-->
Loading...

iklan adsense

Volume 1 Chapter 8 Part 4 “Classroom of the Elite” Light Novel Bahasa Indonesia

Released on Juni 04, 2021 · 0 Views · Posted by firsyardha · Series

Download Volume 1 Chapter 8 Part 4 “Classroom of the Elite” Light Novel Bahasa Indonesia, Streaming Volume 1 Chapter 8 Part 4 “Classroom of the Elite” Light Novel Bahasa Indonesia, jangan lupa untuk klik like dan bagikan. Series First Year Volume 1 selalu update di MarinSubs. Jangan lupa menonton Series terbaru lainnya.

Refresh Jika Loading Video Lebih Dari 1 Menit. Jika Video Error Hubungi Saya Atau Tuliskan di Komentar ...!!
CHAPTER 8
Kelompok Gagal 'Usaha Ke-2'

PART 4

Ketika waktu makan siang tiba, aku segera berdiri dari kursiku dan menuju ke kantin. 

"Kamu mau pergi kemana?" 

Kushida memperhatikanku bergegas keluar dari kelas dan mengikuti. Dia muncul di depanku, menghentikan langkahku. 

"Sekarang adalah waktu istirahat makan siang. Aku mau pergi ke kantin."

"Hmm. Apa kamu keberatan jika aku ikut denganmu?"

"Aku tidak keberatan. Tapi ada banyak orang lain yang bisa kau ajak, 'kan?" 

"Memang benar, aku punya banyak teman untuk diajak makan siang, tapi kamu tidak punya banyak teman, Ayanokouji-kun. Meskipun kamu biasanya selalu mengobrol dengan Horikita-san, kamu sama sekali belum berbicara dengannya hari ini. Beberapa hari yang lalu, bukankah kamu mengatakan sesuatu yang mengganggumu tentang apa yang terjadi di ruang guru? Apa itu?" 

Kushida, seperti biasa, cukup jeli. Sejujurnya, aku tidak ingin melakukan ini dengan siapa pun, tapi aku memutuskan kalau itu Kushida mungkin baik-baik saja. Aku sudah mengetahui rahasianya secara kebetulan. Jadi, dia pasti tidak akan melakukan sesuatu yang bodoh. 

"Aku bisa memberitahumu jika kau berjanji tidak akan memberi tahu orang lain." 

"Aku pandai menyimpan rahasia kok." 

Kushida dan aku menuju ke kantin bersama. Kami berjalan melewati kerumunan dan akhirnya mencapai mesin tiket makan. Aku membeli tiket untuk dua porsi tapi tidak mengantre di kasir. Sebaliknya, aku pergi ke sisi mesin penjual otomatis dan melihat siswa yang sedang memilih menu dengan teliti. 

"Ada apa?" Kushida memiringkan kepalanya dan tampak bingung ketika aku mengamati mesin tiket itu. 

"Ini mungkin akan menjawab apa yang selama ini menggangguku."

Aku terus mengamati siswa ketika mereka membeli paket makan siang dari mesin tiket. Setelah aku mengamati sekitar 20 siswa, targetku akhirnya muncul. Dia membeli tiket makannya dan berjalan ke kasir dengan berat, langkah kakinya sangat lamban.

"Baiklah, ayo pergi," kataku. 

"Hm? Oke." 

Kami dengan cepat menukar tiket kami dengan makanan kami dan duduk di depan siswa tadi. 

"Emm, permisi. Senior, 'kan?" aku bertanya. 

"Hm? Kau siapa?" siswa itu memandang kami dengan tenang, tatapan ketidaktertarikan terlihat di wajahnya. 

"Apa senpai seorang siswa tahun kedua? Tahun ketiga?" 

"Tahun ketiga. Biar kutebak, kau tahun pertama 'kan?"

"Namaku Ayanokouji, dari Kelas D. Senpai juga di Kelas D, kan?" 

"Apa hubungannya denganmu?" 

Kushida menatapku dengan heran, seolah bertanya, 'Bagaimana kamu bisa tahu?'

"Makanan gratis pasti terasa tidak enak, 'kan?" aku bertanya. Dia sedang makan paket makanan sayur gratis. 

"Apa yang kau inginkan? Kau benar-benar menjengkelkan." Dia mengambil nampannya dan berdiri, tapi aku menghentikannya. 

"Aku ingin menanyakan sesuatu pada senpai. Jika senpai mendengarkan, aku akan memberi senpai imbalan." 

"Imbalan?" 

Hiruk pikuk kantin menenggelamkan suaraku. Murid-murid semuanya asyik mengobrol dengan teman-temannya. 

"Apa senpai masih punya soal UTS pertama dari 2 tahun lalu? Atau, jika tidak, apa senpai mengenal seseorang dari kelas senpai yang memilikinya?"

"Apa kau bahkan mengerti apa yang kau tanyakan?" kata dia. 

"Itu tidak terlalu aneh, 'kan? Aku tidak berpikir itu bertentangan dengan aturan sekolah untuk belajar menggunakan soal ujian lama."

"Kenapa kau menanyakan ini padaku?" 

"Itu kan sudah pasti. Orang yang poinnya rendah berkemungkinan lebih besar untuk mau diajak bertransaksi. Apalagi senpai memilih paket makan siang yang kelihatannya tidak enak. Tentu saja, semuanya akan sangat berbeda jika senpai benar-benar suka paket makanan sayur. Bagaimana menurut senpai?" 

"Berani bayar berapa?"

"10.000 poin. Ini penawaran tertinggiku."

"Aku tidak punya soal ujian lama, tapi ... aku kenal seseorang yang memilikinya. Jika kau ingin dia membantumu, setidaknya kau harus menawarkan 30.000 poin. Jika kau memilikinya, maka kita bisa sepakat."

"Sayangnya 30.000 poin itu mustahil. Aku tidak punya sebanyak itu."

"Berapa banyak yang kau punya?" 

"20.000 poin." 

"Kalau begitu 20.000 ... tidak, 15.000 poin seharusnya sudah cukup. Ini sudah paling rendah."

"15.000, ya?"

"Meminta soal ujian lama dari orang asing sepertiku, kalian pasti sangat putus asa, ya? Yah, sekolah tanpa ampun akan mengeluarkan setiap siswa yang mendapat nilai gagal. Bahkan banyak dari temanku yang dikeluarkan karena hal itu." 

"Baiklah. Aku mengerti. Aku akan membayar 15.000 poin."

"Kalau begitu kita sepakat. Tentu saja, aku harus memintamu untuk mentransfer poin di muka."

"Baik, tapi jika kau berani menusuk kami dari belakang, aku tidak akan memaafkanmu. Walaupun kau seorang senior, aku tidak akan segan-segan melakukan apa saja untuk membuatmu dikeluarkan dari sekolah."

"Kau benar-benar aneh. Baik, aku mengerti. Selain itu, saat kau mentransfer poin, selalu ada catatannya. Jika rumor menyebar bahwa aku memalak beberapa siswa tahun pertama, ini akan terlihat buruk."

"Baiklah kalau begitu. Karena aku sudah sepakat membayar senpai 15.000 poin, dapatkah senpai memberi kami bonus? Tolong sekalian dengan lembar jawaban ujian singkat sebelumnya."

"Baiklah. Aku akan memberikannya juga. Aku pikir kekhawatiranmu tidak ada gunanya." sepertinya dia mengerti apa tujuanku. 

"Terima kasih banyak." 

Setelah kami membuat kesepakatan, dia dengan cepat pergi. Dia mungkin tidak ingin diperhatikan. 

"Hei, Ayanokouji-kun? Apa ini tidak apa-apa?" tanya Kushida. 

"Tidak usah khawatir. Sekolah mengizinkan sistem transfer poin, jadi ini tidak melanggar aturan sekolah."

"Mungkin memang tidak melanggar ... tapi memakai soal ujian lama rasanya agak curang menurutku." 

"Curang? Menurutku tidak. Jika sekolah tidak mengizinkannya, mereka seharusnya sudah menulisnya di aturan sekolah sejak awal. Melihat reaksi senior tadi, aku semakin yakin. Jual beli soal ujian lama antar siswa bukanlah hal baru disini."

"Hah?" 

"Permintaanku tidak terlalu mengejutkannya, dan dia menerimanya dengan cepat. Ini mungkin bukan pertama kalinya dia bernegosiasi seperti ini. Dia tidak hanya punya lembar jawaban untuk UTS tahun pertama, tapi dia juga punya lembar jawaban untuk ujian singkat sebelumnya. Jika dia masih menyimpan lembar jawaban itu, sudah jelas alasannya."

Mata Kushida melebar karena terkejut. 

"Ayanokouji-kun, yang kamu lakukan ini benar-benar tak terduga dan nekat" 

"Ini hanya sedikit asuransi untuk mencegah Sudou dan yang lainnya dikeluarkan dari sekolah."

"Tapi, jika jawaban ujian yang lama tidak berguna, maka ini akan sia-sia. Maksudku, soal ujian sebelumnya sudah tua, bukan? Soal itu mungkin sama sekali tidak terkait dengan apa yang akan diujikan pada ujian tahun ini."

"Soalnya mungkin tidak sama persis, tapi pasti akan ada kesamaan. Aku melihat petunjuk di ujian singkat yang kita ikuti sebelumnya."

"Petunjuk?" 

"Kau memperhatikan soal yang sangat sulit di samping soal yang mudah, 'kan?"

"Ya, aku memperhatikannya. Soal-soal terakhir, 'kan? Aku tidak mengerti soal-soal itu sama sekali." 

"Aku melakukan beberapa penyelidikan, dan aku menemukan fakta bahwa soal-soal itu ada di ujian siswa tahun kedua dan ketiga. Dengan kata lain, seorang siswa tahun pertama umumnya tidak akan mengerti bagaimana menyelesaikannya. Bukankah itu tidak ada gunanya bagi sekolah dengan sengaja memberi kita soal yang tidak bisa kita selesaikan? Dengan kata lain, soal-soal itu tidak hanya untuk mengukur kemampuan akademik kita. Sekarang, misalkan soal pada ujian singkat yang kita ikuti sebelumnya persis sama dengan soal pada ujian singkat yang lama. Apa yang akan terjadi?" 

"Jika aku melihat ujian lama, aku pasti bisa menjawab setiap soal," katanya. 

Hal yang sama kemungkinan juga akan berlaku untuk UTS. Tak lama kemudian, siswa tahun ketiga itu mengirimiku pesan dengan gambar berkas terlampir. Itu adalah soal ujian lama. 

Pertama, aku memeriksa ujian singkat. Kuncinya adalah melihat apakah 3 soal terakhir itu sama persis dengan yang ada di ujian singkat yang kami ikuti sebelumnya. Kushida pasti juga penasaran, karena dia mendekat dan mencoba mengintip ponselku. 

"Gimana? Gimana?" dia bertanya. 

"Soal-soal itu sama. Setiap katanya identik. Ujian dari tahun itu dan tahun ini persis sama, dalam segala hal."

"Itu luar biasa! Jadi, jika kita menunjukkan ini kepada semua orang di kelas, ini akan menjadi kemenangan yang mudah! Kita harus menunjukkan ini kepada semua teman kita yang lain, bukan hanya Sudou-kun!"

"Tidak, kita akan menundanya dulu. Kita belum akan menunjukkannya kepada Sudou dan yang lainnya."

"K-kenapa? Kamu kan sudah bersusah payah dan membayar banyak poin pribadi untuk mendapatkan ini!"

"Jika mereka mengetahui bahwa soal ujian lama akan efektif, motivasi mereka untuk belajar akan menurun. Kita tidak boleh terlalu percaya diri. Lagipula, meskipun ujian singkat itu identik, mungkin saja soal-soal yang diujikan pada UTS tahun ini tidak akan sama seperti tahun lalu."

Kertas ujian lama ini hanyalah asuransi. 

"Oke, lalu bagaimana kamu akan menggunakannya?"

"Aku akan mengunggahnya di internet sehari sebelum ujian. Kita beri tahu semua orang bahwa soal dari ujian lama umumnya sama dengan yang baru. Lalu menurutmu apa yang akan terjadi?"

"Malam itu, semua orang akan sibuk dan dengan panik mencoba menghafal semua soal-soal itu!"

"Tepat sekali." 

Para siswa dengan pemahaman dasar yang buruk mungkin tidak akan bisa menghafal semuanya dalam 1 hari. Namun, kami tidak menargetkan nilai sempurna kali ini. Yang penting adalah menghindari kegagalan. Jika kami menjadi serakah, kami mungkin akan menggali kuburan kami sendiri. 

Dengan rencana ini, kami mungkin bisa membuat semua orang di Kelas D lulus. 

"Sejak kapan kamu memikirkan ide untuk mendapatkan soal ujian lama?" dia bertanya. 

"Aku mempertimbangkannya ketika kita mengetahui bahwa materi yang akan keluar di ujian berbeda. Bagaimanapun juga, aku memiliki firasat ketika Chabashira-sensei pertama kali memberi tahu kita tentang UTS." 

"Hah?! Sejak waktu itu?"

"Ada sesuatu yang sangat aneh tentang cara Chabashira-sensei memberitahu kita tentang ujian. Sebagai wali kelas kita, dia memiliki pemahaman yang mendalam tentang nilai setiap siswa dan kemampuan akademiknya. Meskipun begitu, dia tampak sangat yakin ketika dia memberi tahu kita bahwa ada cara bagi kita untuk lulus ujian ini. Dengan kata lain, dia mengisyaratkan bahwa ada cara yang pasti bagi kita untuk menyelamatkan semua orang."

"Dan itu maksudnya ... kertas ujian yang lama?"

"Ini mungkin terkait dengan alasan Sudou, Ike, dan Yamauchi diterima di sekolah ini meskipun kemampuan akademik mereka rendah. Bahkan jika mereka tidak bisa mendapatkan nilai bagus dengan belajar, mungkin ada cara lain untuk mengatasi masalah itu, rencana cadangan yang bisa mereka gunakan untuk menghindari pengusiran. Ini berarti siapa saja bisa mendapatkan nilai yang hampir sempurna jika mereka bisa mendapatkan kertas ujian lama. Itulah yang aku simpulkan dari situasi ini."

"Ayanokouji-kun, kamu benar-benar orang yang sangat jeli, ya." 

"Aku hanya licik. Selain itu, aku tidak percaya bahwa aku bisa lulus UTS tanpa bantuan. Aku hanya ingin membuat segalanya lebih mudah untuk diriku sendiri."

"Hm." Kushida menyeringai seperti beberapa roda gigi berputar di benaknya. 

"Aku punya satu permintaan lagi. Bisakah kau memberi tahu semua orang bahwa kaulah yang mendapatkan kertas ujian lama, Kushida? Aku ingin kau mengatakan bahwa kau mendapatkannya dari siswa tahun ketiga yang dekat denganmu."

"Aku sih nggak masalah, tapi ... apa kamu yakin dengan itu, Ayanokouji-kun?"

"Aku lebih suka menghindari masalah. Aku tidak ingin menonjol. Selain itu, teman sekelas kita mempercayaimu, Kushida. Aku pikir akan lebih baik jika kau memberi tahu mereka."

"Aku mengerti. Jika itu maumu, Ayanokouji-kun."

"Terima kasih. Tapi, jangan katakan hal-hal lainnya. Kita tidak boleh menarik terlalu banyak perhatian."

"Oke, kita bisa menjaga rahasia ini di antara kita." 

"Ya, itulah yang aku pikirkan."

"Tidakkah kamu merasa bahwa ikatan aneh dari rasa saling percaya terbentuk di antara orang yang berbagi rahasia?"

"Aku tidak tahu tentang itu. Aku sangat ingin itu terjadi."

"Terima kasih," jawab Kushida. 

Aku benar-benar tidak tahu apa yang dia maksud dengan itu.

~ Bersambung ~

Episode Lainnya

Other Series

Komentar

A-Z List cari anime berdasarkan abjad A-Z
Copyright © MarinSubs. All Rights Reserved

MarinSubs adalah tempat streaming/nonton Anime Subtitle Indonesia

Redesign by Kitagawa Marin 喜多川 海夢