-->
Loading...

iklan adsense

Volume 1 Epilog “Classroom of the Elite” Light Novel Bahasa Indonesia

Released on Juni 09, 2021 · 0 Views · Posted by firsyardha · Series

Download Volume 1 Epilog “Classroom of the Elite” Light Novel Bahasa Indonesia, Streaming Volume 1 Epilog “Classroom of the Elite” Light Novel Bahasa Indonesia, jangan lupa untuk klik like dan bagikan. Series First Year Volume 1 selalu update di MarinSubs. Jangan lupa menonton Series terbaru lainnya.

Refresh Jika Loading Video Lebih Dari 1 Menit. Jika Video Error Hubungi Saya Atau Tuliskan di Komentar ...!!
EPILOG
Perayaan Kemenangan

"Bersulang!" Ike berteriak gembira dan bersulang dengan sekaleng jus. Malam itu, kelompok orang-orang yang gagal berkumpul sekali lagi. Setelah bebas dari beban belajar, kami semua sangat gembira karena tidak ada yang diusir dari sekolah. Semua orang tersenyum... Yah, kecuali Horikita. Kami telah memikul beban dan mengatasi tantangan bersama-sama. Mungkin itu adalah arti dari masa muda. Jika kami mengabaikan masalah yang sudah berlalu, ini tidak terlalu buruk. 

"Kok mukanya suram begitu, Ayanokouji? Sudou tidak dikeluarkan. Semuanya baik-baik saja sekarang, 'kan?"

"Aku sih tidak keberatan soal ikut pesta perayaannya ... tapi kenapa harus di kamarku ?"

"Kamarku berantakan. Begitu juga dengan kamar Sudou dan Yamauchi. Dan kita tidak bisa pergi ke kamar perempuan, kan? Maksudku, ya, aku akan senang pergi ke kamar Kushida-chan. Tapi kamarmu yang sangat polos dan kosong adalah pilihan terbaik."

"Baru 2 bulan sejak sekolah dimulai. Jadi aku tidak punya banyak barang." Selain kebutuhan sehari-hari, aku tidak terlalu membutuhkan apa pun. 

"Bagaimana menurutmu, Kushida-chan?"

"Aku pikir baik-baik saja di sini. Sederhana, tapi ruangannya nyaman dan bersih."

"Benarkan? Pasti kau senang karena Kushida-chan memujimu, 'kan? Ha ha ha ha!" Ike dengan enggan mendorongku. 

"Tapi itu tadi nyaris banget, ya! Ujian tengah semester itu berbahaya. Kalau kita tidak mengumpulkan kelompok belajar, aku akan baik-baik saja, tapi Ike dan Sudou sudah pasti akan ditendang keluar."

"Hah? Kau sendiri lolosnya juga nyaris, tuh."

"Aku cuma belum serius saja. Kalau aku serius, aku pasti bisa mendapatkan nilai sempurna." 

"Semuanya berkat upaya Horikita-san. Dia mengajari Ike-kun, Yamauchi-kun, dan Sudou-kun."

Horikita duduk agak jauh, sambil diam-diam membaca novel. Ketika kami mengatakan namanya, dia menandai halamannya dan melihat kami. 

"Aku melakukannya demi diriku sendiri. Jika seseorang dikeluarkan, evaluasi Kelas D akan memburuk."

"Katakan saja kalau kau tidak ingin kami dikeluarkan, meskipun itu bohong. Kami akan lebih menyukaimu."

"Kalian tidak perlu bersikap berlebihan seperti itu padaku." 

Yah, sikapnya tetap tidak berubah, tapi hanya berpartisipasi dalam perayaan ini adalah tanda kemajuannya. Horikita yang dulu pasti tidak akan mau datang. 

"Yah, tapi kurasa ... kau orang yang sangat baik, Horikita," jawab Sudou. 

Karena Horikita sudah meminta maaf sebelumnya, Sudou benar-benar berhenti memusuhi dia. Sebelumnya, Sudou tidak menyukai Horikita. Tapi orang bisa berubah. 

"Ngomong-ngomong, kenapa Chabashira-sensei berubah pikiran tentang pengusiran Sudou-kun?"

"Aku juga ingin tahu tentang itu. Jenis sihir apa yang kau gunakan, Horikita-chan?"

"Hmm, aku tidak begitu ingat."

"Whoa, ini rahasia?!" 

Ike menjatuhkan dirinya ke lantai dengan cara yang berlebihan. 

"Meskipun kita berhasil melewati UTS, kita seharusnya tidak boleh terlalu santai. Tantangan kita selanjutnya adalah UAS. Kita harus beranggapan kalau soal-soal selanjutnya akan menjadi lebih sulit daripada yang sekarang. Selain itu, kita masih perlu menemukan cara untuk meningkatkan poin kelas kita."

"Apa kita benar-benar perlu belajar keras lagi seperti ini? Ini menyebalkan." Masih di lantai, Ike membenamkan kepalanya di tangannya. 

"Apa mungkin kamu ingin belajar dengan keras, sekarang juga?" 

"Tidak!" Ike terdengar yakin tentang itu.

"Aku sama sekali tidak mengerti dengan sekolah ini. Aku tidak mengerti tentang sistem pembagian kelas, sistem poin, semuanya." 

"Ah, poin. Aku ingin poin! Hidup dalam kemiskinan benar-benar menyebalkan."

Setelah Ike dan Yamauchi menggunakan semua poin pribadi mereka, mereka harus berusaha untuk bertahan dengan memanfaatkan penawaran gratis yang disediakan oleh sekolah. 

"Hei, Horikita-san. Apa menurutmu akan sangat sulit untuk mendapatkan poin?"

"Kita sudah berusaha sangat keras di ujian tengah semester. Aku yakin sekolah pasti akan memberi kita banyak poin, 'kan?!"

"Apa kalian sudah lupa dengan nilai rata-rata Kelas D? Kita adalah yang terendah dari semua kelas sejauh ini. Tidak mungkin kita akan mendapatkan poin yang banyak begitu saja, kalian harus menyadari hal itu." Horikita mengatakan kebenaran tanpa basa-basi.

"Jadi, itu artinya kita juga tidak akan mendapatkan poin bulan depan. Hadeeh."

"Kalian harus belajar untuk menjalani kehidupan yang lebih sederhana dan tidak terlalu memikirkan poin."

"Jangan khawatir, Ike-kun. Kita mungkin tidak mendapatkan poin sekarang, tapi kita pasti akan segera mendapatkannya. Benarkan, Horikita-san?"

"Entahlah."

"Bolehkah aku mengatakan sesuatu? Bagaimanapun, kita semua adalah teman di sini. Horikita-san, Ayanokouji-kun, dan aku bekerja sama untuk naik ke Kelas A. Jika kalian setuju, aku ingin kalian bertiga juga membantu kami," kata Kushida. 

"Naik ke ... Kelas A? A-apa kau serius?" kata Ike. 

"Iya. Aku serius. Meningkatkan poin kelas kita adalah salah satu langkah untuk mencapai puncak."

"T-tapi, bukankah ide untuk mencapai Kelas A itu agak konyol? Mereka semua pintar-pintar, 'kan? Tidak mungkin bagi kita untuk menang melawan orang-orang itu hanya dengan belajar."

Jika mempertimbangkan nilai rata-rata ujian mereka, semua orang di kelas itu mungkin selevel dengan Horikita. 

"Belajar bukanlah satu-satunya faktor yang memutuskan siapa yang masuk ke kelas apa. Benarkan?"

"Ya, tapi jika kami tidak bisa belajar sama sekali, maka naik ke Kelas A adalah hal yang mustahil." 

3 orang yang paling tidak berbakat secara akademis mengalihkan pandangan mereka dan bersiul acuh tak acuh. 

"Kita masih jauh dari tujuan kita, tapi kita bisa melakukannya jika kita semua bekerja sama. Aku tahu itu."

"Apa yang membuatmu begitu yakin?"

"Yang membuatku yakin? Nah, kalian tahu kan peribahasa 'Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh' ."

"Menurutku bahkan jika kamu menyatukan semua orang bersama-sama, mereka masih akan runtuh," kata Horikita. 

"B-Baiklah, bagaimana dengan ini? Tiga orang lebih baik daripada satu! Atau semacamnya." kata Kushida. 

"Menurutku jika kamu menggabungkan ketiga nilai ujian mereka, kamu hanya akan mendapatkan satu nilai orang normal." Setiap kali Kushida mencoba menyemangati ketiganya, Horikita menjatuhkan mereka kembali. Sungguh pasangan yang luar biasa. 

"Tapi, jika kita terus bolak-balik seperti ini, kita tidak akan berkembang. Jelas lebih baik bagi kita untuk akrab."

"Itu masuk akal, kamu memang benar." 

"Benarkan?" 

Horikita tidak mencoba berdebat lebih jauh. Bagaimanapun, jika kami ingin naik ke kelas atas, kami harus akrab dengan semua teman sekelas. Kami tidak akan mendapatkan apa-apa kalau cuma berselisih satu sama lain. 

"Jadi itulah sebabnya aku meminta kalian bertiga untuk membantu kami."

"Dengan senang hati!" jawab Ike dan Yamauchi serempak. 

"Yah, kalau Horikita memintaku untuk membantu, kurasa, aku akan melakukannya." Sudou mencoba untuk menyembunyikan rasa malunya ketika dia berbicara. 

"Aku tidak pernah menginginkan bantuanmu, Sudou-kun. Selain itu, aku sudah kerepotan membayangkan bagaimana caranya agar kamu bisa berguna."

"Grr. Aku cuma mencoba bersikap baik, itu saja, dan—"

"Kamu mencoba bersikap baik? Aku terkejut." 

Tidak mengherankan, Sudou tampak marah, tetapi sepertinya dia tidak akan mengangkat tinjunya. Wow, dia juga membuat kemajuan. 

"Kau benar-benar gadis yang menyebalkan," katanya. 

"Terima kasih. Aku menghargai kata-kata pujianmu."

"Kau ini cewek yang nggak ada imut-imutnya sama sekali."

"Kau memang mengatakan itu, tapi bagaimana perasaanmu yang sebenarnya? " goda Ike. 

Sudou langsung memelototi Ike dan menguncinya. 

"Aduh! Aw, Aw! H-Hentikan!"

"Kalau kau ngomong lagi, aku akan mencekikmu!" 

"K-Kau sudah mencekikku, anjir! Aku menyerah, aku menyerah!"

Horikita menghela nafas dalam-dalam. Matanya seolah bertanya, Apa ini yang namanya ikatan antar laki-laki? 

"Di sekolah ini, kemampuan adalah yang terpenting. Aku yakin kalau persaingan kita kedepannya akan lebih sulit. Kalau kalian memang ingin bekerja sama dengan kami, kalian tidak bisa melakukannya dengan setengah hati. Kalian harus bersungguh-sungguh, kalau tidak, kalian hanya akan menjadi beban."

"Kalau soal kemampuan fisik, serahkan padaku. Aku punya keterampilan bermain basket dan berkelahi."

"Aku benar-benar tidak bisa mengharapkan apa pun darimu sama sekali." 

Kemampuan adalah yang terpenting, ya? Dadaku menjadi sesak. Kami sudah terisolasi dari dunia luar dan sekarang didorong ke dalam situasi ini. Mungkin ini adalah kutukan. 

Horikita dengan serius berencana naik ke Kelas A. Keinginannya tak tergoyahkan. Namun, perjalanan kami untuk keluar dari Kelas D tidak akan mudah. Mempertimbangkan kondisi kami saat ini, mencapai Kelas C saja sudah sulit. Apa yang harus kami lakukan mulai sekarang? Aku membayangkan hal-hal itu akan berubah sebagaimana mestinya. Untuk saat ini, aku akan melakukan yang terbaik. Setidaknya, ... aku tidak keberatan melihat Horikita tersenyum.

~ End of Volume 1 ~

Episode Lainnya

Other Series

Komentar

A-Z List cari anime berdasarkan abjad A-Z
Copyright © MarinSubs. All Rights Reserved

MarinSubs adalah tempat streaming/nonton Anime Subtitle Indonesia

Redesign by Kitagawa Marin 喜多川 海夢