-->
Loading...

iklan adsense

Volume 1 Chapter 2 Part 1 “Classroom of the Elite” Light Novel Bahasa Indonesia

Released on Mei 20, 2021 · 0 Views · Posted by firsyardha · Series

Download Volume 1 Chapter 2 Part 1 “Classroom of the Elite” Light Novel Bahasa Indonesia, Streaming Volume 1 Chapter 2 Part 1 “Classroom of the Elite” Light Novel Bahasa Indonesia, jangan lupa untuk klik like dan bagikan. Series First Year Volume 1 selalu update di MarinSubs. Jangan lupa menonton Series terbaru lainnya.

Refresh Jika Loading Video Lebih Dari 1 Menit. Jika Video Error Hubungi Saya Atau Tuliskan di Komentar ...!!
CHAPTER 2
Para Siswa Kelas D

PART 1

Setelah mampir sebentar ke kantin, aku memilih untuk pergi ke toserba, membeli roti, dan kembali ke kelas. Sekitar sepuluh orang tetap berada di ruang kelas. Beberapa telah menyatukan meja mereka jadi mereka semua bisa makan bersama, sementara yang lain, siswa yang menyendiri, makan siang dengan tenang. Semua orang di sini membawa kotak makan siang dari kantin atau toserba. 

Aku akan makan sendiri, tapi kemudian Horikita kembali ke kelas dan duduk di sampingku. Di meja Horikita ada sandwich yang tampak lezat. Auranya seperti berkata, "Jangan bicara padaku!" jadi aku kembali ke tempat dudukku tanpa berbicara. Tepat saat aku akan membenamkan gigiku ke dalam roti manis, pemberitahuan datang dari speaker. 

“Pukul 5.00 sore Waktu Standar Jepang hari ini, kami akan mengadakan seminar pengenalan klub di Gedung Olahraga No. 1. Siswa yang tertarik untuk bergabung dengan klub, silakan berkumpul di Gedung Olahraga No. 1. Saya ulangi, pukul— " 

Seorang gadis dengan suara merdu melanjutkan pengumuman itu. Kegiatan klub, Ya? Kalau dipikir-pikir, aku belum pernah bergabung dengan klub sebelumnya. 

“Hei, Horikita—” 

“Aku tidak tertarik untuk bergabung dengan klub.” 

“Aku bahkan belum menanyakan apapun padamu.” 

"Nah, apa itu?" 

“Apakah kau tertarik untuk bergabung dengan klub?” 

“Ayanokouji-kun, apakah kamu menderita demensia, atau kamu hanya idiot? Bukankah aku baru saja memberitahumu bahwa aku tidak tertarik?” 

"Tapi itu bukan berarti kau tidak akan bergabung," jawabku. 

“Sekarang kamu justru terdengar tidak masuk akal. Jangan memperdebatkannya kalau kamu sudah tahu jawabannya." 

"Baiklah kalau begitu." 

Jadi, Horikita tidak tertarik untuk berteman atau bergabung dengan klub. Dia tampak kesal setiap kali aku mencoba berbicara dengannya. Aku penasaran apakah dia datang ke sekolah hanya untuk melanjutkan ke universitas dan mendapatkan pekerjaan. Jika dia ingin melanjutkan ke universitas yang lebih tinggi, menurutku itu tidak terlalu mengejutkan, tapi aku menganggap itu sedikit sia-sia.

“Kamu benar-benar tidak punya teman, kan?” dia bertanya. 

"Maaf. Tapi, hei, setidaknya aku bisa berbicara denganmu sekarang.” 

"Dengar, jangan anggap aku sebagai salah satu temanmu."

“O-oh…” 

“Yah, karena kamu sepertinya sangat penasaran tentang klub, apa kamu berniat untuk bergabung dengan salah satunya?” dia bertanya. 

“Oh, aku tidak yakin. Aku masih memikirkannya. Mungkin tidak." 

“Kamu tidak berencana untuk bergabung dengan klub, tetapi kamu ingin pergi ke sana? Aneh sekali. Apakah kamu berencana menggunakan ini sebagai dalih untuk berbicara dengan orang-orang dan berteman?" 

Bagaimana pemikirannya bisa setajam itu? Tidak, mungkin niatku memang mudah terbaca. 

“Karena aku gagal mendapatkan teman di hari pertamaku, aku pikir seminar klub itu akan menjadi kesempatan terakhirku.” 

“Tidak bisakah kamu mengajak orang lain selain aku?” dia bertanya. 

“Justru karena aku tidak mengenal orang lain, itulah kenapa aku mengajakmu!" 

"Itu masuk akal. Namun, menurutku kamu tidak serius dengan apa yang kamu katakan, Ayanokouji-kun. Jika kamu benar-benar ingin berteman, kamu harus berusaha lebih keras." 

“Tapi aku tidak bisa. Itu mustahil bagiku." 

Horikita mengambil sandwichnya dan diam-diam melanjutkan makan siang. "Aku sangat kesulitan memahami cara berpikirmu yang kontradiktif." 

Aku ingin berteman, tapi tidak bisa. Horikita rupanya menganggap itu sebagai hal yang tidak bisa dimengerti. 

"Apakah sebelumnya kau pernah bergabung dengan sebuah klub, Horikita?" aku bertanya. 

“Tidak, belum pernah.”

“Lalu, apakah kau punya pengalaman? Kau tahu, melakukan ini dan itu?” 

“Apa maksudmu 'ini' dan 'itu'? Aku merasa pertanyaanmu itu seperti menyinggungku." 

“Menyinggung? Kenapa? Apakah yang aku katakan salah?” 

Dalam satu gerakan cepat, serangan chop (tangan pisau) Horikita memukul sisi kanan tubuhku. Aku terbatuk setelah dipukul, tidak kusangka seorang gadis bisa memukul begitu keras. 

“K-kenapa kau memukulku?!” aku bertanya. 

“Ayanokouji-kun. Aku telah memperingatkanmu berkali-kali, tapi sepertinya kamu tidak pernah mendengarkan. Aku pikir aku mungkin harus memberikan sedikit hukuman untukmu." 

"Tentu saja itu tidak boleh! Kekerasan tidak menyelesaikan apapun!" 

"Oh benarkah? Kekerasan sudah ada sejak dulu. Kekerasan terbukti dalam sejarah sebagai pencapaian paling efektif bagi umat manusia dalam menyelesaikan masalah. Kekerasan adalah metode yang paling dapat diandalkan untuk membuat orang lain mendengarkanmu. Belum lagi, polisi di banyak negara yang menegakkan hukum menggunakan kekerasan dengan memakai pistol dan pentungan, untuk menangkap penjahat." 

“Kau ini gadis yang cerewet ya…” 

Dia menjelaskan dengan panjang lebar, bersikeras bahwa memukulku tidaklah salah. Dia juga menyatakan bahwa perilakunya yang tidak masuk akal itu wajar. Jika aku mencoba membantah, dia akan menghancurkanku. 

"Aku pikir aku akan menggunakan kekerasan untuk membuatmu sadar, Ayanokouji-kun, dan membersihkanmu dari pikiran-pikiran kotor itu. Bagaimana menurutmu?” 

“Baiklah, bagaimana jika aku mengatakan hal yang sama padamu, Horikita? Bagaimana menurutmu?" 

Yah, walaupun dalam sudut pandang lain, pria yang berani memukul seorang wanita biasanya disebut "pengecut". 

"Aku tidak terlalu keberatan, karena menurutku kamu tidak akan mendapatkan kesempatan. Selain itu, jika aku tidak pernah mengatakan sesuatu yang salah, maka kamu tidak akan pernah bisa mencelaku.” 

Jawabannya sama sekali tidak terduga. Dia sepertinya benar-benar percaya kalau dia selalu benar. Meskipun dia terlihat seperti seorang siswa teladan, di dalamnya, dia adalah binatang buas yang kejam.

“Baik, aku mengerti, aku mengerti. Aku akan berhati-hati mulai sekarang." 

Aku menyerah pada Horikita dan melihat ke luar jendela. Ah, cuaca hari ini sangat bagus. 

“Kegiatan klub, hmm. Jadi begitu…" 

Horikita bergumam pada dirinya sendiri saat dia memikirkan sesuatu. 

“Baiklah, jika hanya sebentar sepulang sekolah, aku akan pergi denganmu,” katanya. 

“Apa maksudmu 'sebentar'?” 

“Kamu bertanya padaku sebelumnya, bukan? Kamu bilang ingin pergi ke seminar klub." 

"Oh ya. Aku tidak punya rencana lain. Aku hanya mencari kesempatan untuk pergi melihat-lihat. Apakah itu tidak apa apa?" 

“Jika hanya sebentar. Baiklah, kita akan pergi sepulang sekolah." 

Setelah percakapan kami berakhir, kami melanjutkan makan siang kami. Aku pikir dia adalah gadis yang tidak menyenangkan sebelumnya, tetapi mungkin segalanya telah berbalik. Mungkin Horikita sebenarnya adalah gadis yang baik. 

“Melihatmu gagal saat mencoba untuk mendapatkan teman, kedengarannya menarik." 

Nggak. Lupakan saja.

~ Bersambung ~

Episode Lainnya

Other Series

Komentar

A-Z List cari anime berdasarkan abjad A-Z
Copyright © MarinSubs. All Rights Reserved

MarinSubs adalah tempat streaming/nonton Anime Subtitle Indonesia

Redesign by Kitagawa Marin 喜多川 海夢