[HEI, kita akan pergi nongkrong dengan Kushida-chan dan yang lainnya sepulang sekolah. Kau mau ikut?]
Aku menerima pesan teks itu di tengah-tengah pelajaran kelas di siang hari saat aku sibuk menulis catatan. Ah, bukankah ini seharusnya menjadi hari-hari yang tenang di masa muda? Ini adalah pertama kalinya teman-teman mengundangku untuk nongkrong sepulang sekolah. Aku tidak punya alasan untuk menolak ajakan mereka, tetapi aku akan bertanya dulu siapa saja yang akan pergi.
Maksudku, aku tidak ingin dikelilingi oleh sekelompok orang yang tidak aku kenal. Itu akan terasa canggung.
Aku segera menerima balasan. Aku melihat nama Ike dan Yamauchi, begitu juga Kushida. Termasuk aku, jadi 5 orang. Sepertinya tidak ada orang yang tidak kukenal. Yah, kedengarannya bagus. Aku mengonfirmasi bahwa aku akan pergi, lalu pesan balasan pun muncul.
[Kushida-chan adalah targetku, jadi jangan berani-berani menghalangiku!] –Ike-sama
[Tidak, tidak, Kushida-chan milikku. Kau harus menyingkir!] –Yamauchi
[Hah? Kau juga mengejar Kushida-chan?! Apa kau ingin berkelahi denganku?] –Ike-sama
Alangkah baiknya jika kita semua akur, tapi mereka berdua mulai bertengkar tentang Kushida melalui pesan chat. Aku sangat menantikan untuk bergaul dengan semuanya, tapi sekarang kupikir itu mungkin merepotkan. Saat kelas berakhir, aku pergi dengan Ike dan Yamauchi. Meskipun aku sudah lama berada di sini, lahan sekolah sangat luas sehingga aku masih belum mengenal daerah ini dengan baik.
"Kita tidak bisa pergi langsung dengan Kushida meskipun kita satu kelas, ya?" Kataku.
"Dia bilang dia harus berbicara dulu dengan seorang teman dari kelas lain. Kushida-chan cukup populer."
"Apakah menurutmu dia sedang menemui seorang laki-laki?" Ike bergumam.
"Tenang, Ike. Aku sudah memastikannya. Dia sedang menemui seorang gadis," Kata Yamauchi.
"Ya, ya."
"Apa kalian serius mengejar Kushida?" Aku bertanya.
"Tentu saja. Dia gadis impianku."
Yamauchi juga sependapat, karena dia terus-terusan mengangguk setuju.
"Kau tertarik pada Horikita, bukan? Aku akui dia sangat cantik."
"Tidak, aku tidak tertarik. Sama sekali."
"Benarkah? Bukankah kalian sering bertukar pandang secara diam-diam dan colek-colekan? Kau tahu, itu sedikit menjengkelkan bagiku."
Sementara Ike tanpa henti menekanku, gadis yang kami bicarakan datang.
"Maaf terlambat, terima kasih sudah menungguku!" Kata Kushida.
"Oh, jangan khawatir, Kushida-chan! Hei, tunggu sebentar, kenapa mereka ada di sini?!" Ike yang kegirangan melihat kedatangan Kushida, tiba-tiba menjadi lesu.
"Oh, aku kebetulan bertemu mereka di jalan, jadi aku pikir lebih baik mengajak mereka sekalian. Tidak apa-apa kan?"
Kushida mengajak Hirata dan pacarnya (setidaknya, aku cukup yakin dia adalah pacarnya), Karuizawa. Ada juga dua gadis lainnya, Matsushita dan Mori, yang selalu berada di sekitar Karuizawa.
"Hei, bukankah kita harus memikirkan cara untuk membuat Hirata pergi?!" Ike berbisik, merangkul pundakku.
"Menurutku tidak ada alasan untuk membuatnya pergi," jawabku.
"Bocah tampan itu akan membayangi keberadaan kita! Apa yang akan kita lakukan jika Kushida-chan akhirnya menyukai Hirata, huh?! Kita tidak bisa membiarkan bocah tampan itu berakhir dengan gadis imut seperti Kushida!"
"Yah, aku tidak tahu tentang ... Hei, tunggu, bukankah Hirata berpacaran dengan Karuizawa? Jadi kita tidak perlu khawatir."
"Hei, hanya karena dia sudah punya pacar, tapi itu bukanlah jaminan. Aku tidak bisa tenang. Selain itu, siapapun yang waras akan memilih bidadari cantik seperti Kushida-chan daripada gadis cabe-cabean seperti Karuizawa!"
Ike mengoceh sambil marah-marah, ludahnya menyembur ke telingaku, aku pun menjadi jijik. Bukan hanya ludahnya saja; kata-katanya yang keji juga cukup menjijikkan. Memang benar bahwa Karuizawa adalah salah satu tipe gadis cabe-cabean dengan kulit kecokelatan dll, tapi dia sangat imut.
"Hei, Ike, kau tahu kalau tidak ada jaminan bahwa Kushida-chan masih perawan, kan?" Yamauchi bergabung dengan percakapan kami, dia berbisik dengan suara yang cemas dan tegang.
"Y-yah… Ya, kau mungkin be… T-tidak, Kushida-chan pasti masih perawan!" Kata Ike.
Mereka terus membicarakan fantasi liar dan khayalan mereka, ini terlalu berlebihan. Jika memungkinkan, aku lebih baik tidak terlibat.
"Um, jika kami merepotkan, mungkin kita bisa pergi sendiri-sendiri." Kata Hirata dengan nada yang ramah. Dia sepertinya telah memperhatikan percakapan rahasia kami.
"K-kami sama sekali tidak keberatan. Benarkan, Yamauchi?"
"Y-ya. Ayo pergi bersama. Semakin banyak semakin meriah. Benarkan, Ike?"
Beberapa saat yang lalu, keduanya mengatakan bahwa orang lain hanya akan "menghalangi" dan mereka ingin menyingkirkan Hirata. Tetapi jika mereka melakukan hal seperti itu, maka Kushida tidak akan menyukainya. Apakah ada kemungkinan Kushida menyukai mereka berdua atau tidak, itu adalah masalah lain.
"Yah, jelas, itulah rencananya. Kenapa kalian bertiga berbisik-bisik tentang kami?" Kata-kata Karuizawa memang bisa dimengerti, tapi perkataannya membuatku terkejut karena aku disamakan dengan Ike dan Yamauchi.
"Nah, aku pikir, jika kita mengajak Hirata dan Karuizawa, maka kita akan memiliki jumlah laki-laki dan perempuan yang sama. Jadi itu artinya ini akan menjadi triple date. Ayanokouji, ini bisa jadi kesempatanmu, kau tahu?"
"Jadi, kau baik-baik saja dengan Matsushita kan, Yamauchi? Kalau begitu, aku akan berpasangan dengan Kushida-chan," kata Ike.
"Hei, jangan main-main denganku! Akulah yang mengincar Kushida-chan! Kami akan menikah di bawah pohon sakura, bertukar sumpah seperti janji manis di antara teman masa kecil! Ini adalah takdir!"
"Kau hanya bicara omong kosong! Seharusnya aku yang bilang begitu padamu. Kau benar-benar pembohong!"
"Hah? Aku tidak berbohong, semua itu memang benar!"
Jika kau percaya dengan semua yang dikatakan Yamauchi Haruki, maka dia adalah seorang yang terampil sejak kecil, dibina oleh para profesional dari luar negeri, dan menjadi peserta di kompetisi pingpong nasional. Lalu, di SMP, dia menjadi pemain andalan tim bisbolnya dan bintang masa depan yang menjanjikan. Pria yang sangat berbakat.
Meskipun tidak ada konfirmasi bahwa semua itu adalah kebenaran.
Aku tidak tahu ke mana tujuan kami, jadi aku diam-diam mengikuti mereka dari belakang. Saat Ike dan Yamauchi melamun tentang Kushida, mereka mengapit Hirata di kedua sisi.
"Aku hanya akan bertanya padamu, Hirata. Apakah kau pacaran dengan Karuizawa?" Ike bertanya langsung untuk menentukan apakah Hirata musuhnya atau bukan.
"Uh… di mana kamu mendengar itu?" Hirata bertanya. Seperti yang diharapkan, dia terlihat sedikit terkejut, atau bahkan panik, oleh pertanyaan itu. "Oh, kamu sudah menyadarinya, ya? Ya, kami berpacaran."
Karuizawa menempel di lengan Hirata sebelum dia mengatakan apapun. Hirata hanya menggaruk pipinya, seolah tak ingin melanjutkan percakapan itu.
"Serius?! Aku sangat iri mengetahui kau berkencan dengan gadis imut seperti Karuizawa!" kata Yamauchi, pura-pura iri. Kadang orang berpikir bahwa berbohong itu mudah, tetapi ternyata itu sulit.
"Kushida-chan, apa kau punya pacar?" Ike berhasil mendekati Kushida tanpa ragu. Cukup pintar, ya?
"Aku? Oh, sayangnya tidak," katanya.
Baik Ike dan Yamauchi jelas-jelas terlihat sangat senang, mereka menyeringai. Ekspresi mereka terlihat oleh semua orang. Meskipun Kushida mungkin menyembunyikan fakta bahwa dia punya pacar, pada dasarnya dia mengkonfirmasi bahwa dia bersedia diajak kencan oleh siapapun. Aku juga sedikit senang mendengarnya.
"Oh, tidak, aku sampai menangis mendengar jawaban itu…"
"Jangan menangis, Yamauchi! Kita sebentar lagi akan sampai di puncak!"
Tujuan mereka tidak lagi menunggu di puncak gunung, tetapi di ujung jalan yang terjal…
Hirata, Karuizawa, Ike, dan Yamauchi, semuanya mengelilingi Kushida saat mereka berjalan. Matsushita dan Mori yang tidak terlalu tertarik dengan percakapan itu, mengikuti di belakang kelompok utama, sementara aku berjalan lebih jauh di belakang mereka, sendirian.
"Hei, Ike. Kemana kita akan pergi?" seseorang bertanya.
"Ini belum lama sejak upacara penerimaan, ingat? Aku hanya ingin melihat-lihat fasilitas sekolah," jawab Ike nampak kesal.
Jadi, tidak ada tujuan yang jelas, yang berarti situasi canggung ini akan berlangsung sedikit lebih lama…
Harapanku yang tidak menyenangkan tiba-tiba berubah.
"Hei, Matsushita-san, Mori-san. Apa kalian berdua ingin pergi melihat-lihat tempat tertentu?"
Saat Ike dan Yamauchi mengobrol dengan gembira, Kushida mencoba untuk berbicara dengan dua gadis lainnya.
"Hah? Oh, um, yah… Setidaknya aku ingin melihat bioskop sesekali."
"Ya. Karena hari ini sekolah sudah selesai, aku ingin pergi juga."
"Oh ya! Aku ingin pergi juga, tapi aku belum sempat melakukannya. Karuizawa-san, apakah kamu pernah pergi ke tempat khusus untuk berkencan?"
Kushida mulai mencairkan suasana di antara kami, seperti yang aku harapkan darinya. Tidak peduli seberapa keras aku mencoba, aku tidak akan pernah bisa melakukan hal seperti itu. Dan juga, sebagai bonus, dia sesekali berbalik dan tersenyum manis padaku. Aku tidak menduga itu.
Aku mencoba untuk tidak berbicara yang tidak perlu, karena aku rasa itu hanya akan merepotkan. Aku mencoba untuk melihat Kushida dengan cara yang menunjukkan bahwa aku tidak mengabaikannya. Jika Kushida tidak bisa membaca situasi, dan hanya ingin menjadi pusat perhatian, maka pesan itu mungkin tidak akan sampai padanya.
Namun, ada juga orang yang bisanya cuma mencaci dan mengatakan sesuatu seperti, "Kenapa kau tidak bisa membaca situasinya?" kepada seorang teman setelah dia menolak untuk pergi ke karaoke, meskipun mereka tahu bahwa teman itu berkata dia tidak ingin menyanyi. Bagaimanapun juga, ada orang-orang yang egois dan berpikiran sempit yang menganggap karaoke menyenangkan bagi mereka, artinya mereka mengira kalau semua orang menyukainya. Mereka tidak bisa memahami bahwa beberapa orang tidak suka bernyanyi.
Sementara aku merenungkan topik itu, kami akhirnya sampai di tempat tujuan. Rupanya, kami akan mampir di toko pakaian di sekolah. Lebih tepatnya, itu adalah butik. Semua orang sepertinya sudah pernah datang ke toko ini beberapa kali, jadi kami masuk tanpa ragu-ragu. Umumnya, aku memakai seragamku pada hari-hari kerja, dan karena aku biasanya cuma tinggal di asrama pada hari libur, aku belum membeli pakaian untuk pergi keluar.
Ada banyak siswa di dalamnya, beberapa kakak kelas juga ada di sana. Mayoritas pengunjung tampaknya adalah siswa tahun pertama. Mungkin ini karena aku masih belum terbiasa, tetapi aku merasa sangat tidak berpengalaman dan cemas dalam suasana ini. Kami memeriksa banyak pakaian berbeda di rak dan, setelah itu, pergi ke sebuah kafe terdekat. Hirata membawa pakaian yang dibeli Karuizawa, yang mana harganya sekitar 30.000 poin.
"Apakah kalian semua sudah terbiasa dengan sekolah ini?"
"Awalnya, aku benar-benar bingung, tetapi sekarang aku telah berhasil menyesuaikan diri. Rasanya seperti hidup dalam mimpi. Aku tidak pernah ingin lulus!"
"Ha ha! Aku merasa Ike-kun sangat menikmati waktunya di sekolah ini!"
"Aku hanya berharap kita mendapat lebih banyak poin, kau tahu? Mungkin 200.000 atau 300.000 sebulan? Setelah membeli kosmetik, pakaian, dan lain-lain, aku sudah menghabiskan hampir semua poinku," kata Karuizawa.
"Tidakkah menurutmu itu tidak normal bagi seorang siswa SMA untuk mendapatkan 300.000 poin sebagai tunjangan bulanan?" Hirata bertanya.
"Nah, jika kau mengatakannya seperti itu, ya. Bahkan 100.000 saja adalah jumlah yang cukup aneh. Sejujurnya, aku sedikit takut. Aku khawatir tentang kehidupan seperti apa yang menantiku setelah lulus jika aku terus menghabiskan hari-hari sekolahku seperti ini."
"Apakah maksudmu seperti tidak bisa lagi mengelola keuangan dengan baik? Ya, kedengarannya cukup menakutkan."
Setiap orang merasa berbeda tentang tunjangan bulanan kami. Karuizawa dan Ike sama-sama menginginkan lebih banyak poin, sementara Hirata dan Kushida takut dengan apa yang akan terjadi ketika kehidupan mewah kami berakhir.
"Bagaimana denganmu, Ayanokouji-kun? Apakah menurutmu 100.000 poin itu banyak atau tidak cukup?"
Pada saat itu, aku hanya bermaksud untuk mendengarkan, tetapi Kushida meminta pendapatku.
"Hmm, baiklah, aku belum sepenuhnya memahaminya. Aku tidak yakin," aku menjawab.
"Maksudnya apa?"
"Kurasa aku mengerti maksudmu, Ayanokouji-kun. Ini benar-benar berbeda dari sekolah normal manapun. Sulit untuk mengerti tanpa benar-benar mengetahui semua detailnya."
"Yah, tidak ada gunanya mengkhawatirkan hal itu. Aku sangat senang bisa masuk ke sekolah ini. Aku bisa membeli apa pun yang aku inginkan. Padahal, kemarin aku baru saja membeli beberapa pakaian baru." Ike menjalani kehidupan yang positif, selalu melihat ke depan.
"Selain Kushida-chan dan Hirata, Ike, kau dan Karuizawa juga berhasil masuk ke sekolah ini. Bukankah kalian sebenarnya cukup bodoh?"
"Apa-apaan perkataanmu itu, jangan sok pintar kau, Yamauchi."
"Hah? Biar aku beritahu padamu, begini-begini aku mendapat 900 poin di APEC."
"Memangnya apa itu APEC?"
“Kau bahkan tidak tahu? Ini ujian bahasa Inggris yang sangat sulit."
"Um, bukankah maksudmu TOEIC, bukan APEC?"
Kushida mencoba mengoreksi perkataan Yamauchi. APEC sebenarnya singkatan dari Asia-Pacific Economic Partnership.
"M-mereka berhubungan, bukan?" Dia bertanya.
Mereka tidak berhubungan sama sekali.
"Nah, misi sekolah ini adalah membina generasi muda yang akan memimpin masa depan, bukan? Jadi, mereka mungkin tidak hanya memilih orang berdasarkan nilai ujian mereka. Jujur saja, jika sekolah ini hanya menerima orang berdasarkan nilai ujian, aku tidak akan mengikuti ujian masuk."
"Ya, ya. Generasi muda yang akan membuka jalan menuju masa depan. Itulah bagaimana aku menggambarkan diriku." Ike menyilangkan tangannya dan mengangguk.
Meskipun menjadi institusi utama di Jepang, dengan peluang yang tinggi untuk menuju ke universitas terkemuka dan mendapat pekerjaan yang layak, sekolah ini tidak menentukan kriteria kelulusan atau kegagalan melalui nilai ujian. Jika itu yang terjadi, lalu bagaimana caranya menyeleksi calon siswa? Aku tiba-tiba penasaran tentang hal itu.
~ Bersambung ~
Komentar
Posting Komentar