"Jika kau memberitahuku dengan jujur, aku akan memaafkanmu, mengerti?"
"Memberitahumu apa?"
Setelah kami selesai makan siang, aku mengobrol dengan Sudou dan yang lainnya di sebelah mesin penjual otomatis di koridor. Tiba-tiba, Ike mendekat ke sebelahku.
"Kita kawan, bukan? Kawan itu tetap bersama apapun situasinya, benarkan?"
"Uh, ya. Aku rasa begitu."
"Jadi, tentu saja ... kau akan memberi tahu kami jika kau punya pacar, bukan?" Dia bertanya.
"Hah? Pacar? Baiklah, tentu. Jika itu terjadi, aku akan memberitahu kalian."
Ike merangkul pundakku.
"Ayolah. Kau berpacaran dengan Horikita, bukan? Aku tidak akan memaafkanmu jika kau mendahului kami!"
"Hah?"
Aku melihat Yamauchi dan Sudou sama-sama menatapku dengan curiga.
"Dasar bodoh. Kami tidak berpacaran. Sama sekali tidak. Aku serius."
"Oke, tapi kalian sering berbicara di kelas bukan? Bahkan hari ini juga. Aku kira itu hal yang tidak bisa kau ceritakan pada kami bukan? Apakah kalian berbicara tentang kencan atau membuat rencana untuk kencan, huh?! Ah, rasanya aku ingin membunuhmu, aku sangat iri!"
"Tidak ada apa-apa di antara kami. Lagipula, Horikita bukanlah tipe gadis yang bisa diajak berpacaran."
"Aku tidak tahu tentang itu. Kami tidak pernah berbicara dengannya sebelumnya. Jika Kushida tidak mengungkitnya, kami mungkin bahkan tidak akan tahu namanya. Keberadaannya sangat minim, seperti bayangan."
Benarkah itu? Aku tidak ingat Horikita pernah berbicara dengan siapa pun kecuali Kushida atau aku.
"Kau bahkan tidak tahu namanya? Itu sangat buruk."
"Jadi, apa kau tahu semua nama teman sekelas kita, Ayanokouji?"
Aku dapat mengingat sekitar setengah dari nama mereka. Aku mengerti maksudnya.
"Dia memang memiliki wajah yang sangat imut, bukan? Itu sebabnya kami memperhatikannya."
Yamauchi dan yang lainnya mengangguk setuju.
“Dia memiliki kepribadian yang buruk. Aku tidak suka perempuan seperti dia," kata Sudou, sambil meminum kopinya.
"Ya aku tahu. Sepertinya dia benar-benar kurang ajar, ya? Aku lebih suka berpacaran dengan seorang gadis ceria yang bisa aku ajak ngobrol dengan mudah. Dia harus imut, tentu saja. Sama seperti Kushida-chan." Tentu saja. Kushida masih menjadi favorit Ike.
"Ahh. Berkencan dengan Kushida-chan… atau lebih tepatnya, melakukan hal-hal nakal dengannya!" Kata Yamauchi.
"Dasar bodoh! Tidak mungkin kau bisa berpacaran dengan Kushida-chan! Dan kau juga tidak boleh berfantasi tentang dia!" Kata Ike.
"Ayolah, kau pikir kau bisa berkencan dengannya, Ike? Selain itu, aku sudah pernah bermimpi tidur di sebelah Kushida-chan!"
"Apa?! Yah, aku pernah memimpikan dia melakukan pose super seksi saat berpakaian cosplay!"
Mereka berdua terus memikirkan fantasi liar mereka tentang Kushida. Ayolah teman-teman. Siswa SMA bebas untuk berfantasi, tapi jangan selalu melibatkan Kushida.
"Siapa gadis yang kau sukai, Sudou? Apakah ada gadis cantik di klub basket?" Ike bertanya.
"Hah? Oh, tidak ada. Belum. Kami benar-benar tidak punya ruang untuk gadis mana pun di tim saat ini."
"Benarkah? Tapi, jika kau memang punya pacar, lebih baik kau tidak menyembunyikannya! Kau harus memberi tahu kami! Harus!"
"Ya, tentu," kata Sudou. Terlepas dari betapa terganggunya dia dengan percakapan itu, dia mengangguk.
Topik tentang pacar membuatku mengingat Hirata.
"Oh, ya, bukankah Hirata berpacaran dengan Karuizawa sekarang?" Aku bertanya.
"Ya kau benar. Hondou melihat mereka berpegangan tangan tempo hari!"
"Ya, mereka berpacaran. Tidak salah lagi. Mereka berjalan bersama-sama."
"Benar kan? Aku ingin tahu apakah mereka sudah melakukan hal-hal nakal bersama."
"Tentu saja mereka sudah melakukannya! Ah, aku sangat iri! Aku benar-benar iri!"
Rasanya sulit dipercaya bahwa siswa SMA tahun pertama sudah melakukan hubungan seks. Tapi aku kira itu benar.
Secara tidak sengaja, aku mulai berpikir seperti orang-orang ini.
"Dengarkan aku. Aku punya pengalaman tentang seks dan semacamnya," kata Yamauchi, sambil berbaring di lantai koridor.
"Kurasa lebih baik bertanya pada Hirata," kata Ike.
"Apa menurutmu Hirata akan memberi tahu kita detailnya? Tentang payudaranya, atau apakah dia masih perawan, atau hal-hal seperti itu? Apa kau benar-benar berpikir dia akan memberi tahu kita? Yang benar saja," kataku.
Pengalaman seperti apa yang mereka ingin tanyakan?
Aku berjalan ke mesin penjual otomatis untuk membeli minuman.
"Aku pesan minuman coklat!" Kata Yamauchi.
"Jika kau menginginkan sesuatu, belilah sendiri."
"Tidak bisa. Aku sudah hampir kehabisan poin. Aku hanya punya sekitar 2.000 poin tersisa."
"Bagaimana mungkin kau menghabiskan lebih dari 90.000 poin hanya dalam 3 minggu?" Aku bertanya.
"Aku membeli barang yang aku inginkan. Ini, lihat. Ini mengagumkan!" kata Yamauchi, sambil mengeluarkan perangkat game genggam.
"Aku membeli ini dengan Ike. Ini adalah PS Viva! Sebuah PS VIVA! Sungguh menakjubkan, tidak kusangka sekolah akan menjual barang semacam ini."
"Berapa harganya?"
"Sekitar 20.000 poin. Dengan perangkat tambahan lainnya, menjadi 25.000 poin."
Yo, jangan langsung menghabiskan semua poinmu begitu saja.
"Aku biasanya tidak terlalu sering bermain game, tapi sekarang aku tinggal di asrama, aku pikir aku bisa bermain dengan teman-teman. Oh, kau tahu siswa bernama Miyamoto di kelas kita? Dia sangat ahli dalam video game."
Miyamoto adalah siswa laki-laki yang agak gemuk. Aku tidak pernah berbicara dengannya secara langsung, tapi aku mendapat kesan dia adalah tipe orang yang akan berbicara tentang hal-hal seperti game dan anime sepanjang waktu.
"Kau harus membelinya dan kita bisa bermain bersama. Kata Sudou, dia akan membelinya saat tunjangan bulan depan."
Mereka mengeroyokku. Yamauchi menyerahkan game konsolnya sehingga aku bisa mencobanya. Itu jauh lebih ringan dari yang aku harapkan. Layar menampilkan seorang prajurit, pedang besar diikat ke punggungnya, dia sedang membelai seekor babi. Dunia macam apa ini?
"Sejujurnya, aku tidak terlalu tertarik. Ini… apa sih? Jenis game pertarungan?"
"Kau pernah mendengar tentang Hunter Watch, kan? Itu telah terjual lebih dari 4,8 juta kopi di seluruh dunia! Aku memiliki bakat luar biasa dalam bermain game sejak aku masih kecil. Para pencari bakat profesional dari luar negeri terus-menerus mengincarku, tapi aku selalu menolaknya."
Kau boleh mengatakan bahwa kau berbakat dalam sesuatu, tapi tentang itu benar atau salah, itu akan menjadi masalah lain, masih ada banyak orang di dunia ini yang lebih hebat darimu. Ada sekitar 7 miliar orang di dunia. Orang-orang yang membeli game ini diperkirakan kurang dari 0,1 persen dari populasi global.
"Ngomong-ngomong, bagaimana mungkin seorang gadis bisa mengenakan pakaian yang sangat berat? Apakah baju besinya terbuat dari plastik atau semacamnya? Jika itu besi, bahkan seseorang dengan fisik seperti Sudou akan kesusahan memakainya."
"Ayanokouji, kau benar-benar terlalu berlebihan memikirkan itu? Apa kau tidak pernah bermain game seperti ini sebelumnya? Orang yang mengatakan hal semacam itu biasanya lebih suka dengan permainan yang otomatis meregenerasi nyawa. Apa kau salah satunya? Atau apa kau lebih suka game-game barat di mana kau menembak seseorang lalu bersembunyi di suatu tempat dan berusaha memulihkan staminamu kembali? Karena, jika kau bertanya kepadaku, game-game itu tidak realistis!"
Aku tidak bisa memahami Yamauchi sama sekali.
"Nah, kau tahu apa yang mereka katakan: 'melihat adalah percaya', ya kan? Cobalah. Saat kau mulai bermain, kami akan membantumu mendapatkan item berharga. Mengumpulkan item itu butuh kerja keras, kau tahu? Jadi sekarang.. tolong belikan aku minuman coklat."
"Dasar kau ini…"
Aku sebenarnya tidak membutuhkan bantuannya, tetapi aku membelikannya minuman coklat supaya dia tidak mengeluh lagi.
"Ah, pertemanan adalah berkah yang luar biasa! Terima kasih!" Kata Yamauchi.
Aku tidak ingin pertemanan seperti itu. Aku melempar minuman coklat ke Yamauchi, dia menangkapnya dengan perutnya. Sekarang, apa yang ingin aku minum? Aku ragu-ragu, sambil melihat tombol-tombol di mesin. Lalu aku menyadari sesuatu.
"Oh, jadi mereka punya ini juga."
Ada tombol air mineral, yang gratis.
"Ada apa?"
"Oh, tidak. Aku hanya memikirkan tentang paket makanan gratis yang ditawarkan oleh kantin."
"Oh, maksudmu seperti paket makanan sayur? Ugh, tidak mungkin aku pergi ke sekolah hanya berbekal sayuran dan air mineral."
Yamauchi tertawa lalu meminum coklatnya. Jika kau menggunakan semua poinmu, maka kau tidak punya pilihan selain mengambil barang gratis, seperti sayuran dan air mineral. Namun, mudah untuk menghindari situasi itu. Selama kau tidak menghabiskan semua poinmu seperti Yamauchi.
"Sebenarnya ada cukup banyak orang yang suka makan sayur," kataku.
Karena aku sering pergi ke kantin, aku ingat ada banyak siswa yang membeli paket makanan gratis.
"Itu bukan karena mereka menyukainya. Mungkin karena ini akhir bulan."
"Yah, mungkin begitu." Sementara aku merasa sedikit tidak nyaman tentang itu, aku menekan tombol yang berlabel susu dan mengambil botol yang jatuh keluar.
"Ah, kenapa bulan depan tidak bisa datang lebih cepat? Aku ingin kehidupan impianku kembali lagi!" Yamauchi dan yang lainnya mengeluh lalu mereka tertawa.
~ Bersambung ~
Komentar
Posting Komentar