-->
Loading...

iklan adsense

Volume 1 Chapter 1 Part 3 “Classroom of the Elite” Light Novel Bahasa Indonesia

Released on Mei 19, 2021 · 0 Views · Posted by firsyardha · Series

Download Volume 1 Chapter 1 Part 3 “Classroom of the Elite” Light Novel Bahasa Indonesia , Streaming Volume 1 Chapter 1 Part 3 “Classroom of the Elite” Light Novel Bahasa Indonesia , jangan lupa untuk klik like dan bagikan. Series First Year Volume 1 selalu update di MarinSubs. Jangan lupa menonton Series terbaru lainnya.

Refresh Jika Loading Video Lebih Dari 1 Menit. Jika Video Error Hubungi Saya Atau Tuliskan di Komentar ...!!
CHAPTER 1
Selamat Datang di Kehidupan Sekolah Impianmu

PART 3

Meski orang bilang sekolah ini sangat ketat, upacara penerimaannya sama dengan sekolah lain. Beberapa orang penting mengucapkan kata-kata terima kasih, dan upacaranya selesai tanpa masalah. Kemudian, saat tengah hari. Setelah kami menerima informasi umum tentang sekolah, kerumunan dibubarkan.

70–80 persen siswa menuju asrama. Siswa yang tersisa dengan cepat membentuk beberapa kelompok. Beberapa ada yang pergi ke kafe, ada juga yang pergi ke tempat karaoke. Hiruk pikuk cepat mereda. Karena penasaran, aku memutuskan untuk mampir ke toko serba ada dalam perjalanan kembali ke asrama. Tentu saja, aku pergi sendiri. Aku tidak punya teman atau kenalan, untuk kuajak pergi bersama.

"Astaga, sungguh kebetulan yang tidak menyenangkan." 

Memasuki toko serba ada, aku bertemu lagi dengan Horikita. 

“Ayolah, tidak perlu terlalu bermusuhan. Ngomong-ngomong, apakah kau ingin membeli sesuatu?" Aku bertanya. 

“Ya, hanya beberapa hal. Aku datang ke sini untuk membeli beberapa kebutuhan.”

Kau perlu mempersiapkan beberapa kebutuhan saat tinggal di asrama, terutama jika kau seorang perempuan. Horikita mengambil berbagai barang dari rak seperti sampo dan segera melemparkannya ke keranjang yang dia bawa. Aku pikir dia akan memilih barang berkualitas tinggi dan mahal, tapi dia hanya mengambil yang termurah. 

“Aku pikir gadis-gadis biasanya mempermasalahkan jenis sampo yang mereka beli." 

“Yah, itu tergantung orangnya, bukan? Aku termasuk orang yang tidak terlalu mempermasahkan hal-hal sepele seperti itu,” jawabnya. 

Dia menatapku dengan tatapan sedingin es yang seperti berkata, 'Bisakah kamu tidak usah ikut campur dengan apa yang orang lain beli?' 

“Ngomong-ngomong, aku sangat terkejut saat kamu tetap tinggal di kelas untuk sesi perkenalan itu,” dia berkata. “Kamu tidak terlihat seperti tipe orang yang suka bergaul dengan teman sekelas."

“Aku memutuskan untuk berpartisipasi justru karena aku tidak suka masalah. Kenapa kau tidak ingin memperkenalkan diri kepada mereka, Horikita? Kau bisa saja mengenal beberapa siswa lain, dan itu akan menjadi kesempatan untuk berteman." 

Beberapa siswa juga telah bertukar nomor ponsel. Jika Horikita ikut berpartisipasi, dia mungkin akan menjadi sangat populer. Sayang sekali. 

“Ada beberapa alasan kenapa aku keberatan, tapi aku rasa mungkin lebih mudah jika kujelaskan. Perkenalan diriku mungkin akan menimbulkan perselisihan, tergantung situasinya. Jadi, tidak melakukan apa pun, maka tidak akan ada masalah. Apakah aku salah?" 

“Tapi, secara statistik, ada kemungkinan besar kau bisa cocok dengan semua orang setelah memperkenalkan diri,” kataku. 

“Bagaimana kamu bisa sampai pada kesimpulan itu? Sebenarnya, jika aku memperdebatkan hal ini denganmu sekarang, kita hanya akan berakhir dalam debat tanpa akhir. Misalkan saja probabilitas berteman itu tinggi, seperti yang kamu katakan. Jadi, berapa banyak orang yang sudah berteman denganmu sekarang?" 

“Ugh…” 

Dia menatapku. Itu adalah argumen yang bagus. Faktanya aku bahkan belum bertukar kontak dengan siapa pun. Ini membuktikan bahwa tidak ada jaminan kalau perkenalan diri akan menciptakan pertemanan. Aku mengalihkan pandanganku. 

“Dengan kata lain, kamu tidak memiliki bukti kalau perkenalan itu akan menciptakan pertemanan, bukan?” dia bertanya. “Lagipula, aku tidak pernah bermaksud untuk mencari teman sejak awal. Jika aku tidak ingin memperkenalkan diriku, maka aku juga tidak punya alasan untuk mendengarkan perkenalan orang lain. Apakah kamu mengerti?” 

Itu mengingatkanku saat pertama kali aku mencoba memperkenalkan diriku ke Horikita. Kalau dipikir-pikir, itu adalah keajaiban karena aku berhasil mengetahui namanya. 

Saat aku bertanya padanya apakah aku seharusnya tidak memperkenalkan diriku padanya, dia menggelengkan kepalanya. Orang cenderung memiliki kegelapan yang tersembunyi di dalam dirinya, tidak diragukan lagi. Horikita justru mungkin adalah orang yang sangat kesepian, lebih dari yang kubayangkan.

Kami berkeliling di sekitar toko tanpa melihat satu sama lain. Meskipun dia terlihat tegang, berkeliling bersamanya tidaklah buruk. 

“Wah! Bahkan ada beragam mie gelas yang dijual di sini! Sekolah ini sangat luar biasa!” 

Dua siswa laki-laki yang agak berisik berdiri di depan rak makanan instan. Mereka memasukkan setumpuk mie gelas ke dalam keranjang mereka dan menuju ke mesin kasir. Selain mie, mereka juga mengambil camilan dan jus. Mereka terlihat seperti orang yang tidak segan-segan untuk menghabiskan semua poin yang mereka punya. 

“Mie gelas. Terdapat bermacam-macam jenis di toko ini." 

Ini tentu saja adalah salah satu alasanku datang ke toko ini. 

“Jadi, apakah anak laki-laki benar-benar menyukai barang-barang semacam ini? Aku pikir makanan seperti itu tidak baik untuk kesehatan," kata Horikita. 

"Aku rasa itu tidak apa-apa, asalkan jangan terlalu sering." 

Aku mengambil mie gelas dan memeriksa label harganya. Tertulis 156 yen, tapi aku tidak tahu apakah itu mahal atau murah. Meskipun transaksi di sekolah ini mengacu pada sistem poin, semua harga tercantum dalam mata uang yen. 

“Hei, bagaimana menurutmu? Apakah harga ini mahal atau murah?” 

“Hmm. Aku tidak yakin. Kenapa, apakah ada yang aneh?” 

"Tidak, aku hanya ingin tahu." 

Harga toko tampaknya masuk akal. Satu poin memang benar-benar bernilai satu yen. Mengingat bahwa tunjangan siswa baru rata-rata sekitar 5.000 yen, jumlah uang yang kami terima sepertinya luar biasa besar. Horikita, memperhatikan kelakuan anehku, menatapku bingung. Aku pun mengambil mie gelas itu untuk menghindari kecurigaannya. 

“Wow, ini luar biasa. Ini adalah G Cup, ya?” 

Rupanya, itu singkatan dari "Giga Cup". Hanya dengan melihatnya membuatku merasa..., tunggu. Sebagai catatan, ini tidak ada hubungannya dengan dada Horikita, karena itu tidak kecil ataupun besar. Mungkin di antara keduanya. Ukuran yang sempurna.

“Ayanokouji-kun. Apakah kamu baru saja memikirkan sesuatu yang mesum?" dia bertanya. 

“Ee.. Tidak." 

"Aku merasa kamu bertingkah aneh." 

Dia bisa membaca pikiranku. Ternyata pemikirannya tajam juga. 

“Aku hanya ingin tahu apakah aku harus membeli ini atau tidak. Bagaimana menurutmu?" 

“Oh. Yah, aku rasa tidak apa-apa. Ngomong-ngomong, apakah kamu benar-benar akan membelinya? Sekolah ini juga menawarkan pilihan makanan yang jauh lebih sehat. Bukankah lebih baik menghindari makanan cepat saji?" 

Seperti yang dikatakan Horikita, aku tidak punya alasan untuk membeli makanan cepat saji. Namun, sejak awal aku sudah berniat untuk membelinya. Aku mengambil satu bungkus mie instan dengan ukuran biasa, di bungkusnya tertulis “FOO Yakisoba”, lalu aku memasukkannya ke dalam keranjang. Perhatiannya teralihkan, Horikita menjauh dari bagian makanan dan mulai mencari barang kebutuhan sehari-hari. Aku berencana membuat lelucon di sini, yah.. agar kami bisa lebih akrab. 

“Jika kau mencari alat cukur, bagaimana dengan pisau cukur lima bilah ini? Aku yakin pisau cukur ini sangat bagus." 

“Kenapa juga aku harus bercukur dengan itu?” 

Aku menyeringai puas dan berpura-pura mencukur janggutku, tapi dia tidak tertawa. Sebaliknya, dia justru menatapku seolah-olah melihat hal yang menjijikkan. 

"Dengar baik-baik," katanya. "Aku tidak punya apa-apa untuk dicukur. Baik itu di dagu, di bawah ketiak, ataupun di bawah sana."

Aku bergumam ragu-ragu, jiwaku hancur. Sepertinya leluconku gagal total di depan wanita ini. 

“Aku akui, aku sedikit iri dengan kemampuanmu yang dengan mudahnya mengocehkan hal-hal bodoh ke seseorang yang baru saja kamu temui.” 

“Yah, aku merasa kau juga telah banyak mengatakan omong kosong yang bodoh, dan kau juga baru saja bertemu denganku."

"Begitu ya? Aku hanya menyatakan fakta. Tidak seperti kamu." Dia dengan tenang melempar kata-kataku kembali padaku, untuk membuatku diam. Yah, kupikir itu cukup adil, mengingat aku juga telah mengatakan beberapa omong kosong. Horikita selalu dapat berbicara dengan baik, tidak peduli bagaimanapun situasinya. 

Horikita memilih sabun cuci muka yang termurah. Aku pikir gadis-gadis biasanya memperdebatkan barang semacam ini juga.

"Tidakkah menurutmu yang ini lebih baik?" Aku mengambil sabun cuci muka yang harganya agak mahal dari rak dan menunjukkannya padanya. 

“Tidak perlu.” Dia menolaknya. 

“Yah, tapi—” 

“Aku sudah bilang itu tidak perlu, bukan?” bentaknya. 

"Iya…" 

Aku perlahan mengembalikan sabun cuci muka itu saat dia memelototiku. Aku pikir aku bisa bercakap-cakap tanpa membuatnya marah, tapi aku gagal. 

“Kamu tampaknya tidak mahir dalam bersosialisasi. Kamu buruk dalam percakapan." 

“Yah, jika kau berkata begitu, maka itu pasti benar,” gerutuku. 

"Benar sekali. Paling tidak, aku dapat melihat hal-hal seperti itu dari orang-orang. Biasanya, aku tidak ingin mendengarmu berbicara lagi, tapi untuk kali, aku akan berusaha untuk mendengarkanmu." 

Aku telah mengatakan bahwa aku ingin menjadi temannya, tetapi, tampaknya, dia tidak merasakan hal yang sama. Setelah itu, percakapan kami tiba-tiba terhenti. Dua orang gadis berjalan memasuki toko serba ada. Agak aneh, tapi aku menyadarinya sesuatu: Horikita benar-benar imut. 

"Hei. Coba lihat ini!" 

Saat melihat-lihat toko, untuk mencari topik baru, aku menemukan sesuatu yang aneh. Beberapa perlengkapan mandi dan makanan telah disimpan di sudut toko serba ada. Sekilas, mereka tampak sama seperti item lainnya, tetapi ada satu perbedaan besar. 

"Gratis?" 

Horikita rupanya juga telah menyadarinya, lalu dia mengambil salah satu barang itu. Kebutuhan sehari-hari seperti sikat gigi dan pembalut telah dimasukkan ke dalam sebuah keranjang yang berlabel "Gratis". Keranjang itu ditandai dengan ketentuan "Tiga item per bulan." Ini jelas berbeda dari toko barang lainnya.

“Semua barang Ini pasti salah satu persediaan bantuan darurat bagi siswa yang tidak memiliki poin yang cukup. Sekolah ini sangat perhatian dengan siswanya,” kataku. 

Aku bertanya-tanya, kalau begitu seberapa ringan hukuman yang didapat siswa jika melanggar aturan. 

"Hei, jangan dorong-dorong! Tunggu sebentar! Aku sedang mencarinya sekarang!" 

Tiba-tiba, sebuah suara keras menenggelamkan musik latar toko yang damai itu. 

"Ayo cepat. Ada banyak antrian yang menunggumu!" 

"Oh ya? Kalau begitu, jika mereka punya keluhan, mereka bisa berhadapan langsung denganku!"

Rupanya, masalah sedang terjadi di depan kasir. Perselisihan terjadi antara dua anak laki-laki yang saling melotot. Aku mengenali orang dengan ekspresi wajah yang sangat marah itu. Dia adalah siswa dari kelasku, laki-laki berambut merah. Tangannya penuh dengan mie gelas. 

"Apa yang terjadi di sini?" tanyaku. 

"Hah? Kau siapa?"

Tadinya aku bermaksud untuk terlihat ramah, tapi siswa berambut merah itu malah memelototiku. Rupanya, dia mendapat kesan yang salah dan mengira aku adalah musuh.

"Namaku Ayanokouji. Aku sekelas denganmu. Aku hanya bertanya karena kedengarannya seperti ada masalah."

Setelah aku mengatakan itu, siswa berambut merah itu tampak agak lega dan merendahkan suaranya sedikit. "Oh. Ya, aku ingat kau. Aku lupa membawa kartu pelajarku. Aku baru ingat kalau sekarang itu dipakai untuk berbelanja di sekolah ini." 

Aku melihat tangannya. Dia meletakkan kembali mie gelas itu. Dia mulai pergi, mungkin kembali ke asrama, untuk mengambil kartu pelajarnya. Sejujurnya, aku juga belum terbiasa dengan fakta bahwa kartu pelajar diperlukan untuk pembayaran di sekolah ini. 

"Aku bisa membayarmu. Maksudku, akan menjengkelkan jika kau harus pergi jauh-jauh ke asrama. Aku tidak keberatan." 

"Kau benar, itu sangat menjengkelkan. Terima kasih."

Toko ini tidak terlalu jauh dari asrama, tetapi saat dia kembali, akan ada antrean panjang siswa yang membeli makan siang.

"Namaku Sudou," katanya. “Terima kasih telah membantuku. Aku berhutang padamu." 

“Senang bertemu denganmu, Sudou.”

Sudou memberikan salah satu mie gelasnya, lalu aku berjalan ke dispenser untuk mengambil air panas. Setelah melihat percakapan singkat kami, Horikita menghela nafas, tercengang. 

“Kamu bertindak seperti sudah akrab dengannya sejak awal. Apakah kamu berniat untuk menjadi pelayannya? Atau apakah kamu melakukan ini untuk mencari teman?” dia bertanya. 

"Aku tidak peduli tentang itu. Aku hanya ingin membantu. Itu saja." 

“Kamu sepertinya tidak takut.” 

"Takut? Kenapa? Karena dia terlihat seperti anak berandalan?” aku bertanya. 

“Orang normal biasanya akan berusaha menjaga jarak dengan orang seperti dia.” 

“Mungkin begitu, tapi dia bukan orang jahat bagiku. Dan kau juga tidak terlihat takut, Horikita." 

“Kebanyakan orang yang tidak berdaya menjauhinya. Jika dia bertindak kasar, aku bisa mengatasinya. Itu sebabnya aku tidak takut dengannya." 

Kata-kata Horikita selalu agak sulit dimengerti. Misalnya, apa yang dia maksud dengan "mengatasi"? Apakah dia membawa semprotan merica untuk menghindari hal-hal mesum atau semacamnya? 

“Ayo selesaikan belanjaan kita. Kita akan merepotkan siswa lain jika kita terlalu lama membuang-buang waktu di sini," katanya. 

Setelah menyelesaikan semuanya, kami menunjukkan kartu identitas pelajar kami ke mesin kasir. Karena kami tidak harus berurusan dengan uang receh, transaksi selesai dengan cepat. 

“Ini benar-benar bisa digunakan seperti uang…” kataku. 

Kuitansi yang kuterima menunjukkan harga setiap item dan jumlah poin yang tersisa. Pembayaran telah selesai tanpa masalah. Aku menuangkan air panas ke dalam cangkir mie gelasku sambil menunggu Horikita. Awalnya kupikir ini sedikit rumit, tetapi membuka tutupnya dan menuangkan air panas ke dalamnya ternyata cukup sederhana. 

Bagaimanapun, sekolah ini menakutkan.

Aku masih tidak mengerti kenapa sekolah dengan mudahnya memberi tunjangan besar-besaran untuk setiap siswa? Mengingat ada sekitar 160 orang yang terdaftar di angkatanku, perhitungan sederhana menunjukkan bahwa ada total 480 siswa di sekolah ini. Itu berarti sekolah mengeluarkan 48 juta yen setiap bulan. Setiap tahun, itu sama dengan 560 juta yen. Bahkan untuk sekolah yang didukung pemerintah, ini terlalu berlebihan. 

“Apa untungnya bagi sekolah dengan memberi kita uang sebanyak ini?” 

"Aku juga penasaran. Sekolah memiliki fasilitas yang lebih dari cukup untuk memuaskan siswanya, dan aku rasa semua itu terlalu berlebihan. Siswa yang seharusnya fokus belajar, bisa-bisa mereka justru menjadi malas dan bolos sekolah." 

Mungkin ini semacam hadiah karena kami telah berusaha keras dan lulus ujian masuk. Memang motivasi siswa dapat meningkat jika ditawari hal-hal seperti itu. Namun, sekolah baru saja membagikan 100.000 yen kepada semua siswa, dengan cuma-cuma. 

“Aku tidak bermaksud menceramahimu, tapi aku pikir lebih baik jangan membuang-buang poinmu. Menghambur-hamburkan poin untuk berbelanja akan menjadi kebiasaan yang sulit diperbaiki. Sekali seseorang terjerat dengan kebiasaan itu, mereka akan selalu merasa kurang puas, Hasilnya mereka akan membeli lebih banyak lagi dan lagi. Tidak ada yang tahu kapan kita akan kehabisan poin," kata Horikita. 

"Aku akan mengingatnya."

Aku tidak benar-benar berniat membuang-buang poin hanya untuk membeli beragam makanan cepat saji, tapi dia ada benarnya. Setelah membayar dan keluar dari toko, aku melihat Sudou duduk di luar, menungguku. Ketika aku melihatnya, dia dengan ramah melambai kepadaku. Aku balas melambai, aku merasa agak malu dan sedikit senang. 

“Apakah kau benar-benar akan makan di sini?” Aku bertanya kepadanya. 

"Tentu saja. Ini hal yang biasa." 

Sudou membuatku bingung dengan jawabannya. Horikita menghela nafas dengan jengkel. 

"Aku akan kembali. Aku akan kehilangan martabatku jika aku menghabiskan lebih banyak waktu di sini,” katanya. 

“Apa maksudmu dengan 'martabat'? Kita ini hanya siswa SMA. Ini hal yang biasa bagi kita. Atau, apakah kau itu seorang putri dari keluarga bangsawan, atau semacamnya?" 

Horikita tidak gentar mendengar perkataan kasar Sudou, dan menghiraukannya. Merasa kesal, Sudou meletakkan mie gelas-nya di lantai dan berdiri.

"Hei kau!, dengarkan apa yang orang katakan saat mereka berbicara denganmu! Hei!" Sudou membentak. 

"Apa masalahnya? Dia tiba-tiba marah." Horikita mengatakan ini padaku, mengabaikan Sudou. Ini tampaknya terlalu berlebihan bagi Sudou, yang mulai terlihat kesal. 

“Hei, kemarilah! Aku akan menampar wajahmu yang sombong itu!" Sudou berteriak. 

"Dengar, harus kuakui Horikita bersikap buruk padamu, tapi kau terlalu berlebihan." 

Jelas sekali bahwa kesabaran Sudou telah habis. "Hah? Apa maksudmu? Ini karena dia bertindak egois dan menjengkelkan. Itu sikap yang buruk, terutama untuk seorang gadis!" 

“Untuk seorang gadis? Itu pemikiran yang agak ketinggalan jaman. Ayanokouji-kun, aku sarankan untuk tidak berteman dengannya," kata Horikita. Lalu, dia membalikkan badannya, menjauh dari Sudou. 

"Hei tunggu! Dasar gadis brengsek!” 

"Tenanglah." Aku menahan Sudou saat dia mencoba meraih Horikita. Dia berjalan ke arah asrama tanpa melirik ke belakang.

"Apa-apaan dengan gadis itu? Persetan!" dia berteriak. 

“Ada banyak jenis orang, kau tahu.” 

“Diamlah. Aku benci tipe orang yang seperti itu, menganggap dirinya sok penting." 

Dia terus memelototiku. Sudou mengambil mie gelasnya dari lantai, merobek tutupnya, dan mulai makan. Beberapa saat yang lalu, dia juga membuat keributan di depan kasir. Dia sepertinya tipe orang yang mudah marah. 

“Hei kalian! siswa tahun pertama. Ini tempat kami.” 

Saat Sudou menyeruput ramennya, tiga anak laki-laki menghampiri kami. Sepertinya mereka baru saja keluar dari toko tadi sambil membawa mie gelas dengan merek yang sama dengan kami. 

"Kau siapa? Aku sudah di sini dari tadi. Kau menghalangi. Pergilah!" Sudou membentak. 

“Kalian dengar itu? 'Pergilah' katanya. Kau sombong juga, siswa tahun pertama, dasar bocah berandalan."

Ketiganya tertawa di depan wajah Sudou. Sudou berdiri, membanting mie gelasnya ke lantai. Kaldu dan mie terciprat kemana-mana.

“Bocah berandalan? Kau mencoba untuk mengolok-olokku ya, Hah?!” 

Sudou adalah orang yang temperamental. Jika aku harus menilai, dia seperti tipe yang akan mengancam siapa pun atau apa pun yang menghalanginya. 

“Kau ini tidak punya sopan santun ya, padahal kami ini siswa tahun kedua. Kau seharusnya menghormati seniormu." 

Bruk! Saat mengatakan itu, siswa senior tahun kedua meletakkan tas mereka dan tertawa terbahak-bahak. 

"Lihat, kami sudah meletakkan tas kami. Sekarang, majulah!” kata salah satu dari mereka. 

"Kau punya nyali juga, dasar brengsek!" 

Sudou tidak mundur, tidak peduli walaupun dia kalah jumlah. Sepertinya tinju akan terbang setiap saat. Aku, tentu saja, tidak ingin menjadi bagian dari situasi ini. 

“Oh, wow, menakutkan. Kau ini dari kelas mana? Tunggu, biar kutebak. Aku pikir aku tahu. Kau dari Kelas D, bukan?” 

“Ya, memangnya kenapa?!” Sudou membentak. 

Para siswa senior saling memandang dan tertawa terbahak-bahak. 

“Kalian dengar itu? Dia dari Kelas D! Sudah kuduga! Dasar payah!" 

"Hah? Apa maksudmu? Hei!" 

Saat Sudou membentak mereka, anak laki-laki itu menyeringai dan melangkah mundur. 

“Ah, kasihan sekali. Karena kau 'cacat', kami akan melepaskanmu, hanya untuk hari ini. Mari kita pergi, teman-teman." 

“Hei, jangan lari! Hei!" Sudou berteriak. 

“Ya, ya, teruslah mengoceh. Kalian akan segera menghadapi neraka bagaimanapun juga." 

Menghadapi neraka? 

Mereka tampak santai dan tenang. Aku bertanya-tanya apa yang mereka maksud. Sebelumnya, aku yakin sekolah ini akan dipenuhi oleh pria dan wanita kelas atas, tetapi tampaknya ada banyak siswa yang kasar dan agresif. Orang-orang seperti Sudou atau kakak kelas itu.

“Ah, sialan! Jika saja mereka adalah siswa tahun kedua yang baik, atau gadis manis, aku tidak akan terlalu mempermasalahkan ini. Sebaliknya, kita justru harus berurusan dengan orang-orang bodoh itu." 

Sudou tidak repot-repot membereskan kekacauannya. Dia memasukkan tangannya ke dalam saku celana dan kembali ke asrama. Aku melihat ke arah dinding yang ada di luar toko, di sana terpasang dua kamera pengintai. 

"Ini bisa menimbulkan masalah nantinya," gumamku. 

Dengan enggan, aku mengambil cangkir mie gelas yang tergeletak di lantai, dan membuangnya ke tempat sampah. Kalau dipikir-pikir, begitu para siswa tahun kedua itu mengetahui kalau Sudou berada di Kelas D, sikap mereka langsung berubah. Entah kenapa, hal Itu membuatku sangat penasaran.

~ Bersambung ~

Episode Lainnya

Other Series

Komentar

A-Z List cari anime berdasarkan abjad A-Z
Copyright © MarinSubs. All Rights Reserved

MarinSubs adalah tempat streaming/nonton Anime Subtitle Indonesia

Redesign by Kitagawa Marin 喜多川 海夢