Horikita cemberut sepanjang pagi. Akan lebih baik seandainya dia menggemaskan saat marah. Jika dia menggembungkan pipinya yang memerah, dia akan terlihat cukup lucu dan membuat pria mana pun pingsan. Namun, dia tetap diam tanpa ekspresi, seperti menolak keberadaanku. Jika aku mengabaikannya, dia mungkin akan mengeluarkan jarum jangkanya. Setelah hari yang panjang, kelas akhirnya berakhir.
"Apa kamu sudah mengumpulkan semua orang untuk kelompok belajar?"
Kata-kata pertamanya kepadaku adalah tentang 'kelompok belajar'. Dia seperti menyiratkan sesuatu.
"Kushida yang mengumpulkan mereka. Aku ingin tahu apa dia akan bergabung," jawabku.
"Kushida-san, ya? Aku pikir aku sudah menyatakan bahwa dia tidak diizinkan ikut…"
Setelah puas dengan jawabanku, Horikita pergi ke perpustakaan, dan aku mengikutinya. Kushida memberiku kedipan mata saat aku pergi meninggalkan kelas. Bersama-sama, Horikita dan aku mengamankan meja panjang di ujung ruang perpustakaan dan menunggu yang lain.
"Aku sudah membawa semuanya!"
Kushida datang ke tempat kami duduk. Di belakangnya adalah…
"Kushida-chan memberi tahu kami tentang kelompok belajar ini. Aku tidak ingin dikeluarkan dari sekolah setelah baru saja masuk ke sini. Terima kasih!"
Ike, Yamauchi, dan Sudou semuanya datang. Rupanya, mereka juga membawa seorang pengunjung tak terduga, seorang anak laki-laki bernama Okitani.
"Hah? Okitani, apa nilaimu juga rendah?" aku bertanya.
"Oh, t-tidak. Tidak juga. Aku hampir gagal di ujian sebelumnya, jadi aku sedikit khawatir… Apakah aku, eng, tidak bisa bergabung denganmu? Agak sulit untuk bergabung dengan kelompok Hirata ... " Okitani menatapku, pipinya sedikit memerah. Dia memiliki tubuh yang ramping, dengan rambut biru dipotong pendek. Laki-laki yang feminin mungkin akan langsung berteriak "Aku jatuh cinta!". Jika Okitani bukan laki-laki, ini akan berbahaya.
"Bolehkah Okitani-kun bergabung dengan kita juga?" Kushida bertanya pada Horikita. Lagipula, Okitani mendapat nilai 39 di ujian singkat. Dia sepertinya ingin bergabung hanya agar aman.
"Selama kamu khawatir akan gagal, aku tidak keberatan. Tapi kamu harus serius," kata Horikita.
"Oh baiklah."
Okitani pun duduk, dia tampak bahagia. Kushida mencoba duduk di sampingnya. Horikita memperhatikan mereka.
"Kushida-san, apakah Ayanokouji-kun tidak memberitahumu? Kamu-"
"Aku juga khawatir mendapat nilai rendah," kata Kushida.
"Kamu ... tidak mendapat nilai rendah di ujian singkat sebelumnya."
"Ya, tapi sejujurnya, aku beruntung. Ada banyak soal pilihan ganda, bukan? Aku hanya menebak-nebak jawaban dari soal-soal itu, sekitar setengahnya. Sebenarnya, aku nyaris tidak lulus."
Kushida tertawa kecil, dan dengan pelan menggaruk pipinya.
"Aku pikir aku berada di level yang sama dengan Okitani-kun. Jadi aku ingin bergabung dengan kelompok belajar supaya tidak mendapatkan nilai yang rendah. Tidak masalah, kan?"
Aku tidak bisa menyembunyikan keterkejutanku pada rencana Kushida yang tak terduga. Setelah mengkonfirmasi bahwa Okitani dapat bergabung dengan kelompok belajar, dia pun memanfaatkan situasi itu untuk keunggulannya. Sekarang Horikita harus mengizinkannya untuk bergabung.
"Baik," kata Horikita sambil geram.
"Terima kasih." Kushida tersenyum, membungkuk, dan kemudian duduk di kursinya. Membawa Okitani mungkin telah menjadi bagian dari rencananya selama ini. Dia menggunakannya sebagai alasan pembenaran agar dia bisa bergabung dengan kelompok belajar.
"Nilai yang lebih rendah dari 32 berarti gagal. Apa kita juga akan gagal jika mendapatkan nilai tepat 32 poin?" Sudou bertanya.
"Tidak, kau akan aman jika mendapat setidaknya 32 poin. Sudou, kau bisa mengatur itu, kan?" kata Ike.
Bahkan Ike khawatir tentang Sudou. Tentu saja mereka juga ingin mengetahui nilai KKM.
"Itu tidak terlalu penting. Tujuanku adalah agar kalian semua mendapat setidaknya 50 poin," kata Horikita.
"Geh, bukankah itu akan terlalu sulit?"
"Hanya mengincar nilai KKM itu berbahaya. Fakta bahwa kalian bahkan kesulitan untuk mencapai nilai KKM itu sudah membuatku kerepotan."
Di hadapan argumen Horikita yang masuk akal, mereka hanya bisa mengangguk.
"Aku memasukkan sebagian besar materi yang kemungkinan keluar di UTS kedalam soal-soal yang kubuat ini. Kita hanya punya waktu sekitar 2 minggu lagi, dan aku berencana untuk membimbing kalian secara intensif. Jika kalian tidak paham, silakan bertanya."
"Hei, aku tidak mengerti dengan pertanyaan nomor 1 ini." Sudou memelototi Horikita. Aku juga mencoba membaca soal nomor 1.
"A, B, dan C memiliki uang yang jika ditotal berjumlah 2.150 yen. A memiliki 120 yen lebih banyak dari B. Setelah C memberi 2/5 uangnya kepada B, B memiliki 220 yen lebih banyak dari A. Berapa yen uang yang dimiliki A pada awalnya?"
Soal tentang persamaan linier, ya? Pertanyaan nomor 1 ini seharusnya bisa dengan mudah diselesaikan oleh seorang siswa SMA.
"Coba pikirkan lagi soal itu baik-baik. Jika kamu sudah menyerah di awal, kamu tidak akan berkembang."
"Dengar, aku sama sekali tidak tahu bagaimana caranya belajar," kata Sudou.
"Semua siswa yang masuk ke sekolah ini, seharusnya bisa menyelesaikannya."
Sekolah ini tidak menerima siswa hanya berdasarkan nilai ujian. Sudou kemungkinan besar diterima karena kemampuan fisiknya yang luar biasa. Jika kau melihatnya seperti itu, bukankah dia kemungkinan besar akan dikeluarkan karena nilai jelek?
"Ugh, aku juga tidak mengerti." Ike juga bingung dengan soal itu, dia menggaruk kepalanya.
"Apa kamu mengerti, Okitani-kun?" Horikita bertanya.
"Coba lihat… A + B + C = 2.150 yen. Jadi, A = B + 120. Lalu… " Okitani mulai menuliskan serangkaian persamaan. Kushida, duduk di sampingnya, melirik dari balik bahunya.
"Ya, ya, itu sepertinya benar. Lalu?"
Kushida sangat berani, atau bahkan lancang. Beberapa saat yang lalu, dia mengaku bahwa dirinya nyaris tidak lulus, dan sekarang dia dengan santai mengajari Okitani.
"Jujur saja, siswa SMP kelas 1 dan 2 bisa memecahkan soal ini dengan mudah. Jika kalian tersandung di sini, kalian tidak akan mungkin bisa lanjut ke soal berikutnya," kata Horikita.
"Jadi, maksudmu kami ini seperti anak SD?" Sudou menggeram.
"Seperti yang Horikita-san katakan, akan buruk jika kamu tersandung di sini. Soal matematika dalam ujian singkat sebelumnya tingkat kesulitannya hampir seperti ini, dan soal terakhir justru lebih sulit lagi. Aku tidak mengerti bagaimana menyelesaikannya," kata Okitani.
"Dengarkan. Ini dapat dengan mudah diselesaikan menggunakan sistem persamaan linier." Tanpa ragu, Horikita mengambil penanya dan mulai menjelaskan. Sayangnya, sepertinya hanya Kushida dan Okitani yang mengerti.
"Apa itu persamaan linier?" tanya Ike.
"Apakah kamu serius menanyakan itu padaku?" kata Horikita.
Wow, orang-orang ini sepertinya tidak pernah belajar sama sekali. Sudou melemparkan pensil mekaniknya ke atas meja.
"Cukup. Aku sudah muak. Ini tidak akan berhasil."
Sudou telah menyerah bahkan sebelum mencoba. Horikita diam-diam menahan kekesalannya setelah melihat situasi yang menyedihkan ini.
"T-tunggu, semuanya. Mari kita coba. Jika kalian mempelajari cara menyelesaikan soal ini, kalian dapat menerapkan apa yang kalian pelajari ke pertanyaan di UTS. Okay? Okay?" kata Kushida.
"Yah, kalau Kushida-chan bilang begitu, kurasa aku bisa mencobanya. Tapi kalau Kushida-chan yang mengajar, aku mungkin akan berusaha lebih keras."
"U-um ..." Kushida melirik ke arah Horikita, tapi Horikita tetap diam. Sepertinya dia bingung harus menjawab 'Ya' atau 'Tidak'. Namun, jika dia tetap diam lebih lama lagi, mereka mungkin akan meninggalkan kelompok belajar ini. Kushida membuat keputusan dan mengambil pensil mekanik.
"Seperti yang Horikita-san katakan, kalian bisa menyelesaikan soal ini dengan menggunakan sistem persamaan linier. Jadi mari kita coba menuliskannya."
Dengan cepat, dia menuliskan 3 persamaan. Sepertinya yang lain sudah mencoba yang terbaik, tapi masih tampak putus asa. Ini lebih seperti hukuman daripada kelompok belajar. Mereka tampaknya tidak memahami metodenya sedikit pun.
"Jadi, jawaban yang aku dapatkan adalah 710 yen. Bagaimana dengan kalian?"
Kushida, yakin dengan kemampuan Sudou, dia tersenyum padanya.
"Um, jadi kau menggunakan ini untuk mendapatkan jawabannya? Bagaimana caranya?" dia bertanya.
"Uh…" Kushida segera menyadari apa yang terjadi. Tidak ada satupun dari mereka yang mengerti.
"Maaf, kamu terlalu bodoh dan tidak kompeten," kata Horikita, yang dari tadi diam. "Jika kamu tidak bisa menyelesaikan soal ini, aku benar-benar tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi denganmu nanti."
"Diam! Ini tidak ada hubungannya denganmu!" Sudou membanting meja, dia jengkel dengan perkataan Horikita.
"Kamu benar. Ini tidak ada hubungannya denganku. Penderitaanmu tidak akan mempengaruhiku sama sekali. Aku hanya kasihan padamu. Kamu pasti telah menghabiskan seluruh hidupmu lari dari tantangan," katanya.
"Terserah kau mau bilang apa. Lagipula, belajar tidak akan berguna di masa depan."
"Belajar tidak akan berguna di masa depan? Itu argumen yang menarik. Bagaimana caramu membuktikan hal itu?"
"Aku tidak peduli jika aku tidak bisa menyelesaikan soal ini. Belajar tidak ada gunanya. Bertujuan menjadi pemain basket profesional akan lebih berguna bagiku."
"Salah. Setelah kamu belajar memecahkan soal semacam ini, seluruh hidupmu akan berubah. Dengan kata lain, belajar meningkatkan kemungkinanmu untuk memecahkan masalah yang kamu hadapi. Prinsipnya sama dengan basket. Aku penasaran, apa selama ini kamu bermain basket dengan menggunakan aturanmu sendiri? Ketika kamu menghadapi kesulitan dalam basket, apakah kamu juga melarikan diri seperti yang kamu lakukan ketika belajar? Aku ragu, sepertinya kamu tidak berlatih basket dengan serius. Kamu adalah pembuat onar, seseorang yang selalu menyebabkan gangguan. Jika aku adalah pelatihmu, aku tidak akan membiarkanmu masuk ke dalam tim."
"Cih!" Sudou mendekati Horikita dan mencengkeram kerahnya.
"Sudou-kun!" Kushida meraih lengan Sudou dengan cepat. Meski diintimidasi oleh Sudou, Horikita tidak bergeming. Dia hanya menatap Sudou dengan tatapan sedingin es.
"Kamu tidak menarik minatku sedikit pun, tapi aku tahu orang seperti apa dirimu ini hanya dengan melihatmu. Kamu ingin menjadi pemain basket profesional? Apakah kamu benar-benar yakin bisa membuat mimpi yang kekanak-kanakan seperti itu menjadi kenyataan di dunia ini? Orang bodoh sepertimu yang langsung menyerah, jangan pernah berharap menjadi pro. Selain itu, meskipun kamu berhasil menjadi pemain profesional, aku ragu kamu akan mendapatkan penghasilan tahunan yang cukup untuk hidupmu. Kamu bodoh karena memiliki cita-cita yang tidak masuk akal seperti itu."
"Kau..!"
Sudou hampir kehilangan kendali. Jika dia mengepalkan tinjunya, aku harus menjatuhkannya.
"Jadi, kamu akan langsung menyerah untuk belajar dan keluar dari sekolah? Kalau begitu buang impianmu bermain basket dan habiskan hari-harimu untuk bekerja keras di pekerjaan paruh waktu yang menyedihkan."
"Hmph. Tidak masalah. Aku akan berhenti, tapi bukan karena itu sulit. Aku mengambil izin dari kegiatan klubku untuk datang kesini, dan akhirnya ini hanya buang-buang waktu. Sampai nanti!" kata Sudou.
"Sungguh hal yang aneh untuk dikatakan. Belajar itu sulit." Horikita memberikan kata-kata terakhir itu pada Sudou. Jika Kushida tidak ada di sana, Sudou mungkin akan menampar Horikita. Dia memasukkan buku pelajarannya ke dalam tasnya, dia bahkan tidak berusaha menyembunyikan kejengkelannya.
"Hei, kau baik-baik saja?"
"Aku tidak peduli. Tidak ada gunanya peduli pada seseorang yang tidak memiliki motivasi apapun. Meskipun dia terancam diusir dari sekolah, tapi dia tidak memiliki keinginan untuk bertarung."
"Kupikir itu aneh untuk seseorang sepertimu, yang tidak memiliki teman, untuk menyatukan kelompok belajar ini. Kau mungkin hanya ingin menyebut kami bodoh. Jika kau bukan seorang gadis, aku pasti sudah memukulmu."
"Jadi, kamu tidak punya keberanian untuk memukulku? Jangan gunakan jenis kelaminku sebagai alasan," kata Horikita.
Kelompok belajar yang baru dibentuk sudah berantakan.
"Aku juga akan berhenti. Sebagian karena aku tidak bisa belajar, tapi kebanyakan karena aku kesal. Kau mungkin pintar, Horikita-san, tapi itu tidak berarti kau bisa bertindak seperti kau lebih baik dari kami." Ike, jelas muak, dia juga sudah putus asa.
"Aku tidak peduli jika kamu dikeluarkan dari sekolah. Lakukan sesukamu," kata Horikita.
"Yah, aku akan belajar semalaman."
"Menarik. Bukankah kamu datang ke sini karena kamu tidak bisa belajar?"
"Cih ..." Bahkan Ike yang biasanya santai menjadi kaku karena komentar kasar Horikita. Yamauchi juga mulai menyimpan buku pelajarannya. Akhirnya, Okitani yang mudah terpengaruh bangkit dari kursinya.
"A-Apakah ini benar-benar tidak apa-apa, teman-teman?" dia tergagap.
"Ayo pergi, Okitani."
Ike meninggalkan perpustakaan, diikuti oleh Okitani yang ragu-ragu. Sekarang hanya Kushida, Horikita, dan aku yang tetap bertahan. Tak lama lagi, bahkan Kushida mungkin akan mencapai batasnya dan pergi.
"Horikita-san, kita tidak akan bisa belajar dengan siapa pun jika terus seperti ini..." Kushida bergumam.
"Dari awal aku sudah salah. Bahkan jika kali ini aku membantu mereka menghindari nilai rendah, kita akan segera menghadapi dilema serupa setelahnya. Masalah ini akan terus terulang kembali. Dan pada akhirnya, mereka akan gagal. Aku akhirnya paham kalau ini semua tidak ada gunanya. Aku tidak punya waktu untuk ini."
"Tunggu, apa maksudmu?"
"Maksudku, lebih baik menyingkirkan beban yang tidak berarti."
Itulah kesimpulan terakhir Horikita. Jika siswa yang gagal itu dikeluarkan, maka nilai ujian rata-rata kelas akan naik, dan kami tidak harus mengeluarkan usaha ekstra.
"Jadi, itu… H-hei, Ayanokouji-kun. Bisakah kamu mengatakan sesuatu?" Kushida bergumam.
"Jika itu jawaban Horikita, bukankah tidak apa-apa?"
"Kamu juga berpikir begitu, Ayanokouji-kun?"
"Yah, sebenarnya aku juga ingin membantu mereka, tapi aku bukanlah pengajar. Tidak ada yang bisa aku lakukan tentang itu." Pada akhirnya, aku merasakan hal yang sama seperti Horikita.
"Baik. Aku mengerti." Kushida meraih tasnya dan berdiri, ekspresinya suram. "Aku akan melakukan sesuatu. Baiklah, aku akan mencobanya. Aku tidak mau segalanya berantakan begitu cepat."
"Kushida-san. Apakah kamu benar-benar merasa seperti itu?"
"Apakah itu salah? Aku tidak ingin meninggalkan Sudou-kun, Ike-kun, dan Yamauchi-kun."
"Meskipun itu yang benar-benar kamu rasakan, aku tidak terlalu peduli. Tetapi aku tidak berpikir bahwa kamu benar-benar ingin menyelamatkan mereka," kata Horikita.
"Apa? Aku tidak mengerti. Mengapa kamu mengatakan hal-hal seperti itu, Horikita- san? Mengapa kamu mencoba memusuhi semua orang? Itu… sangat menyedihkan."
Kushida menundukkan kepalanya sebentar, lalu kembali menatap kami. Mata kami saling bertemu.
"Baiklah kalau begitu. Sampai ketemu besok," bisiknya.
Setelah itu, Kushida pun pergi dari perpustakaan. Pada akhirnya, hanya tinggal kami berdua yang tersisa. Kami duduk dalam keheningan.
"Yah, itu menyakitkan. Kelompok belajar sudah berakhir," kataku.
"Sepertinya begitu."
Keheningan ini terasa semakin menyesakkan.
"Aku kira kamu adalah satu-satunya yang mengerti aku, Ayanokouji-kun. Setidaknya kamu sedikit lebih baik daripada orang-orang bodoh yang tidak berharga itu. Jika ada beberapa materi yang tidak kamu mengerti, aku bisa mengajarimu."
"Tidak perlu, terima kasih."
"Apakah kamu akan kembali ke asramamu?" dia bertanya.
"Aku akan mencari Sudou dan yang lainnya lalu mengobrol dengan mereka."
"Tidak ada yang bisa diperoleh dari bergaul dengan orang-orang yang kemungkinan besar akan segera dikeluarkan dari sekolah."
"Aku hanya ingin berbicara dengan teman-temanku. Apa kau bermasalah dengan itu?"
"Sangat egois. Kamu menyebut mereka temanmu, tapi yang bisa kamu lakukan hanya menunggu dan melihat mereka dikeluarkan dari sekolah. Dari sudut pandangku, kamu ini kejam."
Yah, aku tidak bisa menyangkal itu. Horikita tidak salah. Pada akhirnya, belajar hanyalah ujian dari motivasi diri seseorang.
"Aku tidak akan menyangkal apa yang kau katakan. Aku juga mengerti kenapa kau menyebut seseorang seperti Sudou itu bodoh. Tapi, Horikita, bukankah seharusnya kau mencoba memahami situasi Sudou? Jika dia hanya berharap menjadi seorang pemain basket profesional, lalu alasan mengapa dia memilih sekolah ini pada awalnya menjadi sedikit masuk akal. Tidakkah kau berpikir kau akan lebih memahaminya jika kau menghargai alasannya mendaftar di sini?"
"Aku tidak tertarik." Horikita tidak menganggap perkataanku dan kembali ke buku pelajarannya.
~ Bersambung ~
Komentar
Posting Komentar