-->
Loading...

iklan adsense

Volume 1 Chapter 1 Part 1 “Classroom of the Elite” Light Novel Bahasa Indonesia

Released on Mei 18, 2021 · 0 Views · Posted by firsyardha · Series

Download Volume 1 Chapter 1 Part 1 “Classroom of the Elite” Light Novel Bahasa Indonesia , Streaming Volume 1 Chapter 1 Part 1 “Classroom of the Elite” Light Novel Bahasa Indonesia , jangan lupa untuk klik like dan bagikan. Series First Year Volume 1 selalu update di MarinSubs. Jangan lupa menonton Series terbaru lainnya.

Refresh Jika Loading Video Lebih Dari 1 Menit. Jika Video Error Hubungi Saya Atau Tuliskan di Komentar ...!!
CHAPTER 1
Selamat Datang di Kehidupan Sekolah Impianmu

PART 1

April. Upacara penerimaan siswa baru. Aku menaiki bus ke sekolah, terayun-ayun dan kursi yang bergetar adalah hal yang kurasakan saat ini, itu lumrah mengingat aku saat ini sedang duduk di dalam bus. Aku juga melihat-lihat ke luar jendela, menyaksikan pemandangan kota yang berubah dari waktu ke waktu, di sepanjang perjalanan semakin banyak penumpang yang menaiki bus.

Kebanyakan dari mereka adalah anak muda berseragam SMA.

Ada juga pekerja kantoran yang terlihat frustasi, dia seperti tipe pria yang suka meraba-raba seseorang di dalam bus yang penuh sesak. Seorang wanita tua berdiri di depanku, dengan kaki yang lemah dan terhuyung-huyung sehingga terlintas di pikiranku kalau dia bisa jatuh kapan saja. Mengingat bus ini akan menjadi semakin padat, Aku hanya akan menyangkal tentang hal yang kulihat ini.

Aku beruntung telah mendapatkan tempat duduk, tapi tetap saja ini penuh sesak, bahkan untuk beberapa saat aku lupa tentang wanita tua malang tadi. Dengan sabar aku menunggu untuk tiba di tujuan, pikiranku jernih seperti arus sungai yang mengalir. Cuacanya sangat bagus hari ini, tidak ada satupun awan di langit. Sangat nyaman hingga hampir membuatku tertidur.

Namun, kedamaian yang baru saja kudapat dilenyapkan. 

“Maaf, tapi bukankah kau harus memberikan tempat dudukmu?” 

Mataku, yang hendak tertutup, kembali terbuka. Hah? Apakah orang ini berbicara padaku? Tetapi aku menyadari bahwa dia sedang berbicara kepada orang lain.

Seorang pria muda berambut pirang bertubuh tegap yang sepertinya anak SMA duduk di salah satu kursi prioritas. Wanita tua itu berdiri tepat di sampingnya, dan seorang lagi wanita berdiri di sebelahnya. Wanita kedua yang lebih muda ini tampaknya adalah seorang pekerja kantoran.

“Hei kau yang disana. Tidak bisakah kau lihat bahwa wanita tua ini mengalami masalah?” kata wanita kantor.

Dia sepertinya ingin agar pemuda itu memberikan kursinya.

Suaranya terdengar cukup jelas mengingat kondisi bus yang penuh sesak, dan menarik perhatian beberapa orang.

"Itu pertanyaan yang sangat gila, Nona," kata pemuda itu.

Aku bertanya-tanya apakah pemuda itu marah, tidak memperhatikan, atau hanya tak peduli. Bagaimanapun, dia menyeringai dan menyilangkan kakinya. "Kenapa juga aku harus memberikan kursiku? Tidak ada alasan bagiku untuk melakukannya."

“Kau sedang duduk di kursi prioritas. Itu wajar untuk memberikan kursi itu pada orang tua."

"Aku tidak mengerti. Kursi prioritas; itu hanyalah sebuah nama. Aku tidak punya kewajiban untuk pindah dari sini. Karena saat ini aku menempati kursi ini, seharusnya akulah orang yang menentukan apakah aku akan pindah atau tidak. Apakah aku harus menyerahkan kursiku hanya karena aku masih muda? Ha! Alasan itu tidak masuk akal."

Dia tidak berbicara seperti siswa SMA biasa. Rambutnya yang berwarna pirang, juga menjadi salah satu daya tariknya.

“Aku adalah pria muda yang sehat yang pasti kuat untuk berdiri lama. Namun, aku jelas akan mengeluarkan lebih banyak energi dengan berdiri daripada saat duduk. Aku tidak berniat melakukan hal yang tidak berguna seperti itu. Atau kau menyarankanku untuk bertindak sedikit lebih nakal?, aku ingin tahu."

"A.. apa-apaan sikapmu itu, begitukah kau berbicara dengan atasanmu?" kata wanita kantor.

“Atasan? Jelas sekali bahwa nona dan wanita tua di sana telah hidup lebih lama daripada aku. Tidak ada keraguan tentang itu. Namun, Kata 'atasan' menyiratkan bahwa Nona mengacu pada seseorang dari posisi yang lebih tinggi. Selain itu, kita memiliki masalah lain. Meskipun usia kita berbeda, tidakkah nona setuju bahwa kau memiliki sikap yang kurang ajar dan sangat kasar?"

“Ap— Kau anak SMA, bukan?! Kau harus diam dan dengarkan apa yang dikatakan orang dewasa!" 

"Tidak apa-apa, biarkan saja ..." wanita tua itu bergumam.

Dia tampaknya tidak ingin keributan ini berlanjut dan mencoba untuk menenangkan wanita kantor itu. Tapi setelah dihina oleh siswa SMA, wanita muda itu masih tampak sangat kesal.

“Ternyata, wanita tua ini lebih tanggap dari kau, itu bagus. Walaupun begitu, aku masih tetap menghormati masyarakat Jepang. Jadi, selamat menikmati tahun-tahun yang tersisa."

Setelah menunjukkan senyumannya, pemuda itu menyelipkan earphone-nya di telinga dan mulai mendengarkan musik yang agak keras. Wanita kantor itu sekarang menggertakkan giginya karena frustrasi. Dia masih tidak terima dengan pemuda itu, karena sikapnya yang sombong dan menganggap dirinya penting.

Bagaimanapun, aku setidaknya juga setuju dengan pemuda itu.

Jika kau mengabaikan moral dalam situasi ini, memang benar dia tidak diwajibkan secara hukum untuk menyerahkan kursinya.

"Maafkan aku ..." Dengan putus asa menahan air matanya, wanita kantor meminta maaf kepada wanita tua itu.

Nah, itu semua hanya insiden kecil di dalam bus. Aku merasa lega bahwa aku tidak terjebak dalam situasi tersebut. Sejujurnya, aku tidak peduli untuk menyerahkan tempat dudukku untuk orang tua.

Jelas, pemuda egois itu yang menang. Setidaknya, semuanya diam-diam berpikir begitu.

"Um ... Aku pikir nona itu benar."

Wanita muda itu menerima dukungan tak terduga dari seseorang yang berdiri di sampingnya. Sang penolong, seorang gadis yang mengenakan seragam SMA sepertiku, dengan berani ​​membantah sikap pemuda itu.

“Dan penantang barunya adalah seorang gadis cantik, ya? Sepertinya aku sedikit beruntung dengan lawan jenis," kata pemuda itu. 

“Wanita malang ini tampaknya sudah kelelahan karena berdiri terlalu lama. Apakah kamu tidak akan menawarkan tempat dudukmu? Meskipun kamu mungkin mempertimbangkan hal seperti itu tidak perlu, aku pikir itu akan memberikan kontribusi besar bagi masyarakat."

Klik! Pemuda itu menjentikkan jarinya.

“Kontribusi bagi masyarakat, katamu? Nah, itu pendapat yang cukup menarik. Memang benar bahwa memberikan kursi kepada orang tua bisa dilihat sebagai hal yang positif. Sayangnya, aku tidak tertarik berkontribusi kepada masyarakat. Aku hanya peduli pada kepuasanku sendiri. Oh, dan satu lagi. Kau memintaku, yang berada di kursi prioritas, untuk melepaskan tempat ini, tapi tidak bisakah kau bertanya pada salah satu orang yang duduk di bus yang penuh sesak ini? Jika kau benar-benar peduli dengan orang tua, maka sesuatu seperti tempat duduk prioritas akan menjadi masalah yang agak sepele, bukankah kau setuju?"

Sikap angkuh pemuda itu tetap tidak berubah. Baik wanita kantor dan wanita tua hanya memasang senyuman pahit sebagai tanggapan atas perkataan itu. Namun, gadis itu tidak mundur.

“Semuanya, tolong dengarkan aku sebentar. Adakah seseorang yang bisa memberikan kursinya untuk wanita tua ini? Tidak peduli siapapun itu. Kumohon."

Bagaimana bisa seseorang menuangkan begitu banyak keberanian, tekad, dan kasih sayang menjadi beberapa kata? Itu bukanlah hal yang sederhana untuk dilakukan. Gadis itu mungkin saja tampak seperti gangguan bagi orang-orang di sekitarnya, tetapi dia memohon kepada penumpang lain dengan sungguh-sungguh dan tanpa rasa takut.

Meski tidak berada di kursi prioritas, aku berada di dekat wanita tua itu. Aku membayangkan jika aku mengangkat tangan dan menawarkan tempat dudukku, maka masalah itu akan terselesaikan.

Namun, seperti orang lain, aku tidak bergerak. Tak satu pun dari kami yang berpikir untuk memberikan kursi. Terlepas dari sikap dan ucapan pemuda itu, semua orang di dalam bus, sebagian besar, setuju dengannya.

Sekarang, tentu saja, para lansia memiliki kontribusi yang besar di Jepang. Tapi kita, para pemuda, akan terus mendukung Jepang di masa depan. Juga, mempertimbangkan fakta bahwa masyarakat tentu akan semakin menua setiap tahun, di sisi lain populasi kaum muda tentunya juga akan semakin meningkat. Jadi, jika kau membandingkan antara orang tua dan kaum muda, tanyakan pada dirimu kelompok mana yang lebih berharga, jawabannya harus jelas. Itu benar-benar argumen yang sempurna, bukan?

Tapi tetap saja, aku bertanya-tanya apa yang akan dilakukan orang lain. Saat aku melihat sekeliling, aku melihat dua jenis orang: mereka yang pura-pura tidak mendengar apa pun dan mereka yang tampak ragu-ragu.

Namun, gadis yang duduk di sampingku berbeda. Dia sendiri tidak tersapu oleh kebingungan. Wajahnya tetap tanpa ekspresi.

Ketika aku tanpa sengaja menatapnya, mata kami bertemu sekejap. Bahkan tanpa mengucapkan sepatah kata pun, aku tahu bahwa kami memiliki pendapat yang sama. Tak satu pun dari kami yang ingin menyerahkan tempat duduk.

“Pe-Permisi. Anda dapat duduk di kursi saya." Tak lama setelah gadis itu mengajukan permohonan, seorang wanita pekerja berdiri, tidak dapat menahan rasa bersalah lebih lama lagi, dan menawarkannya kursi. 

"Terima kasih banyak!" kata wanita tua itu.

Wanita pekerja itu tersenyum, menundukkan kepalanya, dan memapah wanita tua ke kursi yang sekarang kosong. Wanita tua itu mengungkapkan rasa terima kasihnya berulang kali, dan perlahan duduk. Setelah melihat kejadian itu, aku menyilangkan tangan dan memejamkan mata. Segera, kami tiba di tujuan kami, dan semua siswa SMA mulai turun.

Ketika aku turun dari bus, aku melihat sebuah gerbang yang terbentuk dari batu alam menunggu di depan. Semua anak laki-laki dan perempuan yang mengenakan seragam sekolah melalui gerbang ini.

Pemerintah Jepang telah menciptakan SMA Koudo Ikusei dengan tujuan untuk melahirkan pemimpin masa depan. Ini akan menjadi sekolahku mulai sekarang.

Oke, berhenti sebentar. Tarik nafas dalam-dalam. Baiklah, ini dia! 

"Tunggu!" 

Begitu aku mencoba mengambil langkah pertamaku, seseorang menghentikanku. Dia adalah gadis yang duduk di sampingku di bus.

“Kamu tadi memandangiku terus bukan. Ada apa?" dia bertanya. 

Dia menyipitkan matanya saat berbicara.

"Maaf. Aku kira aku hanya tertarik, itu saja. Maksudku, kau tidak berpikir tentang menyerahkan tempat dudukmu kepada wanita tua itu, bukan?" 

"Betul sekali. Aku tidak mempertimbangkan untuk menyerahkannya. Apakah ada yang salah dengan itu?" 

“Oh, tidak, tidak sama sekali. Aku juga tidak berniat menyerahkan tempat dudukku. Faktanya, aku hanya mengikuti filosofi anjing menggonggong kafilah berlalu. Aku tidak suka masalah." 

“Kamu tidak menyukai masalah? Maka aku tidak berpikir kalau kamu dan aku itu sama. Aku tidak menyerahkan kursiku karena aku pikir itu tidak ada gunanya. Itu saja." 

“Tapi bukankah itu terdengar lebih kejam daripada hanya tidak menyukai masalah?”

"Mungkin. Aku hanya bertindak menurut keyakinanku sendiri. Itu berbeda dari seseorang yang tidak menyukai masalah, sepertimu. Aku tidak mau menghabiskan waktu di sekitar orang-orang sepertimu.”

"Aku merasakan hal yang sama," gumamku. 

Aku hanya ingin membagikan pendapatku, tetapi aku tidak terlalu tertarik untuk berlama-lama dengannya seperti ini. Kami berdua menghela nafas dan mulai berjalan masuk ke arah yang sama.

~ Bersambung ~

Episode Lainnya

Other Series

Komentar

A-Z List cari anime berdasarkan abjad A-Z
Copyright © MarinSubs. All Rights Reserved

MarinSubs adalah tempat streaming/nonton Anime Subtitle Indonesia

Redesign by Kitagawa Marin 喜多川 海夢