-->
Loading...

iklan adsense

Volume 1 Chapter 6 Part 1 “Classroom of the Elite” Light Novel Bahasa Indonesia

Released on Mei 27, 2021 · 0 Views · Posted by firsyardha · Series

Download Volume 1 Chapter 6 Part 1 “Classroom of the Elite” Light Novel Bahasa Indonesia, Streaming Volume 1 Chapter 6 Part 1 “Classroom of the Elite” Light Novel Bahasa Indonesia, jangan lupa untuk klik like dan bagikan. Series First Year Volume 1 selalu update di MarinSubs. Jangan lupa menonton Series terbaru lainnya.

Refresh Jika Loading Video Lebih Dari 1 Menit. Jika Video Error Hubungi Saya Atau Tuliskan di Komentar ...!!
CHAPTER 6
Classroom of the Elite

PART 1

"Jika kita tidak mendapat poin pribadi lagi, apa yang harus kulakukan?"

"Aku menggunakan semua poin pribadiku kemarin..." 

Saat istirahat, kelas mendadak menjadi ribut… atau lebih tepatnya, kacau. 

"Lupakan poinnya. Ada apa dengan kelas ini? Kenapa aku ditempatkan di Kelas D?!" Yukimura mengeluh dengan kesal. Tetesan keringat mengalir di dahinya. 

"Tunggu, apakah ini berarti kita tidak bisa masuk ke universitas yang kita inginkan? Kalau begitu untuk apa kita masuk ke sekolah ini? Apakah Sae-chan-sensei membenci kita atau semacamnya?"

Tidak ada siswa yang bisa menyembunyikan kebingungan mereka. 

"Aku mengerti kalian semua bingung sekarang, tapi kalian harus tenang." Hirata, yang merasakan ruang kelas semakin ribut, berdiri dan berusaha untuk mengendalikan semua orang. 

"Bagaimana kita bisa tenang? Apakah kau tidak frustrasi saat sensei menyebut kita sekelompok orang gagal?!" Kata Yukimura. 

"Daripada memikirkan itu, bukankah lebih baik kita bersatu agar kita bisa membalikkan keadaan?" Hirata bertanya. 

"Membalikkan keadaan? Sejak awal aku bahkan tidak setuju dengan cara sekolah mengelompokkan kita seperti ini!" 

"Aku mengerti. Namun, hanya berdiam diri di sini sambil merengek tidak akan menyelesaikan apa-apa." 

"Apa katamu?" Yukimura dengan cepat pergi menuju Hirata dan menggenggam kerah bajunya. 

"Tenanglah, kalian berdua, oke? Aku yakin sensei berbicara seperti itu supaya kita berusaha lebih keras untuk melakukan yang terbaik, benar begitu kan?"

Itu adalah Kushida. Dia menyelinap di antara keduanya dan memisahkan mereka, dengan lembut menahan kepalan tinju Yukimura. Seperti yang diharapkan semua orang, Yukimura tidak berani untuk menyakitinya dan secara refleks mundur beberapa langkah. 

"Selain itu, baru satu bulan sejak kita masuk ke sekolah ini, kan? Seperti yang dikatakan Hirata-kun, lebih baik kita semua melakukan yang terbaik bersama-sama. Apakah menurutmu aku salah tentang itu?"

"T-tidak, ini ... Yah, aku tidak mengatakan kalau kau salah, tapi ..." 

Kemarahan Yukimura hampir lenyap sepenuhnya. Kushida memandang semua orang di kelas, seolah-olah matanya mencerminkan keinginan yang tulus agar kami bekerja sama. 

"Ya, lebih baik kita bersatu, kan? Tidak perlu saling bertengkar, Yukimura-kun. Hirata-kun." 

"Maafkan aku. Aku kehilangan ketenanganku," kata Yukimura. 

"Tidak apa-apa. Aku seharusnya lebih berhati-hati dalam memilih kata-kata." 

Kehadiran Kushida Kikyou menyatukan semua orang. Aku mengeluarkan ponselku dan memfoto total poin kelas yang tertulis di kertas yang ditempel di papan tulis. Horikita memperhatikanku dan menatapku dengan ekspresi bingung. 

"Apa yang sedang kamu lakukan?" Dia bertanya. 

"Aku belum tahu bagaimana poin kelas dihitung. Kau juga sudah mencatatnya, bukan?" 

Jika aku bisa mengetahui berapa banyak poin kelas yang dikurangi karena terlambat atau berbicara di kelas, akan lebih mudah untuk melakukan tindakan pencegahan. 

"Bukankah sulit untuk mengetahui detailnya pada tahap ini? Selain itu, aku rasa kamu tidak dapat menyelesaikan masalah ini hanya dengan menyelidikinya. Siswa di kelas kita selalu datang terlambat dan terlalu sering berbicara."

Seperti yang dikatakan Horikita, memang sulit untuk menyimpulkan sesuatu berdasarkan informasi saat ini. Dan juga, Horikita yang biasanya selalu bersikap tenang, sekarang dia terlihat tidak sabaran. 

"Apakah kau juga mencoba masuk perguruan tinggi?" Aku bertanya-tanya. 

"Mengapa kamu menanyakannya?" 

"Nah, saat kita diberitahu tentang perbedaan antara Kelas A dan Kelas D, kau tampak kaget."

"Bukankah hampir semua siswa di kelas ini terlihat begitu? Jika sekolah memberitahu kita dari awal, itu masih bisa dimaklumi, tapi kenapa sekolah justru menjelaskannya pada tahap ini? Itu benar-benar tak terpikirkan olehku."

Yah, dia benar tentang itu. Mungkin ada banyak keluhan tidak puas juga datang dari siswa Kelas C dan Kelas B. Setelah semua yang terjadi, sekolah memperlakukan setiap kelas (kecuali Kelas A) seperti sisa makanan. Naik ke kelas atas mungkin adalah pilihan terbaik kami. 

"Aku pikir sebelum kita mulai berbicara tentang Kelas A atau Kelas D atau apapun itu, pertama-tama kita harus mengamankan poin pribadi."

"Poin pribadi hanyalah bonus sampingan dari kinerja kita. Tidak mempunyai poin pribadi, tidak akan menghalangi hidup kita di sekolah ini. Ada beberapa fasilitas sekolah yang menyediakan barang dan makanan gratis, kan?" Kata Horikita. 

Jika kau berpikir seperti itu, akan sangat melegakan bagi siswa yang sudah kehilangan semua poin pribadi mereka. 

"'Tidak akan menghalangi hidup kita di sekolah ini,' ya?"

Jika kau hanya ingin bertahan, ini tidak akan menjadi masalah. Namun, ada banyak hal yang hanya bisa kau peroleh dengan poin pribadi. Contohnya hiburan. Jika kurangnya pilihan hiburan tidak menjadi masalah, maka itu akan baik-baik saja, tapi… 

"Berapa banyak poin pribadi yang kamu habiskan bulan lalu, Ayanokouji-kun?"

"Hm? Oh, poin pribadiku? Aku menghabiskan sekitar 20.000 poin, kira-kira segitu."

Ini tragis bagi siswa yang telah menghabiskan poin pribadi mereka. Seperti Yamauchi, yang mengomel dan mengoceh di mejanya. Ike juga menghabiskan hampir semua poin pribadinya. 

"Meskipun tidak beruntung, mereka hanya menuai apa yang mereka tabur," Kata Horikita. 

Memang benar bahwa menghabiskan 100.000 poin pribadi tanpa pandang bulu dalam 1 bulan bukanlah masalah yang enteng. 

"Mereka memancing kita untuk menghabiskan semua poin pribadi dalam 1 bulan, dan hasilnya banyak dari kita yang terperangkap oleh jebakan itu."

100.000 poin pribadi per bulan. Padahal semua siswa berpikir itu terlalu bagus untuk menjadi kenyataan. Tapi karena terlalu senang, kami menjadi terlena. 

"Perhatian, semuanya. Sebelum kelas dimulai, aku ingin kalian mendengarkan dengan serius sejenak. Terutama kamu, Sudou-kun." Kelas masih dalam keributan, tetapi Hirata meminta perhatian semua siswa ketika dia berdiri di podium.

"Cih, ada apa?" Sudou menggerutu. 

"Kita tidak mendapatkan poin apa pun bulan ini. Ini adalah masalah yang serius, dan akan berdampak besar pada kehidupan sehari-hari kita ke depannya. Mustahil bagi kita untuk bisa lulus dengan 0 poin, kan?"

"Kamu benar sekali!" Teriak salah satu siswi, suaranya penuh keputusasaan. 

Hirata memberikan anggukan sebagai tanggapan yang ramah, bersimpati padanya. 

"Tentu saja. Oleh karena itu, kita harus mendapatkan poin kelas bulan depan. Untuk melakukan itu, kita semua perlu bekerja sama satu sama lain. Jadi, mohon berhati-hati agar tidak terlambat masuk kelas atau berbicara selama pelajaran berlangsung. Dan juga, penggunaan ponsel selama pelajaran dilarang, tentu saja."

"Hah? Kenapa kau memberi tahu kami apa yang harus dilakukan? Tak ada jaminan kalau poin kelas kita akan meningkat. Jika poin kelas kita tidak berubah sama sekali, maka semua yang kita lakukan tak akan ada gunanya." 

"Selama kita terus melanggar aturan (berbicara selama pelajaran berlangsung dan terlambat masuk kelas), poin kelas kita pasti tidak akan meningkat. Meskipun poin itu tidak bisa minus, Kelas D (tanpa diragukan lagi), akan mengalami kekacauan."

"Aku masih belum yakin. Selain itu, meskipun kita serius dan bekerja keras di kelas, poin kelas kita belum tentu akan naik." Sudou mendengus dan menyilangkan tangannya. Kushida memperhatikan ini dan mengomentarinya. 

"Yah, sensei memang mengatakan kalau terlambat dan berbicara di kelas itu jelas hal yang buruk, bukan?"

"Ya, aku setuju dengan Kushida-san. Itu wajar bagi siswa untuk menghindari perilaku buruk seperti itu." 

"Itu hanya penafsiran egois kalian sendiri. Lagipula, kalian tidak tahu bagaimana caranya meningkatkan poin kelas kita, kan? Jangan berbicara denganku sebelum kalian mengetahuinya."

"Menurutku tidak ada yang salah dengan perkataanmu, Sudou-kun. Aku minta maaf jika aku membuatmu merasa tidak nyaman." Hirata menundukkan kepalanya dengan sopan ke arah Sudou yang tidak puas. "Namun, Sudou-kun, sebelum kita semua bekerja sama, kita tidak akan bisa mendapatkan poin kelas."

"Lakukan sesukamu. Aku tidak peduli. Yang penting jangan libatkan aku. Mengerti?" Sudou membentak.

Seolah berada di kelas membuatnya merasa tidak nyaman, dia segera pergi. Aku bertanya-tanya: Apakah dia akan kembali ketika kelas dimulai? Atau apakah dia tidak berniat untuk kembali sama sekali? 

"Sudou-kun benar-benar tidak bisa membaca situasi. Dialah yang paling sering terlambat masuk kelas. Apa kita masih bisa mendapatkan beberapa poin kelas bahkan tanpa Sudou-kun?"

"Ya. Dia benar-benar yang terburuk. Kenapa dia ada di kelas kita?"

Hmm. Sampai saat ini, semua siswa telah menikmati kehidupan mewah mereka. Sebelumnya tidak ada yang mengeluh tentang Sudou. Hirata turun dari podium dan berjalan ke arahku, dia berhenti tepat di depan mejaku. 

"Horikita-san, Ayanokouji-kun, apa kalian punya waktu? Aku ingin berbicara dengan kalian tentang bagaimana cara kita meningkatkan poin kelas. Aku ingin kalian bergabung denganku. Apa kalian bisa?" 

"Kenapa harus kami?" Aku bertanya. 

"Aku ingin mendengar pendapat semua orang. Namun, jika aku meminta semua orang untuk bergabung, aku pikir lebih dari setengah kelas mungkin tidak akan menganggapnya serius."

Jadi, dia ingin bertanya kepada kami secara pribadi? Aku ragu apakah aku bisa memberinya ide-ide yang berguna, tapi aku rasa tidak ada salahnya untuk berbicara. Saat aku memikirkan itu… 

"Maaf, bisakah kamu bertanya pada orang lain? Aku tidak terlalu pandai mendiskusikan sesuatu dengan orang lain," kata Horikita. 

"Kami tidak akan memaksamu untuk berbicara. Jika kamu bisa membantu memikirkan sesuatu, itu akan bagus. Hanya berada di sana saja sudah cukup," kata Hirata.

"Maaf, tapi aku tidak tertarik pada sesuatu yang tidak berarti."

"Ini adalah ujian pertama yang kita hadapi bersama sebagai Kelas D. Jadi - "

"Aku menolak. Aku tidak akan berpartisipasi." Kata-katanya tegas, namun tenang. Hirata terus mencoba membujuknya, tapi dia terus menolak. 

"Aku… aku mengerti. Maafkan aku. Jika kamu berubah pikiran, aku ingin kamu bergabung dengan kami."

Horikita berhenti menatap Hirata, yang terlihat sedikit sedih karena mendapat penolakan.

"Bagaimana denganmu, Ayanokouji-kun?" Dia bertanya. 

Sejujurnya, aku sangat ingin berpartisipasi. Aku pikir sebagian besar siswa di kelas akan terlibat. Namun, jika Horikita adalah satu-satunya yang tidak hadir, maka dia mungkin akan diperlakukan sama seperti Sudou. 

"Ah… aku tidak ikut. Maafkan aku." 

"Tidak, aku yang harusnya minta maaf karena sudah mengganggumu. Jika kamu berubah pikiran, beritahu aku." 

Hirata mungkin mengerti apa yang kupikirkan. Aku tidak bermaksud menolaknya. Setelah diskusi berakhir, Horikita mulai bersiap untuk pelajaran selanjutnya. 

"Hirata memang pria yang hebat. Dia mampu membuat semua orang bergerak. Orang lain biasanya akan mudah mengalami depresi dalam situasi ini."

"Itu salah satu perspektif, ya. Jika kita dapat dengan mudah menyelesaikan ini dengan berbicara, maka itu akan baik-baik saja. Namun, jika siswa yang tidak cerdas mencoba untuk memimpin diskusi, mereka akan jatuh ke dalam kekacauan, ke titik di mana tidak ada harapan sama sekali. Selain itu, aku tidak bisa menerima situasiku saat ini." 

"Apa yang tidak bisa kau terima? Maksudmu apa?" 

Horikita tidak menjawab pertanyaanku. Dia terdiam.

~ Bersambung ~

Episode Lainnya

Other Series

Komentar

A-Z List cari anime berdasarkan abjad A-Z
Copyright © MarinSubs. All Rights Reserved

MarinSubs adalah tempat streaming/nonton Anime Subtitle Indonesia

Redesign by Kitagawa Marin 喜多川 海夢