-->
Loading...

iklan adsense

Volume 2 Chapter 2 “Classroom of the Elite” Light Novel Bahasa Indonesia

Released on Juni 26, 2021 · 0 Views · Posted by firsyardha · Series

Download Volume 2 Chapter 2 “Classroom of the Elite” Light Novel Bahasa Indonesia, Streaming Volume 2 Chapter 2 “Classroom of the Elite” Light Novel Bahasa Indonesia, jangan lupa untuk klik like dan bagikan. Series First Year Volume 2 selalu update di MarinSubs. Jangan lupa menonton Series terbaru lainnya.

Refresh Jika Loading Video Lebih Dari 1 Menit. Jika Video Error Hubungi Saya Atau Tuliskan di Komentar ...!!
CHAPTER 2
Titik Lemah

INTRO

Kabar buruk terus saja datang. Selama pelajaran wali kelas keesokan paginya, saat Chabashira-sensei hendak pergi, dia menyerang kami dengan pengumumannya yang sangat singkat dan tiba-tiba. 

“Aku punya pengumuman untuk kalian semua. Ada sedikit masalah beberapa waktu yang lalu, insiden antara siswa yang duduk di sana, Sudou, dan beberapa siswa dari Kelas C. Singkatnya, terjadi perkelahian.” 

Ruang kelas menjadi heboh. Tergantung pada tingkat tanggung jawab yang dimiliki Kelas C dengannya, Sudou bisa saja diskors, dan kami mungkin akan mendapat pengurangan poin kelas. Chabashira-sensei mengungkapkan seluruh situasinya kepada kelas. Wajahnya tidak menunjukkan emosi ataupun minat ketika dia berbicara, benar-benar ketenangan yang indah. Dia tidak memasukkan prasangka pribadi apa pun ketika dia berbicara di depan kelas, dan menjelaskan situasinya dari posisi netral. 

“Um. Jadi mengapa masalah ini belum terselesaikan?” Hirata memberikan pertanyaan yang masuk akal. 

"Keluhan datang dari Kelas C. Mereka mengklaim kalau perkelahian itu berat sebelah. Tapi, ketika kami berbicara dengan terdakwa, Sudou mengatakan kalau klaim mereka itu palsu. Dia bersikeras kalau siswa Kelas C yang memanggilnya dan memulai perkelahian." 

“Itu bukan salahku! Itu adalah pembelaan diri! Pembelaan diri, tahu!” teriak Sudou sambil menghadapi tatapan dingin teman-teman sekelasnya. 

"Tapi tidak ada bukti tentang hal itu, 'kan?" 

“Bukti apa? Aku tidak punya.” 

"Jadi dengan kata lain, kita masih belum tahu kebenarannya. Oleh karena itu, kami menunda keputusan kami untuk saat ini. Respons kami, dan hukumannya, akan diberikan ketika kami mengetahui siapa yang salah." 

“Yang kutahu adalah bahwa aku tidak bersalah. Jika aku memang salah, aku akan dengan senang hati menerima hukuman atas masalahku.”

"Begitulah yang dikatakan terdakwa, tapi aku tidak bisa begitu saja percaya dengan pernyataanmu itu sekarang. Jika ada saksi mata, seperti yang diyakini Sudou, maka situasinya bisa berubah. Jika ada orang di sini yang menyaksikan perkelahian itu, tolong angkat tanganmu." 

Chabashira-sensei terus berbicara dengan suara datar. Tidak ada siswa yang mengangkat tangan mereka sebagai tanggapan atas pertanyaannya. 

“Sayang sekali, Sudou. Sepertinya tidak ada saksi mata di kelas ini.” 

"Sepertinya begitu," gerutunya. 

Ketika Chabashira-sensei menatap Sudou dengan ragu, dia melirik ke bawah. 

“Untuk menemukan saksi mata, setiap guru akan memberi tahu kelas mereka tentang detail dari kejadian ini.” 

"Hah?! Kau akan memberi tahu semua orang?!"

Sekolah mungkin tidak ada sangkut pautnya dalam masalah ini. Karena Sudou bersikeras itu adalah tuduhan palsu dan mengemukakan adanya saksi mata, jadi sekolah harus yakin. Bagi Sudou, yang berharap untuk menyembunyikan situasi tersebut, ini bukanlah hal yang baik. 

"Sial!" 

Rencana Sudou sudah hancur berantakan. 

“Pokoknya, itu saja. Kami akan membuat penilaian terakhir kami pada hari Selasa depan, dengan mempertimbangkan saksi mata dan barang bukti. Kalau begitu, mari kita akhiri sesi bimbingan wali kelas untuk hari ini.” 

Chabashira-sensei pergi meninggalkan ruang kelas, dan Sudou mengikuti tepat di belakangnya. Dia mungkin menyadari bahwa jika dia tetap diam di kelas, dia akan kehilangan kesabarannya di hadapan seseorang. 

“Wah, yang benar saja si Sudou itu?” Ike adalah orang pertama yang berbicara. 

"Jika kita kehilangan poin kelas karena Sudou, apa itu artinya kita tidak akan mendapat poin pribadi lagi bulan ini?" 

Saat keributan menyelimuti ruang kelas, situasinya pun mulai tidak terkendali. Jika kami kehilangan poin kelas karena hal ini, kemungkinan besar Sudou akan menjadi satu-satunya orang yang disalahkan. Tentu saja, Kushida tidak ingin hal ini terjadi.

“Teman-teman, bisakah kalian mendengarkanku sebentar?” Kushida berdiri dan berusaha meredam keributan itu. 

“Apa yang dikatakan sensei sepertinya benar. Sudou-kun mungkin memang terlibat dalam sebuah perkelahian. Namun, Sudou-kun lah yang terseret ke dalamnya.” 

“Kushida-chan, apa maksudmu? Apa kamu mempercayai Sudou?” 

Kushida menyampaikan cerita kemarin kepada seluruh kelas. Dia memberi tahu mereka tentang Sudou yang dipilih sebagai kandidat pemain utama di tim basket. Dia juga menceritakan tentang beberapa siswa di klub basket yang iri dengan Sudou, dan tentang mereka yang memanggil Sudou dan mengancamnya agar keluar dari tim. Dia juga menjelaskan bahwa Sudou, hanya membela dirinya, karena itulah dia memukul mereka. 

Sebagian besar siswa mendengarkan kata-kata tulus Kushida dalam diam. Jika Sudou atau aku yang mencoba menjelaskan situasinya dengan cara yang sama, kami mungkin tidak akan bisa seefektif ini. Namun, tidak semua orang di kelas dengan mudah percaya dengan cerita itu. Perilaku Sudou yang biasanya buruk membuat hal itu sulit untuk dicerna, tidak peduli seberapa masuk akal kedengarannya. 

"Aku ingin bertanya lagi kepada kalian semua. Jika ada yang tahu tentang seseorang yang melihat perkelahian itu, entah itu seseorang di kelas, teman, atau kakak kelas, tolong beritahu aku. Kalian dapat menghubungiku kapan saja. Aku akan sangat menghargainya." 

Meskipun pada dasarnya dia mengatakan hal yang sama seperti Chabashira-sensei, tapi para siswa itu memberikan respons yang sangat berbeda. Dia memiliki kemampuan bawaan untuk terhubung dengan orang-orang. Kehadirannya bersinar begitu terang sehingga aku hampir bisa merasakannya. 

Seketika, keheningan menyelimuti kelas. Yang pertama berbicara bukan saksi mata, tapi Yamauchi. 

“Hei, Kushida-chan. Aku tidak percaya dengan yang dikatakan Sudou. Kupikir dia berbohong sehingga dia bisa membenarkan apa yang dia lakukan. Dia pernah bercerita tentang memukuli orang-orang selama di SMP. Dia bahkan memberi tahu kami tentang betapa menyenangkannya memukuli orang-orang.” 

Setelah Yamauchi menyuarakan keprihatinannya, seluruh kelas bergumam membicarakan keburukan Sudou. 

“Aku pernah melihatnya mencengkeram kerah seorang siswa hanya karena mereka saling bertabrakan di koridor.” 

"Aku pernah melihatnya memotong antrean di kantin dan mengamuk ketika seseorang mencoba untuk mengatakan kepadanya bahwa itu tidak baik."

Usaha Kushida untuk membuktikan kalau Sudou tidak bersalah, tampaknya tidak bisa meyakinkan semua orang. Mereka sudah terlanjur kecewa dengan Sudou, karena Sudou mungkin akan membuat kami kehilangan poin kelas yang telah diperoleh dengan susah payah. 

"Aku ingin percaya pada Sudou-kun." 

Hirata, pahlawan kelas, mengucapkan kata-kata itu saat dia berdiri untuk mendukung Kushida. Penampilannya gagah, dan dia jelas tidak terbawa arus anti-Sudou seperti yang lainnya. 

“Jika seorang siswa di kelas lain meragukannya, aku bisa memahaminya,” kata Hirata. “Tapi seharusnya kita tidak boleh meragukan teman sekelas kita sendiri. Bukankah teman seharusnya melakukan segalanya dengan kekuatan mereka untuk membantu seseorang yang membutuhkan bantuan?” 

"Aku setuju!" 

Karuizawa, pacar heroik Hirata, berseru setuju, mengibaskan poninya ke samping dengan tangannya saat dia berbicara. 

“Jika itu tuduhan palsu, itu akan menjadi masalah, 'kan? Bagaimanapun, kalian akan merasa tidak enak padanya jika dia ternyata tidak bersalah, 'kan?” 

Jika Kushida hidup dengan kelembutan hatinya, maka Karuizawa hidup dengan kekuatan tekadnya. Mungkin karena Kushida dan Karuizawa memiliki pengaruh besar di kelas, akhirnya banyak gadis yang mulai memberikan dukungan mereka. 

Ini adalah tipikal orang Jepang. Mereka akan mengikuti seseorang yang berani memimpin. Meskipun mereka mungkin mengejek Sudou di dalam hati mereka, mereka tetap akan membantu Sudou. Kritik terhadap Sudou berhenti, setidaknya untuk saat ini. Hirata, Kushida, dan Karuizawa telah membuat semua siswa di kelas kagum. 

“Aku akan mencoba bertanya pada teman-temanku!” 

"Kalau begitu, aku akan mencoba bertanya pada kakak kelas yang aku kenal di klub sepak bola!" 

"Aku juga akan bertanya-tanya." 

Dimulai dengan ketiganya, kami pun memulai penyelidikan kami untuk membuktikan ketidakbersalahan Sudou. Yah, kukira aku tidak perlu ambil bagian. Lagipula aku tidak ahli dalam hal ini. Lebih baik serahkan saja pada mereka dan menghilang dengan tenang.

PART 1

“Aku berencana untuk menghilang... Tapi...” 

Istirahat makan siang. Untuk beberapa alasan, aku terlibat dengan kelompok kami yang biasanya di kantin. Kelompok kami terdiri dari aku sendiri, Kushida, Horikita, Ike, Yamauchi, dan Sudou. Tidak ada cara untuk menghindarinya. Saat waktu istirahat makan siang tiba, Kushida mengajakku sambil tersenyum. Dia berkata, "Mau makan siang?" Kubilang oke, tentu saja. Maksudku, aku tidak punya pilihan dalam situasi ini. 

“Sepertinya kamu selalu membuat dirimu terlibat dalam masalah, Sudou-kun.” 

Horikita menghela nafas putus asa. Tentu saja, kami sedang mendiskusikan tentang bagaimana cara untuk membuktikan bahwa Sudou tidak bersalah. 

“Yah, kurasa kita tidak punya banyak pilihan. Sebagai temanmu, kami akan membantumu, Sudou.” Meskipun Ike pada awalnya menentang Sudou, sikapnya benar-benar berubah. Itu pasti karena Kushida memohon padanya dan memintanya untuk membantu. Mengabaikan perasaan Ike yang sebenarnya tentang masalah itu, Sudou masih meminta maaf. 

“Maafkan aku, Horikita. Aku lagi-lagi menyebabkan masalah bagimu. Tapi kali ini, itu benar-benar bukan salahku. Yang kulakukan hanyalah meladeni rencana orang-orang brengsek dari Kelas C itu.” 

Sudou berbicara kepada Horikita dengan acuh tak acuh, hampir seolah-olah dia menggambarkan masalah orang lain. 

"Maaf, tapi aku tidak ingin membantumu kali ini." Horikita dengan ekspresi datar menolak permintaan bantuan Sudou. "Agar Kelas D naik peringkat, penting untuk memulihkan poin kelas yang hilang secepat mungkin. Namun, kita mungkin tidak akan mendapatkan poin sekarang, terima kasih. Kamu sudah menghalangi rencana itu." 

"Tunggu. Kau mungkin benar tentang itu, tapi bukan aku yang salah di sini! Orang-orang itulah yang menantangku berkelahi! Bagian mana dari hal itu yang merupakan salahku?"

“Kamu terlalu berfokus pada siapa yang memulai perkelahian, itu cuma hal yang sepele. Apa kamu tidak pernah mempertimbangkannya?” 

“Apanya yang sepele? Tentu saja itu hal yang penting! Aku tidak melakukan kesalahan apapun!”

"Begitu ya? Yah, semoga kamu berhasil."

Horikita mengambil nampannya yang belum tersentuh dan berdiri. 

"Jadi kau tidak akan membantu? Kupikir kita ini teman!" 

"Jangan membuatku tertawa. Aku tidak pernah sekalipun menganggapmu sebagai teman. Aku hanya merasa tidak nyaman berada di dekat seseorang yang tidak menyadari kebodohannya sendiri. Selamat tinggal." 

Horikita tampak lebih seperti jengkel daripada marah. Dia menghela nafas dalam-dalam, dan pergi. 

"Ada apa sih dengannya?! Persetan!" 

Tidak dapat mengarahkan amarahnya ke tempat lain, Sudou pun memukulkan tinjunya ke meja kantin, menumpahkan sup miso milik siswa di dekatnya. Murid itu melotot, tetapi ketika dia melihat betapa menakutkannya Sudou, dia tetap diam. Ya. Aku bisa memahami perasaan itu dengan cukup baik. 

"Kurasa sekarang tergantung kita." 

“Aku tahu kau pasti akan mengerti, Yamauchi. Aku juga benar-benar mengandalkanmu, Ayanokouji.” 

Rupanya aku berada di urutan kedua setelah Yamauchi. Yah, aku tidak terlalu terkejut dengan hal ini. 

“Bahkan jika kau memintaku untuk membantu, kau tahu kan kalau tidak banyak yang bisa kulakukan?” 

Mencoba merendahkan diri sendiri tampaknya tidak efektif. 

“Kamu sudah seperti itu sejak kemarin, Ayanokouji-kun. Bagaimana menurutmu, Ike-kun?” 

"Yah, aku... maksudku, sungguh aneh kalau Ayanokouji berpikir dia tidak akan berguna. Setidaknya dia berada di sana untuk membantu daripada tidak sama sekali, kurasa? Mungkin?" 

Seperti yang diharapkan, Ike tidak bisa memikirkan bagaimana aku bisa berguna. Aku melihat ke arah Kushida dengan puas. Itu seperti aku memperlihatkan seseorang yang tidak berbakat dalam hal ini. 

“Ini sedikit mengecewakan. Kupikir dengan menghadapi ujian itu bersama-sama, kita semua bisa menjadi sedikit lebih dekat,” kata Ike yang kecewa.

Aku melihat Horikita duduk agak jauh, dia terlihat sedikit kesal. 

“Aku sama sekali tidak mengerti Horikita. Ada apa dengannya, Ayanokouji? Kenapa dia bertingkah seperti itu?” 

Aku tidak tahu bagaimana menjawabnya. Apa mereka pikir aku ini buku petunjuk? Aku pun mengambil sesuap nasi untuk menghindari pertanyaan itu. 

“Ini aneh. Horikita-san ingin naik ke Kelas A, 'kan? Menyelamatkan Sudou-kun berarti kita akan mendapatkan lebih banyak poin kelas, jadi kenapa dia tidak membantu?” 

“Apa karena dia membenci Sudou? Maksudku, dia hanya bilang kalau dia tidak menganggapnya sebagai teman.” 

Membenci Sudou mungkin bukan alasannya. Tapi semua orang sepertinya sudah salah memahami situasinya. Mereka pikir dia tidak akan membantu karena alasan pribadi. 

"Aku tidak ingin memikirkannya, tapi kurasa itu mungkin benar." 

“Kushida, Horikita itu... ” 

Tanpa pikir panjang, kata-kata mulai keluar dari mulutku. Kushida melihatku, minatnya terusik. 

“Horikita-san itu... ?” dia bertanya. 

"Ah. Yah, ini mungkin tidak ada hubungannya, tapi aku ingin mengatakan sesuatu. Kupikir Horikita memang selalu berbicara dengan cara yang agak kasar. Tapi kupikir... kalian sudah salah paham dengannya."

"Hah? Apa maksudmu?" 

"Kupikir dia tidak akan membantu tanpa alasan untuk melakukannya." 

“Tunggu, apa yang kau bicarakan? Dari tadi kau terus mengatakan kupikir, kupikir, kupikir. Apa kau hanya menebaknya?” Sudou tiba-tiba memotong pembicaraan. Sejak Horikita selalu ada di pikirannya, dia mungkin tidak terlalu senang tentang penolakannya. Itu tidak sulit untuk dijelaskan, tapi bagaimana cara melakukannya? Horikita mungkin menyadari sesuatu ketika sensei memberi tahu kami tentang kejadian itu. Kejadian itu terjadi karena suatu alasan. Dan akhir yang dilihat Horikita...

Yah, kemungkinan akhir yang bahagia hampir tidak ada. Setelah menyadari itu, dia mungkin dengan sengaja bersikap dingin terhadap Sudou. Namun, jika sekarang aku memberi tahu mereka tentang hal itu, mereka mungkin akan berkecil hati. Itu hanya akan memperburuk keadaan. Karena aku tidak tahu bagaimana diskusi ini akan berlanjut, aku pun ragu-ragu untuk menjelaskannya.

Horikita mungkin tidak ingin menghancurkan semangat mereka, jadi dia pergi. 

“Yah... Ya, aku hanya menebak seperti yang kau katakan, Sudou.” 

"Terus? Kau tidak tahu alasannya?" 

“Horikita itu pintar, 'kan? Jadi kupikir dia mungkin punya ide.” 

"Ide apa? Untuk membuangku seperti sampah?"

“Wow, tunggu. Mari kita tidak mengkritik siapa pun. Wajar saja kalau Ayanokouji akan membela Horikita-chan, karena mereka selalu bersama setiap waktu. Dia penting baginya, 'kan?” 

Ike menyeringai nakal dengan ekspresi dengki. Dia seperti sedang mengejekku. Sudou semakin kesal, dan mendecakkan lidahnya sebelum meraih makanannya. 

“Yah, alangkah baiknya jika seorang saksi mata ditemukan. Para guru akan berkeliling dan berbicara kepada setiap kelas tentang kejadian tersebut. Ketika mereka menemukan seseorang, semuanya pasti bisa diselesaikan dengan cepat.” 

Aku mengerti dengan angan-angan itu, tetapi apakah akan semudah itu? 

Sejujurnya, kami sedang menghadapi rintangan yang sangat sulit. Tidak masuk akal jika Horikita menyerah begitu saja. Selain itu, bahkan jika ada saksi, itu akan menjadi skakmat bagi kami jika saksi itu kebetulan berasal dari Kelas C. Itu wajar bagi siswa Kelas C untuk menyembunyikan kebenaran dan melindungi teman sekelas mereka. Bagaimanapun, sekolah ini adalah hierarki. Rasanya tidak mungkin kalau perasaan bersalah seseorang akan melebihi kerugian kelas mereka. 

Bahkan jika saksi itu berasal dari kelas yang berbeda, masalahnya adalah seberapa banyak yang dia lihat. Jika saksi mata itu telah melihat keseluruhan peristiwa dari perspektif yang benar-benar netral, maka itu akan menjadi cerita yang berbeda. Tapi...

"Ah maaf. Aku harus pergi sebentar. Aku akan mencoba bertanya kepada kakak kelas jika mereka melihat sesuatu."

Setelah itu, Kushida bangkit dari tempat duduknya. 

“Kamu berusaha sekuat tenaga untuk seseorang seperti Sudou, Kushida-chan. Itu sangat imut.” Ike, benar-benar terpesona, tetap terpaku pada bagian belakang Kushida saat dia berjalan pergi.

“Aku akan mengakui perasaanku pada Kushida-chan...” gumamnya. 

"Tidak mungkin. Apa kau pikir dia akan takluk denganmu, Ike?" kata Yamauchi. 

"Aku punya kesempatan yang lebih baik darimu." 

Tidak ada banyak perbedaan di antara mereka berdua. 

“Jika aku berpacaran dengan Kushida-chan... Ahhhhhh....” 

Ike mulai tenggelam dalam fantasinya, ngiler. Kemungkinan besar dia pasti memikirkan hal-hal yang tidak senonoh. 

"Hei. Kenapa kau berfantasi tentang Kushida-chan-ku seperti itu?" 

"T-tidak, aku tidak melakukannya..." katanya, tapi dia tampak seperti jatuh cinta. 

“H-hei, apa yang sedang kau bayangkan?! Cepat katakan!” Tampaknya Yamauchi tidak tahan dengan kenyataan bahwa Ike bisa melakukan sesuka hati dalam fantasinya. 

"Apa maksudmu, yang kubayangkan? Tentu saja, aku membayangkan diriku yang sedang memeluknya. Telanjang." 

Rupanya dia bisa membayangkan adegan itu berkat kekuatan delusi laki-laki, atau semacamnya.

"Sial! Aku tidak akan kalah! Aku juga memikirkan beberapa hal, tahu!" 

Ini sama sekali tidak etis. 

"Hentikan. Jangan sentuh Kushida-chan-ku dengan tangan kotormu!" 

Dalam beberapa hal, aku merasa sedikit kasihan pada Kushida. Karena dia sudah dijadikan subjek fantasi bejat mereka. 

“Kupikir hal terbaik tentang SMA adalah para gadis. Aku serius pengen punya pacar dalam waktu dekat. Jika aku bisa mendapatkan pacar pada musim panas kali ini, maka aku bisa pergi ke kolam renang bersamanya! Itu akan menjadi yang terbaik!” 

“Akan lebih baik jika Kushida-chan adalah pacarku... Itu akan menjadi yang terbaik jika dia adalah pacarku...” 

Yamauchi mengatakannya dua kali. Itu pasti penting baginya. 

"Tapi tunggu. Karena Kushida-chan sangat imut, tidakkah menurutmu dia bisa mendapatkan pacar kapan saja?" 

“Jangan katakan itu, Yamauchi! Selain itu, sepertinya dia masih belum memilikinya, jadi kita tidak perlu khawatir,” jawab Ike dengan percaya diri, meskipun sepertinya dia mencoba meyakinkan dirinya sendiri. 

"Apa kau ingin tahu? Aku yakin kalian berdua ingin tahu."

"Ingin tahu apa? Apa yang kau ketahui, Ike? Beritahu kami." 

Ike mengeluarkan ponselnya dengan suasana kelelahan yang tak terhindarkan. 

“Kau dapat melacak lokasi temanmu melalui ponselmu.” 

Ike mencari lokasi Kushida saat ini. Tak lama kemudian, detail tentang posisinya ditampilkan di layar. Sebuah penanda muncul di kantin. 

“Aku memeriksanya secara teratur, bahkan di akhir pekan. Aku berpura-pura bertemu dengannya secara kebetulan. Aku melakukan itu untuk memastikan dia belum punya pacar.” 

Dia menyilangkan tangannya dan memasang senyum percaya diri. Apa yang dia lakukan? Ini terdengar seperti menguntit. Kalau dia melangkah lebih jauh lagi, dia bisa berurusan dengan polisi. 

“Nyatanya, Kushida-chan berada di luar jangkauan kita. Dia tidak akan mau dengan orang selevel kita. Tapi bagaimana jika aku mengincar satu peringkat di bawahnya?”

"Ya. Yah, aku tidak mau memiliki pacar yang jelek." 

“Ya, saat aku memikirkan tentang kami yang berjalan berdampingan... Dia setidaknya berada di level 7 dari 10.” 

Kurasa Ike dan Yamauchi sama-sama menginginkan pacar. Fantasi mereka mungkin bukan hanya delusi, mereka tidak ingin menyerah pada harapan mereka yang tinggi. 

"Ayanokouji, apa kau menginginkan pacar?" 

"Ya, kukira. Jika itu memungkinkan."

Jika aku punya pacar, aku mungkin tidak akan terlalu menderita. 

“Untuk memastikan, benarkah tidak ada apa-apa antara kau dan Horikita?” Sudou mengarahkan sumpitnya ke arahku saat dia menanyakan pertanyaan itu. 

"Nggak." 

"Benarkah?" 

Dia menekan lagi, hampir seperti dia tidak percaya padaku. Aku menggelengkan kepalaku dengan tegas. 

“Oke, baiklah kalau begitu. Kukira aku salah paham. Kupikir kau terlalu menempel dengannya. Itu akan merepotkan Horikita.” 

Aku tidak ingat pernah menempel. Terutama tidak dengan Horikita. 

"Apa kau benar-benar yakin dengan Horikita? Maksudku, dia memang imut dan segalanya, tapi... dia terlihat agak membosankan, kau tahu? Aku tidak tahan dengan seseorang yang membosankan seperti nya. Dia tidak mau pergi ke kolam renang atau berkencan atau apa pun itu," kata Ike. 

“Kalian tidak tahu apa-apa. Bagaimanapun juga, Horikita lebih baik daripada Kushida,” Sudou menyilangkan tangannya dan mengangguk, membual tentang preferensi pribadinya. “Maksudku, jika itu pria lain, dia mungkin akan menjatuhkan mereka. Tapi jika kau adalah pacarnya, maka tidak apa-apa, 'kan? Kemudian dia akan menunjukkan sisi rahasianya yang tidak bisa dilihat orang lain.” 

“Begitu ya... aku merasa bisa membayangkan itu. Sangat imut." 

Yamauchi melirik Horikita dan tersesat dalam fantasi delusinya. 

“Tapi Horikita impianmu sepertinya telah menyingkirkanmu, Sudou.”

“Yah, kurasa begitu. Sial! Sekarang aku merasa sangat tertekan.” 

“Yah, aku tidak bisa bilang apa-apa. Jumlah saingan Kushida-chan baru saja berkurang satu.” 

Ike memperhitungkannya, memantau level 7 dari 10 peringkat gadis sambil memprioritaskan Kushida sebagai target utamanya. 

“Jadi Ayanokouji, kalau kau memang tidak punya hubungan apa-apa dengan Horikita, apa ada gadis lain yang kau suka? Maksudku, Sudou menyukai Horikita, dan Yamauchi menyukai Kushida-chan. Lagipula, kau harus memperhitungkan target sainganmu.” 

"Gadis lain..." 

Tidak ada seorang pun yang terlintas di pikiranku. Aku mencoba untuk sedikit serius memikirkannya. Kalau aku harus memilih seseorang, aku mungkin akan memilih... Kushida? Dia adalah orang yang paling sering kuajak bicara, jadi itu wajar saja. Tapi karena aku tahu dia tidak menyukaiku, kupikir itu tidak akan berhasil sama sekali. 

"Tidak, tidak ada," jawabku. 

Namun, Ike dan Yamauchi menatapku dengan ragu. 

“Apa kau benar-benar berpikir ada pria di luar sana yang tidak naksir pada seorang gadis?” 

"Tidak mungkin. Orang seperti itu tidak ada. Jangan sembunyikan kebenaran dari kami, Ayanokouji."

“Tidak seperti kalian, aku tidak begitu mengenal para gadis selain Horikita dan Kushida.” 

“Yah, kurasa kau mungkin benar. Aku belum pernah melihatmu berbicara dengan gadis lain.” 

Aku merasa agak tertekan karena mereka begitu yakin. 

"Kalau gitu, akan kukenalkan kau dengan beberapa gadis!" Ike melingkarkan tangannya di bahuku dan berbicara dengan percaya diri. 

"Bukankah ini menyedihkan, kau mencoba memperkenalkanku kepada para gadis sedangkan kau sendiri tidak punya pacar?" 

“I-Itu... ya.” 

“Hei, Sae-chan-sensei bilang kita akan berlibur di musim panas ini, kan? Kalau begitu aku pasti akan mendapatkan pacar. Kalau bisa, dengan Kushida-chan. Atau gadis imut lain yang belum pernah kulihat!”

"Aku juga, aku juga! Bahkan jika dia adalah gadis yang tidak populer, aku pasti akan mendapatkan pacar ... dan kemudian aku akan menikmati kehidupan SMA yang mesra dan sangat indah!"

“Kapan aku harus menyatakan perasaanku pada Horikita?” 

Mereka bertiga dengan bebas berbicara tentang objek kasih sayang mereka. 

"Kita harus mengadakan kontes untuk melihat siapa yang bisa mendapatkan pacar terlebih dahulu. Pemenangnya harus mentraktir makan semua orang! Kedengarannya bagus, kan?" 

Aku bertanya-tanya apakah berpartisipasi dalam kompetisi yang tidak tahu malu seperti itu akan benar-benar menjadikanku teman mereka. Kedengarannya sulit. 

“Ada apa, Ayanokouji? Kau tidak mencoba untuk lari dari kontes ini, kan?” kata Ike. 

"Tidak, aku hanya ingin tahu kenapa orang pertama yang mendapatkan pacar harus mentraktir semua orang." 

"Yah, seperti ini. Anggap saja sebagai semacam Pajak Kecemburuan dari para pria. Mengerti?" 

“Seorang pria akan bahagia ketika dia punya pacar. Karena dia bahagia, dia juga pasti senang mentraktir orang lain.” 

Meskipun tidak masalah bagi mereka untuk menjadi bersemangat, masalah Sudou tetap saja belum terselesaikan.

PART 2

Sepulang sekolah, kelas dibagi menjadi beberapa kelompok untuk bertemu dengan orang-orang dan bertanya-tanya. Namun, tidak banyak yang membantu untuk mencari saksi mata. Hirata dan Karuizawa memimpin Tim Pahlawan & Gal, sementara Kushida memimpin Tim Gadis Cantik & Rombongan. Mereka bermaksud untuk mencari di wilayah kampus. Meski begitu, akan sulit untuk mendapatkan hasil dalam rentang waktu yang sesingkat itu. 

Ada sekitar 400 siswa di sekolah ini. Bahkan jika kau tidak menghitung semua orang dari kelas 1-D, itu tidak akan membuat perbedaan besar. Menemui semua orang masih akan sulit bahkan jika kau memasukkan waktu istirahat, makan siang, sepulang sekolah, dan pagi hari. 

"Baiklah, aku akan kembali ke asrama." 

“Apa kamu benar-benar akan pulang? Horikita-san?” 

Horikita mengangguk tanpa ragu, dan segera meninggalkan kelas, seperti yang diharapkan. Dia tidak gemetar di bawah tatapan semua orang, ekspresi wajah mereka menyatakan 'Kau akan pergi?' Dia mungkin akan tumbuh menjadi seorang wanita galak, tipe yang meninggalkan acara sosial tanpa membaca situasi dan mengakhiri rapat tepat waktu. 

"Baiklah kalau begitu..." 

Jika taktik Horikita adalah melangkah keluar kelas dengan percaya diri, aku adalah sebaliknya. Aku mencoba menyelinap ke dalam bayang-bayang. 

"Ayanokouji-kun." 

Aku telah mencoba untuk keluar diam-diam melalui ruang kelas. Aku mencoba untuk menjadi cepat seperti seorang ninja, tapi malah ketahuan. Kushida menghentikanku, ada sedikit kegelisahan dalam suaranya. 

"Apa? Apa kau butuh sesuatu?" aku bertanya. 

Maaf, Kushida. Aku akan menguatkan tekadku dan menolak ajakanmu. Dan kemudian aku akan kembali ke asrama. 

“Kamu akan ... membantu kami, 'kan?” dia bertanya. 

"Tentu saja."

Aku tidak bisa menolak. Mata memelas + memohon = mematikan. Aku tidak bisa menolaknya seakan-akan Kushida seperti mengendalikanku. Tak terelakkan. Tidak peduli seberapa kuat seseorang memutuskan untuk tidak tertidur, misalnya, mereka masih akan KO setelah 24 hingga 48 jam, maksimal. Cepat atau lambat, tidak peduli seberapa keras kemauannya, mereka pasti akan kelelahan. Dengan kata lain, setiap orang memiliki ambang batas. Ini adalah mekanisme manusia. 

Setelah itu, Kushida memberikan usul. 

“Aku ingin Horikita-san membantu kita kali ini. Bisakah kamu coba tanya dia lagi?” 

"Tapi dia sudah pergi." 

Mereka gagal menghentikannya beberapa saat sebelumnya. Apa sudah waktunya untuk balas dendam? 

"Ya. Aku ingin mengejarnya. Kalau Horikita-san membantu, kupikir dia akan membuat perbedaan besar." 

"Yah, aku tidak bisa berdebat denganmu tentang itu." 

"Jika kita meluangkan waktu untuk meyakinkannya, apa menurutmu kita akan memiliki kesempatan?" 

Kalau dia ingin mencobanya lagi, aku tidak punya hak untuk menghentikannya. Aku pun mengangguk. 

“Ike-kun, Yamauchi-kun, bisakah kalian berdua menunggu di sini? Kami akan segera kembali,” kata Kushida. 

"Baik!" jawab mereka bersamaan. 

Kau tentu tidak bisa mengklaim keduanya bersahabat dengan Horikita. Kushida sepertinya menyadari itu. 

"Ayo pergi." 

Kushida meraih lenganku, dan kami pergi bersama. Apa-apaan perasaan gembira yang belum pernah terjadi sebelumnya ini? Untuk beberapa alasan, kupikir aku mendengar Ike dan Yamauchi dengan marah meneriakiku, tapi itu pasti hanya imajinasiku. Heh. 

Pada saat kami sampai di pintu masuk gedung sekolah, Horikita sudah tidak bisa ditemukan. Kupikir dia mungkin sudah pergi. Dia bukan tipe yang berhenti untuk apa pun, jadi dia mungkin langsung menuju asrama. Aku berjalan melewati para siswa yang memakai sepatu mereka, bersiap-siap untuk pulang. Kebanyakan orang berjalan dalam kelompok yang terdiri dari dua orang atau lebih saat mereka pulang, tapi aku melihat sekilas sosok tunggal berjalan dengan percaya diri. Itu adalah Horikita.

“Horikita.” 

Aku ragu-ragu, tapi Horikita langsung menjawab. 

"Ada apa?" 

Rupanya dia tidak mengira kami akan mengejarnya. Dia berbalik, tampak terkejut. 

"Aku benar-benar ingin kamu membantu kami mengenai kasus Sudou-kun. Apa kamu bersedia?" 

“Bukankah beberapa menit yang lalu aku sudah menolaknya?” Horikita mengangkat bahunya, seolah mengungkapkan betapa bodohnya dia menemukan kami. 

"Aku tahu kamu memang menolak sebelumnya, tapi ... tapi, kupikir hal ini diperlukan untuk mencapai Kelas A." 

"Diperlukan untuk mencapai Kelas A, hmm?" 

Horikita tampak tidak yakin. Dia sepertinya tidak mendengarkan Kushida. 

"Kalian bebas berjuang demi Sudou-kun. Aku tidak punya hak untuk menghentikan kalian. Namun, jika kalian membutuhkan bantuan, cobalah minta orang lain. Aku sibuk," kata Horikita. 

"Sibuk? Tapi semua orang sedang sibuk dengan kasus Sudou sekarang," kata-kata itu langsung keluar dari mulutku, aku pun mendapatkan tatapan tajam dari Horikita. 

Matanya seolah berkata, Mengapa kamu masih berbicara? 

“Aku memiliki rutinitas harian yang penting, jadi aku butuh waktu sendiri. Tidak menyenangkan kalau waktu itu dicuri dariku.” 

Sudah kuduga dia akan menjawab seperti itu, itulah jawaban dari misanthrope (orang egois) yang tidak tahu malu. Jika dia hanya mengatakan kalau dia tidak suka menghabiskan waktu dengan orang lain, itu akan terdengar seperti alasan. 

“Bahkan jika aku turun tangan dan menyelamatkannya sekarang, dia akan mendapatkan masalah lagi. Ini adalah lingkaran setan, 'kan? Kalian sepertinya berpikir bahwa Sudou-kun adalah korbannya di sini, tapi aku berpikir berbeda.” 

"Hah? Tapi bukankah Sudou-kun memang korbannya? Selain itu, akan buruk jika dia berbohong." Kushida sepertinya tidak mengerti maksud Horikita. 

“Mungkin itu benar kalau siswa Kelas C lah yang memulai perkelahian ini, tapi Sudou-kun juga salah satu pelakunya.”

"T-tunggu. Apa maksudmu? Bukankah Sudou-kun diseret ke dalam perkelahian?" 

Horikita perlahan mengalihkan pandangannya ke arahku, ekspresinya berkata Menyedihkan. 

Tidak, aku tidak mengatakan apa-apa. Aku mengalihkan pandanganku seolah mencoba melarikan diri. Setelah beberapa saat hening, Horikita berbicara dengan suara putus asa. 

“Kenapa dia diseret ke dalam perkelahian? Masalah ini akan tetap ada sampai kita memahami pertanyaan mendasar itu. Mengerti? Aku tidak ingin membantu sampai pertanyaan itu terjawab. Karena kamu tidak bisa meyakinkanku, kenapa kamu tidak tanya pria yang berdiri di sebelahmu? Meskipun dia pura-pura tidak mengerti apa yang kupikirkan, dia mungkin mengerti.” 

Tolong berhentilah mengatakan kalau aku mengerti dirimu. Kushida menatapku, tidak bisa menyembunyikan kebingungannya. Ekspresinya seperti menanyakan apa yang kutahu. Ayolah, Horikita, jangan katakan sesuatu yang tidak perlu...

Horikita mulai berjalan pergi, menunjukkan bahwa sisanya terserah padaku. Kushida akhirnya mendengarkan Horikita, dan berhenti mengejarnya. 

"Sudou-kun adalah seorang pelaku? Apa itu... benar?" dia bertanya.

Kushida menoleh ke arahku, seolah memintaku untuk menyelamatkan Sudou lagi. Karena Horikita telah mengungkapkan bahwa aku pura-pura tidak tahu, mungkin segalanya akan jadi merepotkan. Selain itu, aku akan dengan senang hati memberikan PIN Bank ku kepada Kushida jika dia memintanya dengan ekspresi imut. 

“Aku sedikit mengerti apa yang dimaksud Horikita. Setidaknya, Sudou memang membuat beberapa kesalahan dalam kasus ini. Dia tipe orang yang mudah marah, 'kan? Setiap kali dia berhadapan dengan seseorang yang tidak dia sukai, dia menyerang, dan berbicara dan bertindak dengan cara yang agresif dan kasar. Saat aku mendengar kalau dia telah terpilih menjadi pemain utama di tim basket, aku terkejut dan terkesan. Tidak ada yang tidak setuju kalau dia adalah pemain basket yang luar biasa, tapi jika dia bertindak begitu sombong dan angkuh, beberapa orang akan membencinya. Mereka yang bekerja keras untuk mendapatkan tempat sebagai pemain utama mungkin akan melihat Sudou sebagai orang yang tidak menyenangkan. Lalu ada rumor, 'kan? Banyak yang bilang kalau Sudou suka berkelahi sejak SMP. Aku belum pernah bertemu siapa pun yang mengenal Sudou di sekolah sebelumnya, tapi mengingat banyaknya orang yang membicarakannya, mungkin rumor itu memang benar.” 

Orang-orang tidak memiliki kesan yang baik tentang Sudou. 

“Ini pasti akan terjadi pada akhirnya. Itu sebabnya Horikita berkata Sudou adalah seorang pelaku.” 

“Jadi ... perilakunya yang seperti itu, ditambah tindakannya yang tak pernah kapok, menyebabkan terjadinya situasi ini, ya?” tanya Kushida. 

"Ya. Selama dia terus memusuhi orang-orang di sekitarnya, masalah pasti akan terus mengikutinya. Dan juga, jika tidak ada bukti yang ditemukan, maka orang akan menggunakan citra dirinya untuk melawannya. Dengan kata lain, mereka akan menilai dia berdasarkan kesan yang terlihat. Misalnya, ada kasus pembunuhan. Ada 2 tersangka. Salah satunya pernah melakukan pembunuhan di masa lalu, sementara yang satunya adalah warga negara yang baik dan terhormat. Berdasarkan informasi itu, siapa yang akan kau percayai?" 

Jika ditanya, hampir semua orang akan memberikan jawaban yang sama. 

"Yah ... aku akan memilih warga negara yang terhormat, tentu saja." 

“Kebenarannya mungkin berbeda. Namun, semakin sedikit informasi yang kau miliki sebagai dasar penilaianmu, maka semakin kau harus bergantung pada informasi yang sedikit itu. Itulah yang terjadi di sini. Horikita tidak bisa mengabaikan fakta bahwa Sudou tidak menyadari kekurangannya.”

Meskipun aku tidak berpikir ini adalah situasi 'kau menuai apa yang kau tabur.'

"Aku mengerti. Jadi itu yang dia maksud..." 

Kushida mengangguk kecil. 

“Jadi Horikita-san tidak akan menyelamatkan Sudou-kun karena dia mau memberinya pelajaran?” 

“Ya, kurasa begitu. Dengan menghukumnya, Horikita ingin Sudou menyadari kekurangannya.” 

Kushida mengerti, tapi jelas tidak setuju. Sepertinya dia sedikit marah, dia pun mengepalkan tinjunya. 

“Aku tidak setuju dengan meninggalkan Sudou-kun hanya untuk menghukumnya. Jika Horikita-san tidak puas dengan sikap Sudou-kun, kupikir dia setidaknya harus berbicara dengannya secara langsung. Itulah yang seharusnya dilakukan seorang teman.” 

Kupikir Horikita tidak pernah menganggap Sudou sebagai temannya. Selain itu, Horikita bukan tipe orang yang suka mengajari orang lain melalui kebaikan. Dia tidak merasakan adanya kewajiban untuk peduli pada orang lain. 

“Kau harus bertindak sesuai dengan prinsipmu sendiri, Kushida. Kupikir itu tidak salah jika ingin membantu Sudou.” 

"Ya." 

Kushida mengangguk tanpa ragu. Dia akan selalu mengulurkan tangannya kepada seorang teman yang membutuhkan pertolongan. Kedengarannya sederhana, tapi itu sebenarnya sulit. Hanya orang seperti Kushida yang bisa melakukan hal seperti itu. 

“Namun, kupikir akan lebih baik jika kita mempertimbangkan dengan hati-hati tentang masalah Sudou ini. Jika Sudou sendiri tidak bisa merenungkan kesalahannya, maka ini tidak ada gunanya. Kesadaran diri biasanya akan datang dengan sendirinya.” 

"Baik. Aku mengerti. Aku akan mengikuti saranmu, Ayanokouji-kun.” 

Kushida melengkungkan punggungnya dan meregang; aku telah mengubah pemikirannya. 

"Oke, ayo berburu saksi mata." 

Kami kembali ke kelas, dan bergabung kembali dengan Ike dan Yamauchi. 

"Hah? Jadi, kalian tidak bisa membujuk Horikita?" kata Ike.

“Tidak, aku minta maaf. Aku gagal,” jawab Kushida. 

"Tidak, tidak. Kau tidak perlu meminta maaf, Kushida-chan. Masih ada teman-teman lainnya yang sudah mau membantu kita saat ini."

“Aku mengandalkanmu, Ike-kun. Yamauchi-kun,” Kushida memohon dengan mata berbinar. Mereka berdua balas menatap, jatuh cinta. 

"Oke, jadi kita harus mulai dari mana?" 

Mencari saksi secara acak tidak akan efektif. Akan lebih baik membuat rencana terlebih dahulu sebelum kami memulai pencarian. 

“Jika tidak ada yang keberatan, bagaimana kalau kita mulai dengan bertanya kepada Kelas B?” aku bertanya. 

"Kenapa Kelas B?" 

“Karena itulah kelas yang paling menginginkan seorang saksi.” 

"Maaf. Aku tidak begitu mengerti, Ayanokouji-kun." 

“Antara D dan C, kelas mana yang paling mengancam Kelas B? Atau dengan kata lain, kelas mana yang lebih mungkin mengancam Kelas B dalam hal peringkat?” 

“C, tentu saja. Jadi kukira kita harus mengesampingkan Kelas C sebagai yang terakhir ditanyai. Tapi kenapa tidak dimulai dengan Kelas A?” 

“Kita cuma tahu sedikit tentang Kelas A. Kurasa mereka tidak akan mau terlibat dalam urusan merepotkan yang mungkin berdampak negatif pada poin kelas mereka. Mungkin juga siswa Kelas A tidak peduli, karena mereka merasa tidak ada hubungannya dengan apa yang terjadi antara Kelas C dan Kelas D.” 

Tentu saja, aku masih tidak tahu apakah kami bisa mempercayai Kelas B. Jika mereka memiliki orang yang licik, dia mungkin telah menyusun rencana untuk mengalahkan saingannya, bukan hanya Kelas C, tapi Kelas D juga. Bahkan jika rencana itu tidak ada, aku percaya kita harus menyiapkan tindakan balasan berdasarkan pemikiran itu. 

"Kalau begitu, ayo pergi ke Kelas B!" kata Kushida. 

"Berhenti." Aku secara refleks meraih bagian belakang kerah Kushida. 

“Nyaa!” Terkejut, Kushida mengeluarkan teriakan seperti kucing. 

“Kawaii!” Setelah melihat reaksi menggemaskan Kushida, terukir gambar hati di mata Yamauchi. Dia mungkin sengaja bertingkah menggemaskan ... Sambil memikirkan itu, jantungku berdebar kencang.

“Memang benar kalau keterampilan komunikasimu yang luar biasa sangat diperlukan. Namun, ini tidak sama dengan berjalan santai ke kelas lain dan mencoba berteman.” 

"Kamu pikir begitu?" 

Jika saksi itu bersedia membantu Kelas D tanpa bayaran, atau jika dia ramah, maka tidak perlu khawatir. Namun, kalau saksi mata itu adalah orang yang perhitungan, maka dia mungkin tidak akan setuju untuk membantu. Kami tidak akan tahu apakah orang itu akan membantu Kelas D kecuali kami mencoba bertanya. Bahkan jika kami pergi ke Kelas B untuk berbicara ... bagaimana jadinya? 

"Apa kau mengenal seseorang di Kelas B?" 

“Aku kenal. Walaupun hanya beberapa orang,” kata Kushida. 

"Kalau begitu, mari kita bicara dengan orang-orang itu dulu." 

Kami benar-benar tidak ingin tersiar kabar bahwa Kelas D sedang panik mencari saksi mata. 

"Tunggu, tanya mereka satu per satu? Bukankah lebih mudah kalau bertanya kepada semua orang pada waktu bersamaan?" kata Ike. Dia sepertinya tidak menyukai cara ini. 

“Aku juga berpikir kau terlalu naif. Kupikir bertanya pada Kelas B memang ide yang bagus, tapi menurutku kita juga harus bertanya pada beberapa orang sekaligus. Jika tidak, kita mungkin tidak dapat menemukan saksi mata itu tepat waktu.” 

"Begitu ya. Kau mungkin benar tentang itu. Kita harus menggunakan cara yang terbaik, Kushida."

"Maaf, Ayanokouji-kun." 

Kushida mengatupkan kedua tangannya untuk meminta maaf. Meskipun dia tidak melakukan sesuatu yang salah. Wajar jika kami memiliki perbedaan pendapat tentang hal tersebut. Selain itu, di saat seperti ini, suara mayoritas seharusnya bisa memutuskan apa yang harus dilakukan. Rencana Kushida telah meyakinkanku, jadi aku menarik rencanaku sendiri. 

Tiba-tiba, aku merasakan sensasi, seperti ada yang memperhatikanku. Aku pun berputar dan melihat sekitar. 

Sekitar sepertiga dari kelas kami tetap berada di dalam ruangan. Tidak ada yang tampak sangat aneh disini. Tetap saja, aku tidak bisa mengetahui apa yang sebenarnya menggangguku, atau siapa yang mengawasiku.

PART 3

Ruang kelas pertama yang kami kunjungi memiliki suasana yang sedikit berbeda. Meskipun pada dasarnya terlihat sama dengan kelas kami, rasanya seolah-olah kami datang ke tempat asing. Seperti dalam pertandingan sepak bola; perbedaan antara pertandingan kandang dan tandang dalam sepak bola jelas bukanlah hal yang sepele. Kami juga tidak tahu apakah siswa di sekitar kami adalah teman atau musuh. Bahkan Ike dan Yamauchi tampak gemetar. Mereka hanya berdiri membeku di depan pintu masuk kelas, tidak bisa bergerak.

Kushida adalah satu-satunya yang tetap tidak terpengaruh. Bahkan, dia menyapa teman-temannya di Kelas B dan dengan senyum di wajahnya, dia melambai dan menghampiri mereka. Sungguh sikap yang luar biasa. Aku ingin belajar bagaimana menjadi seperti itu. Dia mengobrol dengan orang-orang tanpa memandang jenis kelamin, persis seperti yang dia lakukan di Kelas D. 

Tidak ada yang lebih iri akan hal ini selain Ike dan Yamauchi. Kushida senang mengobrol dengan orang-orang yang jelas lebih menarik daripada mereka. 

“S-sialan! Ada terlalu banyak pria yang mengincar Kushida-chan-ku. Ini menyebalkan!” 

Apa yang dia bicarakan tadi? Kushida-chan-ku? 

“Jangan panik, Ike. Tidak masalah. Kita sekelas dengan Kushida-chan, jadi kita unggul satu langkah di depan mereka!” 

Duo itu, rekan-rekan dalam kekesalan, saling menggenggam tangan. 

Meskipun hanya ada sekitar 10 orang yang tersisa di kelas, Kushida mulai menjelaskan tentang kasus Sudou. Semua hal dipertimbangkan, suasana di Kelas B tidak jauh berbeda dari Kelas D. Tentu saja ini tidak seperti yang kubayangkan dari kelas yang penuh dengan siswa berprestasi. Mereka sepertinya tidak terlalu kaku. Bahkan, banyak siswa tampak melakukan apa yang mereka senangi. Meskipun mereka bebas untuk bertindak sesuka mereka dalam peraturan sekolah, kupikir rambut dan pakaian mereka akan sedikit lebih tertutup. Sebaliknya, ada beberapa siswa yang mengecat rambut mereka, dan ... yah ... beberapa gadis mengenakan rok yang agak pendek. 

Seperti kata pepatah, jangan menilai buku dari sampulnya. Atau mungkin mereka lebih unggul dari Kelas D dalam hal lain, bukan cuma dari kemampuan akademik.

Sekolah ini terlalu misterius. Memikirkan hal-hal ini sungguh merepotkan. Bagaimanapun, aku datang ke sini hanya untuk menemani Kushida hari ini, jadi kupikir langkah yang terbaik adalah menyerahkan semuanya padanya. Aku pindah lebih jauh dari pintu untuk menghindari perhatian Ike dan Yamauchi. 

"Aku ingin pulang." 

Aku tidak ingin mereka mendengarku menggerutu pada diriku sendiri. Dari luar jendela, aku bisa melihat Klub Lari sedang melakukan kegiatan klub mereka. AC di dalam sekolah terasa sangat sejuk, jadi aku tidak benar-benar merasa ingin keluar. 

"Wow, orang-orang di klub olahraga itu benar-benar bekerja keras, ya?" 

Ike, setelah mengintai di sekitar Kelas B, bergabung denganku untuk melihat keluar jendela. Dia adalah orang yang sangat mudah berubah-ubah, jadi menunggu terlalu lama mungkin membuatnya bosan. "Kupikir orang-orang yang bergabung dalam klub itu bodoh," katanya. 

“Kenapa kau mengatakan itu? Kau tahu pernyataan seperti itu akan membuatmu terasingkan dari siswa lain, 'kan?” aku tidak tahu angka pastinya, tapi kuperkirakan setidaknya 60 hingga 70 persen siswa di sekolah ini bergabung di klub. 

“Jika kau suka berolahraga, lalu apa salahnya melakukannya sebagai hobi? Apa manfaatnya menjalani latihan yang begitu keras?” 

Kupikir aneh kalau melihat aktivitas klub hanya dalam hal manfaat atau kekurangan. Selain itu, ada banyak manfaat kalau bergabung dalam klub. Kau bisa memperoleh keterampilan yang diperlukan untuk membangun hubungan dengan orang lain, dan kau juga akan mengalami kemenangan dan kekalahan. Ini adalah hal-hal yang tidak bisa kau pelajari hanya dengan belajar otodidak. Selain itu, seseorang yang tidak pernah bergabung dalam klub dan hanya langsung pulang setelah kelas berakhir mungkin bisa mengambil pelajaran dari hal itu. 

"Kau mungkin benar," kataku. 

Aku menunggu beberapa menit sampai aku menerima laporan Kushida. Aku benar-benar tidak menyangka tentang apa yang dia katakan padaku.

~ Bersambung ~

Episode Lainnya

Other Series

Komentar

A-Z List cari anime berdasarkan abjad A-Z
Copyright © MarinSubs. All Rights Reserved

MarinSubs adalah tempat streaming/nonton Anime Subtitle Indonesia

Redesign by Kitagawa Marin 喜多川 海夢