CHAPTER 4
Masing-Masing dan Setiap Prediksi
Sakura membawaku ke tempat yang ingin dia kunjungi. Harus kuakui, aku tidak menyangka akan dibawa ke sini. Kami pergi ke bagian gedung yang digunakan khusus untuk kegiatan klub, terletak jauh dari sekolah. Dia menuntunku berkeliling gedung yang bertuliskan Japanese flair, yaitu gedung yang dipakai oleh klub panahan dan klub upacara minum teh. Dari jarak dekat, kami bisa mendengar suara anak panah yang ditembakkan.
“Kau tidak ada ikut kegiatan klub, 'kan?”
“Tidak, tapi aku ingin datang ke sini setidaknya sekali. Aku akan menonjol jika aku datang sendiri, jadi...”
Jika kau berkeliaran di sini sendirian, orang akan mengira kau tertarik untuk bergabung dengan klub mereka. Namun, jika pasangan datang bersama, maka orang hanya akan menganggap mereka sedang berkencan.
“Kenapa kamu mengajakku keluar, sih?” dia bertanya.
“Hmm? Kenapa? Agak sulit untuk menjawab ketika kau bertanya kepadaku seperti itu.” Aku khawatir tentang bagaimana semuanya akan berjalan besok. Tetapi bahkan jika aku mengatakan sesuatu, aku masih merasa tidak nyaman. “Aku mengajakmu keluar karena kupikir itu akan lebih baik untuk mendapatkan perubahan suasana, kukira. Maksudku, aku agak penyendiri, jadi aku biasanya hanya diam di kamarku. Aku memiliki kecenderungan untuk mundur sepanjang waktu.”
Sakura tampak agak tidak yakin dengan jawabanku yang berbelit-belit. “Ayanokouji-kun, bukankah kamu punya banyak teman?”
“Aku? Memangnya siapa saja?”
“Horikita-san, Kushida-san, Ike-kun, Sudou-kun, Yamauchi-kun...” Dia menyebutkan nama mereka sambil menghitungnya dengan jarinya.
“Yah, mereka hanya untuk pencitraan. Tidak, kau benar, teman adalah teman. Maksudku adalah, hanya sebatas itulah hubungan kami. Aku merasa seperti aku masih terasingkan dari kelompok dan berusaha ikut-ikutan. Apakah kau pikir kami akrab, Sakura?”
Sakura mengangguk tanpa ragu. Jika dia berkata begitu, mungkin itu benar. Kurasa aku hanya tidak mengerti diriku sendiri.
“Aku sama sekali tidak tahu bagaimana caranya berteman. Aku iri. Kamu adalah orang pertama yang memanggilku teman.”
“Bagaimana dengan Kushida? Bukankah dia orang pertama yang mengajakmu keluar?”
Dengan malu-malu, Sakura memberikan senyum mencela diri sendiri. “Ya. Aku harus meminta maaf kepada Kushida-san kapan-kapan. Dia adalah orang pertama yang menelepon dan mengajakku keluar, karena aku tidak memiliki keberanian ... aku sebenarnya ingin hang out dengan dia. Aku tidak bisa menjawabnya, tidak peduli apa yang kulakukan. Aku sangat menyedihkan.”
Jika kau pandai bercakap-cakap dengan orang lain, itu akan lebih mudah. Aku sekali lagi terkesan dengan kemampuan Horikita saat mengejek Ike dan Yamauchi sementara juga berurusan dengan orang yang masih asing baginya. Itu adalah bakat yang luar biasa.
“Bolehkah aku memberimu sedikit saran untuk besok?”
Aku tidak bermaksud memberinya dorongan kosong seperti "Lakukan yang terbaik." Sakura harus menghadapi hari esok sepenuhnya sebagai dirinya sendiri.
“Demi Sudou. Demi Kushida. Demi teman sekelasmu. Campakkan saja semua pemikiran semacam itu.”
“Hah? Campakkan saja... semuanya?”
“Ketika kau bersaksi besok, bicaralah demi dirimu sendiri. Sebagai seseorang yang memberitahu kebenaran dari apa yang dilihatnya, sebagai seorang saksi.”
Itu baik bagi orang yang mandiri untuk mencoba melakukan sesuatu untuk orang lain. Namun, Sakura masih belum bisa merawat dirinya sendiri dengan baik. Dia punya kecenderungan untuk membungkus dirinya dan menanggung rasa sakit, kesedihan, dan penderitaan sendirian. Jika kau sendiri tidak bahagia, maka kau juga tidak bisa membuat orang lain bahagia.
“Katakan yang sebenarnya demi dirimu sendiri. Lakukan itu, dan Sudou akan terselamatkan. Itu saja cukup.”
Aku tidak tahu seberapa efektif saranku. Jujur saja, itu mungkin hanya omong kosong yang tidak berarti. Tapi mungkin itu benar untuk mendorong Sakura agar berbicara demi dirinya sendiri. Mungkin aku melakukannya karena aku mengerti bagaimana rasanya diandalkan. Karena aku membutuhkan seseorang yang mengetahui bahwa aku memahami rasa sakit dan penderitaan saat berperang melawan kesepian.
“Terima kasih, Ayanokouji-kun.”
Mudah-mudahan, kata-kataku bisa tertanam di suatu tempat di hati Sakura.
~ Bersambung ~
Komentar
Posting Komentar