Sudou dan aku cukup dekat jadi mungkin saja dia mau menerima ajakanku, tapi aku tidak yakin dengan yang lain. Yah, karena tidak ada ruginya, aku memutuskan untuk mencoba.
"Hei, Sudou. Bisa bicara sebentar?" Aku menghampirinya saat dia kembali ke kelas setelah makan siang. Dia berkeringat dan nafasnya agak cepat. Mungkin dia habis bermain basket selama istirahat makan siang.
"Apa yang akan kau lakukan untuk menghadapi UTS?"
"Oh itu. Aku tidak tahu. Aku tidak pernah benar-benar belajar dengan serius sebelumnya," kata dia.
"Oh ya? Yah, aku sebenarnya punya rencana. Aku ingin membentuk kelompok belajar, pertemuannya akan dilakukan setiap hari sepulang sekolah, mulai hari ini. Ingin bergabung?"
Sudou menatapku, mulutnya sedikit ternganga.
"Kau serius? Jika belajar di sekolah saja sudah menyebalkan, kenapa kau pikir kalau belajar sepulang sekolah itu lebih baik? Selain itu, aku ikut kegiatan klub, jadi tidak ada gunanya. Terlebih lagi, Apa kau yang akan menjadi pengajarnya? Setahuku nilaimu juga tidak bagus."
"Jangan khawatir tentang bagian itu. Yang menjadi pengajarnya adalah Horikita."
"Horikita? Aku tidak tahu apa-apa tentang dia. Kedengarannya mencurigakan; aku tidak akan bergabung. Aku akan baik-baik saja, aku akan belajar kebut semalam sebelum ujian."
Sudou menolak untuk bergabung, seperti yang kuduga. Walaupun aku bersikeras, dia tidak akan mendengarkanku. Sial, apa ini benar-benar tidak berguna? Jika aku mencoba menekannya lebih jauh, dia mungkin akan memukulku. Tidak ada yang bisa kulakukan. Mungkin sebaiknya aku mulai dengan seseorang yang lebih mudah diatur. Aku menghampiri Ike, yang sedang memainkan ponselnya.
"Hei, Ike, b—"
"Tidak! Aku mendengarmu berbicara dengan Sudou. Kelompok belajar? Tidak mungkin. Hal seperti itu tidak cocok denganku."
"Kau tahu, kau akan dikeluarkan dari sekolah jika gagal, kan?"
"Yah begitulah. Aku memang pernah mendapat nilai rendah sebelumnya, tapi sekarang aku sudah berusaha lebih baik. Aku juga akan belajar kebut semalam dengan Sudou."
Apa dia akan baik-baik saja? Dia sepertinya tidak memahami seberapa bahayanya situasi ini.
"Jika ujian singkat kemarin tidak diadakan secara tiba-tiba, aku mungkin bisa mendapatkan nilai sekitar 40 poin."
"Aku tahu maksudmu, tapi bukankah lebih baik belajar bersama-sama?" aku bertanya.
"Waktu luang seorang siswa SMA itu sangat berharga, kau tahu? Aku tidak mau menyia-nyiakannya dengan belajar sepanjang waktu."
Dia melambai padaku, dia benar-benar fokus pada ponselnya, seolah-olah sedang berkirim pesan dengan seorang gadis. Sejak Hirata berhasil mendapatkan pacar, Ike sangat ingin mencari seorang gadis miliknya sendiri. Bahuku merosot saat aku kembali ke tempat dudukku. Mungkin jika aku memberitahu Horikita, aku sudah mencoba yang terbaik, dia mungkin akan memaafkanku.
"Ini tidak bagus," kata Horikita.
"Eh, apa maksudmu?" aku bertanya.
"Aku bilang 'ini tidak bagus'. Kamu tidak berpikir kalau ini akan berjalan sesederhana itu, kan?"
Sial. Dia benar-benar mengabaikan perkataanku. Memalukan.
"Tidak, tentu saja tidak. Aku masih punya 425 rencana lagi," gerutuku.
Aku melihat sekeliling ruang kelas. Suasana kelas yang biasanya tegang, kini terasa nyaman saat istirahat makan siang, meskipun lebih berisik.
Aku membutuhkan metode untuk membuat siswa yang malas belajar agar menjadi rajin belajar. Selain itu, aku membutuhkan cara agar mereka bisa belajar selama waktu luang, bukan hanya di kelas. Biasanya aku tidak akan melibatkan diriku, tetapi saat ini mereka terancam diusir dari sekolah.
Aku yakin Sudou akan bergabung jika diberi kesempatan. Sekarang aku tidak punya pilihan selain mencari semacam dorongan. Aku ingin dia berpikir bahwa akan ada bonus menarik yang didapat jika dia mau belajar. Aku membutuhkan sesuatu yang nyata dan mudah untuk dimengerti. Sesuatu yang efektif.
Dan kemudian aku tersadar!
Diberkati oleh wahyu ilahi, aku menatap ke arah Horikita sambil melotot.
"Meskipun kau adalah pengajarnya, membuat Sudou dan Ike agar rajin belajar bukanlah hal yang mudah. Aku membutuhkan kemampuanmu yang lain. Bisakah kau membantuku?" aku bertanya.
"'Kemampuanku yang lain'? Apa sebenarnya yang harus aku lakukan?"
"Bagaimana dengan ini? Jika mereka mendapat nilai sempurna, kau setuju untuk menjadi pacar mereka. Mereka pasti akan memanfaatkan kesempatan itu jika kita memberikan dorongan semacam itu. Perempuan adalah motivasi yang bagus untuk laki-laki."
"Kamu mau mati?" dia bertanya.
"Tidak, aku masih ingin hidup."
"Aku dari tadi mendengarkan karena aku pikir kamu punya rencana yang serius. Aku bodoh karena berpikir begitu."
Tidak, aku benar-benar yakin itu akan efektif. Ini akan menjadi pendorong terbesar untuk belajar yang pernah mereka dapatkan seumur hidup mereka. Namun, Horikita jelas sama sekali tidak mengerti tentang laki-laki.
"Oke, bagaimana dengan ciuman? Jika mereka mendapat nilai sempurna, kau akan memberi mereka ciuman."
"Jadi, kamu benar-benar ingin mati?"
"Tidak, aku masih ingin hidup lebih lama."
Sesuatu yang tajam menusuk bagian belakang leherku. Sial. Horikita sama sekali tidak mengakui metodeku. Padahal itu akan sangat efektif. Nah, itu artinya aku harus memikirkannya dari awal. Saat aku mempertimbangkan ini, aku melihat seseorang yang cukup mencolok. Itu bukanlah Hirata, tapi orang lain yang mungkin dengan mudah mengumpulkan orang-orang di sekitarnya: Kushida Kikyou.
Dia tampak hebat, tentu saja, terlebih lagi dia cerdas dan ceria. Dia begitu ramah dengan siapa pun, sehingga baik itu laki-laki maupun perempuan, dapat dengan mudah mengobrol dengannya. Dan juga, Ike sangat mencintai Kushida, sementara Sudou dan yang lainnya setidaknya memiliki kesan yang baik tentang dia. Selain itu, nilai ujiannya juga relatif tinggi. Dia benar-benar sempurna.
"Hei!"
Saat aku memanggilnya, aku teringat kalau Horikita tidak ingin berteman dengan Kushida. Akupun mengurungkan niatku.
"Ada apa?" Kushida bertanya.
"Oh, eng… bukan apa-apa."
Horikita pada dasarnya tidak suka bergaul dengan orang lain. Ketika Kushida dan aku mencoba menjalankan Operasi Persahabatan, itu membuat Horikita geram. Horikita mungkin tidak akan menyetujui keterlibatan Kushida. Aku akan menunda rencanaku sampai Horikita kembali ke asrama.
~ Bersambung ~
Komentar
Posting Komentar