Aku tidak begitu menyukai upacara penerimaan dan kupikir siswa tahun pertama yang lain mungkin merasakan hal yang sama. Kepala sekolah dan siswa saling bertukar ucapan terima kasih yang berlebihan, terlalu banyak waktu yang dihabiskan untuk berbaris, dan, ada begitu banyak hal yang menjengkelkan, semuanya terasa merepotkan. Tapi itu bukan satu-satunya keluhanku.
Upacara penerimaan siswa baru, baik itu SD, SMP, ataupun SMA, semuanya memiliki konsep yang sama: yaitu pertanda dimulainya percobaan besar lainnya untuk para siswa. Agar siswa dapat menikmati waktu mereka di sekolah, mereka harus berteman, karena itulah upacara penerimaan ini juga menjadi ajang bagi siswa untuk mengenal satu sama lain. Dan jika kau gagal mendapatkan teman, itu berarti kehidupanmu di sekolah selama tiga tahun ke depan akan suram.
Sebagai seseorang yang tidak menyukai masalah, aku memutuskan untuk membangun hubungan dengan benar. Karena tidak terbiasa dengan gagasan tersebut, aku mencoba untuk melakukan berbagai persiapan, menjalankan skenario yang berbeda.
Misalnya, ketika masuk ke kelas, haruskah aku secara aktif mulai berbicara Ke orang-orang? Haruskah aku diam-diam membagikan alamat email ku di secarik kertas, agar dapat berteman dengan seseorang? Seseorang sepertiku perlu berlatih, karena lingkungan ini sangat berbeda dari yang sebelumnya. Aku benar-benar terisolasi. Aku telah berkelana sendirian ke sebuah medan perang, dan aku tak punya pilihan selain menghadapinya.
Melihat sekeliling kelas, aku berjalan menuju kursi yang berlabel namaku. Itu ada di pojok kiri belakang ruangan, dekat jendela. Tempat yang bagus untuk duduk, umumnya. Saat aku melihat sekeliling, aku melihat bahwa ruang kelas sudah setengah jalan terisi oleh siswa. Ada yang bersiap untuk menghadapi materi kelas dan ada yang sudah berbicara satu sama lain. Mungkin mereka semua pernah berteman sebelumnya atau baru saja berkenalan. Kalau begitu, apa yang harus aku lakukan? Mengambil tindakan selama waktu luang ini dan coba bertemu seseorang? Di depanku, seorang anak laki-laki yang agak gemuk duduk di mejanya, membungkuk. Mungkin itu hanya imajinasiku, tapi dia tampak kesepian.
Anak laki-laki itu memancarkan aura yang seakan berteriak, “Tolong, jadilah temanku!" Namun, jika kau tiba-tiba mendekati seseorang dan mulai berbicara dengan mereka, kau mungkin akan mengganggu mereka. Haruskah kau menunggu waktu yang tepat? Tapi jika kau menunggu terlalu lama, kau mungkin akan kehilangan kesempatan itu. Aku hanya harus… Tidak, tidak, tunggu, aku tidak bisa terburu-buru. Jika aku terlalu sembrono dan tiba-tiba berbicara dengan seseorang yang tidak aku kenal, ini akan menjadi risiko yang fatal.
Ini tidak baik. Aku terjebak dalam lingkaran keraguan.
Pada akhirnya, aku tidak bisa berbicara dengan siapa pun. Pada tingkat ini, aku akan sendirian. Seandainya aku mendengar seseorang berkata, “Apakah dia masih sendirian?" Apakah seseorang menertawakanku? Mungkin itu semua hanya ada di kepalaku. Sebenarnya, apa itu "teman"? Darimana asal kata itu? Apakah orang menjadi teman setelah makan bersama? Kalau begitu, bisakah kau berteman dengan seseorang setelah kau berjalan ke kamar mandi bersama? Semakin aku berpikir tentang itu, semakin aku bertanya-tanya: Apa itu persahabatan? Apakah itu sesuatu yang dalam dan berarti? Aku mencoba menyatukan potongan-potongan itu.
Mencoba berteman itu sangat merepotkan. Selain itu, bukankah hubungan antar manusia cenderung terbentuk secara alami? Pikiranku kacau balau, seperti sebuah festival yang sangat berisik sedang dipentaskan di dalam kepalaku. Pikiranku tersesat di dalam kabut karena memikirkan hal itu, di sisi lain, ruang kelas dengan cepat terisi. Baik. Masa bodoh. Tidak bisa memberanikan diri, tidak ada yang didapat, bukan? Setelah konflik yang lama, akhirnya aku mulai bangkit dari tempat dudukku. Namun…
Sebelum aku menyadarinya, bocah berkacamata gemuk di depanku itu telah mulai berbicara dengan teman sekelas yang lain.
Melihat hal itu, aku menyadari bahwa tidak akan ada tempat untukku di sana. Kerja bagus, Kacamata-kun. Sepertinya kau berhasil membuat teman pertamamu.
“...Kau pasti bercanda!”
Aku kehabisan akal, terjebak dalam pusaran air yang tidak ada habisnya. Secara refleks, aku menghela nafas panjang. Pengalaman SMA ku sepertinya akan sangat suram. Kemudian, seseorang duduk di sampingku.
“Itu adalah desahan yang cukup berat, mengingat tahun ajaran baru saja dimulai. Bertemu denganmu lagi membuatku ingin menghela nafas."
Itu adalah gadis yang kulihat di bus dan yang berdebat denganku di depan gerbang sekolah.
“Jadi, kita ditempatkan di kelas yang sama, ya?” Aku bergumam.
Yah, lagipula, hanya ada empat kelas untuk semua siswa tahun pertama. Secara statistik, bukan tidak mungkin kita bisa bersama.
"Senang bertemu denganmu. Aku Ayanokouji Kiyotaka.”
“Kenapa tiba-tiba memperkenalkan dirimu?” dia berkata.
"Yah, ini kedua kalinya kita berbicara. Bukankah tidak apa-apa bagiku untuk melakukannya?”
Aku ingin memperkenalkan diriku kepada seseorang, jadi aku tidak bisa selamanya diam. Selain itu, untuk menjadi akrab dengan kelasku, aku setidaknya harus tahu nama tetanggaku ... bahkan jika harus dengan gadis seperti dia.
"Apakah kamu keberatan jika aku menolak?" dia bertanya.
“Aku tidak akan merasa nyaman untuk duduk di samping seseorang selama setahun penuh tanpa mengetahui nama mereka."
"Aku tidak setuju."
Setelah menatapku sekilas, dia meletakkan tasnya di atas meja. Rupanya, dia tidak akan memberi tahu namanya. Dia sepertinya juga tak tertarik dengan kondisi kelas, gadis itu hanya duduk tegak di kursinya seperti siswa teladan.
“Apakah kau punya teman di kelas lain? Atau apakah kau memang sudah sendirian saat mendaftar di sini?” Aku bertanya.
“Kamu ini orang yang suka kepo, ya? Biar aku beri tahu, berbicara denganku bukanlah hal yang menarik untukmu.”
“Jika aku mengganggumu, kau bisa menyuruhku diam.”
Aku tidak akan memperkenalkan diri jika itu membuatnya marah. Aku pikir percakapan itu telah selesai, tapi kemudian gadis itu menghela nafas. Rupanya, dia sudah berubah pikirannya. Dia mengalihkan pandangannya padaku dan memperkenalkan dirinya.
"Namaku Horikita Suzune."
Untuk pertama kalinya, aku bisa melihat wajahnya dengan baik.
Dia manis. Atau lebih tepatnya, dia cantik. Walaupun kami berada di angkatan yang sama, aku akan percaya jika kau memberi tahuku bahwa dia berusia satu atau dua tahun lebih tua.
Kecantikan yang tenang dan sejuk.
“Biar aku ceritakan tentang diriku,” kataku. “Aku tidak memiliki hobi tertentu, tapi aku tertarik pada apa saja. Aku tidak membutuhkan banyak teman, tetapi aku pikir akan menyenangkan memiliki setidaknya beberapa. Dan, yah, itu saja."
“Seperti yang diharapkan dari seseorang yang menghindari masalah. Aku rasa aku tidak akan pernah bisa menyukai orang seperti itu," katanya.
"Astaga, kau seperti menghancurkan seluruh keberadaanku dalam satu detik," aku bergumam.
"Aku harap ini akan menjadi yang terakhir kalinya aku merasa kesal."
"Aku mengerti perasaanmu, tapi sayangnya, menurutku harapanmu tidak akan terkabul.” Aku menunjuk ke pintu masuk kelas. Yang berdiri di sana adalah—
“Ini sepertinya ruang kelas yang cukup lengkap. Tampaknya memenuhi harapan semua orang, hmm?” Benar. Itu adalah pemuda yang pernah bertengkar dengan para wanita di bus itu.
"Jadi begitu. Ini adalah skenario terburuk,” katanya.
Pengacau ini telah ditempatkan di Kelas D bersama kami. Dia sama sekali tidak memperhatikan kehadiran kami, dia pergi ke kursi berlabel "Kouenji" dan duduk. Aku bertanya-tanya apakah orang seperti itu pernah mempertimbangkan konsep persahabatan. Aku mencoba mengamatinya sebentar. Kouenji mengangkat kedua kakinya ke atas meja, mengambil kikir kuku dari tasnya, dan bersenandung saat dia merawat kuku jarinya. Dia bertindak seolah-olah dia benar-benar sendirian.
Rupanya, komentar kasar yang dia katakan di bus adalah refleksi akurat dari pendapatnya. Dalam sepuluh detik, lebih dari setengah kelas mulai menjauh dari Kouenji. Keberadaannya benar-benar mendominasi atmosfer ruang kelas. Melihat ke samping, aku melihat tatapan Horikita telah menurun, dan dia sepertinya sedang membaca salah satu bukunya. Oh sial. Aku lupa kalau percakapan bolak-balik adalah salah satu dasar untuk mempertahankan interaksi. Aku telah menghancurkan salah satu kesempatanku untuk berteman dengan Horikita. Aku sedikit mencondongkan badanku, lalu aku melirik judul bukunya: Crime and Punishment. Itu sangat menarik. Sebuah cerita yang memperdebatkan apakah membunuh seseorang itu diperbolehkan, selama itu dilakukan demi keadilan.
Sangat menyedihkan. Selera Horikita dalam memilih buku memang tercermin dalam kepribadiannya. Bagaimanapun, kami telah memperkenalkan diri, jadi mungkin kami setidaknya bisa menjadi tetangga. Setelah beberapa menit, bel pertama berbunyi. Di saat itu juga, seorang wanita memasuki kelas. Ketika aku pertama kali melihatnya, kesan awalku adalah bahwa dia sangat percaya pada kedisiplinan. Jika aku harus menebak, aku akan memperkirakan usianya sekitar tiga puluh tahun. Dia mengenakan setelan jas dan memiliki penampilan yang anggun. Rambutnya tampak panjang, dan dia mengikatnya menjadi ekor kuda.
“Ehem. Selamat pagi semuanya. Aku adalah wali kelas untuk Kelas D. Namaku Chabashira Sae. Aku mengajar sejarah Jepang. Di sekolah ini, kami tidak melakukan rotasi ruang kelas. Jadi, selama tiga tahun ke depan, aku akan bertindak sebagai wali kelas kalian, jadi aku berharap untuk mengenal kalian semua lebih jauh lagi. Senang berkenalan dengan kalian. Upacara penerimaan akan digelar di gedung olahraga satu jam dari sekarang, tapi pertama-tama, aku akan membagikan materi tertulis yang berisi informasi tentang peraturan khusus sekolah ini. Aku juga akan membagikan panduan penerimaan siswa baru."
Para siswa di kursi depan menerima beberapa lembar kertas, mengambil satu lembar, dan mengoper sisanya ke belakang.
Sekolah ini berbeda dari kebanyakan SMA Jepang lainnya dalam beberapa hal. Di sini, semua siswa diharuskan tinggal di asrama yang berlokasi di lingkungan sekolah. Siswa juga dilarang menghubungi siapa pun di luar sekolah. Bahkan kontak dengan keluarga dekat tidak akan diperbolehkan tanpa adanya izin dari sekolah. Dan juga, meninggalkan halaman sekolah tanpa izin juga sangat dilarang.
Untuk mengatasi hal itu, sekolah telah menyediakan berbagai fasilitas unggulan. Terdapat tempat karaoke, bioskop, kafe, butik, dan banyak lagi, kau bisa menyebut sekolah ini sebagai sebuah kota kecil. Sekolah ini memiliki luas lebih dari 600.000 meter persegi.
Sekolah ini juga membanggakan fitur unik lainnya: Sistem S-Poin.
“Sekarang aku akan membagikan kartu identitas pelajar kalian. Dengan menggunakan kartu ini, kalian bisa mengakses salah satu fasilitas di kampus, membeli barang dari toko, dan sebagainya. Cara kerjanya seperti kartu kredit. Namun, kalian harus memperhatikan jumlah poin yang kalian belanjakan. Di sekolah ini, kalian dapat menggunakan poin kalian untuk membeli apa pun. Apa pun yang terletak di lingkungan sekolah tersedia untuk dibeli."
Poin kami, yang dimasukkan ke kartu ID pelajar kami, berfungsi sebagai semacam mata uang. Jadi, di sekolah ini, uang kertas tidak akan bisa dipakai. Namun, para siswa perlu memperhatikan pengeluaran mereka. Bagaimanapun, sekolah memberikan poin-poin ini secara gratis.
“Kartu pelajar kalian dapat digunakan hanya dengan menggeseknya melalui pemindai mesin. Caranya sederhana, jadi kalian tidak perlu bingung. Poin secara otomatis akan tersimpan ke akun kalian pada hari pertama setiap bulan. Kalian semua seharusnya sudah menerima 100.000 poin. Mengingat satu poin itu bernilai satu yen. Aku rasa itu saja penjelasan untuk saat ini."
Ruang kelas menjadi heboh.
Dengan kata lain, kami telah menerima tunjangan bulanan sebesar 100.000 yen dari sekolah saat pertama kali masuk. Seperti yang diharapkan dari sekolah yang dijalankan langsung oleh pemerintah Jepang. 100.000 yen adalah jumlah yang cukup besar untuk siswa SMA.
“Terkejut dengan jumlah poin yang telah kalian terima? Sekolah ini mengevaluasi bakat siswanya. Semua orang di sini telah melewati tahap seleksi yang ketat, yang artinya potensi kalian telah diakui oleh sekolah. Jumlah poin yang kalian terima mencerminkan evaluasi nilai kalian. Menggunakan poin tersebut adalah kebebasan kalian. Namun, setelah lulus, semua poin kalian akan dikembalikan ke sekolah. Karena tidak mungkin menukar poin kalian dengan uang tunai, dan tidak ada untungannya jika kalian menyimpannya. Setelah poin disetorkan ke akun kalian, terserah kalian bagaimana membelanjakannya. Lakukan sesuka kalian. Kalian juga dapat mentransfer poin kalian kepada orang lain. Namun, memeras uang dari teman kalian tidak diperbolehkan. Sekolah ini memantau penindasan dengan sangat ketat."
Saat kehebohan menyebar di antara para siswa, Chabashira-sensei melihat ke sekeliling ruang kelas.
“Yah, sepertinya tidak ada yang punya pertanyaan. Aku harap kalian menikmati waktu kalian di sekolah ini."
Banyak teman sekelasku tidak bisa menyembunyikan keterkejutan mereka saat melihat besarnya jumlah poin.
“Sekolah ini sepertinya tidak seketat yang aku kira,” gumamku.
Aku sedang berbicara sendiri, tetapi Horikita melihat ke arahku. Dia pasti mengira aku sedang berbicara dengannya.
“Sekolah ini terlalu baik, bukan?”
Terlepas dari semua batasan, seperti dipaksa untuk tinggal di asrama, dilarang meninggalkan sekolah, dan dilarang menghubungi siapa pun di luar sekolah, sepertinya tidak ada seorang pun di sini yang memilikinya keluhan. Bahkan, kau mungkin berpendapat bahwa kami telah diberi perlakuan istimewa sehingga kami seperti dibawa ke surga. SMA Koudo Ikusei memiliki statistik yang mengesankan, yaitu lulusannya 100 persen akan diterima di Universitas ternama dan terjamin mendapat pekerjaan saat memasuki dunia kerja.
Sekolah yang disponsori pemerintah ini diharapkan dapat melahirkan lebih banyak lulusan-lulusan hebat demi masa depan yang lebih baik. Faktanya, sekolah gencar mengiklankan visi dan misi mereka. Banyak alumninya yang mencapai kesuksesan. Bagaimanapun, sebagus apapun sebuah sekolah, bidang spesialisasinya biasanya terbatas. Misalnya, satu sekolah mungkin mengkhususkan keahlian pada olahraga atau musik. Ada sekolah yang hanya memfokuskan keahlian di bidang komputer. Namun, di sekolah ini, setiap siswa dapat mengembangkan bakatnya secara bebas, apapun bidang keahlian yang mereka kuasai.
Hanya sekolah ini yang memiliki nilai dan sistem semacam itu. Aku berasumsi bahwa suasananya akan sedikit menegangkan, tetapi mayoritas siswa di sini terlihat tenang.
Tidak, bukan begitu. Bagaimanapun, kami telah berhasil lulus saat ujian masuk. Jika kami bisa mencapai hari kelulusan dengan lancar, tanpa insiden, maka kami akan mencapai tujuan kami ... Apakah hal seperti itu benar-benar mungkin?
“Ini adalah perlakuan istimewa yang terlalu berlebihan. Ini menakutkan."
Saat Horikita berbicara seperti itu, aku menyadari bahwa aku merasakan hal yang sama. Kami hampir tidak tahu apapun tentang sekolah ini. Seolah-olah ada misteri yang menyelimuti sekolah ini. Sebuah sekolah yang dapat mewujudkan apa pun keinginanmu, aku pikir akan ada beberapa risiko.
“Hei, hei! Apakah kalian ingin melihat-lihat toko denganku saat pulang nanti? Ayo berbelanja!” seorang gadis berbicara.
"Tentu. Dengan uang sebanyak ini, kita bisa beli apa saja. Aku sangat senang bisa masuk ke sekolah ini!" kata yang lain.
Begitu guru meninggalkan ruangan, murid-murid di kelas mulai gelisah.
“Semuanya, bisakah kalian mendengarkanku sebentar?”
Seorang siswa laki-laki dengan cepat berbicara dan mengangkat tangan. Rambutnya tidak diwarnai. Dia tampak seperti siswa berprestasi. Berdasarkan penampilannya, aku mendapat kesan kalau dia bukan anak nakal.
“Mulai hari ini, kita semua akan menjadi teman sekelas. Oleh karena itu, aku pikir akan lebih baik untuk memperkenalkan diri kita masing-masing. Kita masih punya waktu sampai upacara penerimaan. Bagaimana menurut kalian?"
Dia baru saja melakukan sesuatu yang luar biasa. Mayoritas siswa di kelas hanya terdiam, tidak dapat berbicara.
"Sepakat! Bagaimanapun, kita masih belum tahu apa-apa tentang satu sama lain, bahkan aku belum tahu nama orang-orang di sini,” teriak seseorang.
Setelah seseorang mengatakan itu, siswa yang sebelumnya ragu-ragu mulai mendukung ide tersebut.
“Namaku Hirata Yousuke. Waktu SMP, banyak orang memanggilku Yousuke. Jadi jangan ragu untuk memanggilku dengan nama depanku! Hobiku adalah bermain sepak bola. Aku juga berencana bermain sepak bola di sekolah ini. Salam kenal!"
Hirata dengan mudah memperkenalkan dirinya. Dia sangat berani. Dan dia juga berbicara tentang kecintaannya pada sepak bola! Level popularitasnya pasti meningkat dua.., tidak, mungkin empat kali lipat. Gadis yang duduk di samping Hirata, sepertinya tertarik dengannya, aku bisa melihat itu dari tatapan matanya. Jika seseorang seperti Hirata menjadi kunci utama kelas kami, aku bertanya-tanya apakah dia akan membuat semua orang termotivasi sampai lulus.
Seseorang seperti dia mungkin akan berkencan dengan gadis paling imut di kelas. Itulah yang biasanya terjadi.
“Baiklah, aku ingin semua orang memperkenalkan diri, mulai dari depan. Itu tidak apa apa, kan?"
Meskipun gadis di kursi depan terlihat sedikit bingung, dia dengan cepat mengambil keputusan dan berdiri. Atau lebih tepatnya, dia telah ditekan oleh kata-kata Hirata.
“Na-namaku… Inogashira Ko-Ko…” Gadis itu, nama belakangnya Inogashira, dia membeku selama beberapa saat. Apakah pikirannya kosong, atau apakah dia tidak mempertimbangkan apa yang akan dia katakan? Saat kata-katanya terhenti, wajahnya memucat. Jarang sekali melihat seseorang menjadi sangat gugup.
"Lakukan yang terbaik!"
“Jangan panik! Tidak masalah!"
Kata-kata dukungan mengalir dari teman sekelas kami. Tapi tampaknya malah berefek buruk pada gadis itu; kata-katanya tersangkut di tenggorokannya. Keheningan itu berlanjut selama lima detik. Sepuluh detik. Beberapa gadis mulai tertawa kecil. Inogashira menjadi ketakutan. Dia tidak bisa menggerakkan satu otot pun. Gadis lain pun angkat bicara.
“Tidak apa-apa, lakukan dengan perlahan. Jangan terburu-buru. "
Meskipun niatnya baik, mengatakan, "Lakukan yang terbaik!" dan, "Tidak apa-apa!" itu dapat memiliki arti yang sangat berbeda. Untuk seseorang yang sangat gugup, kata-kata itu justru terlihat memaksa, seolah-olah menunjukkan bahwa dia harus akrab dengan teman sekelasnya. Di sisi lain, berkata, "Lakukan saja perlahan. Jangan terburu-buru," itu berarti terserah dia untuk memulai kapan saja, sampai dia benar-benar siap.
Kemudian, gadis itu mencoba memulihkan ketenangannya. Ia mengambil beberapa nafas kecil dan mencoba lagi.
“Namaku Inogashira… Kokoro. Um, hobiku adalah menjahit. Aku cukup pandai merajut. S-Salam kenal."
Dia akhirnya bisa menyelesaikannya. Terlihat lega, senang, dan malu, Inogashira kemudian duduk. Kemudian berlanjut ke perkenalan yang lain.
“Aku Yamauchi Haruki. Aku pernah mengikuti kompetisi tenis meja saat masih SD, dan di SMP, aku adalah pemain ace di tim bisbol kami. Aku bernomor punggung empat. Aku pernah cedera selama kejuaraan inter-high school, dan harus menjalani rehabilitasi. Salam kenal."
Aku pikir nomor seragam bisbolnya bukan informasi yang penting…
Selain itu, aku pikir kejuaraan inter-high school adalah kompetisi olahraga nasional untuk siswa SMA. Seharusnya siswa SMP tak bisa berpartisipasi karena tidak memenuhi syarat.
Apakah dia mencoba membuat lelucon? Dia tampak seperti orang yang banyak bicara dan mudah terpengaruh.
“Baiklah, selanjutnya aku, kan?”
Gadis ceria yang berdiri itu adalah gadis yang sebelumnya memberi saran kepada Inogashira. Dia juga gadis yang sebelumnya membantu wanita tua di bus pagi ini.
“Namaku Kushida Kikyou. Tidak ada temanku dari SMP yang mendaftar ke sekolah ini, jadi aku sendirian di sini. Aku ingin lebih mengenal kalian setelah ini, agar aku bisa mengingat nama dan wajah kalian lalu menjadi teman kalian secepat mungkin!"
Walaupun sebagian besar siswa hanya mengucapkan beberapa patah kata, namun Kushida terus berbicara.
“Tujuan pertamaku adalah berteman dengan semua orang. Jadi, setelah kita selesai berkenalan, aku ingin bertukar kontak dengan kalian!"
Dia tidak mengatakan semua itu tanpa alasan. Aku bisa langsung tahu bahwa gadis ini adalah tipe yang selalu membuka hatinya kepada siapa pun.
Kata-katanya kepada Inogashira bukanlah kata-kata kosong, tapi sebuah refleksi nyata dari perasaannya.
“Lalu, aku ingin membuat banyak kenangan dengan semua orang. Karena itu, kalian boleh mengundangku saat liburan atau sekedar jalan-jalan sepulang sekolah, dan acara-acara lainnya! Ngomong-ngomong, aku sudah berbicara lama sekali, jadi mungkin itu saja perkenalan dariku."
Setelah dia selesai memperkenalkan diri, entah kenapa aku merasa aneh, apakah ini karena aku selalu mengkritik setiap orang. Aku merasa tidak nyaman, dan aku tidak tahu alasannya.
Apa yang harus aku katakan saat giliranku tiba? Haruskah aku membuat lelucon? Haruskah aku membuat semua orang tertawa? Tidak, itu tidak akan berhasil. Hal itu hanya akan merusak suasana. Dan juga, itu sama sekali tidak cocok dengan kepribadianku.
Perkenalan diri masih berlanjut, dan aku masih merasakan kecemasan.
“Baiklah, selanjutnya adalah…”
Saat Hirata melihat dengan antusias ke arah siswa berikutnya, siswa itu membalas tatapannya dan melotot. Rambutnya diwarnai dengan warna merah menyala. Dia terlihat seperti seorang berandalan.
“Hah! Memangnya kita ini sekumpulan anak kecil? Aku tidak perlu memperkenalkan diri. Bagi yang ingin melakukannya lanjutkan saja. Tidak usah melibatkanku."
Siswa berambut merah itu memberikan tatapan tajam kepada Hirata. Dia memiliki aura yang intens dan kuat.
“Aku tidak bisa memaksamu untuk memperkenalkan diri, tentu saja. Namun, aku pikir bergaul dengan teman sekelasmu bukanlah hal yang buruk. Jika aku membuatmu tidak nyaman, aku minta maaf."
Saat Hirata menundukkan kepalanya, beberapa gadis memelototi siswa berambut merah itu.
“Bukankah tidak apa-apa untuk memperkenalkan diri?” salah satu gadis membentak.
“Ya, ya! Itu benar.”
Seperti yang aku duga, bintang sepak bola itu telah mengambil sebagian besar hati perempuan dalam sekejap mata. Namun, setengah dari siswa laki-laki mulai terlihat marah, mungkin karena cemburu.
“Diamlah! Aku tidak peduli. Aku datang ke sini bukan untuk mencari teman." Siswa berambut merah itu bangkit dari kursinya. Sepertinya dia tidak berniat untuk mengenal siapapun. Beberapa siswa lainnya mengikuti dan meninggalkan ruang kelas. Horikita bangkit dari tempat duduknya dan melihat sekilas ke arahku. Saat dia menyadari aku tidak bergerak, dia mulai berjalan keluar pintu. Hirata tampak agak kecewa ketika dia melihat Horikita dan yang lain keluar dari kelas.
“Mereka tidak bermaksud jahat. Ini adalah kesalahanku. Aku menjadi egois dan terlalu memaksa."
"Tidak mungkin. Kamu tidak melakukan kesalahan apa pun, Hirata-kun. Jangan terlalu memikirkan mereka, oke?”
Meskipun beberapa orang tidak setuju dengan gagasan perkenalan ini, namun, masih ada beberapa siswa yang tetap bertahan di kelas dan melanjutkan perkenalan diri. Pada akhirnya, semuanya masih berjalan lancar.
"Namaku Ike Kanji. Aku menyukai para gadis, dan aku benci laki-laki tampan. Aku saat ini berusaha untuk mendapatkan pacar baru. Lebih baik lagi jika itu seorang gadis yang imut atau cantik! Salam kenal!"
Sulit untuk mengatakan apakah dia bercanda atau tidak. Setidaknya, para gadis memandangnya dengan jijik.
"Wow. Kamu sangat keren, Ike-kun,” kata seorang gadis, dengan suara yang tegas. Tentu saja, pernyataannya 1000 persen salah.
“Serius? Sungguh? Yah. Maksudku, aku pikir itu tidak terlalu buruk atau apa, tapi… heh heh.”
Rupanya, Ike mengira dia serius. Dia tersipu. Seketika, gadis-gadis itu mulai tertawa.
"Oh wow. Bukankah dia manis, ya, teman-teman? Dia sedang mencari pacar!"
Sadarlah, mereka sedang mengolok-olokmu. Ike menanggapi godaan itu dengan riang. Dia sepertinya tidak punya maksud buruk.
Selanjutnya adalah pemuda yang agresif dari bus, Kouenji. Saat memeriksa poninya melalui cermin yang ia pegang, dia menyisir rambutnya.
“Maaf, bisakah kamu memperkenalkan diri?” Hirata bertanya.
“Hmph. Baik."
Dia menyeringai seperti bangsawan, menunjukkan sikap kurang ajar. Saat dia bergeser di kursinya, kupikir dia akan pergi, tapi Kouenji menempatkan kedua kakinya di atas mejanya dan memperkenalkan dirinya.
“Namaku Kouenji Rokusuke. Sebagai satu-satunya pewaris laki-laki perusahaan Kouenji, aku akan segera ditugaskan untuk membawa Jepang ke masa depan. Aku dengan tulus berharap dapat berkenalan dengan kalian, ladies."
Dia mengarahkan perkenalannya hanya pada lawan jenis, daripada seluruh kelas. Setelah mendengar bahwa dia kaya, beberapa gadis menatapnya dengan mata berbinar, sementara yang lain menganggap Kouenji seolah-olah dia bukan siapa-siapa, tak lebih dari orang aneh. Itu wajar saja.
“Mulai hari ini, aku akan menghukum siapa pun yang membuatku tidak nyaman. Harap lakukan tindakan pencegahan yang tepat agar kalian dapat menghindari hal itu."
“Um, Kouenji-kun. Apa sebenarnya yang kamu maksud saat mengatakan, 'siapa pun yang membuatku tidak nyaman'?” tanya Hirata, yang terlihat gelisah pada kata "menghukum".
“Aku bersungguh-sungguh dengan apa yang aku katakan. Kalau diminta memberi contoh ya… aku akan mengatakan kalau aku benci hal-hal yang buruk rupa, misalnya. Jadi, jika aku melihat sesuatu yang jelek, aku akan bertindak seperti yang aku katakan tadi."
Fwish! Dia mengibaskan poninya yang panjang dan tergerai.
"Terima kasih. Aku akan berhati-hati kalau begitu."
Ada laki-laki berambut merah, Horikita, Kouenji, Yamauchi, dan Ike. Rupanya, kelas ini penuh dengan orang-orang dengan keunikan yang aneh.
Aku, mungkin juga salah satu dari orang seperti mereka, namun 'aneh' bukan kata yang tepat untuk menggambarkan diriku. Aku ingin bebas, seperti seekor burung, karena sebelumnya, aku hanya terkurung di sebuah kandang. Aku ingin terbang ke langit biru yang luas. Jika kau melihat keluar jendela, kau bisa melihat burung-burung dengan anggun terbang ke sana ke mari ... Yah, tidak sekarang, kurasa. Bagaimanapun, aku dulu memang orang yang seperti itu.
“Baiklah, sekarang orang berikutnya. Bisakah kamu memperkenalkan dirimu?"
"Hah?"
Oh sial. Giliranku telah tiba saat aku sedang melamun. Semua orang berbalik menghadapku, menunggu perkenalan diriku. Oi, oi! Jangan menatapku seperti itu. Oh baiklah, sebaiknya aku mencoba yang terbaik.
Ngiik! Kursi itu berdecit saat aku berdiri.
“Um. Namaku Ayanokouji Kiyotaka. Dan, eh, aku tidak begitu memiliki keahlian khusus atau apapun. Aku akan melakukan yang terbaik untuk bergaul dengan kalian semua. Salam kenal." Baiklah. Bagaimana perkenalan diriku?
Aku gagal!
Aku secara refleks membenamkan kepalaku di tanganku. Aku tidak punya waktu untuk membuat kata pengantar yang tepat karena aku terlalu sibuk melamun. Mungkin itu adalah perkenalan diri yang paling buruk. Itu sama sekali tidak menarik, dan tidak akan ada yang mengingatnya.
“Senang bertemu denganmu, Ayanokouji-kun. Aku selalu ingin berteman dengan semua orang, sama sepertimu. Mari kita berdua lakukan yang terbaik, oke?” Hirata menanggapi dengan senyum yang hangat.
Semua orang bertepuk tangan. Tepuk tangan mereka terasa seperti mengasihaniku, anehnya itu justru menyakitiku. Meski begitu, aku merasa senang.
~ Bersambung ~
Komentar
Posting Komentar