“Ada lebih banyak orang di sini daripada yang aku harapkan.”
Setelah kelas berakhir, Horikita dan aku pergi ke gedung olahraga. Hampir semua siswa yang berkumpul di sini adalah siswa baru. Ada sekitar seratus orang yang sedang menunggu. Kami berdiri di dekat bagian belakang ruangan dan menunggu seminar dimulai. Sambil menunggu, kami membaca pamflet yang dibagikan saat memasuki gedung olahraga. Pamflet itu berisi informasi rinci tentang kegiatan klub.
“Aku ingin tahu apakah sekolah ini memiliki klub terkenal. Misalnya, seperti karate."
“Setiap klub tampaknya beroperasi pada level yang tinggi. Sepertinya banyak atlet dan anggota klub di sini yang terkenal di seluruh negeri."
Meskipun sekolah ini sepertinya bukan institusi tingkat atas untuk kegiatan seperti bisbol dan balet, klub-klub di sini jelas terlihat bagus.
“Fasilitas di sini jauh lebih lengkap daripada sekolah pada umumnya. Lihat, mereka bahkan punya kapsul O2. Peralatannya begitu mewah, mirip seperti perlengkapan profesional. Oh, tapi sepertinya mereka tidak memiliki klub karate."
"Begitu ya."
"Hmm? Apakah kau tertarik pada karate atau semacamnya?” Aku bertanya.
"Tidak, tidak terlalu."
“Sepertinya akan sulit bagi pendatang baru untuk masuk ke klub atletik,” Kataku. “Bahkan jika siswa tahun pertama berhasil masuk, mereka mungkin akan berada di bangku cadangan selamanya. Menurutku itu tidak akan menyenangkan."
Segala sesuatu di sekitar sini tampak terlalu ketat.
“Bukankah itu tergantung pada upaya mereka? Tentunya dengan pelatihan selama satu atau dua tahun, siapa pun bisa masuk ke tim utama."
Pelatihan, ya? Aku tidak berpikir aku akan mampu mengerahkan upaya sebesar itu, tidak peduli seberapa putus asanya diriku.
“Yah, Aku pikir konsep pelatihan tidak akan cocok untuk seseorang yang selalu menghindari masalah, sepertimu.”
"Kenapa kau menyangkut pautkan hal itu dengan diriku yang tidak menyukai masalah?" Aku bertanya.
“Bukankah seseorang yang menghindari masalah juga cenderung menghindari kegiatan yang merepotkan? Seperti pelatihan. Begitu kan pedoman hidupmu? Kamu harus memegang kata-katamu, itulah yang kupikirkan."
"Aku tidak terlalu memikirkannya sedalam itu."
“Jika kamu tidak bisa berkomitmen dan terus bersikap itu, kamu tidak akan pernah bisa berteman,” katanya.
"Kau melukai hatiku, Horikita."
“Terima kasih sudah menunggu, siswa tahun pertama. Kami sekarang akan memulai seminar klub. Perwakilan dari masing-masing klub akan menjelaskan kegiatannya. Nama saya Tachibana, sekretaris OSIS dan penyelenggara pekan raya klub. Senang bertemu kalian semua."
Usai Tachibana menyampaikan kata sambutan, perwakilan dari setiap klub dengan cepat berbaris di atas panggung. Itu adalah kerumunan yang cukup beragam. Semua perwakilan klub terlihat di sana, mulai dari atlet kekar berseragam judo hingga siswi yang mengenakan gaun kimono yang indah.
“Hei, jika kamu tertarik, mengapa tidak mencoba bergabung dengan klub bela diri? Klub judo terlihat bagus, bukan? Kakak senior itu terlihat baik hati, dan aku yakin dia akan menyemangatimu."
“Apa maksudmu 'baik hati' ?! Dia terlihat seperti gorila! Dia akan langsung membunuhku!" Aku membentak.
“Dia mungkin akan berbicara dengan penuh semangat tentang betapa mudahnya seni bela diri judo itu.”
"Hentikan itu!"
Huh.. ~. Kupikir kami akan melakukan percakapan yang normal, tapi dia terus saja menggodaku.
“Bahkan jika aku ingin bergabung, semua anggota klubnya terlihat sangat menakutkan. Aku pikir mereka tidak menerima seorang pemula."
“Para pemula seharusnya disambut dengan hangat. Semakin banyak anggota yang dimiliki klub, maka semakin banyak anggaran yang mereka terima dari sekolah. Begitulah cara mereka mendapatkan peralatan klub yang lebih baik."
"Sepertinya mereka memanfaatkan para pemula untuk mendapatkan uang ..."
“Ini strategi yang ideal, mengumpulkan banyak anggota baru supaya anggaran klub meningkat. Bagi pemula yang hanya setengah-setengah mengikuti kegiatan klub, pada akhirnya mereka cuma setor nama, seperti anggota bayangan. Jika kamu ahli dalam manipulasi, kamu pasti mengerti, begitulah."
“Sungguh tidak menyenangkan… Kau memiliki cara berpikir yang cukup aneh,” gumamku.
Seorang gadis berpakaian panahan melangkah ke atas panggung. "Halo namaku adalah Hashigaki, kapten klub panahan. Banyak siswa mungkin berpikir bahwa memanah adalah kegiatan kuno dan membosankan, tetapi sebenarnya ini adalah olahraga yang menyenangkan dan bermanfaat. Kami menyambut pemula dengan tangan terbuka. Jika kalian tertarik, mohon pertimbangkan untuk bergabung.”
“Hei, lihat, mereka sepertinya menyambut pendatang baru. Kenapa kau tidak mencoba bergabung? Untuk menambah anggaran mereka,” kataku.
“Aku benci bergabung dengan klub hanya karena alasan semacam itu! Selain itu, klub hanyalah tempat perkumpulan orang-orang yang tidak punya kegiatan lain untuk dilakukan. Dan juga, aku mungkin tidak akan bisa bersenang-senang jika aku tidak mengenal siapa pun di sana. Jika itu yang terjadi, aku akan langsung keluar dari klub."
“Bukankah itu hanya pemikiranmu saja?”
“Ya, kamu benar sekali. Tapi aku tetap tidak akan bergabung dengan klub."
Aku berpikir untuk bergabung dengan klub yang bagus, tenang, dan tentram.
"Cih!"
Saat para senior memperkenalkan klub masing-masing satu demi satu, aku melihat Horikita tiba-tiba tegang. Dia melihat ke panggung, wajahnya pucat.
"Apa ada masalah?"
Dia bahkan tidak memperhatikanku lagi. Aku mengikuti garis pandangannya ke atas panggung, tapi aku tidak menemukan hal yang aneh di sana. Hanya perwakilan dari tim bisbol sekolah, yang sedang memberikan kata-kata pengantar. Apakah dia jatuh cinta padanya pada pandangan pertama? Tidak, aku meragukannya. Mengherankan? Menjijikkan? Atau mungkin dia sangat gembira? Sejujurnya, ekspresi Horikita sangat sulit dibaca.
"Horikita, ada apa?"
“…………”
Sepertinya dia tidak bisa mendengar suaraku. Dia terus menatap tajam ke arah panggung. Aku memutuskan untuk berhenti berbicara dengannya dan menunggu penjelasannya. Perkenalan tim bisbol sama sekali tidak menarik. Tidak ada daya tarik yang berkesan, tidak peduli seberapa ramah mereka terhadap pendatang baru.
Bukan hanya klub bisbol. Hampir setiap perkenalan klub, semuanya sama dan biasa saja. Jika ada hal yang menarik perhatianku di seminar ini, itu adalah klub yang terkait dengan seni liberal, seperti klub upacara minum teh atau klub kaligrafi. Dan juga, aku terkejut dengan fakta bahwa kau hanya membutuhkan minimal tiga orang anggota untuk membentuk klub baru.
Setiap kali satu klub selesai dan klub berikutnya bermunculan, siswa tahun pertama saling berbicara satu sama lain tentang apa yang mereka pikirkan. Aku perhatikan bahwa suasana di gedung olahraga menjadi agak meriah. Perwakilan masing-masing klub, termasuk instruktur pembimbing mereka, terus menjelaskan tentang kegiatan mereka kepada siswa tahun pertama dengan rinci. Mungkin mereka hanya menginginkan lebih banyak anggota, bahkan jika hanya bertambah satu.
Saat para senior menyelesaikan perkenalan mereka, mereka berjalan menuruni panggung dan menuju ke area di mana beberapa meja telah disiapkan. Mungkin itu area resepsionis yang dirancang untuk menerima anggota baru. Akhirnya, semua orang pergi sampai hanya satu orang yang tersisa. Semua orang memusatkan perhatian mereka padanya, dan aku menyadari bahwa Horikita telah menatap orang itu dari tadi.
Tingginya sekitar 170 cm, dia tidak terlalu tinggi. Dia ramping, dengan rambut hitam halus. Dia memakai kacamata dan memiliki tatapan tajam dan penuh perhitungan. Berdiri di depan mikrofon, dia dengan tenang melihat ke arah para siswa tahun pertama. Dari klub mana dia, dan apa yang akan dia katakan? Sosoknya menarik perhatianku.
Sayangnya, harapanku langsung pupus. Dia tidak mengucapkan sepatah katapun. Apa mungkin dia lupa dengan apa yang akan dia katakan? Atau mungkin dia begitu gugup sehingga dia tidak bisa berbicara?
"Lakukan yang terbaik!"
“Apakah kau lupa membawa catatanmu?”
“Ha ha ha ha ha!”
Para siswa tahun pertama melontarkan komentar padanya. Namun, siswa senior itu berdiri di atas panggung dengan tenang, tanpa gemetar. Tawa dan komentar itu tampaknya tidak mengganggu dia. Setelah beberapa saat, tawa itu tiba-tiba menghilang. Dia memasang ekspresi apatis.
"Ada apa dengan orang ini?" kata seorang siswa yang tercengang. Gedung olahraga, ramai dengan orang-orang yang berbicara, namun siswa di atas panggung itu tetap tidak melakukan apa-apa. Dia hanya berdiri di sana, diam dan tidak bergerak, menatap satu per satu siswa. Horikita balas menatap siswa itu dengan tatapan tajam, pandangannya tidak teralihkan sedetikpun.
Suasana santai berangsur-angsur berubah, dan keadaan menjadi berjalan lambat. Seolah-olah beberapa reaksi kimia telah terjadi. Sebuah suasana yang tegang dan mencekam menyelimuti gedung olahraga. Meskipun tidak ada perintah yang diberikan, keheningan yang begitu mengerikan tampaknya telah membuat semua orang tercekik. Tidak ada satu siswa pun yang bisa membuka mulutnya. Keheningan berlanjut selama sekitar tiga puluh detik atau lebih…
Kemudian, siswa itu memulai pidatonya, perlahan mengamati kerumunan.
"Saya adalah ketua OSIS. Nama saya Horikita Manabu,” kata dia.
Horikita? Aku melirik Horikita di sampingku. Mungkin mereka kebetulan memiliki nama keluarga yang sama. Atau mungkin…
“OSIS sedang mencari calon potensial di antara siswa tahun pertama untuk menggantikan siswa tahun ketiga yang akan lulus. Meski tidak ada kualifikasi khusus yang diperlukan untuk pencalonan, kami dengan rendah hati meminta kalian untuk tidak terlibat dalam kegiatan klub lain jika ingin bergabung di OSIS. Kami biasanya tidak menerima siswa yang terlibat di tempat lain."
Dia berbicara dengan nada lembut, tetapi ketegangan di sekitar kami begitu kental sehingga membuat kami ingin segera pergi dari tempat ini. Dia telah berhasil membungkam lebih dari seratus orang siswa baru di gedung olahraga yang luas ini. Tentu saja, ini bukan karena posisinya sebagai ketua OSIS, namun itu karena kekuatan seorang Horikita Manabu. Kehadirannya mendominasi semua orang di sekitarnya.
“Selain itu, kami para OSIS tidak ingin menunjuk siapa pun yang memiliki pandangan yang naif. Bukan hanya tidak akan terpilih, tapi dia juga akan menodai kesucian sekolah ini. Itu adalah hak dan kewajiban OSIS untuk menegakkan dan mengubah aturan, tetapi sekolah mengharapkan lebih dari itu. Kami dengan senang hati menyambut kalian yang memahami hal ini.”
Dia tidak berhenti bahkan untuk sedetik pun selama pidatonya. Segera setelah selesai, dia turun dari panggung dan meninggalkan gedung olahraga. Tak satupun dari siswa tahun pertama yang bisa mengucapkan sepatah kata pun saat kami melihatnya pergi. Kami tidak tahu apa yang akan terjadi jika kami mencoba berbicara. Semua orang di ruangan ini berbagi pemikiran yang sama, rupanya.
“Terima kasih sudah datang. Seminar klub telah berakhir. Kami sekarang akan membuka area registrasi bagi siapa saja yang tertarik untuk mendaftar. Dan juga, pendaftaran akan dibuka hingga akhir April, jadi jika ada siswa yang ingin bergabung di kemudian hari, kami mohon agar kalian menyerahkan formulir pendaftaran ke klub yang ingin kalian masuki.”
Berkat instruksi dari penyelenggara, ketegangan di ruangan mereda. Setelah itu, siswa tahun ketiga yang akan memperkenalkan klubnya masing-masing mulai mengambil formulir pendaftaran.
“…………”
Horikita tetap diam seperti patung, tidak ada tanda-tanda dia akan bergerak.
"Hey, ada apa?" Aku bertanya.
Horikita tidak menjawab. Sepertinya kata-kataku bahkan tidak sampai di telinganya.
“Yo, Ayanokouji. Kau datang, ya?”
Saat aku melamun, seseorang memanggilku. Sudou. Teman sekelas kami Ike dan Yamauchi juga bersamanya.
“Oh, hei, kalian bertiga. Sepertinya kalian akrab, ya?” Aku menjawab, merasa sedikit iri pada Sudou.
“Jadi, kau juga bergabung dengan klub?”
“Oh, tidak, aku hanya datang untuk melihat-lihat. Tunggu, 'juga'? Apakah kau bergabung dengan sebuah klub, Sudou?"
"Ya. Aku sudah bermain bola basket sejak SD. Aku pikir aku akan bergabung dengan tim di sini."
Aku memang berpikir dia atletis, dilihat dari fisiknya. Bola basket jelas merupakan keahliannya.
"Bagaimana dengan kalian berdua?"
“Kami datang hanya karena kami rasa akan menyenangkan, kau tahu? Selain itu, kami mengira kami mungkin akan mengalami pertemuan yang ditakdirkan,” kata Ike.
“Apa maksudmu, 'pertemuan yang ditakdirkan'?”
Aku ingin Ike menjelaskan tujuannya yang terdengar agak aneh. Dia menyilangkan lengannya dan menjawab dengan bangga, "Aku ingin mendapatkan pacar pertamaku di Kelas D. Itu tujuanku. Itulah kenapa aku sangat mengharapkan sebuah pertemuan."
Rupanya, Ike menganggap memiliki pacar adalah prioritas yang utama.
“Dan juga, harus kukatakan, ketua OSIS itu bukanlah orang biasa. Dia sangat mengesankan. Aku merasa dia menguasai tempat ini, kau tahu?" dia berkata.
"Benar, kan? Dia membuat semua orang terdiam tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Itu hal yang tidak biasa,” aku menjawab.
"Ya. Oh, ngomong-ngomong, aku membuat grup chat kemarin.” Ike mengeluarkan ponselnya. “Apakah kau ingin bergabung juga? Ini sangat berguna."
"Hah? Aku? Apakah itu tidak apa apa?" Aku bertanya.
“Tentu saja tidak apa-apa. Lagi pula, kita semua kan dari Kelas D."
Itu adalah undangan yang tidak terduga. Aku senang diundang ke obrolan kelompok. Akhirnya, aku menemukan kesempatan sempurna untuk berteman! Namun, ketika aku mengeluarkan ponselku untuk bertukar kontak, Horikita menghilang ke dalam kerumunan. Karena merasa khawatir dengannya, aku menghentikan apa yang aku lakukan.
"Ada apa?" Ike bertanya.
“Oh, tidak. Bukan apa-apa."
Aku kembali ke ponselku dan bertukar kontak dengan Ike dan yang lainnya. Horikita bebas melakukan apa pun yang diinginkannya, dan aku tidak punya hak untuk menghentikannya. Untuk sesaat, aku ingin mengikutinya, tetapi pada akhirnya aku memutuskan untuk tidak melakukannya.
~ Bersambung ~
Komentar
Posting Komentar