CHAPTER 1
Awal Mendadak dari Masalah Kami yang Menggemparkan
INTRO
Ini waktu yang sangat buruk.
Saat mencari tempat untuk mengambil foto selfie yang bagus, aku melihat sesuatu. Bahkan seorang detektif yang terkenal pun pasti akan menahan nafasnya saat menyaksikan situasi yang menegangkan ini.
Semuanya dimulai sekitar 10 detik yang lalu. Seseorang membuat komentar sepele, yang membuat kesal pihak lain. Itu menyebabkan penghinaan kejam, yang berubah menjadi perkelahian. Tidak, "perkelahian" bukanlah kata yang tepat untuk menggambarkannya. 3 siswa laki-laki terbaring di lantai, menggeliat kesakitan. Seorang anak laki-laki berambut merah berdiri di atas mereka, melihat ke bawah dalam kemenangan. Itu adalah siksaan sepihak.
Tinju kanannya berlumuran darah dari siswa yang dia pukul. Ini adalah perkelahian pertama yang pernah aku saksikan. Di SD aku melihat anak laki-laki bertengkar satu sama lain di kelas, menarik pakaian dan mencubit lengan. Tapi ini berbeda. Aku bisa merasakan ketegangan di udara.
Meskipun aku ketakutan, aku masih sempat memotret kejadian itu dengan kameraku. Shutter kamera tidak mengeluarkan suara. Setelah mengambil gambar, aku bertanya pada diri sendiri apa yang kulakukan. Aku tidak bisa berpikir jernih dalam keadaan panik. Aku mencoba untuk cepat menjauh. Tapi, otakku sepertinya tidak lagi berfungsi dengan baik. Kakiku tidak menuruti perintahku untuk bergerak, seolah-olah aku lumpuh.
"He he, jadi. Apa kau benar-benar berpikir ini sudah berakhir, Sudou?"
Meskipun hampir tidak bisa bergerak, salah satu siswa laki-laki di lantai masih mencoba mengejek Sudou-kun.
"Apa kau ingin membuatku tertawa? Kau berada dalam kondisi yang sangat menyedihkan. Kau ingin dihajar lagi, ya? Lain kali aku tidak akan menahan diri."
Sudou-kun meraih kerah anak laki-laki yang dipukuli itu, dan membawanya lebih dekat. Mereka saling berhadapan sekarang, hanya terpisah beberapa sentimeter. Sudou-kun terlihat seperti akan membunuh dan kemudian melahap lawannya, intimidasinya sangat luar biasa sampai-sampai membuat anak laki-laki yang babak belur itu membuang muka.
"Apa kau takut? Apa kau pikir kau bisa mengalahkanku cuma karena jumlah kalian lebih banyak?"
Sudou-kun mendengus, menjatuhkan siswa itu, mengambil tasnya, dan kemudian berbalik dan berjalan pergi seolah-olah ketiga orang yang babak belur itu sama sekali tidak menarik minatnya. Jantungku berdetak kencang. Yah, itu wajar. Sudou-kun menuju ke tempat persembunyianku. Rute pelarianku dari gedung ini terbatas.
Aku berniat untuk kembali menuruni tangga yang sebelumnya aku gunakan untuk naik ke sini. Tapi, aku masih tidak bisa bergerak, dan peluangku semakin tertutup. Aku pernah mendengar bahwa saat seseorang terlibat dalam krisis, tubuhnya akan terkunci, persis seperti yang terjadi sekarang.
"Buang-buang waktu. Membuatku lelah setelah latihan. Yang benar saja," kata Sudou-kun.
Jarak antara kami semakin dekat. Dia hanya beberapa meter jauhnya.
"Kaulah yang akan menyesal nanti, Sudou."
Kata-kata anak laki-laki itu menghentikan langkah Sudou-kun.
"Dasar pecundang yang menyedihkan. Tidak peduli berapa kali kau menantangku, kau tidak akan menang."
Dia tidak menggertak. Dia jelas memiliki kepercayaan diri dengan apa yang dia katakan. Bagaimanapun, Sudou-kun lah yang memenangkan perkelahian dan tanpa menderita cedera sedikitpun dari pertarungan 3 lawan 1.
Besok adalah tanggal 1 Juli, tapi mengingat betapa berkeringatnya diriku, aku sepintas terpikir kalau musim panas sudah datang. Aku tetap diam di tempat persembunyianku. Keringat mengalir di tengkukku. Aku memutuskan untuk pergi dengan tenang, diam-diam, dan tanpa panik. Aku benci kalau seseorang melihatku dan melibatkanku dalam kekacauan ini. Kalau itu terjadi, itu akan menimbulkan awan gelap di kehidupan sekolahku yang damai.
Aku meninggalkan tempat kejadian itu dengan cepat dan hati-hati.
"Apa ada orang di sana?"
Sudou-kun, merasakan gerakanku, melihat ke tempat persembunyianku tadi. Untungnya, aku berhasil melarikan diri dengan sangat nyaris. Kalau aku terlambat 2 detik saja, dia mungkin akan melihatku.
PART 1
Pagi hari di Kelas D selalu ramai, karena sebagian besar siswa jauh dari kata rajin belajar. Hari ini mereka menjadi lebih gaduh dari biasanya. Alasannya sudah jelas. Kami akhirnya akan mendapatkan poin untuk pertama kalinya sejak kami datang ke sekolah ini.
Sekolahku, “SMA Koudo Ikusei” telah mengadopsi sistem yang belum pernah ada sebelumnya yang dikenal sebagai Sistem S-Point. Aku akan menjelaskannya sedikit.
Aku mengeluarkan ponsel yang disediakan sekolah, meluncurkan aplikasi sekolah yang sudah terinstal, dan masuk menggunakan ID siswa dan kata sandi. Aku kemudian memilih opsi "Keterangan Saldo" dari menu. Dari sini, kau bisa melakukan banyak hal. Kau dapat memeriksa saldo pribadimu saat ini, dan kau juga bisa melihat berapa banyak poin kolektif yang dimiliki kelas. Ada juga fungsi yang memungkinkanmu untuk mengirim poin ke siswa lain.
Ada 2 jenis poin yang terdaftar. Salah satunya ditandai dengan "cl" di bagian akhir, yang merupakan kependekan dari "class". Ini juga disebut sebagai "poin kelas"—ini bukan poin yang dimiliki seorang siswa, melainkan, poin yang telah dikumpulkan oleh kelas bersama-sama. Kelas D memiliki 0 poin kelas sejak bulan Juni. Tidak ada poin sama sekali. Poin lainnya ditandai dengan "pr" di bagian akhir, yang berarti "private". Ini adalah poin pribadi kami.
Pada hari pertama setiap bulan, sekolah mengalikan poin cl, atau poin kelas, dengan 100, lalu menyetorkan jumlah tersebut ke dalam akun poin pribadi kami. Kami menggunakan poin pribadi ini untuk membeli kebutuhan sehari-hari, makanan, bahkan peralatan listrik. Di sekolah ini, poin adalah mata uang. Ini sangat penting.
Jika kau tidak memiliki poin pribadi, kau akan dipaksa hidup sehari-hari tanpa mengeluarkan uang. Kau tidak bisa menggunakan mata uang asli di area kampus. Karena Kelas D memiliki 0 poin kelas, kami tidak menerima poin pribadi untuk bulan itu, dan harus bertahan tanpa uang tunai.
Ketika pertama kali masuk di sekolah ini, kami memiliki 1000 poin kelas.
Jika kami menyimpan poin itu, kami akan menerima poin 100.000 yen setiap bulannya. Sayangnya, poin kelas kami berubah-ubah setiap hari. Banyak hal yang menyebabkan pengurangan poin, seperti berbicara di kelas atau mendapatkan nilai yang rendah dalam ujian. Akibatnya, Kelas D memiliki 0 poin kelas di awal bulan Mei. Berbagai hal terus berlanjut sampai sekarang, 1 Juli.
Selain menentukan tunjangan bulanan kami, poin kelas juga digunakan untuk mengukur prestasi kelas kami. Kelas diurutkan berdasarkan poin kelas, dalam urutan menurun dari A sampai D. Jadi jika Kelas D berhasil mendapatkan poin yang cukup untuk melampaui Kelas C, kelas kami akan dipromosikan dari D ke C di bulan berikutnya. Terlebih lagi, jika kami akhirnya berhasil sampai ke Kelas A, maka kami memiliki kesempatan untuk masuk perguruan tinggi pilihan kami, atau mendapatkan pekerjaan yang kami inginkan.
Saat pertama kali mendengar tentang sistem ini, aku pikir penting untuk mengumpulkan poin kelas sebanyak mungkin. Poin pribadi hanya akan memberi kami kepuasan pribadi. Tapi, perspektifku berubah saat aku membeli nilai 1 poin untuk ujian tengah semester.
Aku bisa membeli nilai untuk Sudou pada ujian baru-baru ini. Kalau aku tidak melakukannya, dia akan gagal. Saat aku menyadari bahwa sekolah memungkinkanku untuk membeli nilai ujian, aku mengerti bahwa guru wali kelas kami, Chabashira-sensei, tidak bercanda saat dia memberi tahu kami, “Di sekolah ini, kalian dapat membeli apa pun dengan poin kalian.”
Jadi, dengan berpegangan pada poin pribadi berarti kau bisa mengubah situasimu menjadi menguntungkan. Setelah pertimbangan lebih lanjut, kau mungkin bisa membeli lebih dari sekadar nilai ujian.
"Selamat pagi semuanya. Hari ini kalian semua terlihat lebih gelisah dari biasanya."
Chabashira-sensei masuk ke dalam kelas saat bel kelas berbunyi.
"Sae-chan-sensei! Apa kami mendapat 0 poin lagi bulan ini?! Saat aku memeriksanya pagi ini, aku tidak melihat satu poin pun disetorkan ke akunku!"
"Oh, jadi itu sebabnya kalian semua sangat gelisah?"
"Kami sudah berusaha mati-matian beberapa minggu ini! Kami berhasil melewati ujian tengah semester, jadi kenapa kami masih tidak memiliki poin?! Tidak ada yang terlambat ataupun absen, dan juga tidak ada yang berbicara selama pelajaran kelas!"
"Jangan langsung menyimpulkan. Dengarkan apa yang kukatakan terlebih dahulu. Kau benar, Ike. Kalian semua sudah berusaha lebih keras dari sebelumnya. Aku tahu itu. Tentu, sekolah juga sangat memahami perasaan kalian semua."
Setelah ditegur oleh Chabashira-sensei, Ike menutup mulutnya dan duduk kembali.
"Baiklah kalau begitu. Tanpa basa-basi lagi, inilah total poin bulan ini."
Dia meletakkan selembar kertas di papan tulis yang mencantumkan nilai poin kelas, mulai dari Kelas A di urutan teratas. Tidak termasuk Kelas D, semua kelas lain hampir mendapat 100 poin lebih banyak dari bulan lalu. Kelas A sekarang memiliki 1004 poin, sedikit lebih banyak dari jumlah poin yang dulu saat pertama kali kami masuk ke sini.
"Ini tidak bagus. Mungkinkah mereka menemukan cara untuk meningkatkan total poin mereka?!"
Tetanggaku, Horikita Suzune, hanya fokus pada kelas-kelas lain. Tapi, Ike dan sebagian besar siswa Kelas D lainnya tidak terlalu peduli dengan poin kelas lain. Pertanyaan penting bagi mereka adalah apakah kami sudah menerima poin kelas. Itu saja.
Ditulis di sebelah Kelas D adalah total poin kami: 87 poin.
"Hah? Tunggu, 87? Apa itu berarti kami benar-benar naik? Yahoo!"
Ike dengan bersemangat melompat-lompat begitu dia melihat poin kelas kami.
"Masih terlalu dini untuk merayakannya. Semua kelas lain melihat peningkatan yang sama dalam poin mereka. Kita tidak menutup jarak sama sekali. Ini mungkin hanya hadiah yang didapat siswa tahun pertama karena sudah berhasil melewati ujian tengah semester. Setiap kelas sepertinya mendapat setidaknya 100 poin."
"Jadi itulah yang terjadi. Kupikir itu aneh bahwa kita diberi poin begitu cepat."
Horikita, yang berharap mencapai Kelas A, terlihat tidak senang dengan hasil ini. Dia tidak tersenyum.
"Apa kau kecewa karena jarak antar kelas semakin melebar, Horikita?" aku bertanya.
"Tidak, bukan itu. Bagaimanapun, kita berhasil mendapatkan sesuatu kali ini."
"Mendapatkan sesuatu? Mendapatkan apa?" tanya Ike, yang sedang berdiri.
Horikita, setelah menarik perhatian semua orang, kembali terdiam. Seolah-olah dia tidak ingin memberikan jawaban. Pemimpin kelas, Hirata Yousuke, menjawab untuknya.
"Aku percaya kalau Horikita-san mengacu pada pengurangan poin yang kita lakukan sepanjang bulan April dan Mei. Dengan kata lain, kita tidak melihat pengurangan poin karena berbicara di kelas ataupun karena keterlambatan."
Hirata yang berpikiran tajam mengatakan itu tanpa ragu. Hebat.
"Ah, begitukah? Aku kira bahkan kalau kita mendapat 100 poin, banyak pengurangan yang akan membawa poin kelas kita ke 0." Ike, setelah mengatakan itu, mengangkat tangannya dalam kemenangan. "Tunggu. Tapi, kenapa kita tidak mendapatkan poin pribadi?"
Dia melontarkan pertanyaan lagi ke Chabashira-sensei. Ini memang aneh karena kami belum menerima 8700 poin pribadi di akun kami.
"Yah, kali ini ada sedikit masalah. Poin pribadi siswa tahun pertama distribusinya tertunda. Maaf, tapi kalian harus menunggu sedikit lebih lama," kata Chabashira-sensei.
"Hah? Serius? Kalau ini adalah kesalahan sekolah, bukankah seharusnya kami mendapatkan semacam bonus sebagai kompensasi?"
Para siswa menggerutu tidak puas. Begitu mereka mengetahui kalau mereka akan mendapatkan poin pribadi, sikap mereka telah berubah secara dramatis. Terdapat perbedaan yang signifikan antara 87 poin dan 0 poin.
"Jangan salahkan aku. Ini adalah keputusan sekolah, tidak ada yang bisa kulakukan tentang hal itu. Setelah masalah teratasi, kalian akan menerima poin. Kalau masih ada poin yang tersisa, tentunya."
Ada makna yang lebih dalam di balik kata-kata Chabashira-sensei.
PART 2
Begitu waktu makan siang tiba, semua orang pergi makan. Akhir-akhir ini, aku percaya kalau makan bersama teman, sebenarnya adalah aspek yang paling sulit dari kehidupan siswa. Contohnya Kushida Kikyou. Dia sangat populer dan memiliki banyak teman, baik perempuan maupun laki-laki. Dia mendapat ajakan langsung, bersama dengan ajakan konstan melalui telepon dan email. Meskipun dia tidak dapat menanggapi semua orang dan terkadang harus menolaknya, saat dia makan bersama teman-temannya, dia terlihat memiliki kehidupan nyata.
Di sisi lain, ada orang-orang seperti Ike dan Yamauchi, yang tidak terlalu populer di kalangan perempuan. Mereka makan dengan sekelompok teman-teman cowoknya, termasuk Sudou dan Hondou, hampir setiap hari.
Sementara itu, aku tidak benar-benar berada di mana pun.
Aku berteman dengan Kushida. Aku juga berteman dengan Ike dan Yamauchi. Meskipun aku makan bersama mereka kadang-kadang, aku tidak akan mengatakan itu sering terjadi. Secara umum, ini adalah jenis hubungan di mana pihak lain bertanya, "Mau makan siang?" atau "Apa kau ada waktu setelah pelajaran berakhir?"
Aku tidak terlalu keberatan menjelang awal tahun ajaran. Sebelum aku punya teman, wajar kalau aku akan sendirian. Tapi, sekarang aku mengalami fenomena aneh: aku punya teman, tapi aku masih sendirian. Ini adalah pengalaman yang tidak nyaman.
Jika aku absen pada hari ketika kami membentuk kelompok untuk perjalanan sekolah, aku mungkin akan ditinggalkan. Apa mereka semua menganggapku sebagai teman rendahan? Atau apakah pertemanan kami hanya ada di kepalaku? Itulah perkiraanku.
Gugup dan cemas, aku tidak sengaja menatap Ike dan yang lainnya. Aku di sini, teman-teman. Tidak apa-apa kalau kalian ingin mengajakku. Pandanganku dipenuhi dengan keegoisan dan antisipasi. Aku dibanjiri oleh perasaan benci terhadap diri sendiri. Mengingatkan diriku kalau aku harus tahu kapan waktunya menyerah, aku mengalihkan pandanganku. Adegan menyedihkan seperti ini dimainkan setiap hari.
"Kamu masih belum terbiasa. Kamu menyedihkan seperti biasanya, Ayanokouji-kun."
Tetanggaku menatapku dengan tatapan dingin.
"Sepertinya kau sudah terbiasa dengan kesendirian," jawabku.
"Aku baik-baik saja, terima kasih."
Aku bermaksud terdengar sarkastik, tapi Horikita menganggapnya tulus. Mayoritas teman sekelas kami sudah membentuk kelompok mereka sendiri, tapi beberapa siswa masih sendirian. Itu memberikan sedikit kelegaan. Horikita bukan satu-satunya penyendiri; Kouenji juga menghabiskan sebagian besar waktunya sendirian. Saat pertama kali memulai di sini, dia menikmati kebersamaan dengan gadis-gadis senior. Tapi, begitu dia kehabisan poin, dia mulai menghabiskan sebagian besar waktunya di kelas.
Dia adalah satu-satunya pewaris perusahaan Kouenji, salah satu perusahaan terbesar di Jepang. Dia tidak menyukai kesendirian, melainkan mencintai dirinya sendiri dan kurang peduli pada orang lain. Aku mengagumi sikapnya yang tidak terganggu sama sekali dengan kesendirian. Dia saat ini benar-benar fokus memeriksa wajahnya di cermin genggam, rutinitas hariannya.
Selain dia, ada seorang gadis pendiam berkacamata. Pada suatu waktu Ike pernah membuat keributan tentang seberapa besar dadanya, tapi karena dia dianggap polos, semua orang dengan cepat kehilangan minat. Dia selalu sendirian, dan aku belum pernah melihatnya berbicara dengan siapa pun. Beberapa hari yang lalu, dia makan sendirian, membungkuk di atas kotak bento-nya. Dia adalah salah satu dari sedikit siswa yang membuat makan siangnya sendiri.
Saat itu, tetanggaku mengambil kotak bento dari tasnya dan membukanya. Akhir-akhir ini, Horikita juga membuat makan siangnya sendiri daripada pergi ke kantin.
"Bukankah harganya cukup mahal dan butuh banyak usaha untuk membuat bekal makan siangmu sendiri?" aku bertanya.
Meskipun kualitasnya tidak terlalu tinggi, makanan gratis yang ditawarkan di kantin sekolah adalah bentuk kelegaan bagi siswa yang sudah menghabiskan semua poin pribadi mereka. Tidak ada manfaat dalam makan siang buatan sendiri, yang menghabiskan waktu dan poinmu sendiri untuk membuatnya.
"Aku tidak yakin tentang itu. Supermarket sekolah menyediakan bahan-bahan gratis, kamu tahu."
"Tunggu, jadi kau membuat ini dengan bahan gratis?"
Horikita membuka bentonya sebagai jawaban. Tidak ada banyak daging atau gorengan di dalamnya, tapi kelihatannya enak.
"Jangan bilang kalau kau ini tidak hanya pintar, tapi kau juga seorang yang jago memasak? Itu sepertinya tidak sesuai dengan kepribadianmu."
"Siapa pun bisa memasak dengan mencari resep di buku atau di Internet. Asrama kita juga dilengkapi dengan semua alat yang diperlukan."
Horikita tidak menyia-nyiakan kata-kata lagi untuk membuatku terkesan tentang betapa jeniusnya dia. Dia hanya mengeluarkan sumpitnya. Aku kira itu semua tampak begitu jelas baginya.
"Tapi kenapa kau memutuskan untuk repot-repot membuat bekal makan siangmu sendiri?" aku bertanya.
"Kantin itu berisik. Makan di sini jauh lebih santai, 'kan."
Menjelang awal tahun, banyak siswa yang pergi ke kantin untuk membeli roti atau makan siang, tapi karena menghadapi kekurangan poin, sejumlah besar siswa mendapat paket makanan gratis. Melihat sekeliling, aku bisa melihat kalau hanya beberapa siswa yang tersisa di kelas.
Apakah ini lingkungan yang disukai Horikita? Di mana Ike dan yang lainnya tidak ada?
"Sepertinya aku sudah rindu mengendarai gelombang besar siswa yang terikat pada kantin?"
"Kamu selalu menatap ke laut, tapi kamu tidak memiliki papan selancar. Kamu bahkan tidak memiliki tekad untuk mengarungi ombak, 'kan? Dan kamu berbicara tentang merindukannya? Kamu terlalu percaya diri."
Aku berharap untuk membalas perkataannya itu, tapi aku tidak bisa membantah. Aku hanya ingin dia memberiku istirahat.
PART 3
Tidak seperti waktu makan siang, waktuku sepulang sekolah terasa sangat menyenangkan, karena aku tidak perlu khawatir untuk berinteraksi dengan siapa pun. Bahkan jika aku langsung kembali ke asrama, aku tidak menonjol sama sekali karena beberapa siswa lain juga melakukannya. Ada beberapa keuntungan untuk bisa menghilang seperti ninja ke dalam kerumunan. Kalau aku berada di belakang sekelompok teman, aku bisa berpura-pura menjadi salah satu dari mereka.
"Menyedihkan sekali."
Aku cukup senang dengan diriku sendiri karena bisa berpura-pura begitu terampil kalau aku punya teman, tapi sebenarnya sejak awal tidak ada orang di sekolah ini yang peduli tentang kepura-puraanku.
"Sudou. Aku harus berbicara denganmu mengenai sesuatu. Datanglah ke ruang guru," Chabashira-sensei memanggil Sudou, yang mencoba untuk keluar dari ruang kelas dengan tergesa-gesa .
"Hah? Apa yang kau inginkan denganku? Aku ada latihan basket sekarang." Sudou dengan lesu membuka tasnya untuk memamerkan seragam olahraga di dalamnya.
"Aku sudah berbicara dengan penasihat. Kau tidak harus ikut denganku jika kau tidak mau, tapi kau akan menghadapi konsekuensinya nanti."
Kata-kata ancaman Chabashira-sensei membuat Sudou sedikit gelisah.
"Apa? Apa ini akan cepat selesai?"
"Itu semua tergantung padamu. Semakin lama kau berdiri di sana, semakin banyak waktu yang kau buang."
Sepertinya dia tidak punya pilihan selain pergi bersamanya. Sudou mendecakkan lidahnya, dan mengikuti Chabashira-sensei keluar dari ruang kelas.
"Kupikir dia mungkin sudah berubah, tapi kurasa Sudou masih sama seperti yang dulu. Bukankah lebih baik kalau dia dikeluarkan saja dari sekolah?"
Aku tidak tahu siapa yang berbicara, tetapi aku bisa mendengar beberapa orang di kelas bergumam pada diri mereka sendiri. Kupikir ujian tengah semester telah menyatukan kelas kami sebagai sebuah kelompok, tapi ternyata itu hanyalah imajinasiku. Ini memalukan.
"Apa menurutmu juga begitu? Bahwa akan lebih baik kalau Sudou-kun dikeluarkan?" Saat dia berbicara, Horikita mulai memasukkan buku pelajarannya ke dalam tasnya. Mungkin tidak ada siswa yang membawa buku pelajaran mereka ke kelas setiap hari. Terkadang kupikir dia terlalu serius.
"Aku tidak berpikir begitu. Bagaimana denganmu, Horikita? Kau adalah satu-satunya orang yang membantu Sudou."
"Hmm. Yah, kita masih benar-benar tidak tahu apa poin kelas kita akan naik nantinya," jawabnya, tidak tertarik.
Ketika Sudou menghadapi pengusiran selama ujian tengah semester, Horikita telah membantunya dengan sengaja menurunkan nilai ujiannya sendiri dan memberikan poin pribadinya untuk membeli nilai kelulusan bagi Sudou. Aku tidak pernah membayangkan kalau dia mampu melakukan sesuatu seperti itu.
Kami bangkit dari tempat duduk kami secara bersamaan, dan berjalan keluar dari ruang kelas bersama. Terkadang kami kembali ke asrama bersama-sama, meskipun aku tidak ingat sejak kapan kebiasaan ini dimulai. Karena kami tidak makan siang bersama atau hanya sekedar hang out, aku merasa aneh. Dan lagi, kami memiliki jalur yang sama kembali ke asrama. Mungkin itu sebabnya kami berjalan bersama.
"Aku sedikit khawatir dengan apa yang dikatakan Chabashira-sensei pagi ini," kata Horikita.
"Tentang poin kita yang tertunda?"
"Iya. Dia mengatakan bahwa ada masalah, tetapi apakah yang dia maksudkan itu adalah masalah bagi sekolah, atau masalah bagi kita, para siswa? Jika yang terakhir, maka ... "
"Kau terlalu berlebihan memikirkannya. Kita tidak menyebabkan masalah yang serius belakangan ini. Dia bahkan mengatakannya sendiri. Aku ragu Kelas D akan menjadi satu-satunya yang tidak mendapatkan poin sama sekali. Ini hanya masalah sekolah."
Bahkan jika ada alasan untuk khawatir, meskipun hanya siswa tahun pertama yang pembayarannya tertunda, Kelas D mungkin bukanlah masalahnya. Mungkin.
"Aku harap itulah situasinya. Masalah bisa mempengaruhi poin kelas kita secara langsung."
Horikita menghabiskan setiap harinya memikirkan cara meningkatkan poin. Dia tidak peduli dengan poin pribadi, tentu saja, tetapi poin kelas. Dia ingin naik ke Kelas A. Aku tidak akan mengatakan kalau itu tidak mungkin, tapi kemungkinannya sangat rendah.
Tapi, kami masih punya harapan. Kalau Horikita bisa menemukan metode yang tepat untuk meningkatkan poin kelas kami, itu akan menjadi keuntungan besar bagi Kelas D. Lalu, teman sekelas kami akan lebih percaya pada Horikita, dan dia akan berteman. Itu adalah situasi yang menguntungkan.
"Itu mengingatkanku. Kau harus bergabung dalam grup chat sekarang. Kau adalah satu-satunya yang belum bergabung."
Aku mengeluarkan ponselku dan meluncurkan aplikasi grup chat. Kami mengundang Horikita untuk bergabung setelah ujian tengah semester. Kushida meragukan apakah Horikita benar-benar akan berpartisipasi, karena dia benci berbicara dengan orang lain. Terlepas dari upaya pertemanan, Horikita tidak berpartisipasi sama sekali.
"Aku tidak tertarik sedikit pun. Dan juga, notifikasiku selalu kumatikan."
"Apa itu benar?"
Yah, rupanya dia tidak berniat untuk berpartisipasi sejak awal. Dia mungkin tidak menghapus aplikasi tersebut karena itu akan mengirim pemberitahuan ke Kushida dan anggota grup lainnya jika dia melakukannya. Horikita bebas untuk memutuskan sendiri apakah dia akan berpartisipasi, jadi aku tidak akan mendesak masalah ini lebih jauh lagi. Lagipula aku tidak memenuhi syarat untuk menilai keputusannya.
"Kamu cukup banyak bicara akhir-akhir ini, Ayanokouji-kun."
"Benarkah? Kupikir aku memang selalu seperti ini."
"Perbedaannya memang kecil, tapi kamu sudah berubah."
Meskipun aku tidak bermaksud untuk berubah, aku mungkin sudah mengalami sedikit perubahan sejak bersekolah di sini. Terutama tentang pergaulanku dengan Horikita ... Yah, aku tidak akan mengatakan bahwa kami akur, tapi aku merasa cukup nyaman berada di sekitarnya. Kalau dia adalah gadis lain, aku mungkin tidak akan bisa berkomunikasi dengannya secara normal. Aku akan menjadi gugup dan gelisah.
Itu sebabnya aku hanya berbicara dengan orang-orang yang dekat denganku. Lebih dari segalanya, aku bersyukur atas hubungan di mana menjadi diam tidak memperburuk suasana.
"Apa ada sesuatu yang membuatmu berubah?"
"Entahlah. Yah, jika aku harus memikirkan alasan, kurasa aku sudah terbiasa bersekolah disini, dan aku juga sudah bisa berteman. Terlebih lagi, Kushida-lah yang menjadi pengaruh terbesar."
Ketika aku berada di sekitar para lelaki, kadang-kadang kami hampir tidak berbicara, atau bahkan tidak berbicara sama sekali. Namun, ketika ada Kushida, orang-orang selalu berbicara, dan suasana menjadi cerah.
"Sepertinya kamu cukup akrab dengan Kushida-san. Tidakkah kamu terganggu, terutama setelah mengetahui tentang sisi lain dari dirinya?"
"Aku akui aku terkejut ketika dia mengatakan bahwa dia membencimu, Horikita. Tapi kupikir itu wajar kalau setiap orang memiliki orang yang mereka sukai dan orang yang mereka benci. Tidak perlu mengkhawatirkannya. Lagian, kau sendiri masih berpura-pura bersikap baik dengan Kushida meskipun dia bilang kalau dia membencimu, 'kan?"
"Hmm. Yah, kamu mungkin ada benarnya. Memang benar aku juga membencimu, Ayanokouji-kun, tapi aku masih bisa berbicara denganmu secara normal. Jadi, aku tidak terlalu keberatan."
"Oi ... "
Apaan sih anjir? Sungguh menyakitkan saat dia mengatakannya langsung seperti itu.
"Itulah yang aku maksud. Jika seseorang mengatakan bahwa mereka membenci orang lain orang, itu tidak masalah. Tetapi jika seseorang mengatakan bahwa mereka membencimu, tidakkah kamu merasa kesal?" dia bertanya.
"Apa kau sedang mengujiku?"
Horikita mulai menyisir rambutnya dengan cara yang terlihat disengaja. “Aku tidak punya niat untuk menghalanginya, tapi Kushida-san dan aku itu seperti minyak dan air. Kupikir lebih baik tidak bergaul dengannya.”
Dengan kata lain, dia tidak akan bergabung dengan grup chat karena ada Kushida di dalamnya.
"Kenapa dia bahkan membencimu sejak awal?" aku bertanya.
Mereka tidak banyak berinteraksi sejak sekolah dimulai. Jadi sejak kapan dia mulai membenci Horikita? Seingatku, Kushida mengatakan bahwa tujuannya adalah untuk berteman dengan semua orang di kelas.
"Entahlah? Dia mungkin tidak tahu banyak tentangku."
Mungkin itu benar. Tapi meski begitu, aku merasakan ada sesuatu antara Kushida dan Horikita.
"Jika kamu begitu penasaran, kenapa kamu tidak bertanya langsung padanya?" tanya Horikita.
Itu tidak mungkin. Kushida Kikyou adalah gadis yang imut, seperti malaikat, tapi aku telah melihat sekilas sisi yang berbeda darinya. Itu bahkan sulit untuk dibayangkan ketika kau melihat senyum lembutnya atau mendengar suaranya yang ceria, tapi aku masih mengingat kata-kata kejam yang pernah dia keluarkan. Horikita mungkin tidak tahu tentang itu.
"Tidak perlu. Aku baik-baik saja dengan Kushida yang sekarang," kataku.
"Apa yang baru saja kamu katakan benar-benar menjijikkan, kamu tahu itu?"
"Ya."
Meskipun aku mengucapkan kata-kata itu, aku merasa jijik dengan diriku sendiri.
PART 4
Setelah makan malam yang menyenangkan di kantin asrama, aku kembali ke kamarku. Di sana, aku mengeluarkan ponselku dan memeriksa sisa poinku. Total poin akunku ditampilkan di layar. Aku masih memiliki 8.320 poin pribadi. Itu tidak berubah sejak tadi pagi. Mengingat bahwa kami memulai tahun ajaran dengan 100.000 poin pribadi, ini adalah jumlah yang sangat rendah. Aku hampir bangkrut hanya karena membeli nilai ujian yang Sudou butuhkan untuk lulus.
“Akan sangat bagus jika kami mendapatkan 87 poin kelas itu,” gumamku.
Jika dikonversi ke poin pribadi, jumlahnya menjadi 8.700 yen. Meskipun itu bukan peningkatan yang besar, itu masihlah jumlah yang banyak. Saat aku sedang bermain-main dengan ponselku, pintu kamarku tiba-tiba terbuka.
"Selamatkan aku, Ayanokouji!" Sudou berdiri di sana, wajahnya merah padam.
“Kenapa kau ada di sini? Tunggu, yang lebih penting–bagaimana kau bisa masuk?”
Aku mengunci pintuku ketika aku kembali ke kamarku. Aku tidak lupa, karena sudah menjadi kebiasaan. Apa Sudou mendobraknya atau semacamnya? Untuk memastikan, aku pun memeriksa pintu kamarku. Itu tampak baik-baik saja, tidak ada yang rusak sama sekali.
“Ini ruangan tempat kelompok kita berkumpul, 'kan? Ike dan kami semua membuat kunci duplikat. Apa kau tidak tahu itu? Semua orang di dalam kelompok juga memiliki kunci ini.”
Dia memutar kartu kunci di tangannya.
“Aku baru saja mengetahui fakta yang sangat penting ini,” gerutuku. Sepertinya kamarku tidak lagi aman. Orang lain bisa menyerang kapan pun mereka mau.
"Pokoknya, lupakan itu sekarang. Aku dalam masalah yang serius! Kau harus membantuku!" kata dia.
“Tidak, aku tidak bisa melupakannya. Serahkan kuncinya.”
"Hah? Kenapa? Aku membeli ini dengan poin pribadiku sendiri. Ini milikku."
Sungguh argumen yang tidak masuk akal. Bahkan jika kau tidak merasa melakukan kejahatan, ini tetaplah kejahatan. Pertemanan bukan berarti serta merta membiarkan orang lain melakukan apa pun yang mereka inginkan.
“Jika kau membutuhkan saran atau kau khawatir tentang sesuatu, kenapa tidak bertanya kepada Ike atau Yamauchi?”
“Aku tidak bisa bertanya kepada mereka. Mereka itu bodoh.”
Sudou duduk ke lantai dengan bunyi gedebuk.
"Belilah karpet yang baru, bokongku sakit," gerutunya.
Aku tidak punya poin pribadi yang cukup untuk membeli desain interior. Meskipun kamarku tampaknya telah ditetapkan sebagai tempat pertemuan kelompok kami, kami belum berkumpul bersama lagi sejak pesta perayaan. Bahkan jika aku membeli karpet baru, aku akan menjadi satu-satunya orang yang duduk di atasnya. Hanya membayangkan itu nyata.
Saat aku berdiri untuk membuat teh, bel pintu berbunyi. Itu Kushida, Madonna dari Kelas D, menjulurkan kepalanya melalui pintu masuk. Dia tampak lucu seperti biasa. Dia melihat Sudou, yang masih duduk di lantaiku.
“Oh, Sudou-kun sudah ada di sini,” katanya.
“Hei, Kushida, aku ingin menanyakan sesuatu padamu. Apa mungkin kau juga memiliki duplikat kunci kamarku?”
"Ya tentu. Ini agar kita bisa bertemu di sini ... Tunggu, apa kamu tidak tahu tentang ini, Ayanokouji-kun?"
Dia mengambil kartu kunci dari tasnya dan menunjukkannya padaku. Aku tidak melihat perbedaan apapun antara kuncinya dan kunci milikku. Mereka persis sama. Rupanya Kushida mengira aku telah memberikan izin untuk membuat kunci ini.
“Umm, yah... haruskah aku mengembalikannya padamu?”
Dia meminta maaf sambil menyerahkan kuncinya.
"Tidak apa-apa. Tidak ada gunanya jika kau satu-satunya yang mengembalikan kunci itu. Sudou sepertinya tidak ingin menyerahkan miliknya."
Bukankah tidak apa-apa bagi Kushida untuk memiliki kunci itu? Aku kira ini hanya bagian dari delusi otakku, memberinya kunci duplikat membuatnya terasa seperti dia itu pacarku. Pria tentu saja adalah makhluk yang licik.
“Karena Kushida datang juga, bisakah kita beralih ke topik utama?” Sudou bertanya.
“Baiklah, kurasa tidak ada cara untuk menghindarinya. Jadi, apa yang ingin kau bicarakan?”
Aku tidak bisa blak-blakan menolak mereka berdua. Sudou mulai berbicara perlahan, memakai ekspresi lemah lembut.
“Kau tahu kan saat wali kelas kita memanggilku hari ini? Nah, itu... Uh... Sebenarnya... aku mungkin diskors. Untuk waktu yang lama.”
"Di-Diskors?"
Ini tidak terduga. Dibandingkan dengan bagaimana dia bertindak di awal tahun, Sudou berperilaku agak baik akhir-akhir ini. Dia tidak tidur di kelas atau berbicara selama pelajaran berlangsung, dan dia melakukannya dengan baik dalam kegiatan klubnya.
"Apa kau menghina Chabashira-sensei?" aku bertanya.
Sudou kesal ketika Chabashira-sensei menghentikannya untuk pergi latihan basket. Dengan pemikiran itu, dia mungkin mengatakan sesuatu yang sembrono.
"Bukan itu."
"Lalu apa? Apa kau mencengkeram kerahnya dan mengancam akan membunuhnya atau semacamnya?"
"Bukan itu juga."
Penolakan lain. Aku tidak menduga itu.
"Ini mungkin lebih buruk dari yang kau pikirkan ..."
Dua tebakan pertamaku cukup serius, jadi jika itu adalah sesuatu yang lebih buruk, maka ...
“Oh, aku mengerti, Ayanokouji-kun. Dia dengan kejam menghajar Chabashira-sensei lalu dia meludahinya!” kata Kushida.
"Mengerikan. Maksudku, pemikiran liarmu itu terlalu berlebihan, Kushida!”
“Ha ha, aku hanya bercanda! Sudou-kun tidak akan bertindak sejauh itu.”
Meskipun aku berharap Sudou segera menyangkal apa yang dia katakan, dia justru tampak terkejut dengan lelucon Kushida. Itu adalah bukti bahwa ada sesuatu yang salah.
"Apa yang terjadi?" aku bertanya.
“Sejujurnya, aku memukuli beberapa anak dari Kelas C kemarin. Kemudian, aku diskors. Skors itu mungkin adalah hukumanku.”
Kushida juga terkejut dengan kata-kata Sudou. Dia menatapku. Aku tidak bisa segera memproses fakta bahwa Sudou telah melibatkan dirinya lagi dalam masalah.
“Kau menghajar mereka? Jadi, eh, kenapa kau melakukan itu?” aku bertanya.
“Asal kau tahu, itu bukan salahku, oke? Orang-orang brengsek di Kelas C itu yang memulainya dan mencoba berkelahi denganku. Aku hanya menanggapi situasi dan meladeni mereka. Kemudian mereka mengatakan bahwa aku yang memulai perkelahian. Mereka adalah sekelompok pembohong.”
Sudou masih belum bisa menenangkan pikirannya. Walaupun aku mengerti inti dari apa yang dia katakan, aku masih tidak tahu detail perkelahiannya atau bagaimana itu dimulai.
"Tunggu sebentar, Sudou-kun. Bisakah kamu memulainya dari awal, dan jelaskan sedikit lebih lambat?" Kushida mendorongnya untuk tenang dan mencoba membuatnya agar bercerita pada kami.
"Maaf, kukira aku hanya melompat ke bagian akhirnya dan melewatkan banyak hal."
Sudou menarik napas dalam-dalam dan memulai dari awal.
“Waktu itu, aku sedang berbicara dengan penasihat klub tentang menjadi pemain utama untuk turnamen musim panas.”
Aku tahu kalau Sudou pandai dalam basket, tapi aku tidak menyangka kalau dia sudah menjadi pemain utama.
"Pemain utama? Itu luar biasa, Sudou-kun! Selamat!"
“Yah, tapi itu belum diputuskan dengan pasti. Itu hanya kemungkinan untuk saat ini.”
“Tetap saja, itu luar biasa. Padahal kita baru saja mulai sekolah di sini.”
"Ya, kurasa. Sebenarnya, aku adalah satu-satunya siswa tahun pertama yang dinominasikan menjadi pemain utama. Tetap saja, itu belum pasti. Bagaimanapun, ketika aku dalam perjalanan kembali ke asrama, Komiya dan Kondou, yang ada di klub basket denganku, memanggilku ke gedung khusus. Mereka bilang mereka ingin berbicara denganku tentang sesuatu. Aku bisa saja mengabaikannya, tapi karena aku sesekali berbicara dengan dua orang itu selama bermain basket, kupikir akan lebih baik untuk mendengarkan mereka. Jadi tentu saja, aku pergi menemui mereka, 'kan? Kemudian, ada pria bernama Ishizaki di sana, menungguku. Dia teman Komiya dan Kondou. Mereka mengatakan bahwa mereka tidak tahan dengan seseorang sepertiku yang dari Kelas D telah dipilih sebagai pemain utama. Mereka mengancamku, dan menyuruhku untuk berhenti dari klub basket atau akan ada banyak rasa sakit di masa depanku. Aku menolak untuk berhenti, aku memukuli mereka, dan sekarang disinilah aku."
Itu adalah penjelasan yang agak terburu-buru, tapi aku mengerti intinya. Rupanya Sudou puas dengan ceritanya.
“Jadi mereka menganggapmu sebagai orang jahat, Sudou-kun.”
Sudou mengangguk, ekspresi putus asa masih terlihat di wajahnya. Jadi siswa di Kelas C yang telah memulai semuanya, dan ketika usaha mereka untuk mengancam Sudou telah gagal, mereka pun memaksa. Dengan kata lain, tindakan kekerasan. Namun, Sudou adalah petarung yang berpengalaman, jadi dia berhasil menghajar mereka tanpa berkeringat. Tentu saja, mereka pasti terluka. Karena tidak ada bukti tentang apa yang telah terjadi, mereka berbohong keesokan harinya dan memberi tahu pihak sekolah bahwa Sudou telah memukuli mereka tanpa alasan.
“Jika Kelas C yang memulai ini, maka Sudou-kun tidak bersalah.”
"Benarkan? Aku benar-benar tidak mengerti ini. Aku juga tidak percaya pada guru itu!"
"Kita harus memberi tahu Chabashira-sensei besok. Kita harus memberitahunya kalau itu semua bukan salah Sudou-kun," kata Kushida.
Segalanya mungkin tidak akan sesederhana itu. Sudou pasti sudah memberi tahu sekolah apa yang baru saja dia katakan kepada kami. Tetapi karena dia tidak memiliki bukti yang jelas untuk mendukung klaimnya, sekolah mungkin masih memutuskan untuk menghukumnya.
“Sudou, apa yang sekolah katakan ketika mereka mendengar tentang kejadian ini?”
“Mereka bilang mereka akan memberiku waktu sampai Selasa depan untuk memperoleh buktinya. Jika aku tidak bisa melakukan itu, mereka akan mengatakan kalau aku bersalah dan aku akan diskors sampai musim panas. Selain itu, seluruh kelas juga akan kehilangan poin.”
Rupanya pihak sekolah telah memutuskan untuk menunggu bukti. Namun, Sudou tampak lebih khawatir tentang mimpi basketnya daripada hukuman skors-nya, atau kehilangan poin kelas kami. Kurasa dia tidak tahan saat memikirkan kalau masa mudanya akan disia-siakan.
"Apa yang harus aku lakukan?"
"Sudou-kun, kamu tidak berbohong kepada sensei, 'kan? Maksudku, ini sepertinya aneh. Mereka tidak mempercayaimu meskipun kamu mengatakan bahwa kamu tidak melakukan kesalahan. Iya 'kan?"
Aku merasa tidak enak pada Kushida. Dia menatapku untuk mendapat penegasan, tapi aku tidak bisa merespon seperti yang dia inginkan.
“Yah, aku heran tentang itu. Kupikir tidak sesederhana itu.”
“Apa maksudmu, kau heran? Kau tidak meragukanku, 'kan?”
“Yah, sekolah tidak mempercayaimu, 'kan? Itu tidak aneh untuk seseorang di kelasmu, seperti Kushida, misalnya, berusaha mendukungmu meskipun kamu berbohong. Lagi pula, mereka tidak ingin poin kelas mereka turun.”
“Yah... kau mungkin benar tentang itu, kurasa.”
Masalah kami saat ini tidak akan bisa diselesaikan hanya dengan menemukan siapa yang memulainya. Mungkin ketiga siswa itu akan diskors 1 minggu, sebagai hukuman. Ketiga orang itu telah mengklaim bahwa mereka dipukuli. Tanpa bukti kuat bahwa Sudou tidak bersalah, dia pasti akan dihukum. Itu hanya berarti satu hal.
“Bahkan jika pihak lain bersalah, kemungkinan besar Sudou lah yang akan disalahkan.”
"Hah? Kenapa? Itu pembelaan diri yang wajar, 'kan? Hah?!"
Sudou, jelas tidak bisa mengerti, dia memukul meja. Bahu Kushida menegang sebagai tanggapan.
"Maaf, aku hanya sedikit marah." Setelah melihat ekspresi Kushida yang ketakutan, Sudou dengan malu-malu meminta maaf.
“Tapi... kenapa Sudou-kun yang harus disalahkan?”
“Sudou memukul mereka, tapi mereka tidak memukul Sudou. Kupikir itulah intinya. Dalam kasus seperti itu, sulit untuk mengklaimnya sebagai pembelaan diri yang wajar. Apa mereka mendatangimu sambil membawa pisau atau tongkat besi. Jika begitu, situasinya tentu akan berbeda. Pembelaan diri berarti kau memiliki hak untuk membela diri sendiri terhadap serangan mendadak dan berbahaya yang dilakukan oleh orang lain. Jadi, kupikir kita tidak dapat mengklaim bahwa ini adalah pembelaan diri.”
Berapa banyak pertimbangan yang akan diberikan dalam situasi ini?
“A-aku tidak mengerti. Aku melawan tiga orang, tahu. Tiga! Itu sangat berbahaya.”
Mereka kemungkinan akan memperhitungkan jumlah orang, tetapi ini adalah kasus yang rumit. Jika sekolah bersedia memberi perhatian lebih pada jumlah orang yang menyerang, Sudou bisa dinyatakan tidak bersalah. Namun, terlalu berbahaya untuk bersikap optimis.
“Kupikir sekolah mungkin telah menawarkan perpanjangan karena mereka pikir sulit untuk membuat penilaian pada saat ini.”
Adapun bukti saat ini, kuncinya ada pada luka yang diberikan Sudou kepada ketiga siswa tersebut.
"Kurasa sekolah berencana untuk menghukum berat Sudou-kun karena meninju mereka, ya?" kata Kushida.
“Siapa pun yang melaporkannya terlebih dahulu memiliki keuntungan. Kesaksian korban dapat berfungsi sebagai bukti.”
“Aku masih tidak mengerti. Aku korban di sini! Diskors itu bukanlah semacam lelucon! Jika aku dihukum karena ini, jangankan menjadi pemain utama, aku bahkan tidak akan bisa bermain di turnamen!”
Siswa Kelas C itu dengan sengaja membiarkan Sudou mengalahkan dan menghajar mereka. Mereka ingin menghancurkan peluang Sudou untuk menjadi pemain utama, bahkan jika itu berarti mereka harus menghadapi beberapa resiko. Itulah yang aku bayangkan tentang rencana mereka.
"Ayo pergi dan minta tiga siswa Kelas C itu untuk jujur. Jika mereka merasa apa yang mereka lakukan salah, maka pasti mereka akan merasa bersalah tentang hal itu, 'kan?"
“Orang-orang itu bukan idiot. Mereka tidak akan jujur. Sialan, aku tidak akan pernah memaafkan mereka! Dasar brengsek, sialan!”
Sudou mengambil pena dari meja dan, dengan suara keras, mematahkannya menjadi dua. Aku mengerti bahwa darahnya sedang mendidih, tapi itu penaku...
“Jika mencoba menjelaskan situasinya tidak berhasil, maka kita harus mencari bukti yang kuat,” kataku.
"Ya. Akan lebih baik jika ada bukti yang membuktikan kalau Sudou-kun tidak bersalah."
Itu akan sangat bagus, karena dengan begitu penderitaan kami akan berakhir. Namun, Sudou tidak menyangkal apapun. Dia tampak seperti sedang berpikir keras.
“Sepertinya memang ada. Ini mungkin hanya kesalahpahamanku, tapi saat aku melawan orang-orang itu, aku merasakan sesuatu yang... aneh. Seperti ada seseorang di dekatku, yang mengawasiku.”
Dia tidak terdengar percaya diri.
"Jadi mungkin ada saksi mata?" aku bertanya.
"Ya, kupikir begitu. Meskipun aku tidak punya bukti bahwa ada orang di sana."
Seorang saksi mata. Hmm. Jika seseorang telah melihat semuanya, maka itu akan menjadi berita bagus untuk kami. Namun, tergantung pada bagaimana keadaannya, ini mungkin justru akan membuat Sudou terpojok. Misalnya jika saksi mata itu hanya melihat setelah perkelahian mereka berakhir, itu berarti Sudou yang akan tamat.
"Apa yang harus kulakukan?" dia bertanya.
Sudou membenamkan kepalanya di tangannya. Kushida pun memecah kesunyian.
“Ada dua cara untuk membuktikan bahwa kamu tidak bersalah, Sudou-kun. Cara pertama adalah dengan membuat anak laki-laki di Kelas C itu mengakui bahwa mereka berbohong. Karena kamu tidak bersalah, mungkin yang terbaik adalah membuat mereka mengakui itu.”
Itu sangat idealis.
“Seperti yang sudah kukatakan, itu tidak mungkin. Mereka tidak akan mengakui bahwa mereka berbohong.”
Seperti yang Sudou katakan, jika mereka mengaku berbohong hanya untuk membuat orang lain terlibat masalah, justru merekalah yang pada akhirnya akan diskors.
“Cara kedua adalah menemukan saksi mata yang kamu bicarakan, Sudou-kun. Jika seseorang kebetulan melihat perkelahian itu, maka kita pasti bisa mengatasi inti masalahnya.”
Yah, itu mungkin satu-satunya rencana yang realistis.
“Jadi, bagaimana caramu mencari saksi mata ini?”
“Tanya orang satu per satu. Atau kita bisa berkonsultasi dengan setiap kelas secara keseluruhan,” kata Kushida.
"Akan lebih bagus jika saksi mata itu bersedia menunjukkan dirinya, tapi ..."
Karena kami sudah berbicara cukup lama, aku mulai mengaduk-aduk isi lemariku. Aku mengeluarkan sebungkus kopi dan teh sariwangi yang kubeli di toserba sekolah. Meskipun Sudou sebenarnya bukan penggemar kopi, tapi ini bukan masalah. Setelah menyiapkan ketel air panas, aku meletakkan semuanya di atas meja.
“Ini mungkin terdengar agak tidak tahu malu, tapi ... bisakah kalian tidak mengatakan hal ini pada siapa pun?” Sudou bertanya dengan malu-malu. Dia mengambil cangkir dan mulai meniupnya untuk mendinginkannya.
"H-Hah? Kamu tidak ingin kami memberi tahu siapa pun?" tanya Kushida.
“Jika kabar ini sampai tersebar, ini pasti akan sampai ke tim basket. Aku tidak ingin itu terjadi. Kau mengerti, 'kan?”
“Sudou, meski begitu, aku—”
“Tolong mengertilah, Ayanokouji. Jika aku tidak bisa bermain basket, aku tidak akan punya apa-apa lagi,” Sudou memohon, meletakkan tangannya di pundakku.
Bahkan jika kabar tidak tersebar, ini tidak akan tetap terkendali. Jika ada yang mengetahui bahwa Sudou telah melakukan kekerasan, kemungkinan besar mereka tidak akan menerima dia di tim basket.
“Tapi bukankah para siswa di Kelas C akan bilang kalau Sudou-kun itu kasar? Maksudku, kurasa itu akan menguntungkan mereka.”
Itulah yang kupikirkan. Tidak aneh bagi mereka untuk membicarakannya di antara mereka sendiri, karena itu membantu mereka dan akan menyakiti kami. Sudou membenamkan kepalanya di tangannya sekali lagi, seolah mengatakan "Serius?!"
"Bagaimana jika kabar sudah tersebar?"
“Tidak, pada tahap ini mungkin hanya sedang dibahas oleh sekolah dan orang-orang yang terlibat saja.”
“Kenapa kau berpikir begitu?” Sudou bertanya.
“Jika orang-orang di Kelas C itu bermaksud menyebarkan desas-desus, kita pasti sudah mendengarnya.”
Perwakilan dari sekolah telah menerima laporan dan memanggil Sudou sepulang sekolah. Belum ada kabar tentang kejadian tadi siang. Paling tidak, kabar mungkin belum tersebar.
"Jadi menurutmu kita aman untuk saat ini?"
Berapa lama ini akan bertahan? Bahkan jika sekolah mengeluarkan perintah pembungkaman, pada akhirnya desas-desus pasti akan terdengar. Tak lama kemudian, itu akan menyebar. Saat ini, satu-satunya hal yang bisa kukatakan dengan pasti adalah—
“Sudou-kun, kupikir akan lebih baik jika kamu menjaga jarak,” kata Kushida.
Dia tampaknya mengerti situasinya.
"Ya. Tidak baik jika sang terdakwa mencoba melakukan sesuatu," jawabku, setuju dengan Kushida.
"Tapi, jika aku menyerahkan ini pada kalian—"
"Aku tidak berpikir itu diserahkan pada kami. Kami ingin kamu mengandalkan kami, Sudou-kun. Aku tidak tahu seberapa banyak yang bisa kami lakukan, tetapi kami akan mencoba yang terbaik. Oke?" kata Kushida.
"Baiklah. Aku tahu ini merepotkan kalian, tapi aku akan menyerahkannya pada kalian."
Dia sepertinya mengerti bahwa dia hanya akan memperumit masalah dengan melibatkan dirinya.
“Baiklah, kami akan kembali ke kamar kami. Aku minta maaf karena menerobos masuk ke sini.”
“Jangan khawatir tentang itu. Aku hanya berpikir itu aneh karena kau membuat kunci duplikat.”
Sudou memasukkan kunci itu ke dalam sakunya; dia tidak akan mengembalikannya. Mungkin aku harus memasang kunci rantai di pintuku.
“Sampai jumpa besok, Kushida.”
“Ya, sampai jumpa, Sudou-kun.”
Sudou pergi dengan ekspresi agak sedih di wajahnya. Kamarnya hanya beberapa lantai ke bawah.
"Apa kau tidak kembali, Kushida?" aku bertanya.
“Ada beberapa hal yang ingin aku bicarakan denganmu, Ayanokouji-kun. Kamu sepertinya tidak terlalu antusias membantu Sudou-kun.”
Saat Kushida menatapku dengan mata gelisah, tiba-tiba aku memiliki keinginan untuk memeluknya. Aku meregangkan punggungku dan mencoba menghilangkan pikiran-pikiran itu.
“Tidak banyak yang bisa kulakukan. Maksudku, aku hanya bisa menanggapi cerita Sudou. Jika Horikita atau Hirata ada di sini, mereka mungkin bisa memberikan saran yang lebih baik.”
“Mungkin, tapi Sudou-kun mendatangimu, Ayanokouji-kun. Dia datang kepadamu, bukan kepada Horikita-san, Hirata-kun, atau bahkan Ike-kun.”
"Aku tidak tahu apa aku harus senang tentang hal itu atau tidak."
“Hmm.”
Untuk sesaat, tatapan Kushida berubah menjadi dingin, itu membuatku bingung. Aku ingat bahwa Kushida pernah secara langsung memberitahuku kalau dia membenciku. Dia selalu tersenyum lembut, jadi aku kadang-kadang lupa tentang itu. Tapi aku mungkin akan berada dalam masalah jika aku melupakannya.
"Aku pikir mungkin lebih baik jika kamu berupaya lebih keras untuk berbaur, Ayanokouji-kun," katanya.
“Aku mencobanya, kurang lebih. Aku hanya belum bisa. Seperti sekarang, aku tidak punya nyali untuk berjanji bahwa aku akan membantu.”
Dia tidak membicarakan kecemasanku tentang makan sendirian saat istirahat makan siang. Tetap saja, Kushida mungkin mengerti perasaanku.
“Kushida, kau akan membantu, 'kan?”
"Tentu saja. Kami kan berteman. Jadi apa yang akan kamu lakukan, Ayanokouji-kun?"
“Apa kau ingat ketika aku mengatakan kalau lebih baik berbicara dengan Horikita atau Hirata? Yah, Sudou membenci Hirata, jadi itu membuat Horikita menjadi satu-satunya pilihan.”
Meskipun aku ragu kalau Horikita bisa menghasilkan rencana yang cukup baik untuk menyelesaikan masalah ini.
"Apa menurutmu Horikita-san akan membantu kita?"
"Tidak tahu. Kita harus bertanya dan mencari tahu. Kupikir dia tidak akan tinggal diam dan menyaksikan Kelas D runtuh. Mungkin."
Aku tidak memiliki keyakinan. Bagaimanapun, ini adalah Horikita yang sedang kita bicarakan.
“Aku tahu kamu mencoba menghindari pertanyaan itu, tapi kamu juga akan membantu. Bukankah begitu, Ayanokouji-kun?”
Kupikir aku telah berhasil mengalihkan pembicaraan ke arah lain, tapi Kushida dengan cepat membawanya kembali.
"Apa tidak apa-apa jika aku tidak berguna?"
“Aku yakin kamu akan berguna, entah bagaimana caranya.”
Dia tidak dengan jelas menyatakan bagaimana aku akan berguna.
"Jadi apa yang harus kita lakukan? Sudou-kun bilang ini tidak akan berhasil, tapi kupikir akan lebih baik untuk berbicara dengan tiga siswa yang dia lawan. Jujur saja, aku berteman dengan Komiya-kun dan yang lainnya. Oleh karena itu, masih ada kemungkinan untuk membujuk mereka. Hmm, meskipun ini mungkin berbahaya."
Kushida masih ingin membicarakannya secara baik-baik dengan mereka.
“Ini berisiko. Terlepas dari pertanyaan tentang siapa yang memulai perkelahian, ketiganya melaporkannya ke sekolah. Itu artinya mereka lebih unggul. Dan juga, kupikir itu tidak akan berhasil, karena mereka yang memulainya.”
Membuat mereka mengakui kebohongan itu, dan menjelaskannya kepada pihak sekolah tidak akan mudah. Jika sekolah mengetahui kebenarannya, Kelas C akan menghadapi hukuman berat. Mereka tidak akan melakukan sesuatu yang begitu bodoh.
“Kalau begitu, kurasa mencari saksi mata adalah taruhan terbaik kita.”
Ini mungkin akan sama sulitnya dengan membujuk ketiganya untuk memberi tahu kebenarannya. Tanpa detail apa pun, menemukan seorang saksi mata hanya akan menjadi langkah yang mustahil. Berkeliling sambil bertanya, "Apa kau melihat sesuatu?" juga hanya akan buang-buang waktu dan tenaga.
Tidak peduli seberapa banyak aku memikirkannya, aku tidak bisa menemukan solusi apapun.
~ Bersambung ~
Komentar
Posting Komentar