CHAPTER 10
Permulaan
Chabashira-sensei melangkah ke dalam kelas dan melihat sekeliling ruangan. Para siswa terkejut melihat kedatangannya. Semua siswa terlihat cemas menunggu hasil ujian.
"Sensei. Kami diberitahu bahwa hasilnya akan diumumkan hari ini, tapi kapan?"
"Tidak perlu bagimu untuk terlalu sibuk, Hirata. Kau pasti lulus dengan cukup mudah."
"Jadi, kapan hasilnya akan diumumkan?"
"Yah, jika kau bersikeras, sekarang adalah waktu yang tepat. Jika kita menunggu untuk mengumumkannya setelah kelas berakhir, kita tidak akan punya cukup waktu untuk prosedur lain."
Beberapa siswa tampak bereaksi terhadap kata-kata 'prosedur lain.'
"Apa... yang sensei maksud dengan hal itu?"
"Tidak usah bingung. Aku akan memberitahu kalian sekarang."
Seperti biasa, dia mengungkapkan detailnya secara bersamaan dan kolektif. Dia menempelkan selembar kertas putih besar dengan nama semua orang dan nilai ujian ke papan tulis.
"Jujur, aku terkesan. Aku tidak menyangka bahwa kalian akan mendapatkan nilai dengan sangat baik. Banyak siswa yang mendapat nilai sempurna dalam ujian Matematika, Bahasa Jepang, dan IPS. Sebenarnya, ada lebih dari 10 siswa."
Beberapa siswa berteriak kegirangan dan bersorak gembira saat melihat nilai 100 poin berbaris di lembar hasil. Namun, beberapa siswa tidak tersenyum. Satu-satunya nilai yang benar-benar penting adalah nilai Sudou dalam ujian Bahasa Inggris.
Kemudian—
Kami melihat nilai ujian Sudou. Dia mendapatkan 60 poin dalam 4 pelajaran dari 5 mata pelajaran utama, itu termasuk nilai yang cukup tinggi. Dia mendapatkan 39 poin dalam ujian Bahasa Inggris.
"Yosh!" Sudou melompat dan berteriak kegirangan. Ike dan Yamauchi juga berdiri dan bersorak. Tidak ada garis merah yang ditemukan pada lembar hasil. Kushida dan aku bertukar pandang dan menghela nafas lega. Horikita tidak tersenyum atau bersorak, tapi dia memang tampak lega.
"Kami telah menunjukkannya padamu, sensei! Ketika kami benar-benar mencoba yang terbaik, kami bisa melakukan apa pun!" Ike terlihat sombong dan percaya diri.
"Ya, aku tahu itu. Kalian semua melakukannya dengan sangat baik. Namun—"
Chabashira-sensei memegang pena merah di tangannya.
Sudou pun secara tidak sengaja mengatakan "Hah?"
Dia menarik garis merah tepat di atas nama Sudou.
"A-apa itu? Apa itu maksudnya?"
"Kau gagal, Sudou."
"Hah? Kau berbohong, kan? Jangan bicara omong kosong! Kenapa aku gagal?" dia memprotes.
Tentu saja, Sudou adalah orang pertama yang memprotes ini. Sebagai tanggapan terhadap nilai Sudou yang gagal, atmosfer ruang kelas berubah 180°. Kami menghentikan sorakan gembira kami dan terjebak dalam kebingungan.
"Sudou, kau gagal dalam ujian Bahasa Inggris. Itu saja."
"Jangan main-main denganku! Aku mendapat nilai lebih dari 32 poin! Aku lulus!"
"Siapa yang mengatakan bahwa 32 poin adalah nilai KKM?"
"Tidak, tidak. Kau memang bilang begitu, sensei! Benarkan, teman-teman?" teriak Ike.
"Katakan apa pun yang kau inginkan, itu tidak masalah. Ini adalah kebenaran yang tak terbantahkan. Kau harus mencetak setidaknya 40 poin untuk lulus UTS. Dengan kata lain, kau hanya kekurangan 1 poin. Kau sangat nyaris."
"... 40 poin?! Kau tidak pernah memberi tahu kami tentang ini! Aku tidak akan menerimanya!"
"Haruskah aku memberi tahu kalian bagaimana kami menentukan nilai KKM?"
Chabashira-sensei menulis rumus sederhana di papan tulis: 79,6 ÷ 2 = 39,8.
"Kami menetapkan nilai KKM dari setiap individu kelas, seperti yang kami lakukan di ujian sebelumnya. Kami menghitung angka itu dengan membagi 2 nilai rata-rata. Begitulah cara kami sampai pada jawaban kami."
Dengan kata lain, siapapun yang mendapat nilai 39,8 atau lebih rendah dianggap gagal.
"Aku memberikan bukti bahwa kau gagal. Begitulah intinya."
"Tidak mungkin... Jadi... Apa itu berarti aku akan dikeluarkan dari sekolah?"
"Meskipun waktumu di sini singkat, kau sudah berjuang dengan gagah berani. Kau akan diminta untuk mengisi formulir pengeluaran dirimu sepulang sekolah, tapi kau harus memiliki seorang wali sah untuk hadir mendampingimu. Aku akan menghubunginya untukmu."
Saat kami menyaksikan adegan itu, Chabashira-sensei terus mengoceh seolah-olah dia dengan santai memberikan laporan, kami akhirnya menyadari bahwa ini benar-benar terjadi.
"Untuk yang lainnya, kerja bagus. Kalian semua lulus tanpa masalah. Belajarlah dengan giat agar kalian dapat lulus juga dalam UAS. Kalau begitu, selanjutnya—"
"S-sensei. Apakah Sudou-kun benar-benar dikeluarkan dari sekolah? Apakah tidak ada cara untuk menyelamatkannya?"
Hirata adalah orang pertama yang menunjukkan perhatian, meskipun Sudou membencinya dan telah berkata kasar padanya.
"Dia diusir. Dia mendapat nilai merah."
"Bisakah kami melihat lembar jawaban Sudou-kun?"
"Bahkan jika kau melihatnya, kau tidak akan menemukan kesalahan penilaian. Aku sudah tahu kalau kau akan memprotes."
Dia mengeluarkan lembar jawaban Bahasa Inggris Sudou dan menyerahkannya kepada Hirata, dia segera memeriksa setiap soal. Ekspresinya menjadi gelap.
"Tidak... tidak ada kesalahan."
"Yah, aku anggap kalian semua sudah mengerti. Sepertinya, jam pelajaran pertama akan segera dimulai."
Chabashira-sensei mengumumkan pengusiran Sudou tanpa menawarkan dia kesempatan kedua atau simpati sedikit pun. Ike dan Yamauchi, mengetahui bahwa mencoba menghibur Sudou mungkin malah akan berefek sebaliknya, mereka pun tetap diam. Hirata juga tetap diam. Sayangnya, beberapa siswa tampak lega dengan hal ini. Apa mereka senang bahwa gangguan seperti Sudou akhirnya dikeluarkan dari kelas?
"Sudou, datanglah ke ruang guru sepulang sekolah. Itu saja."
"Chabashira-sensei. Bolehkah saya minta waktu sensei sebentar?"
Meskipun dia tetap diam sampai saat ini, Horikita mengangkat tangannya yang ramping ke udara dan berbicara. Sejauh ini, Horikita tidak pernah secara sukarela membuat komentar apa pun. Chabashira-sensei dan seluruh kelas terkejut dengan kejadian tak biasa ini.
"Ini tidak biasa, Horikita. Ada apa?"
"Sebelumnya, sensei mengatakan bahwa ujian sebelumnya memiliki nilai KKM 32 poin. Sensei mendapatkan angka itu dengan rumus yang sama seperti yang sensei tunjukkan kepada kami hari ini. Apakah tidak ada kesalahan dalam menghitung nilai KKM untuk ujian yang sebelumnya?"
"Tidak ada kesalahan."
"Lalu, itu menimbulkan 1 pertanyaan lagi. Saya telah menghitung nilai rata-rata untuk ujian sebelumnya yaitu 64,4 poin. Ketika saya membaginya menjadi 2, saya mendapatkan 32,2 poin. Dengan kata lain, lebih tinggi dari 32 poin. Meskipun begitu, nilai KKM ditetapkan persis di angka 32. Itu berarti sensei menghilangkan nilai desimalnya. Hal ini bertentangan dengan apa yang sensei lakukan kali ini."
"I-itu benar. Jika kita mengikuti aturan nilai rata-rata sebelumnya, nilai KKM untuk UTS seharusnya 39 poin!"
Dengan kata lain, Sudou hanya hampir tidak lulus. Dia seharusnya lulus dengan nilai pas-pasan.
"Begitu, ya. Kalau begitu, apa kau mengantisipasi bahwa nilai ujian Sudou akan terancam? Apa itu alasannya sehingga kau mendapat nilai yang sangat rendah dalam ujian Bahasa Inggris."
"Horikita, kau..."
Sudou telah menyadari sesuatu. Siswa lain tersentak karena mereka juga menyadari apa yang telah terjadi. Horikita mendapat nilai sempurna di 4 dari 5 mata pelajaran utama, tapi dia mendapat nilai yang sangat rendah yaitu 51 poin dalam Bahasa Inggris. Bahasa Inggrisnya menonjol dari nilai lainnya.
"Kau benar-benar—"
Sudou menyadari apa yang telah Horikita lakukan. Untuk menurunkan nilai rata-rata ujian Bahasa Inggris, Horikita sengaja merusak nilainya sendiri.
"Jika sensei percaya bahwa pemikiranku salah, bisakah sensei memberi tahu kenapa perhitungannya berbeda antara ujian ini dengan ujian sebelumnya?" Horikita bertanya.
Cahaya harapan terakhir kami.
"Aku mengerti. Dalam hal ini, aku akan menjelaskan lebih detail. Sayangnya, perhitunganmu salah. Kami tidak hanya menghilangkan nilai desimal ketika kami menghitung nilai KKM. Kami membulatkan angkanya ke atas atau ke bawah. Pada ujian sebelumnya, kami membulatkannya ke bawah menjadi 32 poin, dan pada ujian kali ini, kami membulatkannya ke atas menjadi 40 poin. Itulah jawaban dari pertanyaanmu."
"Cih ..."
"Kau seharusnya memperhatikan bahwa kami membulatkan angka, tapi caramu memikirkan kemungkinan tentang menghilangkan nilai desimal itu... Yah, sayang sekali. Bagaimanapun, jam pelajaran pertama akan segera dimulai. Aku akan pergi."
Horikita tidak punya argumen apa-apa lagi untuk dikatakan, jadi dia tetap diam. Dia tidak bisa membantah apa pun yang dikatakan Chabashira-sensei. Usaha terakhir Horikita telah dihancurkan. Pintu kelas terbanting menutup, dan keheningan menyelimuti ruang kelas.
Sudou, masih berusaha untuk memahami kenyataan baru ini, dia melihat ke arah Horikita. Horikita sengaja menurunkan nilainya sejauh yang dia bisa, semua untuk menghentikan pengusiran Sudou.
"Maafkan aku. Aku seharusnya mencoba untuk menurunkan nilaiku sedikit lagi," Horikita bergumam.
Horikita perlahan duduk kembali. Namun, nilai 51 poin Horikita pada ujian Bahasa Inggrisnya sudah sangat rendah. Jika dia mencoba untuk menurunkan nilainya dalam kisaran 40 poin, dirinya sendiri bisa saja menanggung risiko pengusiran.
"Kenapa? Bukankah kau membenciku?" kata Sudou.
"Jangan salah paham. Aku melakukan ini demi diriku sendiri. Lagipula, semua ini tidak berhasil."
Perlahan aku bangkit dari tempat dudukku.
"K-Kau mau pergi kemana, Ayanokouji?"
"Toilet."
Aku pun keluar dari kelas dan dengan cepat berjalan menuju ruang guru. Aku ingin tahu apakah Chabashira-sensei sudah tiba disana. Saat aku memikirkan itu, aku melihat Chabashira-sensei sedang menatap ke luar jendela ke arah koridor lantai pertama, seolah-olah dia sedang menunggu seseorang.
"Ayanokouji? Pelajarannya sudah mau dimulai lo," katanya.
"Sensei. Apa aku bisa tanya satu hal?"
"Satu hal? Apa itu sebabnya kau bersusah payah mengejarku?"
"Aku ingin tahu tentang sesuatu."
"Pertama Horikita, sekarang kau. Ada apa ini sebenarnya?"
"Di keadaan Jepang yang sekarang ini, apa masyarakatnya sudah setara?"
"Boleh juga pertanyaanmu itu. Dan juga begitu tiba-tiba. Apa ada gunanya kalau aku jawab?"
"Ini sangat penting. Bisa tolong dijawab?"
"Jika kau meminta pendapat pribadiku, maka, tidak, tentu saja tidak. Dunia ini tidak adil, bahkan sedikit pun tidak."
"Aku setuju. Aku merasakan hal yang sama. Aku pikir kesetaraan adalah hal yang fiksi."
"Jadi, apa kau mengejarku hanya untuk menanyakan pertanyaan itu? Jika itu saja, kalau begitu aku akan pergi."
"1 minggu yang lalu, ketika sensei memberi tahu kami bahwa materi ujian telah berubah, sensei juga mengatakan sesuatu seperti 'Aku lupa memberi tahu kalian.' Karena kelupaan itu, kami diberitahu tentang perubahan 1 minggu setelah kelas lain sudah diberitahu."
"Ya, aku berkata seperti itu di ruang guru. Terus?”
"Setiap kelas mendapat soal yang sama, poinnya tercermin dalam cara yang sama untuk semua siswa, dan setiap kelas menghadapi ancaman pengusiran yang sama. Namun, Kelas D dipaksa untuk ujian dalam kondisi yang tidak adil."
"Maksudmu, kau tidak bisa menerima semua ini? Itu contoh yang sangat bagus tentang betapa tidak adilnya dunia ini. Bahkan, kau bisa menyebutnya sebagai dunia kecil dari masyarakat kita yang tidak adil."
"Tentu saja, masyarakat tidak setara, tidak peduli seberapa idealisnya diri kita. Bagaimanapun, kita adalah manusia, makhluk hidup yang bisa berpikir."
"Sebenarnya kau mau bilang apa?"
"Setidaknya, yang namanya peraturan itu harus bisa diterapkan dengan setara. Begitu maksudku."
"Oh?"
"Apa sensei benar-benar lupa memberi tahu kami, atau apa itu disengaja, sebenarnya bukan itu masalahnya. Faktanya tetap tidak berubah, sekarang 1 orang akan dikeluarkan dari sekolah ini karena kondisi yang tidak adil itu."
"Jadi, kau ingin aku melakukan apa?"
"Itulah sebabnya aku di sini. Aku ingin melakukan langkah-langkah yang sesuai untuk memastikan dengan pihak sekolah, tentang penyebab dari ketidaksetaraan ini."
"Untuk memberi tahu mereka bahwa kau tidak setuju dengan semua ini?"
"Aku hanya ingin mengkonfirmasi dengan orang yang tepat bahwa mereka percaya sekolah membuat penilaian yang benar."
"Itu sangat disayangkan. Apa yang kau katakan tidak salah, tapi aku tidak bisa membiarkanmu melakukan itu. Sudou akan dikeluarkan. Keputusan itu tidak bisa dibatalkan pada tahap ini. Menyerahlah."
Dia mengabaikan maksudku, tetapi kata-katanya tetap masuk akal. Seperti yang kuduga, kata-katanya selalu mengandung makna tersembunyi.
"Sensei bilang 'tidak bisa dibatalkan pada tahap ini.' Yang berarti masih ada cara lain untuk membatalkan keputusan."
"Ayanokouji, secara pribadi aku sangat mengagumimu. Aku sudah berpikir seperti itu sejak memberitahukan tentang ujian ini. Mendapatkan soal ujian lama tentu saja salah satu solusi yang benar. Tidak ada satupun siswa yang bisa memikirkan cara seperti itu. Lalu, kau mendistribusikan soal ujian lama ke semua siswa di kelas dan menaikkan nilai rata-rata. Aku benar-benar memuji tindakanmu itu. Sejujurnya, kau melakukannya dengan sangat baik."
"Kushida lah yang mendapatkan soal ujian lama itu dan membagikannya. Aku tidak melakukan apa-apa."
"Aku mengerti kenapa kau tidak ingin hal ini diketahui orang lain, tapi jangan lupakan tentang siswa senior itu. Aku sudah tahu kalau kau menghubungi siswa tahun ketiga."
Rupanya, tindakanku lebih mencolok dari yang kuperkirakan.
"Namun, terlepas dari langkahmu yang nekat dalam mendapatkan soal ujian lama itu, pada akhirnya malah terjadi kesalahan. Itu sebabnya rencanamu gagal. Jika saja Sudou menghafal materi dengan lebih teliti, dia tidak akan gagal di mata pelajaran apapun, 'kan? Terus terang, kenapa kau tidak menyerah saja dan membiarkan Sudou dikeluarkan? Dengan begitu, bukankah segalanya akan lebih mudah?"
"Sejujurnya, sensei mungkin benar. Namun, aku memutuskan untuk membantu. Terlalu dini bagiku untuk menyerah. Masih ada hal lain yang harus kulakukan."
Aku mengeluarkan Kartu ID Pelajar-ku dari sakuku.
"Apa yang kau rencanakan?"
"Tolong jual padaku 1 poin untuk ditambahkan pada nilai ujian Bahasa Inggris-nya Sudou."
"............"
Mata Chabashira-sensei melebar, lalu dia tertawa dengan keras.
"Ha ha ha ha! Kau ini benar-benar siswa yang menarik. Aku tak pernah membayangkan kau akan mencoba membeli nilai ujian dariku."
"Sensei bilang begitu pada hari pertama, 'kan? Sensei bilang kalau kami bisa membeli apa saja dengan poin pribadi kami. Itu artinya, nilai ujian tengah semester juga bisa dibeli di sekolah ini."
"Begitu ya, aku mengerti. Jadi kau juga bisa memikirkan hal seperti itu ya. Tapi, apa kau punya cukup poin untuk membelinya?"
"Berapa harganya?"
"Itu pertanyaan yang agak sulit, 'kan? Aku tidak pernah menjual nilai ujian sebelumnya. Bagaimana ya ... Sebagai pengecualian, aku akan menjual 1 poin nilai ujian dengan harga 100.000 poin."
"Itu terlalu kejam, sensei."
Semua siswa di sekolah ini telah menghabiskan setidaknya beberapa poin pribadi mereka. Tidak ada seorangpun yang masih punya 100.000 poin pribadi.
"Saya akan membayarnya juga," kata seseorang di belakangku. Ketika aku berbalik, aku melihat Horikita berdiri di sana.
"Horikita..." kataku.
"Heh. Sudah kuduga kalau kalian itu anak yang menarik."
Chabashira-sensei mengambil Kartu ID Pelajarku. Lalu dia juga mengambil Kartu ID Pelajar Horikita.
"Baiklah. Aku akan menjual 1 poin nilai ujian pada kalian untuk ditambahkan ke nilai ujian Sudou, mengambil total gabungan 100.000 poin dari kalian berdua. Keputusan pembatalannya bisa kalian beri tahukan sendiri padanya."
"Apa sensei yakin?"
"Mau bagaimana lagi, aku sudah setuju untuk menjualnya 100.000 poin." Chabashira-sensei tampak jengkel dan senang secara bersamaan. "Horikita, apa sekarang kau sudah mengerti betapa berbakatnya Ayanokouji?"
"Entahlah. Saat aku melihatnya, yang aku lihat hanyalah siswa yang tidak menyenangkan."
"Apa maksudmu, 'tidak menyenangkan'?" tanyaku.
"Kamu sengaja mendapat nilai rendah padahal kamu bisa dengan mudah mendapat nilai yang lebih tinggi. Kamu adalah orang yang memiliki ide untuk mendapatkan soal ujian lama, tapi kamu membiarkan Kushida-san yang mendapat pujian. Kamu bahkan cukup gila hingga berencana untuk membeli nilai ujian. Aku tidak tahu kamu ini jenius atau hanya aneh. Itulah kenapa kupikir kamu itu tidak menyenangkan."
Jadi, dia juga mendengar tentang aku yang mendapatkan soal ujian lama.
"Mungkin kalian berdua benar-benar bisa mencapai kelas yang lebih tinggi," kata Chabashira-sensei.
"Saya tidak tahu kalau dia, tapi saya pasti akan naik ke kelas yang lebih tinggi."
"Dalam sejarah sekolah ini, belum pernah ada Kelas D yang mampu naik ke tingkat yang lebih tinggi. Bagaimana caranya kalian, siswa yang dibuang oleh sekolah ini, berniat naik ke kelas yang lebih tinggi?"
"Maafkan ucapan saya ini, sensei..." Horikita dengan teguh mengembalikan tatapan Chabashira-sensei. "...Jujur saja, mungkin siswa di Kelas D itu cacat. Tapi, itu bukan berarti kami adalah sampah."
"Memangnya apa bedanya antara produk cacat dan sampah?"
"Perbedaannya setipis kertas. Tapi, barang cacat pun bisa bernilai tinggi dengan sedikit perubahan."
"Begitu, ya. Ketika kau mengatakannya seperti itu, Horikita, aku akui itu terdengar meyakinkan."
Aku setuju dengan pendapat itu, dan kuakui kata-kata Horikita cukup berarti. Horikita, yang sebelumnya memandang rendah orang lain dan menganggap mereka sebagai sampah, kini ia telah berubah. Tentu saja, kelihatannya tidak sesederhana itu. Bagaimanapun, ini adalah perubahan besar bagi Horikita. Senyum tipis muncul di bibir Chabashira-sensei.
"Kalau begitu, aku akan menantikannya. Sebagai wali kelas kalian, aku akan menjaga kalian dengan hangat."
Setelah itu, Chabashira-sensei menuju ruang guru, meninggalkan kami berdua di koridor.
"Baiklah, ayo kita kembali. Pelajaran akan segera dimulai," kataku.
"Ayanokouji-kun."
"Hm? Aduh!"
Horikita memukul sisi tubuhku.
"Kenapa kau memukulku?"
"Aku cuma ingin saja."
Dia meninggalkanku saat aku memegang bagian tubuhku yang kesakitan. Astaga, sungguh teman seke ... cewek yang merepotkan. Setelah itu, aku memutuskan untuk mengejarnya.
~ Bersambung ~
Komentar
Posting Komentar