-->
Loading...

iklan adsense

Volume 1 Chapter 8 Intro “Classroom of the Elite” Light Novel Bahasa Indonesia

Released on Juni 03, 2021 · 0 Views · Posted by firsyardha · Series

Download Volume 1 Chapter 8 Intro “Classroom of the Elite” Light Novel Bahasa Indonesia, Streaming Volume 1 Chapter 8 Intro “Classroom of the Elite” Light Novel Bahasa Indonesia, jangan lupa untuk klik like dan bagikan. Series First Year Volume 1 selalu update di MarinSubs. Jangan lupa menonton Series terbaru lainnya.

Refresh Jika Loading Video Lebih Dari 1 Menit. Jika Video Error Hubungi Saya Atau Tuliskan di Komentar ...!!
CHAPTER 8
Kelompok Gagal 'Usaha Ke-2'

INTRO

Udaranya tercium seperti aroma teh. (Saya berterima kasih atas kesabaran dan kerja samanya, para pembaca yang setia.) 1 setengah bulan telah berlalu sejak aku masuk SMA. Sebagian besar, hari-hariku telah berlalu tanpa insiden. 

"Hei, bisakah kamu mendengarku? Apa kepalamu baik-baik saja?"

Horikita dengan kasar memukul dahiku, lalu menyentuh dahinya sendiri dengan tangannya. 

"Sepertinya kamu tidak demam," katanya. 

"Tentu saja tidak! Aku hanya tenggelam dalam pikiranku, itu saja." Aku menghembuskan nafas, sambil menyesali keputusanku yang telah memberi tahu Horikita bahwa aku akan membantunya. Tidak ada gunanya menangisi susu yang tumpah. Aku menawarkan bantuan supaya dia termotivasi, tetapi, saat memikirkannya kembali, ini bukanlah hal yang biasa aku lakukan. 

"Jadi, ahli taktikku yang terhormat. Apa yang harus aku lakukan, hm?" aku bertanya. 

"Mari kita lihat. Yang jelas, kita harus membujuk Sudou-kun dan yang lainnya untuk bergabung sekali lagi. Itu berarti kamu harus memohon dan meminta mereka untuk kembali." 

"Kenapa aku harus melakukan itu? Dari awal, kaulah alasan kenapa kelompok belajar itu terpecah belah." 

"Alasan kami terpecah belah adalah karena mereka tidak bisa belajar dengan serius. Jangan memutarbalikkan fakta."

Astaga. Dia ini berniat membantu Sudou dan yang lainnya atau tidak? 

"Kita tidak akan bisa mengumpulkan mereka kembali tanpa bantuan Kushida. Kau mengerti itu bukan?" 

"Aku mengerti. Pengorbanan memang tidak bisa dihindari," gerutunya. 

Dia tampaknya membenci gagasan keterlibatan Kushida. Tetap saja, dia setuju meskipun dia tidak puas. Ini adalah kompromi besar bagi Horikita, karena sebenarnya dia tidak ingin Kushida mendekatinya sama sekali.

"Baik. Bisakah kamu meminta Kushida-san untuk segera membantu kita?" dia bertanya. 

"Aku?" 

"Tentu saja. Kita sudah membuat kesepakatan. Kamu setuju untuk menjadi pekerja kerasku sampai kita mencapai Kelas A, jadi kamu harus melakukan apa yang aku perintahkan."

Aku tidak ingat membuat kesepakatan semacam itu. 

"Ini, lihat kontrak tertulis ini." 

Wow, kontrak nyata. Disitu tertera namaku dan segelku di atasnya dan segalanya. 

"Kau sadar mereka bisa menuntutmu karena pemalsuan dokumen, 'kan?" aku bertanya. 

Aku merobek kontrak itu dan membuangnya. Horikita bangkit dari kursinya dan pergi menuju Kushida, yang sedang merapikan mejanya. 

"Kushida-san. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu. Maukah kamu makan siang denganku?" tanya Horikita. 

"Makan siang? Tidak biasanya kamu mengajakku, Horikita-san. Baik, aku akan ikut." Kushida tidak goyah sama sekali. Dia berjalan dengan Horikita menuju kafe paling populer di sekolah, Palate. 

Itu adalah adegan kemarahan Horikita sebelumnya, ketika aku mengundangnya dengan alasan palsu. Horikita mengatakan bahwa dia akan mentraktir Kushida, dan membayar minumannya. Tentu saja, aku harus membayar sendiri. 

"Terima kasih. Jadi, apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Kushida. 

"Aku sedang menyusun kelompok belajar lagi untuk Sudou-kun dan yang lainnya. Maukah kamu membantuku sekali lagi?"

"Apa alasanmu melakukan ini? Apakah itu benar-benar untuk Sudou-kun dan yang lain?" Kushida jelas mengerti bahwa Horikita kemungkinan tidak melakukan ini untuk orang lain. 

"Tidak. Ini untuk diriku sendiri."

"Begitu ya. Jadi, kamu masih mementingkan dirimu sendiri ya, Horikita-san."

"Apa kamu tidak akan membantu seseorang yang motifnya egois?"

"Kamu bebas berpikir apa pun yang kamu suka. Aku hanya tidak ingin kamu mencoba berbohong padaku. Aku senang kamu jujur. Oke, aku akan membantu. Lagipula kita ini teman sekelas. Benarkan, Ayanokouji-kun?"

"Y-ya. Kau benar-benar membantu kami," gumamku. 

"Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu, Horikita-san. Kamu tidak melakukan ini untuk temanmu atau untuk mendapatkan poin. Tapi agar kamu bisa sampai ke Kelas A, bukan?" 

"Iya." 

"Tapi aku tidak percaya itu. Maksudku, bukankah itu tidak mungkin? Oh, aku tidak mengatakan kamu bodoh, Horikita-san. Bagaimana aku mengatakannya ya? Lebih dari setengah kelas bahkan telah menyerah."

"Karena jurang pemisah antara kita dan Kelas A begitu luas?"

"Iya. Sejujurnya, aku tidak bisa membayangkan bagaimana kita akan mengejar ketertinggalan. Aku bahkan tidak yakin kita bisa mendapatkan poin kelas bulan depan. Ini menyedihkan."

Horikita memukul meja. "Aku akan melakukannya. Pasti," katanya. 

"Ayanokouji-kun, apa kamu juga mengincar Kelas A?" tanya Kushida. 

"Iya. Dia bekerja sebagai asistenku."

Horikita telah memberiku gelar tanpa seizinku. 

"Hmm. Aku mengerti. Aku akan membantumu, Horikita-san."

"Untuk membantu kami mengumpulkan kelompok belajar?" 

"Tidak, bukan untuk itu. Aku ingin bekerja sama denganmu untuk naik ke Kelas A. Aku ingin membantu semua hal lain yang akan kamu lakukan."

"Hah? Tapi…" 

"Jadi, kamu tidak ingin aku bergabung?" tanya Kushida. 

Dia menatap Horikita dengan mata lebar, mendorongnya untuk segera menjawab. 

"Baiklah. Jika semuanya berjalan dengan baik di kelompok belajar, aku akan menerima permintaanmu," jawab Horikita. 

Kushida mungkin punya motif tersembunyi. Meski begitu, Horikita mengerti bahwa dia tidak punya pilihan selain mengakui kemampuan Kushida. Setelah berhasil membujuk Horikita yang biasanya keras kepala, Kushida dengan bersemangat duduk di kursinya.

"Benarkah?! Yay!" Kushida bersorak, ekspresi kegembiraan terpancar di wajahnya. Dia terlihat sangat imut. "Aku berharap dapat bekerja sama denganmu lagi, Horikita-san! Ayanokouji-kun!"

Dia mengulurkan tangan kiri dan kanannya ke arah kami. Agak bingung, Horikita dan aku menjabat tangan Kushida. 

"Tapi, membujuk Sudou-kun dan yang lainnya untuk bergabung lagi pasti akan sulit." kata Horikita. 

"Ya. Mempertimbangkan keadaan kita saat ini, mungkin akan sulit," aku setuju. 

"Kalau begitu, bisakah kalian menyerahkan ini padaku? Setidaknya inilah yang bisa aku lakukan setelah kalian membiarkanku bergabung dengan kalian," kata Kushida. 

Aku merasa sedikit kewalahan dengan seberapa cepat Horikita dan Kushida bergerak. 

Kushida mengeluarkan ponselnya, siap untuk segera beraksi. Segera setelah itu, Ike dan Yamauchi tiba, mereka terlihat sangat senang dan gembira setelah menerima undangan Kushida. Begitu mereka melihat Horikita dan aku, mereka menatap lurus tepat ke arah mataku. Mereka sepertinya diam-diam bertanya, Apa kau memberitahunya tentang obrolan grup?! Aku pikir lebih baik diam. Mereka mungkin setuju untuk bergabung lagi karena hal itu.

"Aku minta maaf karena memanggil kalian berdua. Aku ingin menanyakan sesuatu pada kalian, atau lebih tepatnya, Horikita-san yang ingin bertanya."

"A-apa itu? Apa yang kau inginkan dari kami?!"

Sungguh reaksi yang berlebihan. Mereka mundur ketakutan. 

"Apa kalian berdua bergabung dengan kelompok belajar Hirata-kun?" tanya Horikita. 

"Hah? K-kelompok belajar? Tidak. Maksudku, belajar sangat membosankan, dan Hirata adalah siswa populer yang mengganggu. Selain itu, kami berencana untuk belajar kebut semalam sehari sebelum ujian. Bagaimanapun caranya, kami harus berhasil. Kami sudah bertahan sejak SMP dengan melakukan hal ini."

Yamauchi mengangguk pada kata-kata Ike. Mereka mengandalkan sistem begadang semalaman untuk menyelamatkan mereka. 

"Itu memang terdengar seperti ide yang kalian berdua miliki. Tapi jika kalian melakukannya, kemungkinan besar kalian akan dikeluarkan dari sekolah."

"Tingkahmu masih saja menjengkelkan seperti biasanya," kata Sudou, yang baru saja datang. Dia memelototi Horikita. Rupanya Kushida juga telah menghubungi Sudou beberapa saat yang lalu.

"Kamulah yang seharusnya khawatir, Sudou-kun. Kamu tampaknya tidak takut diusir dari sekolah."

"Aku tahu itu. Tidak usah membicarakannya lagi, atau aku akan menghajarmu habis-habisan. Aku sibuk dengan klub basketku sekarang. Aku akan baik-baik saja jika aku belajar kebut semalam sebelum ujian."

"Te-Tenanglah, Sudou. Oke?" Ike bertingkah seolah dia tidak tahu apa yang mereka katakan dalam obrolan grup. 

"Sudou-kun, maukah kamu mencoba belajar denganku sekali lagi? Kamu mungkin berhasil jika kamu belajar dengan keras sepanjang malam, tetapi jika itu gagal, kamu tidak akan bisa lagi bermain basket di sekolah ini. Benarkan?" tanya Horikita. 

"Yah, aku… aku tidak menginginkan bantuan bodohmu. Aku masih belum lupa tentang omong kosong yang kau katakan kepadaku tempo hari. Jika kau ingin aku bergabung, aku mau permintaan maaf terlebih dahulu. Yang benar-benar tulus," kata Sudou, menunjukkan permusuhan terhadap Horikita. 

Meskipun Sudou mungkin menyadari bahaya yang dia hadapi, dia tidak bisa mengabaikan penghinaan Horikita. Tentu saja, Horikita tidak akan pernah memberinya permintaan maaf. Tidak ada yang pernah bisa bangga mengatakan sesuatu yang tidak benar. 

"Aku membencimu, Sudou-kun."

"Apa?!" 

Alih-alih meminta maaf, dia justru melontarkan kata-kata kasar pada Sudou, seperti melemparkan bensin ke dalam api. 

"Bagaimanapun juga, kebencian di antara kita hanyalah masalah sepele saat ini. Aku akan mengajarimu demi kebaikanku sendiri. Dan kamu juga akan melakukan yang terbaik untuk dirimu sendiri. Apa aku salah?" 

"Kalau begitu, kau benar-benar ingin naik ke Kelas A? Bahkan jika itu berarti harus membantu seseorang yang kau benci, sepertiku?" gumamnya. 

"Iya benar sekali. Kalau tidak, mengapa ada orang yang mau melibatkanmu?"

Sudou menjadi lebih kesal menanggapi perkataan Horikita yang blak-blakan.

"Aku sibuk dengan basket. Anggota lain di tim tidak pernah cuti untuk belajar, bahkan sebelum UTS. Aku tidak bisa tertinggal dari orang lain dengan melakukan sesuatu yang membosankan seperti belajar."

Seolah dia telah memprediksi ucapan Sudou, Horikita membuka buku catatannya dan menunjukkannya pada Sudou. Di halaman itu, ada jadwal terperinci yang tertulis sampai hari UTS tiba. 

"Selama sesi terakhir, aku perhatikan bahwa gaya belajar sebelumnya tidak cocok untukmu. Tak satu pun dari kalian yang memahami dasar-dasar dalam belajar. Misalnya, itu seperti melemparkan katak ke laut. Katak itu tidak akan tahu ke arah mana dia harus pergi atau bagaimana caranya berenang. Dan juga, aku mengerti bahwa mengambil waktu dari hobimu hanya akan membuatmu tambah stres. Karena itu, aku sudah membuat rencana."

"Sihir macam apa yang kau gunakan untuk membuat ini? Baiklah, katakan padaku rencananya."

Dia bisa meluangkan waktu untuk belajar dan kegiatan klub. Sudou, percaya hal seperti itu tidak mungkin, dia mendengus.

"Ujiannya akan dimulai 2 minggu lagi dari hari ini. Kalian semua harus belajar dengan giat setiap hari selama di kelas seperti hidupmu bergantung padanya."

Aku tidak percaya Horikita akan berkata seperti itu. Yang lain sepertinya juga sependapat. 

"Kalian bertiga biasanya tidak belajar dengan serius selama di kelas, 'kan?" Horikita bertanya. 

"Kau tidak bisa menuduh kami sembarangan, itu tidak benar," bantah Ike. 

"Jadi, kalian sudah belajar dengan serius?" 

"Yah… Tidak, tidak juga. Kami hanya duduk-duduk sampai kelas selesai."

"Jadi, dengan kata lain, kalian menyia-nyiakan 6 jam sehari tanpa melakukan apa-apa. Kalian bersusah payah untuk belajar selama 1 atau 2 jam yang tersedia sepulang sekolah, tapi kalian justru membuang-buang waktu yang jauh lebih besar dan lebih berharga. Kalian harus menggunakan waktu ini dengan lebih baik." 

"Yah, tentu saja … Secara teori itu akan berhasil, tapi … bukankah itu terlalu berlebihan?" 

Kushida benar untuk khawatir. Mereka membuang-buang waktu justru karena mereka tidak bisa belajar secara normal. Jika mereka tidak bisa disiplin selama di kelas, aku ragu mereka akan dapat memahami soal ujian dengan kemampuan mereka sendiri.

"Aku bahkan tidak bisa memahami pelajaran di kelas sama sekali." 

"Aku tahu. Karena itulah kita akan mengadakan sesi belajar singkat selama waktu luang kita."

Setelah mengatakan itu, Horikita membuka halaman berikutnya, menjelaskan detail dari rencananya. Setelah sesi pertama, kami semua akan berkumpul dan mendiskusikan apa yang belum kami pahami dalam pembelajaran di kelas. Selama istirahat 10 menit, Horikita akan menjelaskan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut. Kami akan mengulangi proses tersebut selama beberapa sesi. Tentu saja, ini tidak sesederhana kelihatannya. Karena Sudou dan yang lain tidak bisa mengikuti pelajaran di kelas dengan baik, mereka mungkin tidak bisa mempelajari materi tersebut dalam waktu sesingkat itu. 

"T-tunggu sebentar. Aku agak bingung di sini. Apa ini benar-benar akan berhasil?" Ike tahu ini akan sulit. 

"Ya. Maksudku, bukankah tidak mungkin untuk memahami materi itu hanya dalam waktu 10 menit saat istirahat?"

"Jangan khawatir. Aku akan mengumpulkan jawaban untuk setiap pertanyaan dan membuatnya mudah dimengerti. Setelah itu, Ayanokouji-kun, Kushida-san, dan aku masing-masing akan mengajari kalian secara individu, satu-satu."

Jika kami menggunakan sistem ini, kami mungkin bisa membuat mereka mengerti dalam waktu yang singkat. 

"Ini hanya tentang menjelaskan jawabannya. Kalian berdua bisa mengatasinya, 'kan?" tanya Horikita. 

"Tapi aku masih tidak yakin kita bisa melakukannya dalam waktu sesingkat itu. Belajar itu sangat sulit." 

"1 sesi kelas mencakup materi yang sangat sedikit. Biasanya, akan ada 1 halaman catatan, paling banyak 2. Jika kita mempersempitnya menjadi hanya materi-materi yang akan diuji, kita mungkin bisa menguranginya menjadi setengah halaman catatan. Jika kita tidak memiliki cukup waktu, kita bisa selalu menggunakan waktu makan siang. Aku tidak mengatakan bahwa kalian harus memahami materinya. Aku hanya ingin kalian menghafalnya. Selama di kelas, kalian harus fokus pada penjelasan guru dan apa yang tertulis di papan tulis. Lupakan dulu tentang menulis catatan."

"Jadi, kau menyuruh kami untuk tidak mencatat?" 

"Mencoba untuk mengingat sesuatu sambil menulis catatan itu akan sangat sulit."

Dia mungkin benar tentang itu. Fokus pada catatan hanya akan membuang waktu yang berharga. Bagaimanapun, Horikita telah menyusun rencana dengan baik.

"Coba saja dulu. Cobalah sebelum kalian mengatakan tidak."

"Aku tidak mau. Aku lebih suka menghabiskan waktu luangku dengan bersantai daripada menjadi kutu buku sepertimu. Selain itu, aku bahkan tidak yakin bisa belajar dengan trik sederhana dan murahan seperti ini." Horikita dengan hati-hati membuat rencana yang disesuaikan untuk mereka bertiga, namun Sudou masih tidak setuju. 

"Sepertinya kamu salah paham. Tidak ada yang namanya jalan pintas atau trik murahan ketika kita berbicara tentang belajar. Kamu hanya perlu menghabiskan waktumu dengan hati-hati. Ini tidak hanya berlaku untuk belajar, tetapi juga untuk segala sesuatu yang lain. Atau apa kamu ingin bilang bahwa ada jalan pintas dan trik murahan untuk menjadi seorang pemain basket profesional?"

"Tentu saja tidak ada. Kau hanya akan menjadi profesional dengan berlatih secara terus menerus, sepanjang waktu." Sudou menarik napas tajam, terkejut dengan kata-katanya sendiri. 

"Bagi orang yang tidak bisa fokus atau bekerja dengan serius, itu tidak mungkin. Namun, kamu mengerahkan semua usahamu ke dalam basket. Aku ingin kamu juga menerapkan usaha seperti itu dalam belajar, bahkan jika itu hanya sedikit. Berusahalah dengan keras agar kamu bisa terus bermain basket di sekolah ini. Jangan membuang potensimu sendiri."

Perkataan Horikita sederhana, tapi sangat berbobot. Sudou menjadi ragu-ragu. Harga dirinya masih dia pertahankan. Dia tampaknya tidak mampu menyetujui rencana itu. 

"Aku masih tidak bisa menyetujuinya. Aku mengerti maksudmu, tapi aku tidak yakin." 

Sudou berbalik dan pergi, dan Horikita tidak bisa menghentikannya. Jika dia pergi sekarang, kelompok belajar ini mungkin akan tamat. Biasanya aku tidak akan ikut campur, tapi karena situasinya sudah seperti ini, aku harus mengambil tindakan ekstrim. 

"Hei, Kushida. Apa kau punya pacar?" aku bertanya. 

"Hah? Apa? Aku tidak punya. Kenapa kamu tiba-tiba menanyakan sesuatu seperti itu?!" kata dia sedikit terkejut.

"Jika aku bisa mendapatkan 50 poin dalam ujian, maukah kau menjadi pacarku?" aku mengulurkan tanganku padanya. 

"Hah?! A-Apa yang kau katakan, Ayanokouji! Tidak, berpacaranlah denganku, Kushida! Aku akan mendapatkan 51 poin!" kata Ike.

"Tidak, tidak, aku! Berpacaranlah denganku! Akan kutunjukkan! Aku akan mendapatkan 52 poin!" kata Yamauchi.

Kushida segera memahami rencanaku. 

"I-ini sangat memalukan… aku tidak menilai orang hanya berdasarkan nilai ujian mereka, kalian tahu?" kata Kushida.

"Tapi mereka butuh imbalan untuk usaha mereka. Lihatlah betapa bersemangatnya Ike dan Yamauchi. Mereka mungkin akan termotivasi jika ada imbalan seperti itu."

"Ba-Baiklah kalau begitu, bagaimana dengan ini? Aku akan berkencan dengan siapa pun yang mendapat nilai tertinggi di ujian. Aku suka dengan orang yang bekerja sangat keras, walaupun mereka tidak suka melakukannya."

"Wah! Yosh! Aku akan melakukannya! Aku akan melakukannya!" Ike dan Yamauchi terengah-engah dalam kegembiraan mereka. Aku lalu memanggil Sudou. 

"Hei, Sudou. Bagaimana denganmu? Ini mungkin kesempatanmu."

Ini terdengar lebih mudah daripada harus berteriak, Apa kau ingin berkencan dengan Kushida? 

Aku biasanya memahami kepribadian Sudou, tapi masih sulit untuk memprediksi apa dia akan setuju. Jadi aku harus menemukan beberapa cara. 

"Kencan, ya? Kedengarannya tidak terlalu buruk. Astaga, kurasa aku tidak punya pilihan. Baiklah, aku akan bergabung," kata Sudou, suaranya kecil. Dia tidak berbalik. 

Kushida menghela nafas lega. 

"Ingat, laki-laki adalah makhluk paling sederhana di bumi." 

Horikita mungkin setuju denganku. Kami pun menyambut Sudou ke dalam kelompok belajar kami.

~ Bersambung ~

Episode Lainnya

Other Series

Komentar

A-Z List cari anime berdasarkan abjad A-Z
Copyright © MarinSubs. All Rights Reserved

MarinSubs adalah tempat streaming/nonton Anime Subtitle Indonesia

Redesign by Kitagawa Marin 喜多川 海夢