Aku meninggalkan perpustakaan dan mengejar Kushida. Aku ingin berterima kasih padanya karena sudah bekerja sangat keras untuk mengumpulkan kelompok belajar, dan meminta maaf. Selain itu, aku ingin melakukan segala cara untuk bergaul dengan gadis secantik dia.
Aku mengeluarkan ponselku dan mencari nomor kontak Kushida. Meskipun ini adalah kedua kalinya aku menelepon, aku masih merasa gugup menghubunginya. Telepon berdering 2 kali, lalu 3 kali. Namun, dia tidak mengangkatnya. Apakah dia tidak menyadari panggilanku? Atau apakah dia menolak untuk menjawabnya?
Kushida tidak ada di sekitar halaman sekolah, jadi aku terus mencarinya. Ketika aku masuk ke dalam gedung sekolah, aku sekilas melihat seseorang yang mirip Kushida dari belakang. Saat itu sudah sekitar pukul 6.00 sore, jadi satu-satunya orang disini seharusnya adalah siswa yang terlibat dalam kegiatan klub. Yah, inilah Kushida yang sedang kita bicarakan. Dia mungkin sedang menunggu salah satu teman baiknya untuk menyelesaikan urusan klub.
Aku memutuskan untuk terus mengejar. Jika dia sibuk, aku akan berbicara dengannya lagi nanti. Mengingat hal itu, aku terus maju. Aku mengeluarkan sepasang sepatu dalam ruangan dari rak sepatu yang ada di koridor, tetapi aku tidak melihat Kushida. Apakah aku kehilangan jejaknya? Aku pikir begitu, sampai aku mendengar suara samar hentakan sepatu.
Aku mengikutinya menaiki tangga ke lantai 2. Suara langkah kaki itu terus naik menuju ke lantai 3. Lantai berikutnya setelah itu adalah atap, bukan? Siswa bebas menggunakan atap selama istirahat makan siang, tapi seharusnya tempat itu sudah dikunci setelah pulang sekolah. Sementara aku pikir itu aneh, aku terus menaiki tangga, mencoba menyembunyikan kehadiranku sebaik mungkin jika dia bertemu dengan seseorang. Lalu, aku berhenti di tengah jalan.
Seseorang ada di atas sana.
Aku dengan santai bersandar pada pagar pembatas tangga dan mengintip melalui celah pintu atap. Melalui celah itu, aku sekilas melihat Kushida. Tidak ada orang lain bersamanya. Apa dia sedang menunggu seseorang?
Pertemuan di tempat terpencil seperti ini… Mungkinkah dia sedang menunggu pacarnya? Jika itu masalahnya, aku bisa terpojok di semua sisi. Ketika aku kebingungan memikirkan bagaimana cara menyelinap pergi, Kushida perlahan meletakkan tasnya di lantai.
Lalu…
"Ahhh, sangat menyebalkan!"
Suaranya sangat rendah sehingga sama sekali tidak terdengar seperti Kushida.
"Dia benar-benar menyebalkan! Ya Tuhan, menyebalkan sekali. Akan lebih baik jika dia mati…"
Dia menggerutu pada dirinya sendiri, seolah-olah mengucapkan kata-kata itu untuk suatu mantra atau kutukan.
"Ugh, aku benci gadis sok pintar dan sombong yang menganggap dirinya sangat imut. Dasar wanita jalang! Gadis busuk seperti dia tidak mungkin bisa mengajariku."
Apakah Kushida kesal dengan… Horikita?
"Ah, dia yang terburuk! Dia benar-benar yang terburuk, yang terburuk, yang terburuk! Horikita, kau sangat menyebalkan! Kau sangat menyebalkan!"
Aku merasa seperti melihat sekilas sisi lain dari gadis lembut ini, gadis paling populer di kelas kami. Dia mungkin tidak ingin orang lain melihat sisi gelapnya ini. Sebuah suara di kepalaku berbisik bahwa berbahaya untuk tetap tinggal di sini.
Namun, sebuah pertanyaan aneh muncul. Mengapa dia setuju untuk bekerja sama denganku jika dia sangat membenci Horikita? Kushida seharusnya mengerti tentang kepribadian dan perilaku Horikita sejauh ini. Dia bisa saja menolak untuk membantu, atau hanya menyerahkan kelompok belajar ke Horikita, atau sebaliknya tidak perlu terlibat sama sekali.
Mengapa memaksakan diri ke dalam kelompok belajar? Apakah dia ingin bergaul dengan Horikita? Atau apakah dia ingin lebih dekat dengan anggota lain?
Tak satu pun dari hal itu yang masuk akal. Aku tidak bisa menjelaskan alasannya.
Tidak. Dia mungkin telah menunjukkan tanda-tanda ini sejak awal. Aku tidak pernah benar-benar memikirkannya sebelumnya, tetapi mengingat kondisinya saat ini, aku punya firasat. Mungkin, Kushida dan Horikita adalah…
Bagaimanapun, aku harus pergi dari sini. Kushida mungkin tidak ingin orang lain mendengar caciannya. Sambil masih bersembunyi, aku mencoba untuk segera pergi.
Duar!
Aku tak sengaja menendang pintu dengan keras. Sungguh, ini sangat keras. Kushida menegang dan berhenti bernapas. Aku, tentu saja langsung menjadi kehadiran yang tidak dia harapkan disini. Kushida berbalik, dia mengarahkan pandangannya padaku. Sekarang dia benar-benar melihatku.
Setelah keheningan singkat, Kushida dengan dingin bertanya, "Apa… yang kau… lakukan disini?"
"Aku sedikit tersesat. Maaf. Ini salahku. Aku akan pergi sekarang."
Kushida menatap lurus ke arahku, dia pasti menyadari kebohonganku. Aku belum pernah melihat tatapan yang begitu intens sebelumnya.
"Apa kau mendengarnya?" dia bertanya.
"Apa kau akan percaya padaku jika aku berkata tidak?" aku membalas.
"Jadi begitu…"
Kushida dengan cepat menuruni tangga. Dia meletakkan lengan kirinya di pangkal tenggorokanku, dan mendorongku ke dinding. Nada suaranya, tindakannya, segala sesuatu tentangnya sama sekali tidak seperti Kushida yang kukenal. Kushida baru ini memasang ekspresi menakutkan, ekspresi yang hampir bisa kubandingkan dengan Horikita.
"Jika kau memberi tahu siapa pun tentang apa yang baru saja kau dengar, aku tidak akan memaafkanmu."
Kata-katanya dingin, dan aku tidak berpikir itu adalah ancaman yang sia-sia.
"Dan jika aku memberi tahu?"
"Kalau begitu, aku akan memberi tahu semua orang bahwa kau memperkosaku," katanya.
"Itu tuduhan palsu."
"Tenang saja. Itu bukan tuduhan palsu."
Kata-katanya memiliki bobot dan kekuatan, membuatku tidak bisa menjawab. Saat dia berbicara, Kushida meraih pergelangan tangan kananku dan perlahan membuka telapak tanganku. Dia mendorong telapak tanganku ke dadanya yang lembut.
"Apa yang sedang kau lakukan?" Aku bertanya. Aku buru-buru mencoba menarik diri, tapi dia mendorong punggung tanganku.
"Sidik jarimu ada di bajuku. Ini bukti untuk tuntutanku. Aku benar-benar serius. Mengerti?"
"Aku mengerti. Aku mengerti. Jadi lepaskan tanganku."
"Aku akan meninggalkan seragam ini di kamarku tanpa mencucinya. Jika kau mengkhianatiku, aku akan menyerahkannya ke polisi."
Aku memelototi Kushida untuk beberapa saat ketika dia terus menempelkan tanganku padanya.
"Ini adalah janji," katanya.
Kushida menjauh dariku. Padahal ini pertama kalinya aku merasakan dada seorang gadis, tetapi aku tidak dapat mengingat sensasinya.
"Hei, Kushida. Yang mana kau yang sebenarnya?"
"Itu bukan urusanmu."
"Begitu ya. Nah, aku penasaran akan sesuatu. Jika kau membenci Horikita, maka kau tidak perlu melibatkan dirimu dengannya, bukan?"
Aku tahu dia mungkin tidak akan menyukai pertanyaan itu, tapi aku penasaran tentang motivasinya.
"Apakah buruk jika ingin semua orang menyukaimu? Apa kau mengerti betapa sulitnya untuk mencapai hal itu? Kau tidak tahu, kan?" dia bertanya.
"Yah, aku tidak punya banyak teman, jadi kurasa tidak."
Sejak hari pertama sekolah, Kushida telah berusaha untuk bertukar kontak, mengundang, dan, tentu saja, berbicara dengan Horikita yang pesimis. Orang bisa dengan mudah membayangkan betapa sulitnya dan berapa banyak waktu yang dihabiskan untuk hal itu.
"Setidaknya di permukaan, aku ingin terlihat cocok dengan Horikita."
"Tapi stres karena itu terus bertambah, ya?"
"Ya. Itulah yang aku inginkan dari kehidupan. Dengan begitu, keberadaanku akan memiliki arti." Dia menjawab tanpa ragu-ragu. Kushida memiliki cara berpikir yang berfokus pada satu tujuan. Aturan internalnya sendiri menuntut dia untuk mendekati Horikita.
"Biarkan aku memberitahumu sesuatu, selagi aku punya kesempatan. Aku benar-benar membenci pria murung dan biasa sepertimu."
Fantasi Kushida imut yang aku bawa sampai sekarang telah hancur, tapi sebenarnya aku tidak terlalu terkejut. Lagipula, kebanyakan orang memang memiliki keduanya, wajah publik dan wajah pribadi, batin. Namun, perkataan Kushida terasa seperti kebenaran dan kebohongan.
"Aku hanya berspekulasi, tapi apakah kau dan Horikita sudah saling kenal sebelum tahun ini? Mungkin kalian berdua bersekolah di sekolah yang sama di masa lalu?"
Begitu aku mengatakannya, Kushida bergidik menanggapinya.
"Apa… aku tidak tahu apa maksudmu. Apakah Horikita-san mengatakan sesuatu tentangku?" bentaknya.
"Tidak, aku mendapat kesan bahwa ini adalah pertama kalinya kalian bertemu. Tapi sesuatu tampak aneh."
"Aneh?"
Aku ingat pertama kali Kushida berbicara kepadaku.
"Kau mengetahui namaku saat aku pertama kali memperkenalkan diriku, kan?"
"Terus?" Kushida menanggapi dengan datar.
"Nah, dari mana kau mengetahui nama Horikita? Saat itu, dia tidak memperkenalkan dirinya kepada siapa pun. Satu-satunya orang lain yang tahu namanya adalah Sudou, tapi aku ragu kau sudah bertemu dengan Sudou saat itu."
Dengan kata lain, Kushida tidak memiliki kesempatan untuk mengetahui nama Horikita.
"Kau mendekatiku sehingga kau bisa memata-matai dia, kan?"
"Diamlah. Mendengarmu berbicara membuatku kesal, Ayanokouji-kun. Aku hanya ingin tahu satu hal. Apakah kau bersumpah kau tidak akan pernah memberi tahu siapa pun tentang apa yang kau lihat disini, hari ini?"
"Aku bersumpah. Bahkan jika aku melakukannya, sepertinya tidak ada yang akan mempercayaiku, kan?"
Seluruh kelas mempercayai dan mencintai Kushida. Perbedaan diantara kami seperti siang dan malam.
"Baik. Aku percaya padamu, Ayanokouji-kun." Kushida menutup matanya dan perlahan menghembuskan napas. "Horikita-san itu gadis yang agak tidak biasa, bukan?"
"Ya, menurutku dia benar-benar tidak biasa."
"Orang lain tidak bisa mempengaruhinya, atau lebih tepatnya, dia menjaga jarak dari orang lain. Dia benar-benar kebalikan dariku."
Kushida dan Horikita benar-benar bertolak belakang.
"Kau tahu, Horikita-san hanya membuka dirinya untukmu, Ayanokouji-kun."
"Tunggu sebentar. Dia tidak membuka dirinya padaku. Sama sekali tidak."
"Meski begitu, dia sepertinya mempercayaimu lebih dari orang lain. Dari semua orang yang pernah kutemui, Horikita adalah yang paling waspada terhadap orang lain dan juga paling percaya diri. Dia tidak akan mempercayai siapa pun yang tidak berharga, bahkan jika mereka adalah orang yang sangat baik."
"Jadi, menurutmu dia bisa membaca kepribadian orang lain karena memiliki naluri yang bagus?"
"Itu sebabnya aku bilang aku percaya padamu. Ayanokouji-kun, kau pada dasarnya tidak peduli pada orang lain, bukan?"
Aku tidak ingat pernah melakukan apa pun yang membuatnya berpikir demikian, tapi Kushida tampak percaya diri dengan penilaiannya.
"Ini bukan penilaian yang tidak berdasar. Saat kejadian di bus, kau sama sekali tidak menunjukkan niatmu untuk menyerahkan tempat dudukmu kepada wanita tua itu."
Ah, jadi itu yang dia bicarakan. Dia memahami apa yang terjadi pada hari pertama itu. Dia mengerti bahwa aku tidak berniat memberikan kursiku.
"Jika kau yakin aku mengatakan yang sebenarnya, maka kau tidak perlu menyebarkan rumor yang tidak jelas tentangku," kataku.
"Jika kau sebelumnya memiliki kepercayaan diri seperti itu, kau tidak akan punya kesempatan untuk meraba-raba dadaku."
"Yah, itu… aku tadi benar-benar bingung. Aku panik untuk sesaat."
Ekspresi galaknya melebur menjadi ketidaksabaran.
"Jadi, Kushida, apa kau ini termasuk salah satu tipe gadis yang suka digrepe-grepe?"
Dia menendang pahaku sekuat yang dia bisa. Karena panik, aku meraih pagar pembatas tangga.
"Hei, itu berbahaya! Aku bisa saja jatuh dan terluka parah!"
"Aku menendangmu karena kau mengatakan sesuatu yang bodoh!" Kushida membentak, wajahnya memerah karena marah.
"Hei, tunggu sebentar."
Dia masih terlihat marah. Kushida melangkah kembali ke atas, meraih tasnya, lalu kembali dengan senyum lebar.
"Ayo kembali bersama," katanya dengan ceria.
"Oh. Tentu."
Sikapnya telah berubah drastis, dia seperti tokoh dalam cerita Dr. Jekyll & Mr. Hyde. Perubahan yang sangat drastis sehingga terkadang membuatku berpikir kalau aku sedang bermimpi buruk. Dia adalah dirinya yang ceria seperti biasanya. Aku tidak bisa membedakan yang mana Kushida yang asli.
~ Bersambung ~
Komentar
Posting Komentar