sama sekali. Sakagami-sensei, Wali Kelas C, menatap dengan mata terbelalak.
"Itu bohong. Sudou-kun lah yang memanggil kami ke gedung khusus."
"Jangan main-main denganku, Komiya! Kau lah orang yang memanggilku, dasar berengsek!"
"Sepertinya kau tidak menyadari posisimu di sini."
Sudou, kesal, tanpa pikir panjang memukul mejanya. Suasana pun menjadi hening seketika.
“Tenanglah, Sudou-kun. Saat ini, kami hanya mendengarkan apa yang dikatakan kedua belah pihak. Komiya-kun, kami juga meminta anda untuk menahan diri, dan tidak menyela.”
“Hah, baiklah...”
“Kedua pihak mengklaim bahwa yang lain memanggil mereka, jadi ceritanya bertentangan. Namun, ada beberapa kesamaan dalam cerita tersebut. Ada perselisihan antara Sudou-kun, Komiya-kun, dan Kondou-kun, 'kan?”
"Saya tidak akan menyebutnya perselisihan. Sudou-kun selalu mengajak kami berkelahi."
"'Mengajak berkelahi'?"
"Sudou lebih baik dalam basket daripada kami, jadi dia selalu membual tentang itu. Kami berlatih dengan sangat serius, tetapi dia justru selalu mengejek kami. Jadi kami sering berbenturan."
Aku tidak benar-benar tahu detail kegiatan klub Sudou, tetapi ketika aku melihat pembuluh darah muncul di dahinya, itu agak jelas bahwa mereka berbohong. Selanjutnya, Sekretaris Tachibana berbicara kepada Sudou.
"Semua yang dikatakan Komiya itu tidak ada yang benar. Orang-orang itu hanya cemburu dengan bakatku. Ketika aku berlatih, mereka selalu saja menghambatku. Itulah kebenarannya."
Intinya, kedua pihak mengklaim bahwa pihak lain lah yang bersalah.
“Kedua pihak telah menyampaikan keluhan mereka, tetapi sekarang kita harus melihat bukti yang telah dikumpulkan.”
“Sudou-kun menghajar kami tanpa alasan. Itu adalah perkelahian sepihak.”
Kelas C sepertinya berencana memanfaatkan fakta tentang luka mereka. Ketiga siswa itu memang memiliki wajah hitam-biru lebam. Itu tidak bisa disangkal.
"Itu bohong. Mereka menyerang lebih dulu. Itu pembelaan diri."
“Hei, Horikita,” bisikku pada Horikita, yang tetap bisu dan terus menundukkan kepalanya. Jelas, situasi ini sangat buruk. Jika kami ingin menghentikan Sudou agar tidak terbawa suasana, kami harus mengambil tindakan dengan cepat. Namun, dia tidak menunjukkan reaksi apa pun seolah-olah pikirannya kosong. Apakah kehadiran kakaknya benar-benar memiliki efek sebesar ini?
Aku teringat kembali saat mereka berdua berbicara di belakang asrama. Aku tidak benar-benar memahami kedalaman situasinya, tapi aku curiga Horikita selalu mengejar kakaknya yang sangat berbakat, mendaftar di sekolah yang sama untuk membuatnya mengakui kemampuannya. Tapi terlepas dari harapan dan bakatnya, sang adik yang berada di Kelas D masih sangat jauh dari kakaknya, siswa Kelas A sekaligus ketua OSIS. Untuk membuktikan dirinya, dia harus naik ke arena yang sama dengannya.
“Jika Kelas D tidak memiliki bukti lebih lanjut untuk ditawarkan, apakah kalian keberatan jika kami melanjutkan prosesnya?”
Jika OSIS dan guru terus duduk diam seribu bahasa, penilaian mereka hampir pasti tanpa ampun. Untuk mencegahnya, kami membutuhkan Horikita untuk bangkit dan mengambil tindakan. Namun, anggota tim kami yang paling penting layu dan menyusut di depan kakaknya.
"Sepertinya tidak ada yang keberatan, mengingat argumen yang kita dengar sejauh ini." Ketua OSIS akhirnya berbicara. Kakak Horikita sepertinya ingin segera menarik kesimpulan secepat mungkin.
“Terlepas dari pihak mana yang memanggil yang lain, faktanya tetap bahwa ini adalah perkelahian sepihak antara Sudou dan siswa lainnya. Kita bisa dengan jelas melihat itu dari luka yang mereka derita. Kami tidak punya pilihan selain menarik kesimpulan berdasarkan fakta itu.”
“T-Tunggu! Aku tidak bisa menerima itu! Itu karena orang-orang itu hanyalah sekelompok pengecut!”
Saat Sudou mengucapkan kata-kata itu, aku melihat Sakagami-sensei tersenyum.
“Lalu bisakah itu benar-benar dianggap sebagai pertahanan diri saat bertarung melawan lawan dengan kekuatan yang tidak setara?”
"T-Tapi, hei. Aku bertarung melawan tiga orang! Tiga orang!"
"Tapi hanya siswa Kelas C yang terluka."
Ini semakin buruk. Aku pasrah pada kenyataan bahwa aku mungkin terbunuh nantinya karena melakukan ini, tetapi aku bangkit perlahan dari kursi lipatku dan berdiri di belakang Horikita. Aku merentangkan tanganku dan menggenggam sisi tubuhnya sekuat yang aku bisa.
“Hyah?!”
Horikita berteriak dengan suara kekanak-kanakan yang tidak normal. Namun, ini bukan waktu atau tempat bagiku untuk memikirkan itu. Karena dia belum mendapatkan kembali kewarasannya, aku meraihnya lebih kuat dan menggelitiknya.
“T-tunggu. H-hentikan, hentikan!”
Tidak peduli seberapa marah atau bingungnya seseorang, jika kau membuat rangsangan pada tubuh dengan cukup kuat, mereka akan kembali sadar. Bahkan jika mereka tidak menyukainya. Para guru tampak agak terkejut dengan tindakanku, tetapi saat itu aku tidak peduli. Ketika aku yakin aku sudah cukup menyadarkannya, aku melepaskannya. Horikita, terlihat seperti dia akan menangis, memelototiku dengan intensitas yang mengejutkan. Aku harus memaksanya, tapi aku tahu itu penting untuk mengembalikan Horikita ke dirinya yang biasa.
“Kendalikan dirimu, Horikita. Kita akan kalah kalau seperti ini terus. Kau harus berjuang!”
“Cih...”
Horikita, menatap Kelas C, lalu gurunya, dan kemudian kakaknya seolah-olah akhirnya memahami situasi kami. Sepertinya dia sadar betapa putus asanya situasi kami.
"Maaf. Bolehkah saya mengajukan pertanyaan?" kata Horikita.
"Apakah Anda keberatan, ketua?"
“Aku mengizinkannya. Namun, tolong jawab lebih cepat lain kali.”
Horikita perlahan bangkit dari kursinya.
“Sebelumnya, kalian mengatakan bahwa Sudou-kun memanggil kalian ke gedung khusus. Tapi siapa sebenarnya yang Sudou-kun panggil, dan mengapa?”
Komiya dan siswa Kelas C lainnya saling memandang, seolah-olah berkata, Mengapa dia menanyakan pertanyaan itu sekarang?
"Tolong jawab." Horikita menambahkan dua kata terakhir itu untuk memperkuatnya pertanyaannya. Sekretaris Tachibana mengizinkannya.
“Kondou dan aku tidak tahu mengapa dia memanggil kami. Ketika kami baru saja selesai latihan hari itu dan berganti pakaian, dia bilang dia ingin berbicara dengan kami sebentar. Bukankah alasannya hanya karena dia tidak menyukai kami?”
“Jadi, sebenarnya kenapa kamu berada di gedung khusus, Ishizaki-kun? Kamu tidak tergabung dalam tim basket, jadi kamu tidak ada hubungannya dengan kasus ini. Saya pikir kehadiranmu di sana agak aneh.”
"Itu... aku datang sebagai tindakan pencegahan. Ada desas-desus bahwa Sudou itu kasar. Dia juga dalam kondisi yang lebih baik daripada kami, secara fisik. Sudah sewajarnya aku disana, 'kan?"
“Jadi dengan kata lain, kamu merasa situasinya mungkin berubah menjadi kekerasan?”
"Ya." Mereka menjawab serempak, hampir seolah-olah mereka mengharapkan pertanyaan ini. Tampaknya siswa Kelas C telah benar-benar berlatih untuk konferensi ini.
"Begitu, ya. Jadi kalian membawa Ishizaki-kun sebagai pengawal kalian, karena dia dianggap cukup pandai berkelahi. Kalau-kalau ada keadaan darurat."
“Itu untuk melindungi diri kami sendiri. Itu saja. Selain itu, kami tidak tahu kalau Ishizaki-kun dikenal pandai berkelahi. Kami hanya menganggapnya sebagai teman yang bisa diandalkan.”
Horikita diam-diam mendengarkan tanggapan mereka, seolah menjalankan berbagai simulasi di kepalanya. Kemudian dia segera membuat langkah selanjutnya.
“Saya juga memiliki pengetahuan tentang seni bela diri, jika hanya sampai batas tertentu. Saya paham bahwa ketika kamu bertarung melawan banyak musuh, kemenangan menjadi lebih sulit. Jadi saya tidak mengerti bagaimana kalian bisa dikalahkan dengan sangat mudah, bagaimana bisa perkelahian itu menjadi sepihak, walaupun kalian memiliki petarung terampil seperti Ishizaki-kun di pihak kalian.”
“Karena kami tidak berniat untuk berkelahi.”
"Faktor utama dalam memicu perkelahian adalah tabrakan 'energi' antara lawan. Jika kalian tidak memiliki niat untuk bertarung, atau bahwa kalian tidak melakukan kekerasan, kemungkinan kalian akan terluka seharusnya sangat rendah. Apalagi kalau kalian bertiga."
Pendapat Horikita sangat objektif, didasarkan pada bukti, aturan, dan logikanya sendiri. Di sisi lain, Komiya melawan dengan senjatanya sendiri, menggunakan bukti nyata.
"Cara berpikir seperti itu tidak berlaku untuk Sudou-kun. Dia luar biasa kasar. Bahkan jika kami tidak melakukan kekerasan, dia tetap melakukan kekerasan tanpa ampun. Itulah yang telah terjadi."
Dia melepas kain kasa yang menutupi pipinya, memperlihatkan goresan di bawahnya. Tidak peduli berapa banyak argumen masuk akal yang dibuat Horikita, cedera miliknya memberikan bukti kuat.
"Apakah kalian sudah selesai dengan klaim kalian, Kelas D?" kata kakak Horikita dengan dingin. Setelah tetap diam ketika Horikita memberikan argumennya, kata-katanya simpel dan dingin. Tatapannya seperti menunjukkan bahwa jika itu saja yang bisa kami katakan, maka akan lebih baik untuk tidak mengatakan apa-apa sama sekali.
“Memang benar Sudou-kun melukai siswa lain. Namun, Kelas C yang memulai perkelahian. Ada satu saksi, siswi yang melihat seluruh kejadian dan bisa membuktikan ini.”
"Kalau begitu, Kelas D—jika saksi Kelas D bersedia?"
Sakura, terlihat khawatir dan gelisah, berjalan ke ruang OSIS. Dia menunduk menatap kakinya, seolah takut akan bahaya.
"1-D, Sakura Airi-san."
“Kupikir aku memang pernah mendengar tentang seorang saksi, tapi kau adalah murid Kelas D?” Sakagami, Wali Kelas C, mencibir sambil menyeka kacamatanya.
"Apakah ada masalah, Sakagami-sensei?"
"Tidak, tidak, tolong. Silakan lanjutkan."
Sakagami-sensei dan Chabashira-sensei bertukar pandang.
"Kamu bisa memulai kesaksianmu, jika kamu tidak keberatan, Sakura-san."
“Y-ya, baik... Yah... saya...”
Dia berhenti berbicara. Sebuah periode keheningan berlanjut. 10 detik. 20 detik. Sakura terus melihat lebih jauh ke bawah, dan wajahnya menjadi semakin pucat.
"Sakura-san ..." Horikita, tidak tahan lagi, memanggil Sakura. Tidak seperti sebelumnya, kata-kata itu sepertinya tidak sampai padanya.
“Rupanya dia tidak menyaksikan apa-apa. Lebih dari ini hanya akan membuang-buang waktu kita.”
"Kenapa anda terburu-buru, Sakagami-sensei?"
“Saya ingin mempercepat kasus ini. Jika kita membuang-buang waktu, murid-murid saya akan menderita. Para siswa ini adalah murid-murid yang baik di kelas mereka, jadi saya yakin banyak teman mereka yang mengkhawatirkan mereka. Dan juga, mereka berusaha untuk meningkatkan keterampilan dalam basket, dan kita sudah merampas waktu latihan mereka yang berharga. Sebagai guru, saya tidak bisa mengabaikan ini.”
"Begitu, ya. Anda mungkin benar tentang itu."
Kau akan berpikir bahwa Chabashira-sensei akan bersekutu dengan Kelas D, tapi sepertinya tidak demikian. Sebaliknya, dia mengangguk setuju dengan Sakagami-sensei.
"Anda memang benar bahwa ini hanya buang-buang waktu, jadi kurasa kita tidak punya pilihan. Kau bisa keluar sekarang, Sakura."
Chabashira-sensei memerintahkan Sakura untuk pergi, hampir seolah-olah dia tidak berminat lagi dengannya. Anggota OSIS tidak meminta penundaan atau apa pun. Tertulis jelas di dinding ruang OSIS, dan itu dikatakan bahwa Kelas D telah kalah. Sakura memejamkan matanya rapat-rapat, seolah dia tidak tahan lagi, seolah dia menyesali kelemahannya sendiri. Bahkan Sudou, Horikita, dan aku merasa hal seperti ini tidak mungkin bagi Sakura, dan secara mental dirinya tidak kuat.
Kemudian, itu terjadi. Suara tak terduga bergema di seluruh ruangan.
"Saya memang melihat apa yang terjadi!"
Itu memang suara Sakura, meskipun butuh beberapa detik untuk mengenalinya. Yang paling mengejutkanku adalah volume suaranya.
"Para siswa di Kelas C yang pertama kali memukul. Tidak salah lagi!"
Kata-kata Sakura memiliki kekuatan yang mendustakan citra yang dia tunjukkan pertama kali. Dia berbicara dengan sangat putus asa sehingga kau ingin percaya bahwa dia mengatakan kebenaran. Dia memang membuatku percaya. Namun, seperti mantra sihir, efeknya hanya berlangsung beberapa menit. Jika penonton tetap tenang, itu tidak akan sulit bagi mereka untuk melihatnya.
"Maaf, tapi bolehkah saya mengatakan sesuatu?" tanya Sakagami-sensei, mengangkat tangannya.
“Biasanya, guru diminta untuk berbicara sesedikit mungkin, tetapi situasi ini terlalu rumit. Ketua OSIS, apakah Anda keberatan?”
"Aku mengizinkannya."
“Sehubungan dengan apa yang kau katakan, Sakura-kun, aku tidak meragukanmu. Namun, ada satu hal yang ingin saya tanyakan. Kau telah melangkah maju untuk bersaksi sebagai saksi, tetapi kau agak terlambat melakukannya. Bolehkah saya tahu alasannya? Saya pikir jika kau memang benar-benar melihat sesuatu, kau seharusnya maju lebih awal.”
Sakagami-sensei memainkan nada yang sama dengan yang dimainkan Chabashira-sensei.
"Itu ... Yah, itu ... saya tidak ingin terlibat ..."
“Kenapa kau tidak ingin terlibat?”
“Karena saya tidak pandai berbicara dengan orang lain...”
"Begitu, ya. Saya mengerti itu. Namun, saya ingin mengatakan sesuatu yang lain. Kau tidak pandai berbicara dengan orang lain, namun ketika waktunya sudah mepet kau melangkah maju sebagai saksi. Bukankah itu tampak agak aneh? Saya pikir, sepertinya Kelas D diam-diam menyusun cerita dan memintamu bertindak sebagai saksi palsu untuk memberikan kesaksian palsu."
Setelah berunding bersama, siswa Kelas C menjawab bahwa mereka akan berpikir begitu juga.
“Itu... saya hanya... mengatakan yang sebenarnya...”
"Tidak peduli seberapa buruk keterampilan komunikasimu, saya bisa mengerti kau belum bersaksi dengan penuh keyakinan. Apakah itu karena kau tersiksa dengan rasa bersalah, karena kau tahu apa yang kau katakan sebenarnya bohong?"
"T-Tidak, bukan begitu ..."
“Aku tidak menyalahkanmu. Kau mungkin terpaksa berbohong demi kelasmu, demi menyelamatkan Sudou-kun. Bukan? Jika kau maju dan mengaku jujur kepada kami sekarang, kau tidak akan dihukum.”
Serangan psikologis guru yang tiada henti terus datang. Tentu saja Horikita mengangkat tangannya.
“Bukan itu masalahnya. Memang benar bahwa Sakura-san tidak pandai berbicara di depan orang lain. Namun, justru karena dia menyaksikan insiden itulah dia berdiri di sini hari ini. Kalau tidak, dia kemungkinan besar tidak akan datang, bahkan jika kami memohon padanya. Tidakkah anda berpikir bahwa jika kami membutuhkan seseorang yang bisa berbicara dengan berani, kami akan menemukan penggantinya?”
“Kurasa tidak. Ada murid-murid yang sangat pandai di Kelas D, murid seperti dirimu, Horikita-san. Dengan mengatur orang seperti Sakura-san sebagai saksi, itu akan membangun rasa realisme yang kau sendiri tidak bisa lakukan.”
Sakagami-sensei mungkin tidak benar-benar percaya ini. Namun, tidak peduli respon apa yang kami berikan, aku yakin dia akan melakukan apapun untuk menghalangi kami. Seperti yang kurasakan sejak awal, saksi dari Kelas D tidak membawa amunisi yang cukup. Tidak peduli berapa kali kami menekankan kebenaran, mereka akan mengatakan bahwa kami berbohong. Jika kesaksian datang dari seseorang di pihakmu, mereka tidak akan menerimanya.
Apakah kami kehabisan pilihan? Sakagami-sensei memberikan seringai permusuhan saat dia mulai duduk kembali.
"Jika anda ingin bukti ... saya akan memberikannya kepada Anda!"
Sakagami-sensei membeku dalam menanggapi kata-kata Sakura.
“Tolong, jangan paksa situasi ini berlanjut. Jika benar-benar ada bukti, kau pasti sudah memperlihatkannya sejak awal—”
Sakura dengan keras membanting tangannya ke meja, dan melemparkan apa yang tampak seperti beberapa lembar kertas kecil berbentuk persegi panjang.
"Apa itu?"
Karena dia memberikan sesuatu selain kata-kata, ekspresi Sakagami-sensei menegang untuk pertama kalinya.
"Ini adalah bukti bahwa saya berada di gedung khusus hari itu!"
Sekretaris Tachibana berjalan mendekati Sakura. Meskipun dia ragu-ragu pada awalnya, dia kemudian meraih kertas itu. Tidak, itu bukan kertas seperti yang kuduga. Itu adalah foto.
"Ketua."
Setelah melihat foto-foto itu, Sekretaris Tachibana menyerahkannya ke ketua OSIS. Kakak Horikita, setelah melihat foto selama beberapa saat, meletakkannya di atas meja sehingga kami bisa melihat. Kami melihat Sakura di foto-foto itu, tapi Sakura ini memasang ekspresi yang indah yang tampak mirip dan tidak mirip dengan Sakura yang bersama kami sekarang. Itu adalah idola, Shizuku.
“Saya... saya saat itu sedang mencari tempat di mana tidak ada orang di sekitar sehingga saya bisa foto selfie. Foto-foto juga menunjukkan tanggal dan waktu, yang membuktikan bahwa saya ada di sana seperti yang saya katakan.”
Tanggal pada foto memang menunjukkan bahwa itu diambil di sore hari 1 minggu yang lalu. Itu sudah sekitar waktu Sudou dan yang lain menyelesaikan kegiatan klub mereka pada hari itu. Horikita dan aku tidak sengaja tersentak dalam menanggapi bukti baru ini. Kami mulai melihat perubahan pada tiga siswa Kelas C, yang sampai sekarang telah memainkan peran sebagai korban. Mereka terlihat gemetar.
"Apa yang kau gunakan untuk mengambil foto-foto ini?" tanya Sakagami-sensei.
"Kamera digital."
“Namun, kau dapat mengubah tanggalnya dengan mudah melalui kamera digital. Jika kau memanipulasi foto-foto ini di komputer, kau dapat mengaturnya secara efektif pada waktu dan tanggal kejadian. Ini adalah bukti yang tidak memadai.”
“Tapi Sakagami-sensei, tidakkah menurut anda foto ini berbeda?” Kakak Horikita mengeluarkan salah satu foto yang belum kami lihat, dan menyerahkannya kepada Sakagami-sensei.
“I-Ini?!”
Foto itu menunjukkan perkelahian itu sendiri; jelas tidak perlu mempermasalahkan hal sepele seperti pengeditan waktu. Matahari terbenam menyinari koridor dalam cahaya redup. Foto itu tampaknya menunjukkan apa yang terjadi setelah Sudou memukul Ishizaki.
"Saya pikir anda akan percaya bahwa saya ada di sana setelah melihat ... ini."
"Terima kasih, Sakura-san."
Gambar ini benar-benar menyelamatkan Horikita juga. Dan juga menyelamatkan situasi yang sangat tidak menguntungkan ini...
"Begitu, ya. Nah, kau tampaknya mengatakan yang sebenarnya tentang menyaksikan kejadian itu. Aku harus mengakuinya. Namun, aku tidak dapat memastikan bagaimana situasi itu bermula hanya dari foto ini. Ini tidak membuktikan bahwa kau melihat seluruh kejadiannya."
Memang benar bahwa foto ini membuatnya terlihat seperti perkelahian itu sudah berakhir. Kami tidak bisa menyebut ini sebagai bukti yang mutlak.
“Jadi, bagaimana menurutmu, Chabashira-sensei? Mengapa tidak berkompromi saja di sini?” Sakagami-sensei bertanya.
"Kompromi?"
“Saya yakin Sudou-kun berbohong dalam kesaksiannya.”
"Dasar brengsek!" Sudou berdiri, terlihat siap untuk terbang dari kursinya, tapi akhirnya menahan lengannya sendiri dan menenangkan dirinya sendiri.
"Tidak peduli berapa lama kita bolak-balik, kita tidak akan pernah mencapai persetujuan. Kami tidak akan mengubah kesaksian kami, dan pihak kalian tidak akan menyerah atau mengakui bahwa kalian bersekongkol dengan saksi. Dengan kata lain, kalian tidak akan berhenti. Ini akan menjadi siklus tanpa akhir untuk mengatakan bahwa pihak lain berbohong. Selain itu, foto-foto ini tidak terlalu meyakinkan untuk dianggap sebagai bukti mutlak. Oleh karena itu, saya menyarankan kita berkompromi. Saya pikir siswa dari Kelas C memang bertanggung jawab atas beberapa kesalahan di sini. Ada tiga siswa yang melawan Sudou, dan salah satu dari mereka memiliki sejarah perkelahian, yang merupakan masalah. Jadi bagaimana kalau sekitar 2 minggu skors untuk Sudou-kun, dan 1 minggu skors untuk siswa saya? Bagaimana menurut kalian? Berat hukumannya berbeda, tentu saja, tapi saya pikir itu cocok karena perbedaan cedera yang diterima."
Kakak Horikita tetap diam saat dia mendengarkan Sakagami-sensei. Tampaknya Kelas C hanya mau berkompromi di tengah jalan. Jika kami tidak memiliki kesaksian atau bukti dari Sakura, Sudou mungkin akan diskors selama lebih dari sebulan. Meminta kurang dari setengahnya bukanlah hak kami.
“Jangan main-main! Ini bukan lelucon!” Sudou mengamuk.
"Chabashira-sensei. Bagaimana menurut anda?" Sakagami-sensei bahkan tidak melirik Sudou.
"Sepertinya kita sudah mencapai kesimpulan logis. Tidak ada alasan untuk menolak usulan Sakagami-sensei," kata Chabashira-sensei.
Usulannya tentu saja merupakan kompromi yang masuk akal. Horikita menatap langit-langit, seolah diam-diam merenungkan semua yang telah terjadi sejauh ini. Tidak peduli seberapa kuat kami melawan, Sudou tidak akan dibebaskan sepenuhnya tanpa bukti yang meyakinkan. Horikita sudah mengetahui ini sejak awal.
Dia telah menyimpulkan bahwa kami perlu mencapai kompromi. Untuk seorang siswi Kelas D, Horikita cukup mengesankan.
Namun, jika dia bertujuan untuk mencapai Kelas A, dia tidak boleh menyerah di sini. Aku bermaksud untuk tidak berbicara sampai akhir, tetapi aku memutuskan untuk meminjamkan uluran tangan, mungkin untuk menghormati keberanian Sakura sebelumnya.
"Horikita, apakah kita benar-benar kehabisan pilihan?" aku bertanya.
“…………”
Horikita tidak menanggapi. Yah, apakah dia bahkan punya kata-kata yang tersisa?
“Saya tidak terlalu pintar, jadi saya tidak bisa menemukan solusi. Saya setuju, bagaimanapun, pikirkan bahwa kami mungkin harus menerima kompromi yang anda usulkan kepada kami, Sakagami-sensei,” kataku.
“Benar,” jawab Sakagami-sensei sambil tersenyum, mendorong kacamatanya ke atas hidungnya.
“Kami tidak memiliki bukti mutlak bahwa Sudou tidak bersalah. Saya kira saya harus mengatakan bukti seperti itu tidak ada. Jika peristiwa ini terjadi di ruang kelas atau toserba, jumlah siswa yang lebih banyak akan berkumpul untuk melihatnya, dan mungkin akan ada bukti yang kuat. Tidak ada catatan siapa pun yang menonton adegan ini terungkap. Karena peristiwa ini terjadi di gedung khusus, di mana tidak ada orang di sekitar, tidak ada yang bisa kami lakukan.”
Aku menghela napas dalam-dalam dan menggelengkan kepalaku. Aku melihat langsung ke mata Horikita, dan dia balas menatapku. Aku berbicara seolah-olah kami menerima kekalahan.
"Saya mengerti mengapa kita melakukan diskusi ini. Tidak peduli seberapa banyak kami mengajukan banding, Kelas C tidak akan mengakui bahwa mereka berbohong. Sudou juga tidak akan mengakui bahwa dia berbohong. Kita benar-benar hanya akan terus bolak-balik. Sejujurnya, itu sampai pada titik di mana saya akan merasa lebih senang jika saja tidak ada diskusi ini dari awal. Tidakkah anda setuju?"
Horikita mengarahkan pandangannya ke bawah. Aku penasaran apa yang dia pikirkan. Jika dia tidak bisa mencerna inti dari kata-kataku, maka semuanya akan berakhir di sini.
“Jadi, itu saja, ya? Nah, perwakilan Kelas D Horikita-san. Tolong berikan pendapatmu tentang masalah ini.” Sakagami-sensei telah mencerna apa yang kukatakan secara harfiah. Dengan kata lain, sebagai pernyataan kekalahan. Untuk Kelas C, kemenangan berarti tidak membiarkan Sudou dibebaskan. Ekspresi Sakagami-sensei menunjukkan bahwa dia telah memenangkan pertandingan ini.
"Saya mengerti ..." jawab Horikita, perlahan melihat ke atas.
“Horikita!” Sudou berteriak. Itu adalah raungan seorang pria yang, lebih dari orang lain, tidak mau mengaku kalah. Dia tidak bisa. Namun, Horikita tidak berhenti di situ. Dia melanjutkan dengan kata penutupnya.
“Saya pikir Sudou-kun, yang menyebabkan insiden itu, memiliki masalah. Dia tidak pernah berhenti untuk mempertimbangkan tindakannya, yang membuat semua orang tidak nyaman di sekelilingnya. Dia punya sejarah perkelahian. Dia tipe orang yang membesarkan suara dan melayangkan tinju segera setiap kali ada sesuatu yang tidak menyenangkan dia. Dalam insiden yang menggemparkan seperti ini, yah, harusnya sudah jelas siapa yang menyebabkannya.”
“H-Hei!”
“Kamu harus mengerti, Sudou-kun. Sikapmu lah yang menyebabkan semua ini.” Horikita menatap tajam ke arah Sudou, hampir seolah-olah ingin menaklukkan keganasan Sudou. “Inilah mengapa saya tidak termotivasi sama sekali untuk membantu Sudou-kun sejak awal. Saya tahu bahwa bahkan jika saya memaksakan diri untuk membantu, dia hanya akan mengulangi kesalahan yang sama lagi dan lagi.”
"Jawaban yang sangat jujur. Masalahnya tampaknya sudah selesai sekarang, bukan?"
"Terima kasih banyak. Silakan duduk kembali," Sekretaris Tachibana berkata kepada Horikita.
Sebuah periode keheningan berlanjut. Setelah itu Sudou jelas menjadi kesal. Dan kemudian, bahkan setelah 5, 10 detik menunggu, Horikita tidak duduk kembali.
"Bisakah anda duduk kembali?" Sekretaris Tachibana meminta Horikita untuk duduk sekali lagi, seolah-olah dia curiga Horikita tidak bisa mendengarnya. Tapi Horikita masih belum juga duduk. Dia terpaku pada para guru, terus menatap ke arah mereka.
“Dia harus merenungkan tindakannya. Namun, tidak dalam kasus khusus ini. Ketika saya mengatakan dia harus merenung, maksud saya dia harus melihat kembali tindakan masa lalunya. Mengenai insiden khusus ini, bagaimanapun, saya tidak berpikir Sudou-kun melakukan sesuatu yang salah. Ini bukan peristiwa malang yang terjadi hanya secara kebetulan. Saya yakin bahwa ini adalah langkah yang disengaja yang dibuat oleh Kelas C. Saya sama sekali tidak berniat menerima kekalahan dengan lemah lembut.”
Horikita memecah keheningan panjang dengan kata-kata angkuh ini.
“Jadi...apa maksudmu?” Kakak Horikita memandang adik perempuannya untuk pertama kalinya. Horikita tidak menyusut di bawah tatapannya. Dia mungkin merasa bahwa ini bukan waktunya untuk takut, bahwa dia harus berani di depan Sakura. Atau mungkin dia bisa melihat jalan menuju resolusi final?
“Jika anda tidak mengerti, saya akan mengatakannya sekali lagi. Kami mengklaim bahwa Sudou-kun sama sekali tidak bersalah. Oleh karena itu, kami tidak dapat menerima skorsing dari sekolah, bahkan hanya untuk satu hari.”
“Ha ha... aku tidak habis pikir. Kami melakukan ini dengan sengaja? Sungguh klaim yang aneh. Rupanya, adik ketua OSIS tidak bisa apa-apa selain memuntahkan omong kosong.”
“Sudou-kun adalah korban, seperti yang dilihat oleh saksi. Jangan membuat kesalahan dalam penilaian Anda.”
Para siswa Kelas C mulai berteriak dengan keras.
"Jangan main-main! Akulah korban di sini!"
Sudou, dipaksa oleh teriakan itu, mengangkat suaranya sekali lagi. Keberatan dan kemarahan datang dengan cepat. Semua orang mengerti bahwa kami tidak akan menemukan solusi dengan cara ini.
"Cukup. Melanjutkan diskusi ini hanya akan membuang-buang waktu." Horikita Manabu menatap kami seolah-olah kami baru saja bertukar kebohongan dalam pertandingan lempar batu sembunyi tangan.
“Yang dapat saya simpulkan hari ini adalah bahwa masing-masing pihak memiliki klaim yang berlawanan. Dalam hal ini, satu pihak sedang menyebarkan kebohongan yang sangat jahat.”
D atau C? Kelas mana yang membohongi sekolah? Jika fakta ini terbongkar, konsekuensinya akan lebih besar daripada skorsing.
"Saya akan bertanya pada kalian, Kelas C. Apakah kalian berbohong kepada kami hari ini?"
"Te...Tentu saja tidak!"
"Nah, bagaimana dengan kalian, Kelas D?"
“Aku tidak berbohong. Semua yang kami katakan adalah kebenaran.”
"Kalau begitu kita akan berkumpul kembali di sini untuk sidang ulang besok pukul 4:00 sore. Jika saat itu belum ditentukan dengan jelas pihak mana yang berbohong, atau tidak ada orang yang mengakui bahwa mereka bersalah, kami akan memberikan penilaian berdasarkan bukti yang sudah kami kumpulkan sejauh ini. Tentu saja, dalam hal ini kami mungkin harus mempertimbangkan kemungkinan dikeluarkan dari sekolah ini. Itu saja."
Setelah memberikan pernyataan itu, kakak Horikita mengakhiri pertemuan. Jika sidang diatur untuk dibuka kembali pada pukul 4:00 besok, maka itu menjadi waktu yang sangat sempit untuk mengungkap bukti baru.
"Apakah mungkin untuk memiliki sedikit lebih banyak waktu sebelum kita berkumpul kembali?" Horikita bertanya, mengangkat tangannya. Dia tidak memprotes, tetapi dia membuat penawaran.
“Jika masalah ini membutuhkan waktu ekstra sebelum sidang ulang, maka ketua OSIS akan menawarkan masa tenggang yang cukup. Dengan kata lain, jumlah waktu yang diberikan harus cukup untuk kasus ini. Perpanjangan waktu hanya ditawarkan dalam keadaan tertentu,” jawab Chabashira-sensei, melipat tangannya. Tampaknya dia telah memahami niat OSIS dan mempertimbangkannya.
Kami diminta untuk pergi. Semua orang tampak tidak puas saat mereka keluar dari ruang OSIS. Sakagami-sensei mendekati Sakura, yang sepertinya berada di ambang air mata. Dia mengatakan sesuatu yang sangat dingin padanya.
"Aku ingin kau merenungkan fakta bahwa banyak siswa akan terlibat dalam masalah ini karena kebohonganmu. Dan juga, jika kau berpikir bahwa kami akan bersikap lunak padamu jika kau mulai menangis, maka aku khawatir kau benar-benar bodoh. Kau seharusnya malu pada dirimu sendiri."
Sakagami-sensei dan murid-muridnya pergi, membiarkan kata-kata itu menggantung di udara. Siswa Kelas C berulang kali mengeluh bahwa saksi berbohong terlalu berlebihan saat mereka berjalan meninggalkan ruangan, hampir seolah-olah mereka ingin Sakura mendengar mereka. Keheningan pun segera menyelimuti ruang OSIS. Sakura, yang berusaha menahan suaranya sebaik mungkin, berlinang air mata.
“Aku berusaha sekuat tenaga untuk berbicara selama diskusi, tetapi apakah kita bahkan memiliki kesempatan? Horikita-san?”
“Aku tidak akan menyerah. Aku akan terus berjuang untuk mendukung kesaksianmu sampai akhir,” kata Horikita.
“Kau mengerti bahwa kita tidak akan bisa menyelesaikan masalah ini hanya dengan menjadi keras kepala. Bukankah itu hanya akan menyakiti lebih banyak orang dalam prosesnya?”
“Aku tidak punya niat untuk kalah. Kalau begitu, aku permisi.”
Setelah mengatakan itu, Horikita berbalik dan pergi. Sudou mengikuti. Aku meninggalkan ruang OSIS bersama Sakura.
“Maafkan aku, Ayanokouji-kun... kalau saja aku melangkah ke depan sejak awal, semuanya akan baik-baik saja, tapi ... semuanya berubah menjadi seperti ini karena aku tidak memiliki keberanian.”
“Itu akan berakhir sama bahkan jika kau melangkah maju dari awal. Mereka akan berjuang untuk mendiskreditkan kesaksianmu hanya karena saksinya berasal dari Kelas D. Hasilnya akan sama.”
"Tapi!"
Jika mereka mencurigai Sakura adalah pembohong, dia mungkin tidak akan bisa menyelamatkan Sudou sendirian. Dengan emosi yang tidak karuan, Sakura mulai menangis, air mata yang deras mengalir di pipinya. Jika Hirata ada di sini, dia mungkin akan dengan ramah menawarinya saputangan. Anehnya, adegan ini sepertinya meniru saat Horikita lumpuh beberapa saat ketika bertemu kembali dengan kakaknya. Itu adalah momen déjà vu yang dalam.
Mengapa dunia ini dibagi menjadi pemenang dan pecundang? Aku sudah menyaksikan banyak kemenangan dan kekalahan, dan telah melihat betapa eratnya sukacita dan kesedihan tampaknya terkait dengan hasil tersebut. Aku tidak bisa begitu saja meninggalkan Sakura, jadi aku memutuskan untuk menunggu sampai dia bisa bergerak.
"Kau masih di sini?"
Kakak Horikita dan Sekretaris Tachibana keluar dari ruang OSIS. Sekretaris Tachibana mulai mengunci pintu.
"Apa yang kau rencanakan?"
"Apa maksudmu?" aku bertanya.
“Kupikir ketika kau datang ke sini bersama Suzune, kau akan mengungkap semacam rencana yang hebat.”
"Aku bukan Zhuge Liang atau Kuroda Kanbei. Aku tidak punya rencana apapun."
“Jadi, apakah itu berarti ketika Suzune mengklaim Sudou sepenuhnya tidak bersalah, dia hanya terbawa suasana?”
“Maksudmu, terlalu berlebihan? Aku tidak berpikir begitu.”
"Begitu, ya."
Anehnya, meskipun pertemuanku dengan kakak Horikita hingga sekarang selalu singkat, percakapan kami tetap berlanjut. Meskipun dia meninggalkan kesan yang buruk padaku selama pertemuan pertama kami, aku menyadari kalau dia mudah untuk diajak bicara sekarang. Mungkin ini yang diharapkan dari seseorang yang telah naik peringkat menjadi ketua OSIS. Dia memiliki pemahaman yang unggul tentang sifat manusia.
"Jadi itulah yang kau katakan, Sakura." Kakak Horikita menoleh ke Sakura, yang menahan tangisnya. “Kesaksian dan bukti foto tentu membawa bobot selama diskusi. Namun, ingatlah bahwa seberapa besar kita menghargai bukti ditentukan oleh seberapa banyak kita percaya pada kebenaran bukti itu. Tidak peduli apa yang kau lakukan, kualitas buktinya berkurang karena kau adalah siswi dari Kelas D. Tidak peduli seberapa detailnya kesaksianmu, kami tidak dapat 100% menerimanya.”
Pada dasarnya, dia menyebut Sakura pembohong.
“A-Aku... aku hanya... mengatakan yang sebenarnya...”
"Jika kau tidak dapat membuktikannya, maka itu tidak lebih dari sekedar omong kosong."
Sakura menundukkan kepalanya karena frustrasi, menangis sekali lagi.
“Aku percaya padanya. Aku percaya kesaksian Sakura,” kataku.
“Karena dia adalah siswi Kelas D, wajar saja jika kau ingin percaya padanya.”
"Aku tidak mengatakan bahwa aku ingin mempercayainya. Aku bilang aku percaya padanya. Itu hal yang berbeda."
"Jadi, bisakah kau membuktikannya? Bisakah kau membuktikan kalau dia tidak berbohong?"
“Itu bukan keputusanku. Adikmu yang akan membuktikannya. Jika Sakura tidak berbohong, maka adikmu akan menemukan cara untuk meyakinkan semua orang.”
Kakak Horikita terkekeh pelan, lalu tersenyum, seolah mengisyaratkan bahwa hal seperti itu mustahil untuk dilakukan.
Setelah kakak Horikita dan Tachibana pergi, aku mendekati Sakura, yang masih belum bisa bergerak.
"Ayo. Tenanglah, Sakura. Tidak ada gunanya menangis terus."
“Tapi... ini semua salahku... Hiks.”
"Kau tidak melakukan kesalahan apa pun. Kau hanya mengatakan yang sebenarnya, 'kan?"
"Tapi... aku..."
“Aku akan mengatakannya sekali lagi. Kau tidak melakukan kesalahan apa pun.”
Aku sedikit berjongkok agar bisa menatap mata Sakura. Dia menundukkan kepalanya sekali lagi, seolah-olah dia tidak ingin ada yang melihat air matanya.
"Aku percaya padamu. Aku bersyukur karena kau sudah datang ke sini hari ini. Berkat dirimu, kita sekarang memiliki kesempatan untuk menyelamatkan Sudou dan teman sekelas kita."
“Tapi... aku... Bukankah aku sama sekali tidak berguna?”
Seberapa kecil kepercayaan yang dimiliki gadis ini pada dirinya sendiri?
"Aku percaya padamu karena kau adalah temanku."
Aku meletakkan tanganku di bahunya. Membalikkannya dengan agak paksa, Aku mencoba membuatnya menatap mataku.
Aku mengulanginya dengan keyakinan. Aku mengatakan kepadanya, "Lakukan demi dirimu sendiri."
~ Bersambung ~
Komentar
Posting Komentar